BAGIAN LIMA BELAS

889 Kata
Sepasang remaja itu kembali duduk disofa depan televisi yang menyala menayangkan tayangan kartun sore. Naya nampak menikmati acara tersebut, sesekali ia tertawa bahkan bertepuk tangan hingga Devin geleng-geleng kepala. "Eh?" kaget Devin saat gadis itu menarik tangannya. Naya menatap telapak tangan Devin dengan tatapan polos. "Ngapain sih?" tanya Devin sedikit risih. Naya menuliskan sesuatu ditelapak tangan pemuda itu, kulit mereka bersentuhan dan Devin hanya diam memandangi wajah cantik gadis itu. "Gue udah tulis nama gue disini, biar nanti kalau lo kangen sama gue. Lo bisa genggam tangan lo kayak gin seolah-olah, elo lagi genggam tangan gue!" Seperti anak kecil, pikir Devin dengan senyum kecil. "Dev, lo pernah pacaran nggak?" tanya Naya. "Ceritain tentang diri lo, dong!" pinta Naya bersila menghadap Devin. "Malas," acuh Devin menjauhkan posisi duduknya. "Ih! Kalau gitu mau dengerin cerita Nay?" tawar Naya mendekatkan kembali duduknya. "s**t, nih anak nggak takut diapa-apain apa!?" Pikir Devin lalu menarik bantal sofa guna menutupi bagian paha dari gadis didekatnya itu. "Apa?" tanya Devin datar. "Dulu, waktu di London. Hehehe..." kekeh Naya malu-malu. Devin mulai menyimak, karena ia memang ingin tahu bagaimana kehidupan Naya sebelum datang ke Indonesia. Bahkan ia tak tahu kalau Anan, sahabatnya mempunyai kembaran. "Gue punya temen cowok namanya Rakha, um... pacar, mungkin." Ucap Naya cengengesan. "Terus?" tanya Devin mulai tertarik dengan pembicaraan. "Rakha juga asal Indonesia, bisa dibilang kita berhubungan hampir setahun," sambung Naya. "Berhubungan?" tanya Devin lugu. "Pacaran! Ih!" gerutu Naya memukul bantal kewajah Devin. "Jangan mikir aneh-aneh deh! Jangan lo kira selama gue tinggal di London, gue ngelakuin hal-hal aneh ya!" tukas Naya meyakinkan. "Iya, iya. Apa lagi?" tanya Devin kembali menaruh bantal tersebut kepangkuan Naya dan nampaknya gadis itu tak menyadari kalau Devin tak ingin menyaksikan hal tersebut. "Nah, gue punya sepupu namanya Leo. Leo ini temenan sama Rakha. Kebetulan, ya namanya juga masih anak-anak, gue berantem sama Leo gara-gara ngerebutin Oma, gue maunya Oma tidur sama gue, tapi Leo malah minta Oma tidur sama dia! Ngeselin banget anak Thomas!" kesal Naya, meskipun Devin kurang mengerti, tetapi ia mengangguk saja. "Karna kesel, gue cabut dari rumah. Terus pergi, biasalah. Ke party temen didekat rumah, Leo ngikutin gue." "Didalam rumah Jenny, temen gua. Ramai banget, ya namanya juga party. Beberapa sih ada yang minum terus sampai gue liat ditangga ada Rakha sama Jennie. Lagi, ya gitu lah..." ucap Naya pelan. "Gitu?" tanya Devin bingung. "m***m," balas Naya mengalihkan pandangannya. "Gue kan orangnya kepoan, terus gue ikutin deh mereka pergi kemana, Leo juga ikut. Terus ya, elo pasti tau lah kalau mereka masuk kekamar ngapain..." Naya mengakhiri kisahnya dengan mata berkaca-kaca. "Terus---" "Nggak usah diterusin," potong Devin mengangkat tangan mengusap air mata gadis itu. "Hiks!" Naya terisak hingga membuat Devin tak nyaman. Ia harus berbuat apa? "Tapi sekarang! Nay udah nggak sedih lagi karena ada Devin!" girang Naya dengan hidung memerah dan mata yang sedikit sembab. "Kok gue?" tanya Devin tak terima. "Ya, karena Devin. Nay jadi banyak ketawa! Hahaha!" Naya tertawa hingga Devin berdecak mengalihkan pandangannya. "Stress..." pelan Devin kembali mengarahkan pandangannya pada televisi meskipun sebelumnya ia tak pernah menonton acara apapun ditelevisi. Naya masih tertawa, pandangan Devin tertuju padanya. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut yang sedikit berantakan, hidung mancung, bulu mata dan alis yang tertata sempurna, siapa saja pasti akan terpesona seperti yang Devin alami sekarang ini. "Kenapa?" tanya Naya polos membalas tatapan Devin. "Aneh aja, semisalnya dari awal lo tau gue cowok modelan Rakha, apa lo nggak bakal deketin gue?" Naya terdiam cukup lama mencerna kalimat pemuda itu.  "Nggak bakal 'lah!" tawa Naya kembali terdengar. "Hm?" tanya Devin masih menatap manik mata indah Naya. "Maksudnya, Devin bukan cowok modelan Rakha dan Nay tau itu!" ucap Naya dengan santainya. "Kalau iya?" tanya Devin tersenyum sinis. Devin mengangkat tangan menyentuh rambut Naya dan gadis itu hanya diam tak berkutik. "Lo berani banget, main ke apartemen gue." Devin kembali bersuara membuat Naya gugup tak berani menatap pemuda itu. "Karena Devin cowok baik?" ucap Naya ragu. Devin tersenyum lalu mengusap lembut pipi Naya hingga jemarinya berhenti pada bibir tipis merah merona gadis itu. "Nay yakin Devin itu cowok baik---" Devin menarik punggung Naya, mendekatkan wajahnya hingga Naya melotot membeku ditempat. Sedikit lagi bibir mereka bertemu, tiba-tiba Devin tersenyum dan sialnya Naya malah terpesona dengan senyuman si kutub utara itu. "Hati-hati, nggak semua cowok itu baik. Cowok yang Nay anggap baik juga punya napsu. Ngerti, Nay?" Naya menganggukkan kepala saat posisi mereka sudah berjauhan. Devin bangkit dari duduknya, ekspresinya terlihat begitu santai, lain halnya dengan Naya. "Lain kali kalau main kesini jangan pakai rok sekolah."  Devin melangkah pergi dan barulah Naya tersadar kalau sedari tadi bantalan sofa berada dipangkuannya dan Devin lah yang melakukan hal tersebut. "Mau pulang?" tawar Devin yang sudah memakai jaket. Naya mengangguk ragu sembari membenarkan pakaiannya. Devin yang melihat hal itu hanya tersenyum lalu menyerahkan sebuah jaket pada Naya. "Nay?" panggil Devin saat berada diperjalanan. "Iya?" tanya Naya. Devin diam saja, angin malam membuat Naya melingkarkan lengannya pada perut Devin meskipun rasa canggung masih berbaur dikepalanya setelah perkataan Devin di apartemen tadi. Motor Devin berhenti didepan sebuah rumah nan megah. Naya turun dari motor saat satpam membukakan pagar. "Woy! Devin mampir dulu!" teriak Anan dari lantai dua. "Mau mampir?" tawar Naya. Devin mengangguk lalu memarkirkan motornya disamping jejeran mobil mewah kepunyaan Samdrick. "Nay!" panggil Devin. "Iya?" tanya Naya gugup. "Yang tadi, lupain aja." Ucap Devin sebelum Anan datang menyambutnya didepan pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN