"Mami! Papi!"
Naya memekik kegirangan lalu menghambur pelukan pada orang tuanya.
"Kok nggak bilang kalau pulang hari ini?" tanya Naya.
"Kamu yang kenapa nggak pulang, Hp sama Anan. Nggak bisa dihubungin deh," kekeh Rara, sang ibu.
Sam menatap seorang pemuda yang datang bersama Anan.
"Cie, udah punya pacar nih?" rayu Sam mencubit hidung Naya.
"Pacar? Eh... Em, kenalin. Devin!" ucap Naya gelagap.
Naya menatap Anan seolah meminta bantuan, bukan 'kah Anan yang menawari Devin untuk mampir.
"Murid SARANAYA?" tanya Sam mempersilahkan Devin duduk disofa ruang tamu.
"Iya, pak." Devin menjawab sopan membuat Anan tertawa lalu memukul pelan lengan temannya itu.
"Nggak disekolah, nggak dirumah. Lo kaku banget!" tawa Anan mengejek.
Devin hanya tersenyum, begitu pun pada Rara.
"Santai saja, anggap rumah sendiri." Sam tertawa. "Iya kan, Mi? Nanti kalau Naya udah punya suami, rumah ini juga bakal diwarisin---"
"Papi apaan sih," potong Naya yang menyembunyikan wajahnya dibalik punggung sang ibu.
"Kebetulan! Bibi masak banyak, yuk kita makan? Devin, ayo!" ajak Rara bersemangat, seperti Naya pikir Devin.
"Ayo, jangan sungkan!" tambah Sam bangkit dari duduknya.
Sangat terlihat jelas hawa karismatik dan sikap tegas berada bersamaan pada diri seorang Sam. Devin menyadari hal itu, ia sangat menghotmati Sam selaku pemilik sekolah tempat ia menuntut ilmu dan sekarang ia malah ditawari makan malam bersama, seperti mimpi saja.
"Ayo Dev," ajak Anan merangkul Devin menuntunnya keruang makan.
"Bahkan gue lupa kapan terakhir kali makan sama orang tua."
Pikir Devin membatin saat ia sudah duduk disalah satu kursi megah kediaman Samdrick.
"Ayo Devin, makan aja. Tuh, Naya aja udah nyater dua ayam." Rara tertawa kecil hingga saat pandangan Naya dan Devin bertemu, keduanya langsung gelagap dan Anan menyadari hal itu.
"Buset, Nay! Jangan diabisin ayamnya," tegur Anan kesal lalu mengambil sepotong ayam dari piring Naya.
"Ih Anan! Kan masih banyak," balas Naya pada saudaranya itu.
"Kalian ini, masalah ayam doang..." Rara menegur sembari menuangkan minuman kedalam gelas.
"Devin, Naya nggak nyusahin kamu 'kan?" tanya Sam santai.
"Nyusahin?" tanya Devin pelan.
"Enggak..." ucap pemuda itu diakhiri senyuman.
"Enggak salah lagi!"
Sambung Devin dalam hati.
"Cuman tadi, Naya kebetulan dapet di apartemen terus saya harus beliin itu di Supermarket." Devin berucap enteng.
"Uhuk!!"
"Uhuk!!"
Lain halnya dengan Naya yang tersedak makanannya dengan wajah memerah menahan malu.
"Kok diceritain sih!?" gerutu Naya pada Devin.
"Kan bokap lo nanya," ucap Devin seadanya.
Anan tertawa terbahak-bahak begitu pun Sam, sedangkan Rara hanya dapat diam tak habis pikir dengan anak gadisnya yang sangat jauh dengan namanya feminim.
"Anan udah dong jangan ketawa!" keluh Naya kesal.
"Uhuk.. uhuk... iya maaf adik tercinta! Hahaha! Habisnya, lo lucu banget sih!" tawa Anan kembali terdengar begitu pun dari Sam dan Devin.
"Tau! Nay ngambek sama Anan sama
Devin sama Papi!"
Naya bangkit dari duduknya, membawa piring dan menarik beberapa lauk guna dibawanya pergi.
"Yaelah bocah!!" teriak Anan.
"Anan, udah udah..." cegah Rara saat perdebatan hampir terjadi lagi.
"Naya emang ngambekan, biasalah," kekeh Rara pada Devin. "Nggak usah ditanggepin," sambung wanita itu lalu melanjutkan makannya.
"Oh iya Dev, kalau boleh tau orang tua kamu kerja dimana ya?" tanya Sam memulai pembicaraan kembali.
"Gimana ya ceritanya, mereka pisah dan saya udah tinggal sendiri sejak kelas delapan SMP di apartemen," jawab Devin dengan lancar.
"Eh, gue baru tau!" ucap Anan menatap Devin. Pemuda itu menepuk pelan punggung Devin beberapa kali guna menguatkan Devin.
"Begitu, maaf kalau saya sudah lancang bertanya," ucap Sam yang hanya dibalas anggukan dan senyuman oleh Devin.
Beberapa saat kemudian, Devin sudah pulang dan kini menyisakan Sam dan Rara yang masih berada di meja makan.
"Anaknya baik, sopan juga. Keliatan dari caranya ngejawab pertanyaan papi," ucap Rara.
"Satu lagi, kuat!" tambah Sam diakhiri senyuman.
Anan masuk kekamar adiknya, Naya terlihat bermain ponsel. Sebelumnya ia sudah membersihkan diri bahkan meminta pembantu untuk mengambil piring makan yang dibawanya.
"Hei!" tegur Anan naik keatas kasur lalu merebahkan diri didekat Naya.
"Apaan sih! Pergi sana!" usir Naya berlagak kesal.
"Suka ya sama Devin?" tanya Anan jahil.
"Ih Anan! Pergiii!" usir Naya lagi sambil memukuli Anan dengan bantal.
"Nay, dengerin Anan ya." Anan menarik sang adik kedalam dekapannya sembari tersenyum.
"Anan nggak mau liat Nay sakit hati, kalau Nay ngerasa nggak nyaman sama Devin, jauhin aja. Oke sayang?" tutur Anan. Naya menggangguk lalu tersenyum.
Keesokan paginya, sekolah cukup dihebohkan dengan berita di mading utama dimana terdapat sebuah foto yang sebenarnya tidak terlalu bermasalah namun masalahnya adalah, untuk apa seorang Devin, Ketua OSIS membeli pembalut wanita dengan kresek putih yang memperlihatkan benda tersebut.
"Apaan nih?" tanya Anan ingin tahu, begitu pun Naya dan kebetulan Lena dan Sindy berada didekat lokasi tersebut.
"What the..."
Naya langsung menarik foto tersebut kemudian menyobeknya, ia menatap semua orang dengan tatapan penuh kekesalan.
"Siapa yang udah naruh foto ini!?" tanya Naya mengepalkan tangannya.
"Cessy, gue liat tadi pagi!" jawab seorang anak lelaki berkacamata.
Naya pergi masih dengan tangan terkepal mencari keberadaan gadis bernama Cessy.
Buk!
Kebetulan sekali, ia bertemu dengan Cessy dipersimpangan koridor. Naya langsung menendang tempat sampah hingga Cessy dan antek-anteknya terkejut.
"Maksud lo apa!?" tanya Naya marah.
"Lo nggak ada kerjaan ya! Sampai-sampai nempel foto ini ada di mading!?" tanya Naya lagi.
"Kenapa emangnya!? Apa jangan-jangan Devin beli itu buat lo ya? Nyusahin banget sih!" cibir Cessy mengibaskan rambutnya.
"Cessy!" bentak Naya marah.
"Apa!" tantang Cessy mengangkat wajahnya.
Naya mengangkat tangannya hendak menampar Cessy namun seseorang menahan tangannya.
"Masuk kelas yuk?" ajak Devin tersenyum pada Naya seolah tak mempermasalahkan hal tersebut.
"Tapi---"
"Gue nggak papa, masuk kelas yuk?" ulang Devin mencoba menenangkan Naya.
Tentu saja Cessy sangat iri dengan hal tersebut. Devin berhasil membawa Naya menjauh dari Cessy namun tiba-tiba.
Buk!!
Sebuah vas bunga terlempar tepat mengenai kepala Naya. Naya jatuh pingsan dalam dekapan Devin hingga membuat panik beberapa orang yang berada ditempat tersebut.
"Naya! Naya!" panggil Devin.
Pandangan Naya menghitam dan matanya mulai tertutup saat samar-samar wajah panik saudaranya terlihat.