Mobil Anan melesat membawa Naya yang masih pingsan. Bersamanya terdapat Devin, Lena, dan Sindy. Danis menyusul bersama seorang guru.
"Malah macet!"
Anan memukul stir mobil, Devin tersadar kalau cairan merah kental mulai membasahi tangannya yang memangku kepala Naya.
"Parah!" ucap Devin panik menatap kemacetan.
"Gimana nih?" tanya Lena bingung.
"Berapa jarak kerumah sakit?" tanya Devin cepat.
"Lumayan deket, tinggal---"
"Dev! Lo ngapain!?" tanya Anan saat Devin membuka pintu mobil.
"Devin!" panggil Anan namun tak dihiraukan, Devin berlari membawa Naya dalam gendongan bridal stylenya. Beberapa pengendara nampak kebingungan hingga saat ia tiba didepan gerbang rumah sakit.
"Pak!"
Devin berteriak memanggil satpam dan tak butuh waktu lama beberapa perawat berdatangan mengambil alih Naya dari Devin. Devin berlutut didepan rumah sakit, seragamnya terlihat kotor, keringat membasahi wajahnya. Pemuda itu bangkit kemudian mengejar Naya yang sudah dibawa ke UGD.
"Lakukan yang terbaik, Dok!" ucap Devin penuh harap pada seorang dokter yang hendak masuk keruangan tersebut.
"Anak tikus, jangan bikin gue khawatir!" Devin terduduk lesu dilantai sambil mengacak rambutnya.
Tak lama kemudian, Anan datang bersama teman-temannya.
"Naya mana?" tanya Anan panik.
"Ditanganin sama dokter," jawab Devin pelan.
Lena dan Sindy hanya diam duduk memandangi pintu ruangan yang tertutup. Hingga saat seorang perawat keluar, mereka langsung berdiri dengan sigap.
"Gimana suster!?" tanya Anan tak sabaran.
"Kami perlu darah golongan---"
"Saya! Saya kembarannya!" jawab Anan memotong kalimat sang suster. Suster itu pun menuntun Anan kesebuah ruangan.
Hingga saat keadaan mulai membaik, Anan kembali pada teman-temannya.
"Maaf Dev, baju lo jadi kotor dan makasih banyak buat hal yang lo lakuin," ucap Anan mengulurkan tangan pada Devin.
"Ini salah gue, maaf..." Devin menundukkan wajahnya tak menerima uluran tangan Anan.
"Bukan, jangan nyalahin diri lo!" tolak Anan diangguki Sindy dan Lena.
"Ini salah Cessy, awas aja!" tukas Sindy kesal bukan main.
"Tapi kalau gue---"
Bugh!
"Bukan salah lo!" bentak Anan setelah melayangkan tamparan pada Devin.
"Sorry Dev, gue..."
Devin bangkit mengusap sudut bibirnya kemudian menepuk bahu Anan.
"Devin!" panggil Anan saat Devin pergi meninggalkannya.
"Nan, udah!" cegah Sindy. "Mending telpon orang tua lo!" titah gadis itu mencoba menenangkan Anan.
Devin memilih pulang ke apartemennya, sedari tadi ia hanya melamun dan kejadian dimana Anan menamparnya terus menerus terngiang diingatannya.
"Kembali hampa..."
Gumam Devin sebelum masuk kekamar apartemennya.
Dua setelahnya, Anan senantiasa menemani sang adik bahkan ia terjaga sepanjang malam memastikan Naya dapat tidur dengan nyenyak.
"Gimana keadaan adik saya?" tanya Anan pada sang dokter.
"Membaik, tapi belum diperbolehkan untuk pulang guna memulihkan luka dibagian kepala." Naya tersenyum pada sang dokter dan kemudian dokter tersebut pun pergi.
"Devin mana ya? Nay nungguin nih," ucap Naya pada Anan.
Anan hanya diam tanpa menjawab pertanyaan yang selalu dilontarkan adiknya.
Disekolah, kabar tentang kesehatan Naya benar-benar jauh dari berita sebenarnya. Bahkan ada yang mengatakan Naya amnesia dan hal itu benar-benar membuat Devin muak.
"Gue dengar, Naya gagar otak---"
"Naya baik-baik aja!!"
Devin menarik kerah baju seorang siswa yang tengah membicarakan Naya bersama beberapa siswi didepan kelas.
"Tutup mulut lo sebelum gue yang ngejahit sendiri!" ancam Devin berhasil membuat siswa itu berlari ketakutan.
"Devin!" panggil Danis namun tak mendapat jawaban.
Seketika sikap Devin menjadi lebih parah dari sebelumnya. Pemuda itu tak menghiraukan apapun yang berada disekitarnya termasuk teman-temannya.
"Naya udah baikan! Lo mau jenguk dia?" tanya Danis mensejajarkan langkahnya dengan Devin.
"Gue nggak peduli."
Singkat, padat, jelas.
"Dev! Come on! Ini bukan diri lo! Naya, masa lo nggak khawatir sama dia!?" tanya Danis yang setiap hari mengucapkan kalimat tersebut pada Devin.
"Berisik."
Jawaban yang sama selalu ia dapatkan dari seorang Devin.
"Pagi, Kak Devin. Um, aku masakin sesuatu buat kakak, mohon diterima ya---"
Brak!!!
"Jangan sok kenal! Pergi lo!" usir Devin pada siswi berambut pendek itu setelah menepis kotak makanan tersebut.
"Devin berubah ya," ucap Sindy menghampiri Danis.
"Gue denger, Cessy di skors satu minggu," tutur Lena pada Danis dan Sindy.
"Bagus deh," ucap Danis menundukkan wajahnya.
"Nanti kita jenguk Naya yuk!?" ajak Lena. Dua temannya mengangguk membiarkan Devin pergi menjauhi mereka.