"Apa kabar rumah!!!"
Naya, gadis itu bicara sendiri saat memasuki kediaman megahnya. Ia sudah diperbolehkan pulang sesuai anjuran dokter untuk tidak terlalu beraktivitas.
"Aneh-aneh aja," kekeh Anan pada adiknya itu.
"HPNay mana? Kata Anan pas udah pulang boleh main HP!" pinta Naya menadahkan tangannya sembari duduk disofa empuk.
"Yaudah nih." Anan pun menyerahkan benda yang dicari adiknya. Naya terlihat serius mengetik sesuatu dan kemudian ia mengarahkan layar kewajahnya.
"Devin!!! Nggak kangen ya sama Nay!?"
Gadis itu menggerutu memanyunkan bibirnya. Anan yang melihat hal itu pun hanya diam, ia belum menceritakan kejadian beberapa hari lalu saat ia dan Devin cekcok di rumah sakit.
"Apaan sih?"
Naya tertawa mendengar nada bicara pemuda itu. Sama seperti sebelumnya, selalu datar, dingin, dan sinis.
"Cuek amat, gimana keadaan Devin? Kok nggak jenguk Nay sih?"
Devin diseberang sana terdiam mengalihkan pandangan beberapa detik.
"Bukannya, seharusnya gue yang nanya keadaan dia." Ucap Devin dalam hati.
"Gue sibuk."
Devin beranjak menuju kamarnya kemudian merebahkan diri memandangi wajah Naya dari layar ponsel.
"Sibuk ngapain? Sampai nggak bisa nemuin Nay. Btw, makasih ya! Kata Anan, Devin lari ke rumah sakit bawa Nay! Aaaa!!! Soswittttt!"
Naya berteriak membuat Devin tersenyum tipis namun tiba-tiba gadis itu meringis kesakitan memegang kepalanya.
"Nay!?"
"Naya---"
Tut!
Panggilan berakhir, Devin langsung melempar ponselnya ngasal dengan raut wajah kesal.
Kembali lagi pada Naya yang sudah merebahkan diri dikasur. Anan datang membawa obat yang diberikan dokter.
"Anan, Nay mau sekolah. Boleh ya? Kangen banget sama sekolah!" ucap Naya dan tentu saja Anan menggeleng sembari membantu adiknya untuk minum obat.
"Kata dokter, keadaan Nay masih belum pulih. Kalau lusa aja gimana?" tawar Anan.
Naya menggeleng. "Nay mau masuk besok, boleh ya... Nay ketinggalan pelajaran, kalau nanti Nay nggak naik kelas gimana? Kan malu!" ucap Naya meyakinkan saudaranya.
"Huh... Liat besok, kalau keadaan Nay membaik---"
"Yey!" Naya memeluk Anan sebagai bentuk rasa terimakasihnya. Gadis itu kembali merebahkan diri sambil tersenyum menutup mata.
"Mimpi indah..." Anan tersenyum mengusap pucuk kepala adiknya.
Seperti perkataan Anan tadi malam, kalau Naya sudah merasa cukup baik maka ia akan kembali bersekolah. Pagi ini, si kembar berjalan bersama menyusuri lorong, sesekali bisikan terdengar dari pada siswa yang membicarakan keadaan Naya.
"Devin!!!"
Devin berhenti sejenak enggan menoleh kebelakang, sudah pasti si pemilik suara adalah si anak tikus.
"Pagi!" sapa Naya mensejajarkan langkahnya dengan Devin.
"Selamat pagi!!!" ulang Naya tak kunjung mendapat jawaban.
"Berisik," dingin Devin dan kata itu tentu saja tak mempan untuk seorang Naya.
"Nggak usah dingin banget bisa nggak? Kalau nanti Devin dikutuk jadi siomay, terus siomaynya dingin? Gimana!? Kan kalau udah dingin nggak ada yang mau makan, tapi kalau Devin dikutuk beneran, Nay mau makan----"
Devin mengangkat tangan memegang lalu mencubit kedua pipi Naya. Iris mata Naya melebar menatap ekspresi Devin yang biasa-biasa saja.
"Anak tikus, diam."
Devin menghentikan aksinya saat beberapa siswa menyadari hal itu. Bukannya diam, Naya malah tertawa kemudian menarik tangan Devin melangkah menuju kelas.
"Hai teman-teman!!!"
Suara melengking Naya membuat seisi kelas terkejut dengan tatapan tak percaya.
"Naya!"
"Gimana keadaan lo!?"
"Syukur deh, elo baik-baik aja!"
"Ekhm, cie gandengan!"
Naya langsung menjauh dari Devin dengan ekspresi lugunya. Lagi-lagi Devin hanya bia menghela napas kemudian duduk dikursi diikuti Naya.
"Nay, kok nggak bilang-bilang kalau pulang?" tanya Lena.
"Kan kita bisa jemput elo," tambah Sindy.
"Makasih ya! Kalian udah nyempatin waktu buat jenguk gue di rumah sakit, nggak kaya si siomay dingin!" cibir Naya dan Devin tahu kalau gadis itu menyindir dirinya.
Sejak kejadian pertengkaran Anan dan Devin, Sindy dan Lena menjadi kurang akrab dengan pemuda itu, ya meskipun sebelumnya memang tidak terlalu akrab. Tetapi berkat Naya, mereka mulai mengerti beberapa sifat dan sikap Devin.
Guru memasuki kelas dan pelajaran dimulai. Singkatnya saja, jam istirahat tiba. Beberapa siswa langsung pergi meninggalkan kelas menyisakan Naya dan Devin, Lena dan Sindy, juga beberapa siswa yang membawa bekal dari rumah.
Anan berdiri diambang pintu bersama Danis. Mereka menatap Devin, begitu pun sebaliknya.
"Kenapa nih?" tanya Naya yang memang tak tahu menahu.
"Kemarin, Devin ribut sama Anan," ucap Sindy menjelaskan.
"Ribut!? Kenapa!? Maafan! Cepettt! Kalau nggak maafan, Nay yang enggak maafin kalian berdua!"
Ancam Naya melipat tangannya di d**a.
"Anan, sini!" panggil Naya pada saudaranya. Anan mendekat begitu pun Danis.
Naya menarik tangan Anan dan juga tangan Devin. "Maafan!" perintah gadis itu setelah membuat tangan Devin dan Anan berada dalam genggaman tangannya.
"Sorry," ucap Anan lebih dulu. Devin hanya mengangguk lalu melepas jabat tangan tersebut.
"Siomay!!! Iklas nggak sih?" tanya Naya kesal.
"Iya ah. Maaf, Anan." Devin bangkit dari duduknya kemudian menepuk bahu Anan lalu pergi meninggalkan kelas.
"Iyi ih, miif Anan!" cibir Naya lalu menyusul Devin.
"Naya kayak malaikat yang emang bisa ngebuat Devin tunduk sama dia," ucap Danis diangguki Lena dan Sindy.
Devin berjalan bersama Naya, sesekali Naya tersenyum pada beberapa siswa yang menyapanya.
"Anaya!"
Langkah keduanya terhenti, mereka menoleh pada koridor tempat seorang pemuda tanpa seragam SMA SARANAYA berdiri dengan senyuman yang sangat Naya kenali.
"Rakha..."
Devin menatap eskpresi Naya, gadis itu terlihat tengah terkejut sekaligus sedih. Kepalanya menggeleng pelan saat pemuda tampan bermata hazel bernama Rakha, kekasih Naya selama di London tiha-tiba berada dihadapannya.
"Anaya, aku mau jelasin semuanya. Kamu---"
"Stfu..." tunjuk Naya dengan telunjuknya pada Rakha hingga pemuda itu terdiam dengan kening berkerut.
"Nay! Please..." Rakha berusaha menggenggam tangan Naya dan langsung ditepis oleh Devin.
"Maksud?" tanya Rakha atas perlakuan Devin yang terkesan menghalanginya.
"Pergi," usir Devin dingin sembari menggenggam tangan Naya guna menguatkan gadis itu.
"Heh! Gue ini pacarnya Anaya---"
"Hal itu berlaku sebelum elo ngecewain dia, dengan tidur sama----"
Anan menahan tangan Rakha yang hendak melayangkan tamparan pada Devin. Anan sendiri juga kebingungan, begitu pun teman-temannya.
"Anaya, aku bisa jelasin. Dengerin aku----"
Plak!!!
Rakha kembali mengepalkan tangannya saat tamparan gadis itu sempurna tepat mengenai wajahnya.
Naya hendak pergi namun tangannya masih digenggam oleh Devin. Saat Rakha hendak kembali berbicara, Devin langsung membawa Naya pergi meninggalkan tanda tanya untuk Anan dan teman-temannya.
"Sorry, lo siapa?" tanya Anan pada Rakha.
"Gue Ananda, saudara kembar Anaya," ucap Anan memperkenalkan diri.
Rakha menjabat tangan pemuda itu.
"Rakha Bagaskara, pacar Naya selama di London."
Rakha pergi menyusul Naya setelah memperkenalkan diri dan tentu saja Anan langsung terkejut.
"Kok Naya nggak cerita apapun." Anan kesal.
"Kita cari mereka yuk!" ajak Sindy lalu pergi bersama Lena.
"Bencana nih," timpal Danis lalu menyusul dua temannya.
"Nan! Ayo!" ajak Danis pada Anan yang masih terdiam.