BAGIAN SEMBILAN BELAS

953 Kata
"Sialan! Kok dia disini!" Devin hanya diam membiarkan Naya meluapkan kekesalannya. Mereka tengah berada di rooftop sekolah dan mungkin Rakha tak akan mengejar sampai ditempat ini. "Ihhh!"  Naya duduk disamping Devin lalu menundukkan wajahnya. "Gue nggak suka liat lo nangis, apalagi nangisnya gara-gara cowok lain." Devin berucap dengan pandangan lurus kedepan saat ia tahu kalau gadis disampingnya tengah menangis. "Devin?" panggil Naya pelan. "Gue nggak pernah ngerasain cinta, jadi gue nggak tahu gimana rasanya sakit hati. Tapi kalau hati lo yang sakit, mungkin gue juga ngerasain sakitnya." Devin tersenyum enggan menatap Naya yang mencoba berhenti menangis. "Anaya," panggil Devin seperti bagaimana panggilan Rakha untuk gadis itu. "Panggilan anak tikus lebih cocok buat lo. Cewek pengganggu yang seenaknya masuk kedalam kehidupan gue. Ngerubah sudut pandang gue, ngebuat gue nggak bisa berpikir ketika nama lo ada dikepala gue." Demi apapun, Naya tak dapat berkata-kata dan hanya diam saja mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Devin hingga menjadi kalimat yang indah. "Devin," panggil Naya dan saat Devin menoleh, pemuda itu tersenyum padanya lalu mengangkat tangan mengusap air mata gadis itu. "Jadi ini rasanya jatuh cinta?" Devin bersuara hingga membuat Naya merona kemudian memalingkan wajah guna menutupi hal tersebut. Inginnya sih, begitu. Namun Naya tak dapat menahan diri untuk tidak menatap Devin saat ini juga. Gadis itu kembali berpaling dan saat itu sebuah kecupan mendarat di keningnya. Chup... "Anak tikus!" umpat Devin disela-sela senyumannya. Devin pergi begitu saja hingga membuat Naya memegang dadanya sendiri. "KYA!!! Gue baper! Baper level 100! Eh 1000, eh... Siomay!!! Soswitttttttt bangetttt!!!" Naya kegirangan lalu menyusul Devin sambil merapikan kembali penampilannya. Namun sayangnya ia tak menjumpai pemuda itu dan malah kembali dipertemukan dengan Rakha. "Rakha stop! Ini bukan Anaya yang dulu Rakha kenal! Tolong ngerti, everything has changes!" Rakha menggeleng pada Naya, mereka berdiri berhadapan dengan jarak kira-kira satu meter. "Pergi, please..." ucap Naya pada Rakha. "I don't care! Persetan dengan Jenny! Aku cuma mau kamu, only you and we will try again!" "Kasih aku kesempatan kedua and I'll promise! you're the only girl in my heart, my soul, my life!" Rakha berlulut dihadapan Naya namun Naya tetaplah Naya yang kokoh dengan pendiriannya. "Pergi." Naya berucap dingin. "Anaya!---" "Pergi!" bentak Naya tanpa rasa takut. "Kamu pikir dengan cara kamu pergi dari London! Kamu bisa lepas dari aku!? Nggak, Anaya! Kamu itu cuma milik aku! Aku cowok pertama yang kamu kenalin ke Oma! Aku---" Naya menarik kerah baju Rakha hingga napas pemuda itu sempat tercekat. "Are you know, siapa Anaya selama tinggal di London?" Rakha mengangguk perlahan lalu Naya melepaskan cengkramannya. "Bagus." Dingin Naya kemudian pergi. Kali ini Rakha tidak mengejarnya, ia hanya bisa mengepalkan tangan atas kesalahannya dulu. Naya tiba dikelas, ia duduk ditempatnya dan kursi Devin nampak masih kosong. "Katanya guru Matematika nggak masuk, mungkin kita pulang lebih awal." Ucap salah seorang siswa hingga membuat gaduh kelas. "Nay?" panggil Lena hingga lamunan Naya yang mengingat kejadian demi kejadian selama ia tinggal di London sirna. "Devin nyariin elo, dia di kantin." Ucap Lena yang baru datang bersama Sindy. Ekspresi wajah Naya berubah drastis. Gadis itu tersenyum lalu pergi meninggalkan kelas mencari keberadaan Devin. "Devin!" kaget Naya pada seorang pemuda yang tengah menyantap siomay. Tidak heran kalau Naya memberi gelar "siomay dingin" pada Devin. Naya duduk berhadapan dengan Devin. "Nay mau nanya, maksud Devin di rooftop tadi apa ya?" "Uhuk!!" Devin tersedak lalu menatap Naya setelah meminum air dengan tergesa-gesa. "Nay, kan b**o. Jelasin dong!" pinta Naya dengan ekspresi polos yang membuat Devin ingin sekali memakannya hidup-hidup. "Artiin aja sendiri," ucap Devin lalu Naya tertawa. "Devin harus tanggung jawab!!!" ucap Naya sedikit keras hingga membuat Anan yang baru datang terdiam kemudian dengan tanpa perasaan menarik kerah baju Devin lalu memukulnya tanpa aba-aba. Naya terkejut begitu pun seisi kantin. "Jawab! Apa yang lo lakuin ke Naya! Sampai dia minta pertanggung jawaban lo!?" tanya Anan. Devin tersenyum sinis pada Anan, bukankah tadi pagi mereka baru bermaaf-maafan. "Jangan bilang kalau elo ngehamilin Naya!" Rakha datang membuat panas suasana.  "Anan! Anan salah faham!----" Bugh! Anan kalap mata dan langsung menghujani Devin dengan pukulan. "Anan! Cukup!" Naya berusaha melerai namun tak berhasil, ia menatap Rakha yang nampaknya senang dengan kejadian tersebut. "Hei!! Hei!!" Lisa, sang kepala sekolah menghampiri pertengkaran tersebut hingga Anan menghentikan aksinya lalu bangkit dari atas tubuh Devin yang sudah babak belur. "Dia sudah menghamili Anaya!" tunjuk Rakha pada Devin. "Aduh! Kalian salah faham!" Naya berteriak kesal kemudian membantu Devin untuk bangkit. "Naya!" tegur Lisa terkejut mendengar pernyataan tersebut. "Devin, Devin nggak papa?" tanya Naya panik. Devin bangkit dari jatuhnya dibantu oleh Naya. Ia menatap Anan yang nampaknya sangat marah dengannya. "Jauhin adik gue---" Bugh!! Anan langsung tersungkur saat Devin melayangkan tamparannya. "Devin!! Anan! Naya!" teriak Lisa murka. "Tolong jelaskan semuanya!" ucap wanita itu hingga mengundang perhatian beberapa guru yang kebetulan lewat. "Ada apa ini?" tanya seorang guru lelaki. Bisik-bisik makian untuk Naya mulai terdengar dan hal itu sangat mengganggu indera pendengaran Anan sebagai kakaknya. "Tolong tenang, jangan berkelahi." Guru olahraga menengahi mereka. "Naya! Apa itu benar!?" tanya Lisa menggenggam erat dua bahu Naya. "Kalian cuma salah paham!" telak Naya kesal. "Terus, lo minta pertanggung jawaban Devin buat apa!?" tanya Anan dengan tatapan tajam. "Karena udah baperin Nay!" teriak Naya pada saudaranya. Hening beberapa detik. Lisa langsung mengacak-ngacak rambut keponakannya sembari menahan tawa. "Naya, lu ngeselin banget sih! Kalau di luar sekolah, udah gue pites lu!" bisik Lisa merasa malu pada guru-guru yang lain. "Bentar! Maksud Nay, Nay minta pertanggung jawaban dari Devin karena dia udah ngebaperin Nay?" tanya Anan memastikan. Sindy tertawa terbahak-bahak, diikuti beberapa temannya termasuk para guru. Lain halnya dengan Rakha yang menatap sinis pada Devin. "Sial, gue salah paham lagi!" ucap Anan lebih dulu mengulurkan tangan pada Devin. Lisa menjewer kuping Naya saking kesalnya, sedangkan Anan sudah bersalaman dengan Devin sembari mengusap lukanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN