"Naya, ada banyak pertanyaan yang harus Nay jawab!" ucap Anan selama berada diperjalanan pulang.
"Anan mau nanya soal cowok yang---"
"Rakha! Apa dia beneran pacar Nay selama tinggal di London!?" tanya Anan tak sabaran.
"Huh, sabar dong nanya nya." Naya menoleh kesal pada saudaranya yang tengah menyetir.
"Iya, Rakha itu temen cowok Nay selama di London. Oma juga tau, dia sering main kerumah," ucap Naya menjelaskan. "Tapi ya gitu deh, Nay nggak mau bahas."
Anan menoleh lalu mengusap pucuk kepala adiknya.
"Mulai sekarang kalau ada apa-apa, cerita ya," pinta Anan lembut.
"Iya, Anan!" Naya tersenyum lebar hingga membuat Anan dapat dapat bernapas lega.
"Dan soal Devin!---"
"Sut... Nay malu!" Naya menyembunyikan rona di pipinya dan hal itu sontak membuat Anan tertawa.
"Nay suka ya sama Devin?" tanya Anan menggoda adiknya itu.
"Gimana ya, dibilang gitu ya tapi Nay seneng liat Devin ada dideket Nay. Apalagi pas Devin sok cuek, datar banget! Hahaha!"
Keduanya tertawa bersama berbagi cerita hingga tiba dirumah megah nan mewah kepunyaan mereka.
Anan turun dari mobil disusul oleh Naya, tiba-tiba ponsel milik Anan berdering. Naya pun turut mendengarkan karena panggilan tersebut berasal dari orang tuanya.
"Tokyo?" tanya Anan tak mengerti.
"Iya, temen papi bilang. Harus ada perwakilan dari keluarga Samdrick tentang proyek kerjasama kita dengan perusahaan itu. Kamu bisa nggak? Cuma sepuluh hari, tenang aja semuanya udah papi atur termasuk keberangkatan kamu nanti malam."
"Naya ada?---"
"Nay nggak mau pisah sama Anan! Huaaaa!!!" teriak Naya pada ponsel tersebut hingga membuat Sam yang berada diseberang sana tertawa pelan.
"Nay, nggak lama kok. Cuma sepuluh hari, kan ada Devin. Ekhem!"
"Nay nggak mau!!! Eh tapi mau aja kalau sama Devin, hehehe..."
Anan berdecak kesal kemudian mencubit pipi adiknya.
"Coba papi jelasin lebih rinci, jadi maksud papi. Anan harus ke Tokyo, Jepang?"
"Bukannya Anan nolak, tapi Anan nggak mau ninggalin Naya sendiri, papi 'kan tau kalau Naya baru keluar dari rumah sakit. Apa nggak ada cara lain?"
Sam terdiam beberapa detik.
"Hm, kamu bener juga. Kasian Naya, adik kamu yang paling kyut itu. Hahaha, ya sudah papi---"
"Anan kalau mau pergi, pergi aja. Nay nggak papa, bener kata papi. Ada Devin, Lena, Sindy. Ada pembantu, satpam, ada Aunty Lisa."
Anan menatap sang adik guna meyakinkan hal tersebut.
"Nay bukan anak kecil kok, hehehe..."
Anan tersenyum lalu mengusap rambut Naya dengan lembut.
"Atur keberangkatan Anan malam ini ya pi," ucap Anan sembari mengajak Naya melangkah memasuki rumah megah itu.
"Btw, papi sama mami kapan pulang?" tanya Devin diangguki Naya yang juga ingin tahu.
"Hm, mungkin dua minggu lagi. Maaf ya, anak-anak papi yang ganteng dan cantik ini harus tinggal mandiri. Tapi papi bersyukur dan makasih banget sama Anan yang mau nurutin permintaan papi."
"Love you... Telponnya papi matiin ya, bentar lagi ada rapat."
"Jaga kesehatan, bye..."
"Dah papi, muachh!" heboh Naya dan panggilan pun berakhir.
"Nay yakin?" tanya Anan memastikan.
"Iya! Yaudah mending Anan siap-siap, Nay bantu packing barang deh!" girang Naya bersemangat.
Beberapa jam kemudian, Naya melambaikan tangan pada sebuah pesawat yang baru saja lepas landas. Gadis itu mencoba tenang sembari duduk disalah satu kursi.
"Mau makan?"
Naya menatap tak percaya pada seorang pemuda yang berdiri didekatnya.
"Devin!" panggil Naya senang.
"Hm, Anan nitipin elo ke gue." Devin berucap dingin seperti biasa.
"Makan yuk! Nay laper!" ajak Naya menggandeng Devin meninggalkan tempat tersebut.
Dua remaja itu tengah menyusuri malam kota Jakarta dengan berkendara motor. Naya tersenyum menatap sekitar, pada lampu-lampu taman yang menyala, beberapa pengendara lain yang juga menikmati malam.
"Makan dimana?" tanya Devin pada gadis dibelakangnya.
"Pinggir jalan aja," jawab Naya meninggikan suaranya.
"Pinggir jalan? Gue lagi jalan sama seorang putri kerajaan dan dia malah minta makan di pinggir jalan?"
Devin menggeleng mencoba fokus berkendara.
"Kenapa?" tanya Naya menaruh dagunya pada bahu Devin. Jangan lupakan tangannya yang sudah melingkar pada perut pemuda itu.
"Angkringan?" tanya Devin lagi takutnya ia salah dengar.
"Iya Devin! Kenapa? Devin lupa bawa duit ya?" tanya Naya dengan polosnya.
"Bukan gitu," singkat Devin menatap sejenak pelukan erat Naya pada perutnya.
"Terus?" tanya Naya lagi hingga membuat Devin benar-benar tak fokus berkendara. Ia sengaja tidak memakai helm karena ia kira Naya akan mengajaknya makan direstaurant didekat bandara, tapi nyatanya.
Devin berhenti ditepi jalan hingga membuat Naya kebingungan. Pemuda itu menoleh kekiri dan seketika jarak antara wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Naya langsung melepas pelukan dan duduk sedikit menjauh.
"Angkringan dimana?" tanya Devin dingin.
"Mana Nay tau, Nay 'kan nggak pernah makan diangkringan. Makanya mau nyobain..."
Devin memejamkan matanya lalu menarik tangan Naya agar kembali melingkar diperutnya.
"Jangan ngomong deket-deket, gue nggak tuli." Alibi Devin lalu mulai menjalankan motornya dengan santai.
"Yaudah maaf!!!" teriak Naya meninggikan suaranya.
"Anak tikus!" decak Devin pelan hingga mereka berhenti didekat sebuah warung sate yang cukup ramai pengunjung.
"Sate ?" tanya Naya pada Devin.
"Nggak mau?" tanya Devin balik.
"Mau banget! Nay udah lama nggak makan sate! Terakhir waktu di London, Oma beli daging terus---"
"Berisik, buruan. Keburu abis." Devin tahu kalau ekspresi wajah Naya langsung berubah saat ia mengatakan hal itu.
"Mas, dua porsi. Makan disini," ucap Devin pada pemilik warung sate tersebut. Mereka pun memilih duduk dikursi yang berjarak tak terlalu dekat dengan gerobak sate tersebut.
Devin melepas jaketnya kemudian menyerahkannya pada Naya.
"Lo kedinginan," ucap Devin seolah mengerti apa yang Naya rasakan.
"Devin peka banget sih!" Naya tersenyum lalu memasang jaket tersebut dan tak lama pesanan mereka datang.
Naya diam sejenak memegang piring yang memang tidak disediakan meja. Devin hanya tersenyum menatap Naya yang tengah memperhatikan beberapa pembeli. Mungkin gadis itu memikirkan cara bagaimana memegang piring dan mengunyah makanan dalam waktu bersamaan.
"Enak!"
"Yakali lo bilang nggak enak pas ada pedagangnya," ucap Devin namun berhasil membuat Naya tertawa.
"Ternyata Devin suka ngelawak ya! Hahaha!"
"Cewek nggak jelas..."
Devin tersenyum menatap Naya yang makan dengan lahapnya meski sesekali ia merasa kesusahan.