Aku terus menatap wajah Hendra yang sedang duduk di balik kemudi. Aku mencoba mencari tahu apa yang mengganggu pikirannya hingga dia hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dan aku...aku tak berani untuk mengganggu semua pemikirannya. Huft...aku menarik napas dalam dan membuangnya secara perlahan. Aku mencoba menghempaskan semua rasa kesalku pada Hendra yang hanya diam tanpa kata. "Kamu kenapa?" tanya Hendra saat menyadari aku sedang memajukan bibirku tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Bukan aku, tapi kamu," kataku sambil meliriknya tajam. "Maaf sayang," kata Hendra sambil mengelus rambutku lembut. Aku membalikkan badanku untuk menatap dia yang sedang berkonsentrasi pada jalanan yang ada di hadapannya. Sekarang dia mulai dapat tersenyum dan wajahnya mulai melembut, ber

