Saat hari menjelang sore, Hendra mengantarku pulang. Hatiku sudah kembali membaik dan tak sehancur tadi saat keluar dari ruang dosen. Perlahan aku sudah mulai dapat mengikhlaskan kepergian teman-temanku, walau aku masih tak dapat memaafkan Bu Nur. "Mampir dulu Hen," ajakku pada Hendra saat kami sampai di rumah. Hendra tak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil. Kami berjalan bersama menuju rumah tanpa tangan yang tejalin. Tidak, bukan karena aku nyaman jalan seperti ini, tapi karena aku merasa canggung. Aku takut jika kedua orang tuaku melihat kedekatanku dengan Hendra akan berpikir macam-macam. Aku belum siap di sidang oleh mereka dan menjawab semua pertanyaan mereka. Tok tok tok Aku mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat. A

