Setelah aku menumpahkan semua rasa sakit yang aku rasakan, perlahan Hendra melepaskan pelukannya. Dengan lembut dia menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipiku dengan tangannya sendiri, bukan dengan tissues. Pikiranku sejenak melayang pada kebersamaanku dengan Wilman beberapa bulan yang lalu. Dia yang telah menemaniku cukup lama pun tak pernah menghapus air mataku dengan tangannya sendiri. Dia terbiasa menghapus air mataku dengan tissues yang selalu ada di dashboard mobilnya atau di dalam tasku. Berbeda dengan Hendra yang baru dekat denganku selama tiga bulan. Dia sudah bersikap benar-benar selayaknya seorang pria walau kami masih menamai hubungan kami dengan kata 'teman'. "Hai...kok bengong, masih sedih ya?" tanya Hendra yang membuatku kembali dari semua kenanga

