Kikuk, itu yang aku rasakan saat hanya berdua di ruang rawat inap Hendra. Seharusnya aku tak merasa seperti ini karena ini bukan pertama kalinya aku hanya berdua saja bersamanya, beberapa kali aku hanya bersamanya dengan kondisi yang lebih dari ini. Tapi kali ini aku benar-benar merasa canggung, entah apa yang membuatku merasa demikian. Apa yang aku lakukan rasanya semua salah dan ah...aku benar-benar bingung dengan semuanya. Ku rebahkan tubuhku di atas sofa yang ada di ruang rawat inap. Ku tatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos hanya untuk menetralkan perasaanku. Ya, jantungku sedari tadi berdegup hanya karena Hendra mencium tanganku. Aku tak memahami apa yang kurasa ini hingga begitu mempengaruhi akan sikapku. Sesekali aku melirik Hendra dengan ujung mataku.

