“Maksud lo apa?” Santi menekuk alisnya tajam. “Kemarin Bram pergi ke hotel bersama cewek. Gue nggak tahu apa yang mereka lakukan yang jelas dia sudah selingkuh. Malam itu juga gue samperin dia ke kamar hotel dan benar saja ternyata wanita itu pacarnya. Dia bilang sayang ke Bram.” Mata Santi sudah berkaca-kaca. Baru tadi ia terbahak kini hatinya sudah merana. “Lo bohong, ‘kan? Nggak mungkin Bram menghinati gue.” Suara Santi terdengar lemah dan bergetar. Gue nggak bisa berbuat apa pun karena jujur saja gue nggak berpengalaman masalah hubungan. “Gue punya bukti rekamannya kalau lo nggak percaya.” Santi menggeleng. Air matanya turun cukup deras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gue berusaha menenangkan Santi, tapi tangisnya sudah terlanjur keluar. “Gue butuh sendiri, Nat. Lo bol

