POV Puspita Kusudahi panggilan telepon dengan Mas Rasya saat melihat kelebat di luar jendela yang belum ditutup tirainya. "Siapa?" tanyaku, mendekat ke arah jendela dengan langkah takut-takut. Tak ada sahutan sama sekali. Tok tok tok "Siapa itu?" Aku memandang ke arah pintu dengan jantung berdetak kencang. Terlihat kelebat lagi di depan jendela. Lagi. Lalu pintu berderak-derak pertanda tengah coba dibuka paksa dari luar. "Ba-paaak!" Teriakku histeris. Lampu tiba-tiba padam. Ya, Tuhaan. Didera kekhawatiran yang sangat, segera kunyalakan senter di HP lalu mengetuk pintu kamar Bapak keras-keras. Tak menunggu lama, pintu langsung dibuka. "Ada apa, Pus?" tanya Bapak dengan wajah sangat mengantuk. "Lampunya mati?" Ia menatap sekeliling yang remang oleh cahaya dari senter. "Pak, ada orang

