**
Di depan unit gawat darurat, petugas medis siap siaga untuk menyambut setiap pasien yang datang. Dengan cepat mereka mendorong brankar mendekat pada mobil Mayang.
"Bund, kuat ya, Bund!" Raka menggendong tubuh ibunya untuk dipindahkan di atas tempat tidur dorong tersebut. Ada dua orang perawat yang dengan gerakan yang sangat cekatan membawa tubuh lemah Bunda Amel masuk ke ruang pemeriksaan. Untung saja UGD sedang sepi siang ini sehingga pasien lebih cepat untuk ditangani.
Sedangkan itu, Mayang dan Raka menunggu di ruang tunggu dengan gelisah.
"Bunda nggak pernah ngeluh sakit apapun selama ini, May. Jadi aku kaget banget lihat Bunda tiba-tiba pingsan," kata Raka yang matanya terlihat memerah karena menahan tangis.
"Mas, Bunda mungkin kecapekan, tapi nggak bilang sama Mas Raka. Bunda nggak mau buat Mas Raka kepikiran. Mas Raka percaya sama aku, Bunda pasti baik-baik aja, kok," sahut Mayang mencoba menenangkan hati Raka yang sedang dilanda kepanikan parah.
Mayang dan Raka memilih membungkam mulutnya masing-masing. Mereka sibuk berdoa dan terus berdoa untuk kesehatan Bunda.
"Keluarga pasien Ibu Amelia Arum?" Seorang dokter keluar dari ruangan.
"Saya anaknya, Dok," jawab Raka langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Mari ikut saya, Mas!" perintah dokter tersebut.
**
Hampir tiga puluh menit Raka menemui dokter. Betapa penasarannya Mayang karena dia juga ingin tahu keadaan Bunda. Tak lama setelah itu Bunda Amel keluar dari ruang unit gawat darurat untuk dipindahkan di kamar rawat pasien. Bunda terlihat belum sadarkan diri dengan selang infus dan selang oksigen yang terpasang di hidung dan tangan beliau.
"Mas Raka, Bunda kenapa? Bunda baik-baik aja kan, Mas? Kenapa bunda belum sadar juga?" Mayang memberondongi Raka dengan banyak pertanyaan.
"May .... " Raka malah menangis terisak-isak.
"Mas Raka kenapa? Ngomong sama aku, Mas! Bunda kenapa?" Belum-belum Mayang sudah ikutan nangis karena melihat Raka menangis.
"May, bunda kena serangan jantung .... " jelas Raka dengan bibir bergetar. Tangis lelaki itu semakin deras.
"Astagfirullah." Mayang kaget mendengar kabar tentang Bunda. Tangisnya ikut pecah seketika itu juga.
Tanpa sadar dua orang anak manusia berbeda jenis kelamin tersebut saling berpelukkan erat. Hanya sedikit sentuhan yang mereka butuhkan untuk saling menguatkan.
"Aku nggak punya siapa pun selain Bunda, May. Cuma Bunda penyemangatku untuk berjuang .... " ucap Raka. Bayangan akan takut kehilangan sosok ibu yang sangat dia cintai terngiang-ngiang selalu di pikiran Raka saat ini.
"Mas Raka nggak boleh bilang gitu! Bunda itu kuat, Bunda pasti sembuh, Mas," sahut Mayang.
Mayang dan Raka mengurai pelukan mereka. Lalu berjalan beriringan untuk menemui Bunda di kamar perawatannya.
"Bunda harus sembuh! Bunda nggak boleh tinggalin aku kayak ayah ninggalin kita, Bun," gumam Raka sambil menggenggam erat tangan ibunya.
Ya Allah, aku rasanya nggak tega lihat Mas Raka sama Bunda. Batin Mayang yang masih belum bisa membendung air matanya.
"Aku janji, kalau aku nanti udah jadi dokter, aku pasti bakal ngerawat bunda sampai Bunda sembuh. Aku janji, Bun," kata Mayang sambil mengelus-elus tangan Bunda kemudian Mayang cium tangan itu dengan penuh kasih sayang.
"May, kamu bisa tolong jagain Bunda sebentar? Aku mau kasih kabar ke Rania sekalian ngurus administrasi."
"Oh, iya, Mas. Aku pasti jagain Bunda di sini," sahut Mayang.
Raka keluar dari ruangan untuk menghubungi adiknya dan juga mengurus administrasi rumah sakit. Sejam kemudian Rania datang dan tidak suka dengan kehadiran Mayang.
"Ngapain kamu di sini? Jangan sok perhatian sama Bunda aku, ya! " sentak Rania galak.
"Aku cuma mau jagain Bunda kok, Ran. Aku serius sayang sama Bunda," balas Mayang.
"Kamu itu cuma cari muka doang!" cibir Rania membuat Raka tidak suka mendengar adiknya bicara demikian.
"Yang sopan kalau ngomong sama orang! Kamu harusnya terima kasih karena Mayang udah perhatian sama Bunda," omel Raka.
"Bang-"
"Cukup, Ran! Bukan saatnya buat kita ribut di sini! Kasihan Bunda dia butuh perhatian kita," tegur Raka.
Mayang jadi tidak enak hati karena kehadirannya selalu membuat Raka dan Rania ribut besar seperti ini. Untuk itulah dia memutuskan untuk pergi saja dan kembali ke rumah. Dia tidak mau membuat hubungan adik dan kakak ini semakin buruk karenanya.
**
Reyhan menemui Jasson di kamarnya. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada lelaki tersebut.
"Jass, jadi kau dan Mayang sudah tahu kalau cafenya Raka terbakar karena Sandrina?" Masih soal Raka yang ingin beliau bahas.
"Hm ... iya, Tuan. Nona Mayang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Nyonya Sandrina dan juga Usman," jawab Jasson.
"Lalu kata Raka dia sudah mendapatkan ganti rugi, aku merasa ini ada yang janggal, Jass. Mana mungkin Sandrina memberi Raka uang, tujuannya membakar cafe Raka kan untuk membuat Raka menderita," jelas Reyhan. Meski dia tidak percaya dengan pengakuan Raka, tapi Reyhan tetap mencabut tuntutannya terhadap istrinya.
"Soal itu memang bukan Nyonya Sandrina yang memberikannya, tapi Nona Mayang. Karena dia kasihan dan ingin membantu Raka."
Jasson menceritakan secara detail kronologi yang terjadi tentang niat Mayang yang ingin menjual perhiasan dari opanya demi membantu Raka. Tidak lupa Jass juga menjelaskan tentang kemarahan Sandrina yang tidak menemukan perhiasan itu di lemari brankas milik Mayang.
"Lalu kau tidak jadi menjual perhiasan itu dan Raka mendapatkan uang dari siapa?" selidik Reyhan.
"Itu uang pribadi saya, Tuan," jawab Jasson.
"Uang pribadimu sebanyak itu kamu berikan pada Raka?" Reyhan terheran-heran karena Jass bisa-bisanya melakukan ini demi Raka.
"Iya, Tuan," jawab Jass singkat.
"Jass, itu bukan uang yang sedikit tapi kenapa kau rela merogoh tabunganmu demi sesuatu yang bukan menjadi urusanmu," tutur Reyhan.
"Itu urusan saya, Tuan. Senyum Nona Mayang adalah urusan saya," sergah Jass dengan cepat.
"Jass ... kau benar-benar mencintai anakku kan? Kau menjaga hatinya tidak hanya fisiknya." Reyhan mengambil kesimpulan, memang sejak dulu dia sudah curiga bahwa Jass memendam rasa pada Mayang.
"Tuan, tidak perlu saya jawab pertanyaan anda. Anda pasti sudah tahu jawabannya," ucap Jasson dengan nada datar.
"Aku bangga denganmu, Jass. Pengorbananmu untuk anakku sangat besar, kau korbankan dirimu, uangmu bahkan perasaanmu. Jass ... Papahmu tidak salah mengirimmu kemari untuk menjaga Mayang," ungkap Reyhan dengan mata berkaca-kaca.
"Itu sudah sumpah dan janji saya, Tuan. Saya akan menjaga Nona Mayang seperti saya menjaga nyawa saya sendiri," desah Jasson.
"Aku ... aku akan segera mengirim uang ke rekeningmu untuk mengganti tabunganmu, Jass. Kau sudah banyak berbuat banyak untuk membantuku dan anakku. Aku yakin orang baik sepertimu akan hidup bahagia." Reyhan mengelus lengan Jasson dan tersenyum simpul.
"Terima kasih doanya, Tuan. Saya sudah cukup bahagia dengan hidup saya sekarang," sambut Jasson.
**
Sore hari, Sandrina tiba di rumah selepas resmi keluar dari tahanan. Wanita itu nampak senang dan ceria karena mendapatkan kembali kebebasannya.
"Mommy!" seru Mayang sambil berjalan cepat untuk menyambut kedatangan ibunya.
Mayang hendak memeluk sang ibu, tapi dengan cepat wanita paruh baya itu menepis tangan Mayang. Mayang kecewa berat dan segera menurunkan ke dua tangannya. Gadis itu tertunduk murung karena dia berharap selepas ini dia akan mendapatkan cinta ibunya, tapi nyatanya semua hanyalah angan-angannya saja.
"Mommy capek, tidur di penjara membuat sekujur tubuh mommy gatal dan pegal-pegal," ketus Sandrina lalu berjalan cepat melewati Mayang.
"Ternyata usahaku buat dapatin hati mommy masih sia-sia aja," gumam Mayang kecewa.
Reyhan melihat anak gadisnya diam terpaku lalu segera mendekatinya. Mayang kaget ketika tangan besar daddy menyentuh pundaknya.
"Dad," sapa Mayang kemudian mencoba untuk tersenyum meski awan mendung tengah menyelimuti hatinya saat ini.
"Kenapa kamu melamun, Sayang?" tanya Daddy penasaran.
"Mommy sudah pulang, Dad," jawab Mayang.
"Hm ... aku sudah membebaskan dia dan juga antek-anteknya. Lalu apa yang membuatmu sedih?" selidik Reyhan. Sejujurnya dia belum puas hanya sebentar saja membuat Sandrina mendekam di penjara, keinginan Reyhan membuat wanita itu meringkuk selama-lamanya sampai dia benar-benar bertaubat.
"Aku cuma sedih aja karena mommy masih belum bisa bersikap hangat sama aku, Dad. Padahal aku udah berusaha bujuk Mas Raka buat keluarin mommy," jelas Mayang kecewa.
"Kamu terlalu baik, Sayang. Harusnya kau paham kalau sulit sekali untuk memecah batu karang yang ada di hati mommymu," sahut Reyhan. Kasihan sekali melihat Mayang yang selalu dibuat patah hati berkali-kali oleh ibunya.
"Aku akan terus berjuang buat dapatin cinta mommy, Dad. Yang penting aku punya daddy," ucap Mayang lalu memeluk ayahnya dengan erat.
"Iya, Sayang. Bagaimana sekolahmu?"
"Sebentar lagi ujian, Dad. Aku lagi berjuang banget ini biar lulus dengan hasil yang memuaskan. Doain aku, Dad!" pinta Mayang.
"Selalu ... doa daddy selalu ada buat kamu, Nak. Oya, daddy sudah membeli rumah untukmu dan Jass tinggal selama kalian menetap di sana, daddy pikir apartement terlalu kecil untuk kalian."
"Wow ... daddy memang ayah terbaik yang aku punya," puji Mayang.
"Apapun demi kebahagiaanmu, Sayang. Ayo kita ngobrol sambil duduk!" ajak Reyhan sambil menuntun anaknya untuk duduk di sofa ruang tamu. Kini mereka duduk bersisian di atas tempat itu.
"Dad, aku tadi ke rumah Mas Raka dan bundanya Mas Raka sakit," cerita Mayang dengan lesu.
"Amel? Maksud daddy, Bundanya Raka sakit apa?" tanya Reyhan yang mendadak jadi panik setelah mendapat kabar buruk itu dari anaknya.
"Bunda Amel sakit jantung, Dad," jawab Mayang.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun." Reyhan turut prihatin.
"Lalu bagaimana keadaannya, Mayang?"
"Bunda sudah sadar, tapi masih dalam perawatan, itulah kenapa aku jadi kepikiran banget, Dad. Bunda itu baik banget sama aku, udah kayak ibu kandung aku sendiri, bahkan mungkin lebih dari ibu kandungku sendiri."
Bukan suatu kesalahan kalau Mayang terus saja membandingkan antara Amel dan juga Sandrina, Ibu kandungnya. Karena memang sikap mereka berbeda tiga ratus enam puluh derajat. Mereka bertolak belakang seperti sebuah sisi mata uang yang berbeda.
Terkadang Mayang menginginkan sikap Sandrina bisa berubah seperti sikap Amel padanya, tapi ternyata keinginan Mayang itu hanyalah sebuah angan-angan yang tidak mudah untuk dia gapai, permintaannya ini bagaikan meminta Sandrina meraih bulan di atas awan untuknya.
"Kau harus sering-sering menengok Raka dan ibunya, tapi ingat perhatikan juga pendidikanmu! Jangan sampai terbengkalai!" nasehat Reyhan.
"Hm ... iya aku tahu, Dad. Tapi kenapa daddy setuju aku dekat sama Mas Raka? Bukannya daddy bilang kalau opa sudah menentukan siapa jodohku nanti? Kalau aku sampai jatuh hati sama Mas Raka bukannya itu akan jadi masalah?" Mayang mengangsur beberapa pertanyaan untuk Reyhan.
"Mayang, daddy sudah bilang berkali-kali padamu, daddy yakin Raka orang yang baik terbukti dia bisa menjagamu, dia membimbingmu-"
"Tapi kata mommy kita nggak sepadan karena Mas Raka bukan anak orang kaya seperti kita," potong Mayang.
"Apalah arti harta, Nak? Semua tidak akan dibawa mati."
"Aku tahu itu, Dad. Andai mommy seperti daddy, andai aku tahu apa salahku sama mommy .... " Mayang kembali murung.
"Akan ada masanya kamu tahu, Nak. Nanti kalau kau akan menikah, daddy janji akan memberitahumu yang sebenarnya," jelas Reyhan.
"Siapa jodohku, Daddy?" Mayang sangat penasaran, dalam hati dia tidak ingin dijodohkan, Mayang ingin menikah dengan pilihannya sendiri.
"Nak, jangan bertanya tentang hal yang belum bisa daddy katakan!" pinta Reyhan dengan bahasa yang halus agar Mayang tidak tersinggung.
"Entahlah! Yang aku rasain banyak banget teka-teki yang kalian sembunyiin di belakang aku, bahkan Jasson aja nggak pernah mau jawab setiap aku tanya," desah Mayang lesu.
"Semua akan baik-baik saja. Percaya sama daddy! Daddy yang akan menjamin kebahagiaanmu, Nak. Seperti janji daddy pada almarhum opamu," ucap Reyhan membuat hati Mayang menjadi lega. Mayang tidak pernah kecewa dengan semua yang daddy janjikan, sama halnya dia yang tidak pernah kecewa dengan Raka. Sejauh ini itulah yang Mayang rasakan pada dua lelaki yang amat dicintainya tersebut.