**
Raka menepati janjinya. Siang hari dia datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Ada Mayang juga di sana yang sepulang sekolah langsung menuju ke tempat dirinya dan Raka berjanjian.
"Saya tidak ingin masalah ini diproses, Pak. Karena saya sudah mendapatkan ganti rugi yang layak dari Nyonya Sandrina untuk membangun cafe saya kembali. Saya mohon tutup saja kasusnya!" ucap Raka pada anggota kepolisian.
"Semua ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan," imbuhnya.
"Jika Tuan Rey bisa mencabut tuntutannya maka masalah ini kami anggap selesai, Mas Raka," sahut Bapak polisi.
"May, apa kamu bisa minta daddy kamu ke sini?" tanya Raka.
"Aku udah bilang sama daddy kok, Mas. Semalam daddy bilang mau cabut tuntutannya asal itu atas persetujuan Mas Raka," jawab Mayang.
"Ini daddy aku telepon, Mas." Baru dibicarakan, si orang yang dimaksud menghubungi Mayang. Mayang segera mengangkatnya.
"Jadi daddy nggak bisa ke sini? Terus gimana? Mas Raka pingin ketemu daddy," kata Mayang dengan lesu pada Reyhan yang tetiba ada urusan dan tidak bisa datang ke kantor polisi.
"May, sini biar aku ngomong sama daddy kamu," sambung Raka. Mayang menganggukkan kepalanya dan memberikan ponsel itu ke tangan Raka.
"Selamat siang, Tuan. Saya Raka." Raka menyapa dan memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Hm .... iya, Raka. Panggil saja daddy seperti Mayang!" pinta Reyhan.
"Oh, iya. Daddy." Raka mengubah panggilannya.
"Jadi saya sudah bersedia untuk memberi keterangan kepada pihak kepolisian dan saya sudah memutuskan agar masalah ini tidak diperpanjang lagi karena saya juga sudah mendapatkan ganti rugi yang sesuai dan cafe saya sudah dibangun lagi sekarang, tapi ... saya sangat berterima kasih karena anda sudah mau membela saya," jelas Raka. Tutur bicaranya sangat sopan dan santun membuat Reyhan semakin yakin kalau Mayang tidak salah bergaul dengan lelaki baik sepertinya.
Ganti rugi? Apa benar Sandrina memberinya ganti rugi? Tidak mungkin! Tujuannya untuk membuat Raka sengsara. Apa ini cuma alibi Raka saja agar aku mencabut tuntutanku. Batin Reyhan.
"Aku tidak suka istriku bertindak yang merugikan orang lain untuk itulah aku menjebloskannya ke penjara, terlebih kau pun tahu bagaimana sikapnya terhadap Mayang," sahut Reyhan.
"Iya, saya tahu, tapi tolong cabut laporannya saja, Dad. Insya Allah saya sudah ikhlas," balas Raka dengan lapang d**a.
"Baiklah kalau itu permintaanmu. Pengacaraku yang akan mengurusnya," jawab Reyhan.
"Terima kasih banyak," ucap Raka lalu mengembalikan ponsel tersebut pada Mayang.
Raka sudah memenuhi janjinya untuk membebaskan Sandrina seperti permintaan Mayang. Berkali-kali Mayang berterima kasih karena Raka sudah berbaik hati memaafkan kesalahan ibunya yang kelewat fatal. Setelah menunggu kedatangan pengacara Reyhan dan urusan hukum ini resmi dicabut maka Mayang dan Raka pun segera meninggalkan kantor polisi.
Di parkiran kendaraan.
"Jaga dirimu baik-baik, May! Aku pulang dulu, ya. Sebentar lagi mommymu akan dibebaskan. Dan semoga ini kejahatan yang terakhir kalinya beliau lakukan," ujar Raka berpamitan dan memberikan pesan serta harapannya.
"Mas, karena Mas Raka udah buat mommy bebas, itu artinya kita nggak perlu lagi jaga jarak kayak dulu. Mommy udah janji kan buat nggak ngelarang aku ketemu Mas Raka," kata Mayang dengan senyuman yang terkembang dari dua sudut bibirnya.
Tapi aku nggak yakin mommymu bakal penuhi janjinya, May. Kamu itu terlalu percaya aja. Batin Raka, karena dia paham seorang wanita otoriter seperti Sandrina tidak mungkin semudah itu untuk mengaku kalah. Ini hanya sebuah iming-iming yang dia gunakan untuk mengelabui Mayang.
"Iya, aku juga senang kok kalau kita bisa ketemu lagi kayak dulu," desah Raka.
"Kalau gitu aku pingin ke rumah Mas Raka buat ketemu Bunda, boleh kan?" Mayang ingin segera merasakan kebebasannya lagi. Yang pertama ingin dia temui ya Bunda Amel, karena dengan beliaulah Mayang diperlakukan seperti seorang anak oleh ibunya.
"Kamu ijin dulu sama daddy kamu, May!" tegur Raka.
"Pasti dibolehin kok, Bambang." Rasa canggung di antara ke duanya mendadak menghilang. Mayang mulai mengajak Raka bercanda dengan memanggil lelaki tersebut dengan panggilan kesayangan mereka.
Raka memalingkan wajah sambil tersenyum simpul. "Oke, kita pergi ya, Sri," katanya memenuhi keinginan Mayang untuk bertemu ibunya.
"Jhon, aku bonceng Mas Raka, ya." Mayang meminta ijin pada Jhon si bodyguard yang nggak dingin macam es batu kayak Jasson.
"Nanti Tuan Rey marah, Nona," jawab Jhon.
"Aku nanti yang bilang. Santai aja daddy nggak akan marah kalau tahu aku perginya sama Mas Raka," kekeh Mayang. Pokoknya maunya pergi boncengan sama Raka, Mayang udah kangen banget pingin nemplok di motor Raka.
"Ya sudah saya kawal dari belakang ya, Nona."
"Siap, Jhon! Thanks, ya." Mayang senang sekali akhirnya dia bisa melepas rindu bersama Raka.
**
Mayang dan Raka berboncengan di atas motor roda dua yang gagah tersebut membelah jalanan kota yang padat merayap. Kalau sudah begini mereka jadi lupa untuk menjaga jarak. Dalam hati Raka terus beristighfar karena Mayang yang terus menggelendotinya seperti anak kecil yang kesenengan dibonceng naik motor sama bapaknya.
"Mas Raka, aku mau es krim," pinta Mayang dengan manja.
"Sri, jangan gelendotan mulu! Dosa!" Raka mengibaskan ke dua pundaknya untuk menyingkirkan tangan Mayang yang mampir di sana.
"Dih ... kepegang dikit doang atuh, Bambang!" cibir Mayang sambil melipat ke dua tangannya di depan d**a. Bibirnya sudah manyun mengerucut ke depan seperti mulut bebek.
"Dikit-dikit terus lama-lama jadi bukit, Sri!" debat Raka.
"Orang Mas Raka suka aku gelendotin juga," serang Mayang nggak mau ngalah.
"Bukan muhrim, Sri," celetuk Raka.
"Ya ayo dijadiin muhrim, Mas!" tantang Mayang sambil merapatkan tubuhnya lagi pada Raka.
"Hish ... anak kecil! Berisik!" gerutu Raka meski dalam hati dia tertawa senang. Eh, malah jadi kebayang kalau dia sampai nikah sama Mayang, anak kecil yang manja tapi lucu dan menghibur banget.
"Mas, nanti kalau aku udah lulus kuliah, kita nikah yuk!" ajak Mayang seolah nikah itu adalah perkara yang mudah, seperti yang mengajak beli es krim di minimarket di pinggir jalan yang gampang untuk dikabulkan.
"Mulai ngaco ya lu, Sri!" decak Raka.
"Hm ... jadi Mas Raka nggak mau nunggu sampai kuliahku selesai, ya? Ya ... paling enam atau tujuh tahun lagi, Mas," gumam Mayang kecewa.
"Tujuh tahun lagi berarti umurku udah tiga puluh tahun. Busyet ... tua amat ya gue demi nungguin lu doang, Sri," gerundel Raka sambil terus membagi konsentrasinya antara ngobrol sama Mayang dan fokus menaiki roda duanya. Jangan sampai nabrak! Entar berabe urusannya kan?
"Ya udah kalau Mas Raka nggak mau nungguin aku, udah sana Mas Raka cepetan nyari jodoh! Udah tua! Udah bau tanah!" cibir Mayang sambil menjauhkan tubuhnya lagi dari Raka, pantatnya ia mundurkan hingga sampai ke ujung jok motor. Senggol dikit bisa jatuh ke belakang kamu, Yang!
"Dih ... ngambek dia. Hahahahaha." Raka tertawa melihat ekspresi ngambek Mayang. Kebetulan lagi lampu merah, jadi Raka bisa menengok ke belakang buat lihatin Mayang.
"Enggak! Siap yang ngambek?" ketus Mayang sambil memalingkan muka.
"Sri, jodoh itu di tangan Tuhan, diatur sama Allah. Kalau kita jodoh pasti disatuin. Santai aja!" Raka mulai mengeluarkan kalimat-kalimat bijak.
Sampai di rumah Raka, Mayang disambut baik oleh Bunda Amel. Kebetulan Bunda baru saja selesai masak untuk makan siang. Jadilah mereka bertiga makan bersama seperti layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Mereka saling melempar canda tawa dan membahas apapun sesuka mereka. Suasana yang sangat nyaman, hangat dan penuh dengan kekeluargaan. Meski hanya menu sederhana yang terhidang di atas meja, tapi buat Mayang ini jauh lebih nikmat dari pada berbagai makanan enak yang terhidang di rumahnya. Iya ... itu karena Bunda Amel memasak semua makanan ini dengan rasa cinta dan sayang.
Perbedaan suasana yang amat mencolok antara rumah Opa Ardi dan rumah Bunda Amel, membuat Mayang selalu betah tinggal di sini. Kalau di rumah dia jarang sekali bertegur sapa dengan orang tuanya, jarang berkumpul, tertawa atau bahkan hanya untuk sekedar melempar candaan seperti sekarang. Rumah megah dengan banyak harta justru seperti neraka dan penuh ketegangan untuk Mayang, tapi rumah Raka yang sederhana ini justru menyerupai surga untuk Mayang.
"Jaga dirimu baik-baik kalau kamu di luar negeri nanti, Mayang!" nasehat Bunda Amel ketika tahu Mayang akan meneruskan pendidikannya di luar negeri.
"Iya, siap, Bunda!" sahut Mayang.
"Nanti aku pasti langsung ke sini nyariin Bunda sama Mas Raka kalau aku udah pulang ke Indonesia. Yach ... meski pun itu lama banget sie," imbuh Mayang.
"Iya, Bunda pasti tunggu kedatangan kamu, Sayang. Yang penting ingat pesan Bunda, jangan lupa salat, jaga kesehatan, belajar yang baik dan karena kamu wanita lalu kamu akan tinggal di negara asing yang budayanya jauh berbeda dengan kita, Bunda berharapnya kamu bisa jaga diri dan kehormatan kamu, Mayang! Karena buat seorang wanita kehormatan dirinya adalah mahkotanya. Kamu paham kan, Mayang?" tutur Bunda Amel menasehati Mayang dengan panjang lebar, Bunda menganggap Mayang seperti anaknya sendiri, untuk itulah beliau banyak bicara dan juga memberi wejangan.
"Iya, Bunda. Mayang pasti ingat apa pesan Bunda, kok," sahut Mayang lalu memegang tangan Bunda Amel yang tergeletak di meja.
"Kamu memang anak baik, Mayang. Harusnya ibu kamu merasa bersyukur punya anak seperti kamu. Karena Bunda juga pingin banget Rania itu senurut kamu, tapi nyatanya dia susah sekali untuk diatur," gersah Bunda yang menjadi gelisah karena teringat dengan anak bungsunya.
Karena membahas Rania, Mayang jadi kebayang lagi saat dia memergoki gadis itu pergi dengan om-om beristri.
Nggak bisa dibayangin kalau Bunda sama Mas Raka sampai tahu kalau Rania seperti itu, mereka pasti sedih banget. Kata hati Mayang berkata demikian, tapi apa yang bisa dia lakukan? Mayang tahu batasannya, dia tidak mungkin ikut campur terlalu dalam atas urusan keluarga Raka. Yang penting Mayang sudah berusaha menasehati dan mengingatkan Rania kala itu, perkara Rania mau menurutinya atau tidak sebenarnya itu bukan menjadi urusannya, tapi lagi-lagi Mayang terlalu memikirkan perasaan Raka dan Bunda Amel.
Pokoknya aku harus simpan aib Rania rapat-rapat. Jangan sampai Bunda sama Mas Raka tahu. Dan semoga aja Rania udah dibuka kesadarannya sama Allah. Harap Mayang dalam hati.
Ketika Mayang sedang melamun karena memikirkan Rania. Tetiba Bunda Amel menarik tangan beliau yang ada dalam genggaman tangan Mayang, karena posisi Mayang dan Bunda duduk bersebelahan.
Bunda terlihat meringis dan tangan itu kini terletak memegang ke d**a Bunda.
"Bunda kenapa?" tanya Mayang dan Raka bersamaan. Mereka dibuat panik karena Bunda terus mengeluh sakit dengan mata terpejam.
"Astaghfirullah ... Allahu akbar." Bunda Amel menyebutkan Asma-Asma Allah, mencoba untuk menghilangkan rasa sakit itu dengan mengingat keberadaan Sang Penciptanya.
"Bunda kenapa?" Mayang tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya begitu pun dengan Raka.
"Mas, mending kita bawa Bunda ke rumah sakit sekarang! Ayo kita bawa naik mobil aku, ya!" kata Mayang memberi ide agar Raka bergerak cepat karena melihat wajah Bunda yang sudah pucat dan berkeringat dingin sekujur tubuhnya.
"Jhon!" Mayang berlari keluar rumah dan meneriaki pengawalnya yang stand by di depan rumah Raka.
"Iya, Nona," sahut Jhon.
"Cepat antar aku ke rumah sakit!" perintah Mayang. Pada saat yang sama Raka keluar sambil menggendong ibunya yang terjatuh pingsan.
Melihat itu Jhon segera membuka pintu mobil dan membantu Raka untuk memasukkan ibunya ke dalam kendaraan roda empat tersebut.
Bunda dibaringkan di jok belakang dengan posisi kepala yang ada di pangkuan Raka. Sedangkan Mayang duduk di depan, di samping Jhon.
"Yang cepat, ya, Jhon!" perintah Mayang karena dia sangat takut Bunda Amel kenapa-napa.
"Bunda, bertahanlah! Raka bawa Bunda ke rumah sakit, ya," ucap Raka dengan mata berkaca-kaca.
"Bunda pasti kuat aku yakin itu, Mas. Bismillah." Mayang menyemangati Raka yang gelisah meski hatinya sendiri juga sama gelisahnya.
Jhon melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Skill-nya yang dulu suka ikut balap liar kini terpakai di saat urgent seperti sekarang.