**
Mayang meminta Raka untuk masuk ke dalam mobilnya. Tak lupa dia berkenalan dulu dengan pengawal baru Mayang yang bertugas untuk menggantikan Jass untuk sementara waktu.
"Lalu kita mau ke mana, Nona?" tanya Jhon karena Mayang belum memberitahu tujuan mereka akan pergi.
"Kita ke taman cinta aja, Jhon," jawab Mayang.
Mayang mau ngomong apa, ya? Kok aku jadi deg-degan kayak gini? Lama banget nggak ketemu dia malah jadi salah tingkah. Raka membatin tidak tenang.
"Siap, Nona!" Jhon menyalakan mesin mobilnya.
Taman cinta adalah taman di mana dulu Raka mengajak Mayang jalan-jalan. Dan di sana juga dia dulu pernah diganggu oleh beberapa lelaki mata keranjang yang lalu Raka datang untuk melindunginya. Di taman itu pula ia merasakan cemburu untuk yang pertama kalinya ketika ia harus melihat Raka bersama dengan Maya, mantan kekasihnya.
Entahlah, kenapa Mayang spontan mengucap Taman Cinta ketika Jhon bertanya mereka akan pergi ke mana. Mungkin ini juga bentuk dari rasa rindu Mayang pada tempat itu dan juga pada lelaki yang saat ini duduk diam di sisinya.
Kenapa hubunganku sama Mas Raka jadi sedingin ini? Jarak udah buat semuanya berubah. Pikir Mayang. Dan memang ini kan yang aku harapkan? Agar kita bisa saling melupakan. Lanjutnya.
Dua puluh menit kemudian.
Raka dan Mayang duduk di bangku panjang di mana di depan mereka terdapat hamparan bunga mawar yang berwarna-warni dengan banyak kumbang dan kupu-kupu yang berhinggap untuk menghisap madunya. Jarak duduk mereka tiga jengkal tangan orang dewasa, sebagaimana mereka juga menjaga jarak duduk mereka ketika di dalam mobil saat perjalanan ke tempat ini.
"Mas ..." Mayang mulai membuka obrolan.
"Iya, May. Kamu mau ngomong apa?" tanya Raka.
"Mas, aku boleh minta tolong nggak sama Mas Raka? Aku butuh banget bantuan Mas Raka," jawab Mayang dengan air mata yang sudah mulai mengembang di pelupuk matanya.
"Minta tolong apa? Kalau aku bisa pasti aku bantuin kamu, kok," sahut Raka. Apa sih yang nggak dia lakuin buat Mayang?
"Mas, mommy aku masuk penjara," ucap Mayang membuat ke dua bola mata Raka membulat penuh.
"Kenapa bisa?" tanya Raka singkat dengan kening yang penuh kerutan.
"Daddy yang masukin mommy ke penjara, Mas," jawab Mayang lesu.
"Karena apa?" Raka penasaran.
"Karena kasus pembakaran cafenya Mas Raka."
"Apa?! Ta-Tapi ... dari mana daddy kamu bisa tahu? Kamu cerita sama daddy kamu?" selidik Raka.
"Aku nggak cerita apapun sama daddy, Mas. Tapi daddy nyuruh orang suruhannya buat nyelidikin. Aku pun kaget daddy bisa semarah ini dan ngebelain Mas Raka mati-matian. Mas ... kata mommy hanya Mas Raka yang bisa bebasin mommy dari penjara," jelas Mayang. Berharap Raka setuju untuk membantunya membebaskan Sandrina.
Dalam hati Raka jelas ada rasa senang meski pada hakikatnya dia tetap kaget ketika dia sama sekali tidak memiliki niat untuk memenjarakan wanita yang sudah membuat cafenya luluh lantah tersebut, tapi ada orang lain yang dengan lantang memberikan pembelaan untuk dirinya. Apalagi orang tersebut adalah ayah kandung Mayang sendiri, yang seharusnya justru memihak pada Sandrina, tapi mengejutkan, lelaki yang belum Raka temui itu ternyata justru memperjuangkan keadilan untuk dirinya.
"May, daddy kamu kenapa baik banget sama aku? Memang beliau nggak kasihan masukin mommy kamu ke penjara?"
"Mas, daddy aku memang orangnya baik banget. Dia itu sama kayak Mas Raka, sama-sama suka membela orang yang benar. Daddy juga penyayang dan sabar, salatnya tekun banget ... dia mirip banget sama Mas Raka dari segala aspek, bahkan wajah kalian aja aku lihat juga sama," jelas Mayang yang malah membandingkan Raka dengan ayahnya.
"Siapa nama ayah kamu, May?" tanya Raka ingin tahu. "Aku pingin banget ketemu beliau buat ngucapin terima kasih karena udah belain aku."
"Daddyku namanya Rey, Mas. Kapan-kapan aku ajak daddy buat ketemu kamu, ya. Daddy juga nggak ngelarang aku dekat sama Mas Raka," tutur Mayang,
"Rey?" Raka tertegun sejenak.
"Gimana? Mas Raka mau kan bantuin mommy keluar dari penjara? Mommy janji nggak akan ngelarang kita berteman lagi kalau Mas Raka bisa bebasin dia." Hanya Raka lah harapan Mayang satu-satunya. Selain untuk membuat jarak di antara dia dan Raka menghilang, tapi dia juga ingin membuktikan kalau dia adalah anak yang bisa diandalkan.
"Tenang aja, May! Aku pasti bakal bantuin kamu, kok. Tapi besok ya aku ke kantor polisinya, aku akan berusaha buat mommy kamu keluar dari penjara. Hari ini aku ada urusan," jelas Raka menyetujui permintaan Mayang dan bersedia membantu gadis itu dengan senang hati.
"Makasih banget, ya, Mas," seru Mayang dengan mata berbinar. Gadis itu reflek memegang tangan Raka, tapi segera dia menarik tangannya itu dan mengantupkan ke dua telapak tangannya. "Makasih banget, Mas. Aku tahu aku nggak pernah kecewa setiap minta apapun sama Mas Raka," pujinya membuat Raka menyunggingkan senyum karena senang mendengar kalimat itu keluar dari bibir Mayang.
"Sama-sama, May. Salam buat Jasson, Ya. Dia udah sembuh kan?"
"Alhamdulillah, keadaannya udah membaik kok, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak. Mommy pasti senang dengarnya. Nanti aku pasti sampaiin pesan Mas Raka sama Jass." Mayang sangat bersemangat. Dengan begini mommy akan bebas dan dia bisa kembali dekat dengan Raka.
**
Mayang pulang ke rumah dengan hati yang bahagia. Usahanya untuk membuat Sandrina keluar dari penjara akan segera membuahkan hasil ketika Raka bersedia untuk membuat kesaksian agar Sandrina bebas dari penjara.
Rasa bahagia ini tidak serta merta karena janji yang diiming-imingkan oleh Sandrina tentang hubungannya dan Raka. Namun, Mayang bahagia karena dengan begini dia bisa membuktikan pada mommy kalau dia anak yang bisa diandalkan dan bukan pembawa sial seperti yang selalu Sandrina tuduhkan.
"Jass, aku senang banget karena Mas Raka besok mau bantu aku buat keluarin mommy dari penjara," cerita Mayang. Siapa lagi orang yang dia tuju untuk berbagi segala hal kalau bukan Jasson?
Jass tidak memberi respon, tapi sibuk menyimak apa yang dikatakan nona mudanya.
"Jadi besok Mas Raka mau ke kantor polisi. Nanti kalau daddy udah pulang aku juga mau ngomong sama dia, Mas Raka mau ketemu sama daddy dan ngomong langsung sama daddy," lanjut Mayang antusias.
"Syukurlah, Nona." Jass merespon singkat.
Gemericik air kolam terdengar di sela ocehan Mayang, karena saat ini mereka sedang berbincang-bincang di taman belakang rumah. Jass sibuk melempari ikan-ikan yang ada di dalam air dengan banyak bulir-bulir pelet makanan kesukaan makhluk yang hidup menggunakan insang tersebut sambil sesekali melirik ke arah Mayang yang duduk di sampingnya.
"Alhamdulilah banget, Jass. Aku senang jadinya karena mommy bilang dia nggak akan lagi ngelarang aku ketemu Mas Raka," oceh Mayang.
"Oh ...." Jass manggut-manggut.
"Tapi, Jass." Mayang mendadak menunjukkan ekspresi seperti yang sedang berpikir keras, seperti orang yang tengah penasaran akan sesuatu hal.
"Tapi kenapa?" tanya Jass singkat lalu kembali melempari ikan-ikan yang berkerumun di pinggir kolam dengan makanan.
"Jass, dengarin aku!" Mayang berbisik lalu mengedarkan pandangan mata hendak mengawasi situasi di rumahnya, melihat apa yang dilakuk Jass jadi ikutan menyapukan netra tajamnya seperti yang Mayang lakukan. Aman! Tidak ada siapa pun, maka Mayang melanjutkan apa yang ingin dia utarakan.
"Ada sesuatu yang bikin aku sampai sekarang masih keingat terus, Jass," ungkap Mayang masih dengan suara yang pelan.
"Apa?" tanya Jass sambil membenturkan ke dua telapak tangannya, mengibaskan bekas sisa-sisa makanan ikan yang menempel di sana.
"Aku pernah nemuin foto di kamar mommy, Jass," jawab Mayang.
"Foto?"
"Hm ... foto masa muda mommy dengan seorang lelaki."
"Mungkin itu mantan pacar Nyonya, Nona," tebak Jasson.
"Namanya Bara," celetuk Mayang.
"Mommy marah banget pas aku lihat foto itu, Jass. Aku sampai ditampar sama mommy, aku penasaran Jass kenapa mommy masih nyimpan foto itu sampai sekarang? Mana udah lusuh banget dan hampir luntur, orang itu pasti berkesan banget buat mommy kan?" jelas Mayang.
"Entahlah, Nona!"
"Dan ... bagaimana bisa daddy dan mommy menikah, tapi nggak tinggal dalam satu kamar? Ini juga masih jadi tanda tanya buat aku, Jass. Bukannya untuk hasilin anak kita harus gituan dulu? Terus gimana caranya mereka nyetak aku kalau gak gituan?"
Jass mengerutkan keningnya karena mendengar pertanyaan Mayang.
"Gituan?" ulang Jass.
"Iya, gituan. Iih ... nggak usah pura-pura beego gitu dech, Jass! Aku aja paham, karena aku udah gede ...." cibir Mayang.
Jass menggelengkan kepalanya perlahan. "Iya, anda sudah dewasa karena terlalu banyak kumpul sama Winda," decak Jasson.
"Hahaha." Mayang menepuk bahu Jass dengan kencang. "Kamu tahu aja kalau dia yang ngajarin aku hal-hal ajaib macam gitu."
"Sudah bisa ditebak, Nona."
"Hm ... jadi menurutmu apa mommy masih cinta sama si Bara itu dan nggak cinta sama daddy aku, Jass?" Mayang melempar pertanyaan yang nggak mungkin bisa Jass jawab. Hanya Sandrina kan yang tahu isi hatinya.
Jass hanya mengangkat ke dua bahunya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Apa aku harus tanya sama daddy, ya?" Mayang berpikir, sekalinya penasaran memang suka kebayang terus kalau belum ketemu jawabannya.
"Tuan Reyhan pasti tidak akan tahu juga apa jawabannya, kalau anda mau tahu tanyakan saja pada Nyonya Sandrina," jelas Jasson.
"Mana aku berani?" Mayang mengerucutkan bibirnya ke depan.
Telepon seluler yang diletakkan di saku celana Jass berdering, ternyata panggilan dari papahnya.
"Jass, itu papi kamu, ya?" Mayang mengintip. Dasar nggak tahu sopan santun!
"Iya, Nona," jawab Jass. Baru saja akan menggeser gambar telepon berwarna hijau ke atas, Mayang sudah duluan mengambil alih ponsel itu dari tangan Jass.
"Biar aku yang jawab," kata Mayang lalu menaikkan satu alisnya centil.
"Astaga, Nona," desah Jasson.
"Hallo, Om!" seru Mayang menyapa dengan riang gembira. Gadis itu meloudspeaker suaranya.
"Hallo, kamu Mayang, ya?" Papa Jasson masih ingat benar dengan suara Mayang.
"Iya, Om. Aku Mayang gadis manis kesayangannya Jasson," jawab Mayang dengan kecentilan. Jass tersenyum tipis.
"Hahaha. Iya ... Jasson memang sangaaat menyayangimu, nanti kalau kamu sudah lulus kuliah menikahlah dengannya!" canda Papa Jasson.
"Papah!" tegur Jass karena malu.
"Hahaha." Mayang dan lelaki yang ada di sambungan suara tersebut terkekeh.
"Jass, bagaimana keadaanmu, Nak? Papah kangen sama kamu."
"Om, Jass baik-baik aja, Kok. Om nggak usah khawatir! Kan ada aku yang gantian jagain Jasson. Ya kan, Jass?" Yang ditanya siapa, yang jawab siapa. Dasar Mayang!
"Iya ... om tahu kamu pasti bisa jagain Jass dengan baik. Om tidak pernah meragukan itu, apalagi tentang daddy-mu ... om sangat berterima kasih dengannya karena beliau .... " Mendadak suara ceria ayahnya Jass berubah menjadi parau.
"... karena beliau sudah menjaga anak om dengan sangat baik," tutupnya dengan terisak.
"Om ... kenapa om jadi nangis gitu? Justru daddyku yang harusnya terima kasih, karena anak om yang tampan ini yang udah jagain anaknya dengan baik. Kalau enggak ada Jass, entahlah mungkin aku udah mati kemarin," sahut Mayang ikutan jadi sedih.
"Nona, jangan bilang begitu!" tegur Jasson.
"Itu nyata, Jass," debat Mayang. "Jadi atas nama daddy aku aku mau ngucapin banyak terima kasih sama Om karena Om udah punya anak sehebat dan sepemberani Jasson," imbuhnya.
"Sudah, Nona! Biarkan saya tenangkan papa saya dulu, ya," sela Jasson. Ia mengambil alih ponselnya dari tangan Mayang. Jass mematikan loudspeaker dan berjalan menjauh dari Mayang untuk berbincang-bincang secara privat oleh ayahnya.
"Hm ... Jass ini biar dingin, tapi sayang banget sama ayahnya. Keren sie," gumam Mayang memuji Jass yang kini berdiri kurang lebih sepuluh meter dari dirinya.