**
"Tante, saya orang baik-baik. Percayalah! Saya tidak memiliki niat apapun pada Rania kecuali hanya untuk membantu saya terlepas dari perjodohan," jelas Asta yang begitu dihubungi oleh Rania pemuda tersebut segera meluncur ke alamat rumah Ibu kandung Rania yang Rania share padanya.
"Nak, ini sepertinya nggak bisa semudah itu Ibu percaya." Bunda Amel masih meragukan cerita Rania dan Asta, meski keduanya mengatakan hal yang sama.
"Bun, nggak usah khawatir, aku bakal awasin mereka, kalau sampai mereka ngelakuin hal-hal yang di luar batas, aku yang akan bertindak," sambung Raka sambil membelalakkan matanya pada Rania dan Asta.
"Tenang aja, Bang! Demi Allah aku orang baik, aku nggak akan ngapa-ngapain Rania," balas Asta meyakinkan Raka.
"Bang, Bun, sekali ini aja dech percaya sama aku!" Rania memohon.
Dari pada aku jadi simpanan om-om kan. Gumamnya dalam batin.
**
"Braak ... !" Reyhan membanting pintu ruang kerjanya dengan kencang. Lelaki itu keluar ruangan dan berjalan menuju kamar istrinya dengan amarah yang berkobar-kobar.
Langkah lebarnya dengan cepat membawa lelaki bertubuh tinggi itu segera sampai di kamar sang istri.
"Sandrinaaa!" teriak Reyhan sambil menggedor-gedor pintu kamar wanita itu dengan kasar.
"Sandrinaaa! Buka pintunya!" Reyhan berteriak untuk ke dua kalinya ketika si empunya kamar tak juga membukakana pintu untuknya.
Ternyata wanita itu sedang sibuk berbincang-bincang dengan kawan sosialitanya melalui sambungan suara. Ketika sang suami kembali mengetuk pintu dan menyerukan namanya dengan kasar serta lantang, maka Sandrina pun segera memutus teleponnya karena ia tidak mau temannya bertukar suara ini mendengar kegaduhan yang terjadi di rumahnya.
"Hish ... dia pasti mau membuat kericuhan lagi di kamarku. Bisa-bisanya aku memiliki suami seperti dirinya," omel Sandrina dan bergegas membuka pintu untuk Reyhan.
"Kenapa lagi? Hah?" tanya Sandrina dengan nada menantang.
Reyhan melewati tubuh istrinya yang masih berdiri di dekat pintu. Dia masuk lebih dalam dan berdiri sambil berkacak pinggang membelakangi Sandrina yang hanya diam memperhatikan dirinya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mengubah tabiatmu dan segala pikiran jahatmu," ucap Reyhan kemudian mendesah kasar. Dia mengacak-acak ujung rambutnya dengan jemari tangannya untuk melampiaskan rasa kecewanya.
"Kau tidak perlu berbuat apa-apa, tidak ada yang memintamu untuk mengubahku," sahut Sandrina dengan santainya.
"Tapi kau sudah merugikan banyak orang, San! Bukan hanya Mayang yang kau jadikan pelampiasan kejahatanmu, ada Jass juga yang hampir mati karena dirimu, dan juga-"
"Siapa? Memang siapa lagi yang terluka karena diriku? Hah?" potong Sandrina sambil bersedekap dan mendekati suaminya.
"Kau yang sudah membakar cafenya Raka kan?" tuduh Reyhan sambil menghunuskan tatapan tajam ke netra Sandrina.
Lidah wanita itu tercekat. Dia memalingkan wajah dan gesture tubuhnya menunjukkan bila dia sedang gelisah. Dengan begini Reyhan semakin yakin jika memang benar Sandrina-lah yang menjadi dalang atas kebakaran yang menimpa Cafe Radika.
"Kenapa kau diam?! Jawab aku, San!" bentak Reyhan membuat ke dua bahu Sandrina melonjak karena kaget.
Sandrina tidak berani menatap mata Reyhan yang terlihat sangat menakutkan. Lelaki itu benar-benar di ujung kekecewaan yang terdalam. Tidak habis pikir sang istri bisa setega itu merugikan orang lain demi ego dan kemauannya.
Reyhan mencengkeram erat ke dua bahu Sandrina dan mengarahkan wajah wanita itu menghadapnya.
"Kediamanmu ini menunjukkan kalau kau memang benar telah melakukannya!" tegas Reyhan.
Mata Sandrina memerah dan tak lama air matanya jatuh. "Iya! Aku memang yang sudah membakar cafe milik lelaki miskin itu!" jawabnya dengan lantang. Ketakutannya menghilang, keangkuhannya kembali berkuasa dan mengendalikan dirinya.
"Kenapa? Kenapa kau tega melakukan itu? Apa salah Raka padamu? Hah?" cecar Reyhan kesetanan.
"Karena dia sudah berani mendekati Mayang dan aku tidak suka itu! Dia itu seperti dirimu! Lelaki miskin yang mengincar harta papiku!" sentak Sandrina kemudian mendorong d**a Reyhan hingga lelaki itu mundur tiga langkah ke belakang dan cengkeraman tangannya pada pundak Sandrina pun terlepas.
"Raka tidak seperti itu! Dan aku juga tidak pernah mengincar harta milik papi!"
"Dari mana kau tahu kalau dia tidak seperti itu? Hah?! Kau ... bisa seyakin ini seolah kau sudah mengenal dengan baik siapa lelaki miskin itu-"
"Tutup mulutmu! Jangan pernah kau menghina dia di depanku, Sandrina Soesetya! Karena aku tidak akan terima itu!"
Sandrina melempar senyum setan pada Reyhan. "Terserah mau kau terima atau tidak, tapi yang penting usahaku berhasil, semenjak aku membakar cafe itu, Mayang tidak lagi mau bertemu dengan Raka karena dia takut aku akan mencelakai Raka lagi. Anakmu itu memang penurut, ya? Hahahaha." Sandrina tertawa. Jadi menurut wanita itu, penderitaan orang lain adalah sebuah lelucon yang bisa membuatnya terpingkal-pingkal.
Reyhan menggenggam satu pergelangan tangan Sandrina dengan erat.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Sandrina menghentikan tawanya seketika.
"Kau harus mempertanggung jawabkan semua kejahatanmu!" tegas Reyhan. Dia menarik paksa Sandrina agar ikut dengannya.
"Apa maksudmu? Lepaskan aku!" Sandrina meronta-ronta. Dia melawan ketika Reyhan menarik tangannya dan menyeretnya keluar kamar.
"Aku sudah cukup mengalah selama ini, tapi kau terus tidak tahu diri!" murka Reyhan.
Hingga kegaduhan pun terdengar sampai ke telinga Mayang dan juga Jasson yang masih mengobrol di dalam kamar.
"Jass, itu suara Mommy dan Daddy. Ada apa, Jass? Apa mereka berantem lagi?" Mayang seketika gelisah mendengar teriakan ibunya.
"Saya rasa begitu, Nona," jawab Jass tenang.
"Jass, aku mau lihat ada apa sama mereka. Aku penasaran banget." Mayang meninggalkan sofa yang ada di kamar Jasson untuk segera menyeret langkah kakinya menuju ke sumber kegaduhan itu bermuara.
Jass membuntutti Mayang, karena dia juga penasaran dengan yang terjadi antara tuan dan nyonyanya.
Reyhan menyeret Sandrina sudah sampai di ruang tengah. Dan Mayang serta Jass pun datang untuk bertanya kenapa Reyhan memaksa Sandrina untuk ikut bersamanya.
"Dad, ada apa? Kenapa mommy daddy paksa-paksa?" tanya Mayang. Dia kasihan melihat ibunya menangis dan meronta-ronta minta dilepaskan.
"Daddy mau membawa mommy ke tempat yang seharusnya dia berada, Mayang," jawab Reyhan.
"Aku tidak mau, Rey! Aku mohon lepaskan aku!" pinta Sandrina. Dia benar-benar tidak ingin mendekam di penjara.
Sialan! Usman bilang kalau dia sudah memastikan kalau tidak akan ada satu orang pun yang tahu tentang kebakaran ini, tapi kenapa Reyhan bisa mengetahuinya? Decak Sandrina.
"Tapi apa kesalahan mommy, Dad?" tanya Mayang.
"Lepaskan Mommy, Dad! Mommy pasti kesakitan," pintanya.
"Iya, ini sakit sekali, Mayang. Tolong, Mommy!" Sandrina mengiba pada anaknya.
"Dia sudah membakar cafe milik Raka dan daddy tidak terima itu!" jelas Reyhan membuat Mayang dan Jass langsung melempar pandangan.
Dari mana Daddy tahu? Tanya Mayang dalam hati.
"D-Dad ... ini pasti kesalahpahaman .... " Mayang mencoba menutupi kesalahan ibunya.
"Kau tidak usah berdrama di depan daddy, Mayang! Kau pun tahu semuanya sebelum daddy mengetahuinya. Mungkin kau selalu menolak memenjarakan mommymu ketika dia menyakitimu, tapi kali ini daddy tidak bisa diam! Dia sudah menyengsarakan hidup orang lain!" papar Reyhan emosional. Tekadnya sudah bulat, dia tidak akan melepaskan Sandrina dari jerat hukum. Sudah cukup dia bersabar selama ini menjadi suami yang tidak pernah dianggap dan dihormati.
"Ayo! Wanita jahat sepertimu memang pantas untuk dihukum!" Reyhan kembali memaksa Sandrina untuk ikut bersamanya.
"Mayang ... tolong mommy!" Sandrina mengulurkan tangannya yang satu lagi dan menggenggam pergelangan tangan anaknya kuat-kuat. Ketika dalam situasi seperti ini dia baru menganggap Mayang anaknya.
"Dad, lepaskan mommy!" pinta Mayang dengan menunjukkan wajah memelas agar Reyhan mau memenuhi permintaannya. Sandrina tahu Reyhan sangat mencintai Mayang dan akan melakukan apapun untuk Mayang, sehingga dia memanfaatkan rasa iba Mayang untuk membuat Reyhan mengubah keputusannya.
"Maafkan daddy, Mayang! Kali ini Daddy tidak bisa memenuhi keinginanmu," ucap Reyhan meski sebenarnya dia juga tidak tega untuk melakukan hal ini.
"Lepaskan tangan Mayang, San!" perintah Reyhan.
Sandrina menggeleng cepat. "Aku tidak mau! Mayang, apa kau tega melihat mommy di penjara?" Sandrina terus mengiba.
Mayang bingung tidak tahu harus berbuat apa.
"Jass, lepaskan tangan Sandrina dari pergelangan tangan Mayang!" Reyhan memerintah Jasson.
"Baik, Tuan." Segera Jass memegang tangan Sandrina dan memaksa wanita itu untuk melepaskan Mayang.
"Maayaaang! Tolong Mommy, Mayang!" jerit Sandrina ketika dia kembali diseret paksa oleh suaminya.
Mayang tertegun. Menatap orang tuanya yang selalu tidak pernah akur. Perlahan bayangan diri Sandrina dan Reyhan lenyap dari pandangan mata Mayang. Dan ... suara teriakan Sandrina pun perlahan terdengar samar karena jarak yang semakin membentang jauh di antara mereka.
"Nona, saya rasa itu sudah yang terbaik untuk Nyonya Sandrina," ucap Jass membuat Mayang menitikkan air mata.
"Jass, dari mana daddy tahu soal ini?" tanya Mayang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Pandangan matanya masih lurus ke depan meski ke dua orang yang dia tatap sudah lenyap dari pandangan mata.
"Tuan Reyhan memiliki banyak anak buah yang lihai menyelidiki hal apapun, Nona. Saya tidak heran jika beliau tahu segalanya," jawab Jasson.
"Jass ... aku nggak tega sama mommy, Jass. Penjara itu sempit, kumuh, dan aku tahu mommy nggak mungkin betah ada di sana," gersah Mayang.
"Tidak ada yang betah dipenjara, Nona. Tapi Nyonya Sandrina wajib diberi hukuman atau kalau tidak beliau akan semakin gila," tutur Jasson memberi pengertian Mayang dengan sangat dewasa.
"Jass .... " Mayang membenamkan tubuhnya ke pelukan Jasson.
Rumah yang mewah dan harta melimpah ternyata tak mampu menjamin hidup seseorang akan damai dan bahagia. Miris sekali!
**
Di kantor polisi Sandrina berusaha mengelak tuduhan Reyhan. Dia menyerang balik Reyhan dan mengatakan kalau suaminya itu hanya memfitnahnya karena tidak memiliki cukup bukti yang kuat untuk memenjarakannya. Dan Sandrina pun mengancam akan menuntut balik Reyhan bila tuduhannya itu tidak bisa dibuktikan.
Namun, ternyata Sandrina tidak lebih pintar dari suaminya. Reyhan sudah paham sekali bagaimana liciknya istrinya itu dan dia sudah mengantisipasi segalanya.
"Kau bilang aku tidak memiliki bukti?" tanya Reyhan sambil menyunggingkan senyum meremehkan.
Lelaki itu mengambil ponsel dari saku celananya. Dan ... "Dengarkan ini baik-baik!" pintanya sambil memutar sebuah rekaman yang dia ambil secara diam-diam.
Sandrina shock bukan main. Sialan! Lelaki ini memang sebuah kutukan untukku! Umpatnya dalam batin.
Rekaman itu berisi pengakuan Sandrina yang membenarkan bila dirinyalah yang sudah membuat cafe Raka terbakar. Dia tidak bisa berkutik lagi, bukti suaranya sangat kuat dan tidak bisa disangkal.
"Hanya Raka yang bisa membebaskanmu dari penjara!" tegas Reyhan membuat Sandrina tidak bisa berbuat banyak selain terus mengumpat dalam batin karena kebodohannya.
**
Siang hari selepas pulang sekolah. Mayang menjenguk Sandrina di penjara sambil membawakan beberapa makanan kesukaan ibunya itu.
"Mom, mommy pasti nggak suka sama makanan di sini, ya?" tanya Mayang ketika melihat Sandrina makan dengan begitu lahap.
"Hm ... makanan di sini tidak enak. Mommy tidak suka," jawab Sandrina dengan mulut penuh makanan.
"Mom, aku pasti bakal bujukin daddy buat bebasin mommy dari sini. Doakan aku berhasil, ya, Mom!" ucap Mayang.
"Jangan bujuk daddymu! Dia itu keras kepala sekali dan tidak akan pernah mendengarkan perkataan orang lain. Yang harus kau lakukan adalah membujuk Raka! Hanya dia yang bisa membebaskan mommy dari penjara," jelas Sandrina.
"Jadi aku harus ketemu sama Mas Raka?"
"Iya, temuilah dia! Mommy tidak akan melarangmu bertemu dengannya lagi asal kau bisa membujuknya untuk membebaskan mommy," jelas Sandrina berusaha meyakinkan anak gadisnya yang masih polos tersebut dengan iming-iming yang tentunya akan membuat Mayang menjadi senang.
**
Mayang melakukan apa yang Sandrina minta. Selepas dari penjara, Mayang meminta Jhon untuk mengantarkannya ke rumah Raka. Namun, sayang Raka sedang tidak ada di rumah kala itu. Raka berada di cafe yang sedang dalam tahap renovasi. Tak menunggu lama, Mayang bertolak ke cafe Raka untuk bertemu dengan pemuda tampan tersebut.
Raka kaget melihat Mayang ada di depan matanya, lelaki itu sedang sibuk berdiskusi dengan Andika.
"Mas Raka," sapa Mayang kemudian melempar senyum lesu. Tak lupa dia juga menyapa Andika.
"May, kenapa kamu ada di sini?" tanya Raka.
"Mas Raka lagi sibuk, ya? Apa aku bisa minta waktu Mas Raka sebentar? Aku mau ngomong sama Mas Raka," jelas Mayang.
Aku kangen banget sama kamu, Sri. Pikir Raka yang sepersekian detik terkesima dengan wajah cantik Mayang yang sudah lama tidak pernah ia pandang lagi secara langsung.
"Oke. Kita mau ngobrol di mana?" Raka menyetujui permintaan Mayang untuk bicara.
"Kita cari cafe yang dekat sini aja, ya, Mas," jawab Mayang kemudian menundukkan kepalanya karena Raka terus memandangi wajahnya dengan seksama dan membuat Mayang menjadi malu dibuatnya.