**
Malam ini, tumben-tumbenan Rania berkunjung ke rumah Bunda Amel. Biasanya dia tidak akan datang bila tanpa diminta oleh ibunya ataupun Raka. Gadis itu terlihat menenteng banyak barang belanjaan di tangan kanan dan kirinya dengan raut wajah yang ceria.
"Bunda .... " Rania mendekat dan duduk di sisi ibunya. Semua barang belanjaan dia letakkan berjajar di atas meja.
Bunda bukannya fokus dengan anaknya, tapi justru tertarik dengan barang-barang yang Rania bawa.
"Ran, ini apa?" tanya Bunda Amel sangat penasaran.
"Bun, aku beliin bunda gamis baru," jawab Rania sambil mengintip tas belanjaannya satu per satu.
"Ini dia. Ada dua gamis baru buat Bunda," imbuhnya kemudian memberikan tas tersebut pada Bunda Amel.
Bunda menerima barang tersebut, tapi dalam hati beliau bingung ada apa dengan anak bungsunya ini. Tetiba gadis itu datang lalu memberinya dua buah baju untuknya. Ini bukan Rania ...
"Ran, ini gamis yang harganya fantastis. Ini brand mahal dan terkenal. Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini, Sayang?" selidik Bunda Amel.
Rania memutar bola matanya, terdengar suara decakan keluar dari mulutnya.
"Bunda ini dikasih hadiah sama anaknya malah banyak tanya," desah Rania kesal, yang dia harapkan bunda senang dengan hadiahnya lalu mengucap kata terima kasih, tapi nyatanya Bunda Amel justru bertanya asal muasal dari mana uang yang ia pergunakan untuk membelinya.
"Bukan begitu, Sayang. Bunda hanya tidak mau kamu-"
"Om Inan yang memberikan uang sebanyak itu sama aku, Bun. Karena besok hari ulang tahun Bunda jadi aku beliin hadiah ini buat Bunda," potong Rania membungkam perkataan Bunda Amel yang belum tuntas.
"Oh jadi ini dari Om Inan, terima kasih ya, Sayang. Kalau gitu Bunda bawa bajunya masuk ke kamar bentar, ya," kata Bunda berusaha tersenyum meski dalam hati beliau tidak percaya dengan jawaban anak gadisnya.
"Oke, Bun. Ntar dipakai, ya!" sahut Rania.
Bunda Amel masuk ke dalam kamar sambil membawa tas belanjaan yang berisi dua buah gamis tersebut. Sedangkan Rania kini sibuk melihat-lihat hasil belanjaan untuknya sendiri.
Tak lama berselang Raka pulang sehabis memeriksa perkembangan pembangunan cafe miliknya dan Andika. Dia terkejut dengan kehadiran adiknya di sini.
"Rania?!" tegur Raka.
"Abang, ini buat abang." Rania memberikan satu buah tas yang berisi jaket untuk kakak semata wayangnya tersebut.
"Ini apa, Ran?" tanya Raka lalu membuka ujung tas tersebut. Setelah tahu isinya Raka tersenyum.
"Kamu beliin jaket ini buat abang?" tanyanya tidak percaya. Ini kali pertama adiknya ini bersikap manis dengannya.
"Iya itu spesial buat abang," jawab Rania.
Beberapa menit Raka dan Rania berbincang-bincang sampai akhirnya Bunda Amel keluar dari kamar dengan wajah merah padam seperti orang yang sedang marah besar.
"Rania! Kamu bohong sama Bunda!" sentak Bunda dan melemparkan dua buah gamis yang Rania hadiahkan ke sofa ruang tamu. Rania melihat baju itu terlempar dengan kasar dengan mata berkaca-kaca. Dia kaget mendengar sentakan bunda yang sekasar itu padanya.
"Bun, kenapa Bunda memarahi Rania?" tanya Raka tidak paham kenapa Bunda bisa semarah ini, apa kesalahan Rania? Dan baju-baju siapa yang Bunda lempar? Dia baru datang jadi dia tidak tahu apa yang terjadi sebelum ini.
"Dia memberikan Bunda dua buah gamis mahal, kata adikmu ini, uang yang dia dapat adalah uang pemberian Om Inan, tapi nyatanya itu bukan uang Om Inan. Ayo jawab jujur, Rania! Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu!" cecar Bunda Amel dengan galak.
"Itu benar-benar dari Om Inan, Bun." Rania masih mengelak.
"Jelas-jelas Bunda tanya sama Om Inan, tapi dia bilang tidak memberimu uang sebanyak itu. Rania, berkatalah yang jujur! Bunda tidak suka anak bunda menjadi seorang pembohong!" desak Bunda Amel. Beliau paling tidak suka jika anaknya berkata dusta.
"Rania, jawab pertanyaan Bunda!" Raka ikut mendesak adiknya.
Rania memalingkan wajahnya. Sial! Kenapa aku nggak kepikiran kalau Bunda bakal tanya langsung sama Om Inan. Kacau! Niat hati mau bikin Bunda sama Bang Raka senang eh malah jadi begini. Desah Rania dalam hati.
"Jawab Bunda, Rania!" Bunda Amel tidak sabaran dan semakin mendesak anak gadisnya untuk bicara.
Rania berdiri lalu menyeka lelehan air matanya. "Uang itu memang bukan dari Om Inan," jawabnya. Tidak bisa lagi dia mengelak karena udah ketangkap basah. Sumber uang untuk Rania yang Bunda dan Raka tahu ya cuma dari Om Inan dan juga Raka, hanya mereka lah yang memberi Rania uang setiap bulannya, jadi bila Inan dan Raka tidak memberinya uang jelas pasti ada orang lain di balik ini semua.
"Lalu dari siapa, Rania?" Pertanyaan ini yang membuat Bunda tidak akan bisa tenang sebelum mendapatkan jawaban dari anaknya.
"Dari ... " Rania menelan ludah kasar. Sial! Apa aku beneran harus jujur dari mana uang itu aku dapatin? Bunda pasti nggak percaya kalau aku bilang aku kerja. Ck! Posisi Rania terpojokkan.
"Dari mana?!" sentak Bunda Amel dengan cukup tegas membuat lamunan Rania seketika buyar.
Rania memejamkan matanya. "Dari seorang lelaki, Bun," jawabnya jujur.
"Lelaki? Siapa? Kamu punya pacar, Rania?" cecar Bunda semakin naik darah.
"Dia bukan pacar aku, Bun," bantah Rania.
"Lalu siapa?" Gantian Rania yang melempar pertanyaan.
"Bun, aku ... aku nggak ada hubungan sama dia, jadi aku dan dia ... Mm ... bekerja sama gitu lah, dia minta aku buat jadi pacar bohongannya, Bun. Karena dia nggak mau dijodohin sama orang tuanya dan dia janji kalau rencananya berhasil aku bakal dapat uang yang banyak dan ini dia ngasih kayak uang muka gitu, Bun. Beneran aku nggak bohong," jelas Rania tergagap-gagap menjelaskan pada ibu dan juga kakak kandungnya.
Flashback kejadian siang tadi.
Selepas pulang sekolah Rania dijemput oleh om-om yang kala itu sempat dipergoki oleh Mayang saat dia pergi bersama Raka. Di lobby hotel, ada seorang lelaki yang tetiba menggeretnya ke parkiran mobil dengan paksa. Si om itu tidak tahu kalau Rania dibawa pergi oleh lelaki muda, karena saat itu dia sedang sibuk berteleponan dengan seseorang hingga mengabaikan Rania yang berdiri di belakangnya.
"Kamu ini siapa?" tanya Rania galak.
"Nggak usah takut! Aku bukan orang jahat, kok," jawab lelaki yang berusia dua puluh tahun tersebut.
"Terus kamu siapa? Ganteng juga sie." Rania melempar senyum pada pemuda itu.
"Kita ngobrol di luar aja gimana? Itu tadi om kamu kan?" ajak lelaki asing tersebut.
Nggak mungkin kan kalau aku bilang om-om tua itu pacarku? Pikir Rania.
"Iya, dia omku kok. Bentar aku kirim chat ke dia dulu buat minta ijin," kata Rania berbohong. Gadis itu sok-sokan membuka ponsel dan mengetikkan sesuatu, padahal dia sama sekali tidak mengirim pesan pada siapa pun. Rania justru menonaktifkan ponselnya agar Om Bastian tidak bisa menghubunginya.
"Aku Asta, kamu siapa?" tanya pemuda tersebut menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya pada Rania.
"Aku Rania," jawab Rania dan membalas uluran tangan Asta.
"Ayo kamu ikut aku! Tenang aja aku bukan orang jahat, kok," ucap Asta ramah, senyum simpul di bibirnya membuat cekungan kecil muncul di kedua pipinya membuat Rania sontak terpana dengan kegantengan lelaki yang baru dikenalnya tersebut.
"Oke, aku percaya kok kamu orang baik," balas Rania melempar senyum balik pada Asta.
"Come on!" Asta melambaikan tangannya meminta Rania untuk mengikutinya.
Rania nurut saja dan mengekor di belakang Asta. Asta membawa Rania mendekat pada kendaraan mewahnya.
Wow ... udah aku duga dia pasti kaya raya. Mobilnya aja bagus, mengkilat kayak gini. Gumam Rania dengan mata berbinar-binar. Dia terperangah dengan mobil sport milik Asta.
"Ayo masuk, Ran!" Asta membukakan pintu untuk Rania.
"Oh, iya ... thanks, ya," balas Rania segera masuk ke dalam mobil mewah berwarna merah metalic tersebut.
Asta membawa Rania ke sebuah restoran mewah. Entah apa tujuan lelaki muda ini mengajaknya pergi, Rania tidak tahu dan tidak mau tahu ... dia terpikat dengan ketampanan dan mobil mewah milik Asta tanpa peduli kalau lelaki itu bisa saja orang jahat yang berusaha untuk menyakitinya atau berbuat kurang ajar dengannya.
"Kamu mau makan apa? Pesan aja apapun yang kamu mau!" kata Asta, lagi-lagi sikap ramah dan sopan pemuda itu membuat Rania terkesima. Hm ... bisa saja ini hanya kedok, Ran. Jangan percaya begitu saja!
Rania memesan beberapa makanan favoritnya, begitu pun dengan Asta. Setelah makanan mereka datang dan mereka habiskan semuanya, barulah Asta menjabarkan apa yang dia inginkan dari Rania.
"Aku mau dijodohin sama cewek, tapi aku nggak mau nikah muda. Aku masih pingin have fun, gimana kalau kamu pura-pura jadi cewek aku? Kata mereka perjodohan batal kalau aku punya pacar, karena aku nggak punya jaadinya aku pikir buat nyewa cewek. Dan aku nggak sengaja lihat kamu keluar dari sekolah kamu tadi, jadi aku ikutin. Gimana kamu mau nggak nerima tawaran aku?" jelas Asta sambil mengaduk-aduk vanila late pesanannya menggunakan sedotan.
"Mm ..... " Rania nampak berpikir dengan kening yang terlihat berkerut-kerut, gadis itu juga mencebikkan bibirnya ke kanan dan kiri.
"Tenang aja! Nggak akan aku apa-apain, kok. Biar kamu mau, aku kasih ini buat kamu, anggap aja sebagai jaminan." Asta mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas ranselnya dan dia sodorkan pada Rania.
"Ini apa?" tanya Rania sok belagak nggak tahu padahal dia yakin di dalam amplop gede itu pasti isinya uang.
"Ambil aja dulu!" perintah Asta.
Rania mengambil alih barang itu dari tangan Asta. Terasa berat dan keras bila dipegang, dalam hati Rania sudah kegirangan, pasti isinya uang begitu banyak. Dan ... gadis itu pun tercengang mendapati bertumpuk-tumpuk uang berwarna merah sudah ada di depan matanya.
"I-Ini ... ini uang asli semua, Kak?" tanya Rania seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Iya asli-lah, Ran. Itu semua buat kamu, asal kamu mau bantuin aku dan tinggalin om-om itu!" tegas Asta membuat Rania membelalak kaget.
"Ja-Jadi ... jadi kamu tahu kalau om-om itu pacar aku?" tanya Rania lalu menelan ludah kasar.
Asta terkekeh. "Tau bangetlah. Gesture tubuh kamu kelihatan banget kalo kamu lagi boong tadi pas jawab itu beneran om kamu. Jangan kayak gitu, Rania! Nggak baik jadi perusak rumah tangga orang," nasehat Asta dengan dewasa.
"Aku ... aku butuh uangnya aja, Kak," decak Rania.
"Mulai sekarang nggak perlu lagi! Jauhin lelaki tua itu, kamu kerja sama aku! Kamu bisa dapatin lebih dari pada ini," jelas Asta.
Gila! Mimpi apa aku semalam? Jadi pacar bohongan cowok seganteng dan sekaya Kak Asta? Ya jelas aku mau bangetlah, nggak akan aku nolak. Batin Rania. Dia bagaikan kejatuhan durian runtuh.
"Iya, aku mau. Kita deal, ya!" Rania langsung mengulurkan tangannya seketika itu juga mengajak Asta untuk berjabat tangan sebagai tanda kesepekatan perjanjian.
"Oke. Siip!" Asta menjawab tangan Rania.
Flashback off.
Kembali ke masa sekarang, di mana Rania masih menjadi terdakwa sidang oleh Ibu dan juga abangnya.
Hanya sebagian yang Rania ceritakan. Tidak mungkin kalau dia mengaku bahwa selama ini dia berpacaran dengan lelaki yang lebih tua darinya dan sudah beristri juga.
"Mana ada perjanjian yang seperti itu, Rania?" Bunda Amel tidak percaya begitu saja dengan bualan anaknya.
"Ran, kamu kebanyakan nonton sinetron kayaknya," cibir Raka yang juga tidak percaya dengan ucapan adiknya.
"Demi Allah aku nggak bohong, Bang, Bun," tegas Rania yang sampai berani menyebut nama Allah.
"Suruh ke sini si Asta! Bunda nggak percaya! Dan Bunda nggak mau kamu terlalu banyak kontak fisik sama lawan jenis, Rania! Sekolah dulu yang bener, nanti nikah sama lelaki yang sholeh, yang tanggung jawab dan setia, jangan main nemplok sana sini, kamu itu perempuan, Nak," omelan Bunda kembali keluar membuat Rania menjadi bosan karena Bunda selalu mengulang-ulang hal yang sama.
**
Di ruang kerjanya, Mr. R duduk di kursi kebesarannya hendak menunggu laporan pekerjaan dari dua tangan kanannya.
X dan Y, berdiri bersebelahan dengan gagah menunggu Tuan mengintrogasi mereka.
"Bagaimana? Apa kalia sudah berhasil membuat anak gadisku lepas dari lelaki tua itu?" tanya Mr. R.
"Sudah, Tuan. Semua sesuai dengan perintah dari Tuan," jawab X dengan mantab. "Uang itu pun sudah kami berikan pada anak gadis Tuan."
"Bagus! Lalu apa ada hasil penyelidikan baru yang akan kalian laporkan padaku?" tanya lagi Mr. R.
"Ada, Tuan. Tentang ..... " Gantian Y yang menjelaskan pada Mr. R.
**
"Jass, kamu udah tidur, ya?" Mayang mengetuk pintu kamar Jasson. Sudah pukul sembilan malam, Mayang hanya ingin memeriksa apa lelaki itu mematuhi apa kata dokter, yang tidak memperbolehkan Jass banyak begadang dan harus banyak-banyak istirahat agar kondisinya cepat pulih.
"Ceklek ....!" Jass membuka pintu kamarnya.
"Jass, kenapa kamu belum tidur sie?" tegur Mayang.
"Saya belum ngantuk, Nona. Masuklah!" Jass membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
"Jass, berbaringlah lagi! Kamu kan butuh istirahat," kata Mayang ketika melihat Jass malah duduk di atas sofa.
"Saya jenuh hanya berbaring terus sepanjang hari, Nona. Saya sudah ingin bekerja kembali," sambut Jasson masih tetap duduk di tempatnya meski Mayang sudah memintanya untuk berbaring.
"Kamu harus benar-benar sembuh, Jass. Baru boleh kerja lagi, lagian udah ada Jhon kok yang sementara waktu jagain aku," terang Mayang sambil menempatkan dirinya duduk di sisi Jasson.
"Jass .... "
"Iya, Nona."
"Makasih banget ya kamu udah nyelamatin nyawa aku sama Mas Raka," ucap Mayang. Setelah kejadian itu, baru sekarang Mayang berterima kasih. Bukannya lupa, dia cuma ingin mencari momen yang pas buat bicara.
"Sama-sama, Nona," sahut Jasson santai.
"Kalau kamu nggak ngelakuin itu, pasti Mas Raka yang celaka, Jass," kata Mayang.
"Iya, saya tahu," jawab Jass singkat.
"Tapi kalau Raka yang celaka anda bisa sedih dan saya tidak suka melihatnya," imbuh Jasson.
"Jass ... kamu kan dibayar buat ngelindungi badanku, bukan hatiku, Jass .... " tegur Mayang dengan mata berkaca-kaca.
".... apa pentingnya bahagiaku buat kamu, Jass?" Pertanyaan Mayang membuat Jass memutar otak untuk menjawabnya.
Tidak mungkin aku mengakuinya. Cukup aku dan Tuhan saja yang tahu apa yang ada dalam hatiku. Pikir Jasson.
"Sangat penting ... kebahagiaan seorang adik pasti sangat penting buat kakaknya," jawab Jass. Jawaban yang klise, karena Mayang yang selalu menganggap Jass sebagai kakaknya.
"Jass ... untuk itulah aku sayang banget sama kamu. Aku takut banget kehilangan kamu, Jass. Jangan lakuin itu lagi! Kamu dan Mas Raka itu dua orang yang penting di hidup aku. Jadi kamu juga harus tetap hidup buat aku," rengek Mayang sambil melingkarkan ke dua tangannya memeluk perut Jasson.
"Nona, jangan menangis! Aku sudah sembuh, aku baik-baik saja," kata Jass menenangkan Mayang.
"Jass .... " Mayang melepas pelukannya. "... beberapa bulan lagi aku lulus sekolah dan pergi keluar negeri untuk kuliah. Kamu adalah orang yang nanti akan nemenin aku di sana, jadi kamu harus sehat, kamu nggak mau kan aku sendirian di tempat asing? Kamu tahu kan aku nggak pernah pergi tanpa kamu?!" Mayang masih terisak. Sedih dan hancur rasanya kalau sampai dia kehilangan Jasson. Jass adalah temannya di setiap suasana, meski Jass selalu bersikap kaku dan dingin, tidak ekspresif seperti Raka, tapi kehadirannya sangat berarti buat Mayang.
"Saya akan berumur panjang hingga nanti anda menikah dan tidak membutuhkan saya lagi, Nona," ucap Jasson dengan suara yang berat.