**
Mayang sudah beraktifitas kembali setelah beberapa hari absen sekolah. Untuk kali ini dia ditemani oleh bodyguard yang lain suruhan Sandrina selama Jass dalam masa pemulihan.
"Jass dan Jhon sama-sama tampan, beruntungnya kamu dikelilingi lelaki tampan," celoteh Winda dengan sangat bersemangat.
Mayang dan Winda berdiri di depan gerbang sekolah karena sedang menunggu Jhon menjemput mereka. Winda pingin ikut Mayang ke rumahnya karena dia sudah kangen dan pingin banget ketemu Jasson.
Lima menit kemudian Jhon datang. Lelaki yang lebih ramah dan cerewet dari Jasson ini pun mengucap maaf karena sudah terlambat menjemput Mayang.
"Silahkan masuk, Nona!" Jhon mempersilahkan dengan ramah. Usia Jhon lebih tua satu tahun di atas Jasson.
"Makasih ya, Jhon," sahut Mayang lalu membungkukkan badannya untuk masuk ke dalam mobil.
"Jhon, aku boleh duduk di depan dekat kamu nggak?" Winda mulai kumat genitnya. Dasar nggak bisa lihat cowok bening ya dia!
"Gatel banget jadi cewek!" cibir Mayang.
"Silahkan, Nona! Mau duduk di pangkuan saya pun boleh," balas Jhon sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh My God! Sweet sekali .... " puji Winda dengan mata berbinar-binar.
Mayang mencibir kelakuan sahabatnya dan juga bodyguardnya. "Dasar cowok genit ketemu cewek gatel. Cocok kalian."
Winda masuk ke dalam mobil, tepatnya duduk di kursi yang ada di sisi Jhon seperti yang dia minta sebelum ini. Sama halnya saat sama Jass, Mayang harus selalu rela kedudukkannya digeser oleh kegenitan dari Winda yang nggak bisa diam kalau lihat cowok tampan ada di depan matanya.
"Sirik aja kamu, Yang!" gerundel Winda.
Sepanjang perjalanan Mayang hanya diam mendengarkan Winda dan Jhon yang terus berinteraksi. Mereka dua akrab sekali meski baru sehari bertemu dan berkenalan. Jhon memang berbeda dengan Jass yang sangat susah untuk didekati oleh cewek manapun. Jass terkesan menjaga jarak dan menjaga image-nya dengan hati-hati tidak seperti Jhon yang lebih humble dan mudah akrab dengan siapa pun.
Mas Raka. Mayang teringat oleh lelaki dewasa yang sudah beberapa minggu tidak pernah lagi dia temui ataupun dia ketahui kabarnya. Terakhir mereka bertemu saat di rumah sakit, Raka menjenguk Jass begitu pun dengan Mayang. Namun, hingga sekarang mereka tidak lagi bertemu maupun bertukar kabar.
Aku kangen banget sama Mas Raka. Batin Mayang.
"May, cafe Radika udah mau jadi lho pembangunnya. Ntar kita nongkrong di sana lagi yuk! Kamu juga ikut ya, Jhon!" ajak Winda dengan antusias.
Syukurlah, aku senang kalau cafe Mas Raka udah mau jadi. Itu artinya dia udah bisa nyari nafkah lagi buat keluarganya. Pikir Mayang.
"Yang, kok malah bengong sie? Kamu mau nggak aku ajak nongkrong di cafenya Mas Raka?" tegur Winda karena Mayang tidak menyauti perkataannya.
Hingga sampai detik ini Winda belum tahu kalau Mayang sudah memutuskan untuk menjauhi Raka, karena menurutnya ini adalah privasi. Jangan sampai Winda tahu kalau Sandrina-lah yang sudah membakar cafe Raka, karena itu akan sangat berbahaya.
"Mm ... iya, aku mau kalau ada waktu ya, Win. Soalnya dua bulan lagi kita ujian jadi aku harus belajar," sahut Mayang memberi alasan yang masuk akal. Memang kenyataannya mereka sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir sekolah. Perjuangan Mayang untuk lulus dengan nilai yang memuaskan sangatlah berat, apalagi konsentrasinya benar-benar terganggu karena memikirkan Raka dan menahan rindu dengan pujaan hatinya tersebut.
Tanpa Mayang ketahui, jauh di sana Raka pun juga sangat merindukan dirinya. Berkali-kali ingin sekali rasanya dia mengirim pesan hanya untuk sekedar menanyakan kabar Mayang. Hanya tahu kalau gadis itu baik-baik saja itu sudah cukup buat Raka, tapi lagi-lagi Raka harus menahan sekuat hati hasrat dalam hatinya. Ini sudah benar, dengan berpisah jarak seperti ini adalah keputusan yang sudah sangat benar. Meski konsekuensinya mereka harus merelakan hati mereka tertikam oleh kerinduan setiap detiknya.
**
Jass sedang duduk di taman belakang rumah ketika Mayang dan Winda datang ke kamarnya untuk menjenguknya. Jass bosan kalau harus terus berbaring di dalam kamar tanpa melakukan pekerjaan apapun, untuk itu dia memilih berjalan-jalan sebentar ke taman, lalu nongkrong di dekat kolam sambil memberi makan ikan.
"Jass!" teriak Mayang dan Winda memanggil lelaki yang masih fokus melihat ikan-ikan yang berkerumun di dasar kolam setelah ia lempari dengan segenggam makanan favoritnya.
Jass menoleh kemudian kembali memperhatikan isi kolam. Cuek bebek bukannya sudah menjadi ciri khasnya? Tapi Winda tetap saja kesal apabila dicuekin oleh lelaki tampan tersebut.
"Jass .... aku khawatir banget sama kamu, Jass," ucap Winda dengan genit. Dia berusaha untuk memeluk Jass, tapi Jass segera menyingkir dengan cara berdiri.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, Nona," sahutnya datar.
"Jass ...." Masih nggak tahu malu Si Winda, udah ditolak berkali-kali masih juga mepet kayak perangko. Dia melingkarkan tangannya di lengan Jasson.
"Jadi ini yang sakit ya, Jass? Jantungmu?" Winda hendak menempelkan telapak tangannya di d**a Jass.
"Hush!" Mayang menepis tangan Winda dengan kasar.
"Jangan pegang-pegang d**a Jasson! Masih sakit itu, Win," tegur Mayang tidak suka.
"Aku tahu itu sakit, Yang. Makanya mau aku obati pakai sentuhan tanganku," debat Winda yang sok-sokkan bakal ngaruh aja sentuhan tangannya buat kesembuhan Jass.
"Nggak ada pegang-pegang!" sentak Mayang. Dia mendekat pada Winda dan Jass. Dilepaskannya tangan Winda yang melingkar di lengan Jass dengan paksa.
"Cuma aku yang boleh pegang-pegang, Jass! Kamu sama Jhon aja sana!" tegas Mayang sambil membelalakkan bola matanya. Kini gantian dia yang melingkarkan tangannya di lengan kekar Jass.
Jass tersenyum sangat tipis, karena senang dengan sikap posesif Mayang padanya.
"Tumben kamu jadi genit gini sama Jass," protes Winda sambil melipat ke dua tangannya di depan d**a dengan bibir mengerecut ke depan.
"Biarin!" sahut Mayang galak. "Ayo, Jass! Kamu harus banyak-banyak istirahat, biar cepet nemenin aku lagi," ujar Mayang lalu menuntun Jasson untuk berjalan beriringan dengannya.
**
Akhirnya sampai juga di kamar Jass. Mayang membantu Jass untuk berbaring, sebenarnya Mayang masih takut ketika Jass terlalu banyak bergerak, karena kata dokter jantung Jass masih belum sepenuhnya optimal dan bisa berakibat fatal.
"Jass, apa kamu udah makan dan minum obatmu?" tanya Mayang dengan perhatian.
Sedangkan Winda mengekor di belakang Mayang. Dia diam karena sedang mencari celah untuk mendekati Jass lagi.
"Belum, Nona. Setelah ini saya akan segera makan dan meminum obat," jawab Jasson.
"Jass, gimana kalau aku yang ambilin kamu makan?" Dengan bersemangat Winda menawarkan tenaganya untuk melayani Jass dengan mengambilkan lelaki itu menu makan siang.
Jadi inilah yang dimaksud Winda dengan mencari celah.
"Itu tugasku, Win!" sentak Mayang tidak terima karena Winda mendahului niatnya.
"Nggak ada di perjanjian juga kan kalau kamu yang harus ngambilin Jass makanan?" debat Winda sambil mencebikkan bibirnya.
"Tapi kata daddy, akulah yang harus menjaga Jass," tegas Mayang. Padahal Reyhan tidak pernah berkata seperti itu pada anaknya.
"Kamu bisa jagain Jass kapan-kapan lagi pas aku nggak ada di rumah kamu, lagian kan aku nggak tiap hari juga ada dimari, Yang. Pelit amat!" omel Winda.
Jass menggelengkan kepalanya melihat dua anak abege sedang sibuk berdebat karena dirinya.
"Mendingan kita tanya langsung aja sama Jasson, dia maunya sama aku apa kamu! Wek!" kata Mayang memberi ide, lalu menjulurkan lidahnya meledek Mayang.
"Jass!" Mayang dan Winda dengan kompak menyerukan nama Jass.
"Hm ...." sahut Jass singkat.
Mayang dan Winda saling pandang lalu membuang muka.
"Kamu mau aku atau Winda yang mengambilkanmu makanan?" tanya Mayang sembari meletakkan ke dua tangannya di pinggang. Sorot mata Mayang membelalak seolah mengintimidasi Jasson dengan pandangan matanya.
"Aku aja, Jass! Kamu pasti bakalan cepat sembuh kalau aku yang ngambilin kamu makanan dan nyuapin kamu." Belum juga Jass menjawab, tapi Winda yang main nyamber kayak petasan.
"Tidak perlu banyak berdebat, Nona! Makanan saya sudah datang," kata Jass dengan santai sambil melihat ke arah pintu.
Mayang dan Winda kompak memutar leher mereka karena letak pintu yang ada di belakang mereka berdiri. Mereka mengerucutkan bibir melihat seorang maid sudah berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah nampan yang berisi nasi beserta lauknya dan juga buah-buahan untuk Jasson Arkadinata.
"Mas Jasson, ini makanannya sudah siap," kata Maid yang berumur kurang lebih dua puluh lima tahunan tersebut sembari berjalan masuk mendekat pada Jass.
Biar cuma asissten rumah tangga, tapi cantik juga. Pikir Winda mulai dengki lihat cewek yang bening selain dirinya.
"Thanks," sahut Jass singkat.
Mbak Anis hendak menaruh nampan yang bisa disulap menjadi meja tersebut di atas paha Jass, posisi Jass sekarang sedang duduk bersandar di sandaran ranjang dengan kaki yang dibiarkan lurus, tapi Winda dengan cepat melarangnya. "Mbak, biar aku yang naruh. Oke? Siniin nampannya!" Winda main menyerobot meja yang dipegang oleh maid itu, pokoknya nggak mau banget ada cewek lain yang dekat-dekat sama Jass. Harus dia pokoknya nggak boleh ada yang lain.
Mbak Anis pun mengalah saja, bukannya nggak berani buat ngelawan, tapi dia sungkan aja karena posisinya di sini cuma asissten dan Winda adalah tamu di rumah ini.
"Iya, Mbak. Saya cuma nyelesaiin tugas saya saja kok ndak maksud apa-apa sama Maas Jass," kata Mbak Anis dengan logat bicaranya yang medok kemudian mundur teratur dan meninggalkan kamar Jasson secepat kilat. Mbak Anis tahu kalau si Winda ini lagi kesengsem sama Jasson, susah kalau ngelawan orang yang lagi jatuh cinta tuch.
"Nah, aku suapin ya, Jass?" Winda mengambil piring nasi yang di atasnya sudah berjajar menu capjay sayur yang menyehatkan, ada ayam goreng tepung dan juga sedikit sambal karena Jass memang tidak bisa makan tanpa sambal.
"Kamu ini nyari kesempatan mulu, Ya!" decak Mayang sembari memutar bola matanya.
"Biarin mumpung aku ada di sini," balas Winda tidak peduli mau Mayang marah ataupun kesal dengannya.