51. Operasi Jasson

2294 Kata
** Hampir tiga jam, Mayang gelisah karena dokter belum keluar juga dari kamar operasi. Gadis itu mondar-mandir tidak tenang. Rasa hatinya sungguh dibuat ketakutan dan gundah gulana karena memikirkan kesehatan bodyguard tampannya. "Bertahanlah, Jasson Arkadinata!" kata Dokter memberi motivasi pada pasiennya. Alat kejut jantung ia tempelkan pada d**a Jasson setelah beberapa kali dia usap-usap. Operasi sudah selesai, timah panas yang menembus jantung Jass sudah berhasil diangkat, tapi jantung lelaki itu melemah. Denyut jantungnya menurun drastis. "Bismillahirrahmanirrahim." Dokter itu terus berusaha menyelamatkan nyawa Jasson dan tak lupa memperbanyak doa. Karena usaha akan sia-sia tanpa doa. ** Mayang masih tidak bisa diam. Kata hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang menimpa Jasson di dalam sana. Jass ... bertahanlah! Kamu harus tahu kalau aku enggak bisa hidup tanpa kamu, Jass. Aku kangen suaramu, aku kangen sikap dinginmu, aku kangen pelukanmu. Seandainya bukan kamu yang celaka, pasti Mas Raka, tapi aku nggak bisa lihat di antara dari kalian terluka. Mendingan aku aja yang celaka. Racau Mayang dalam hati. "May, duduklah dulu! Jangan mondar-mandir kayak gitu!" tegur Raka karena sejak tadi dia terus mengamati perilakau Mayang yang belingsatan tidak tenang. "Aku nggak bisa duduk diam, Mas. Aku khawatir banget sama Jasson. Aku nggak mau kehilangan dia, aku sayang dia," sahut Mayang yang tidak mau menuruti permintaan Raka. Gadis itu terus bergerak mondar-mandir di depan pintu kamar operasi Jass dengan gelisah. Pengakuan sayang Mayang pada Jasson membuat hati Raka sedikit kecewa. Hm ... tapi dia kemudian sadar bahwa ini tidaklah benar jika dia merasa cemburu karena Mayang menyayangi Jasson. Jelas Mayang menyayangi Jass, karena Jass lah lelaki yang selama ini ada di sisinya dan menjaganya. Sedangkan dia adalah orang baru di kehidupan Mayang. Dan mungkin setelah ini hubungan pertemanan mereka hanyalah tinggal kenangan, karena memang jarak di antara mereka sangatlah jauh dan terjal rintangannya. Sepuluh menit berselang, pintu kamar operasi Jass terbuka. Dokter keluar dengan senyum kelegaan tersungging di bibirnya. "Dokter, bagaimana keadaan Jasson?" tanya Mayang seketika itu juga tanpa menunggu waktu lama. Raka pun turut berdiri dan mendekat pada dokter tersebut, karena dia juga sangat ingin tahu keadaan Jasson. "Hebat! Jasson memang lelaki yang sangat kuat, nyawanya selamat setelah sempat kritis beberapa saat, Nona," jawab dokter, memuji kehebatan Jasson yang mampu bertahan melawan masa kritisnya. "Alhamdulilah .... " Mayang bahagia sekali mendengar kabar ini. Doanya ternyata didengar oleh Allah dan Allah pun mengabulkannya. "Tunggu kondisinya stabil, Nona! Kita akan segera memindahkannya ke kamar perawatan. Dia lelaki yang hebat, kuat ... banyak-banyaklah bersyukur pada Allah!" ujar dokter tersebut kemudian meninggalkan Mayang dan Raka. "Mas Raka, aku seneng banget," ucap Mayang dengan amata berkaca-kaca. "Aku juga, May. Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah," ungkap Raka sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. ** Beberapa hari selanjutnya, kesehatan Jasson perlahan semakin membaik, dia sudah mendapatkan kesadarannya kembali. Ternyata pengaruh obat bius sudah hilang dari tubuhnya. Nona Mayang .... Lirihnya dalam hati. Lelaki itu selalu teringat akan Mayang bahkan ketika ia menutup mata sekali pun. Raka berjalan masuk ke ruangan Jass setelah dokter mengijinkannya untuk masuk. Lelaki itu masih bernapas menggunakan selang oksigen meski dia rasa pernapasannya tidak lagi terasa sesak. "Jass .... " Raka mendekat dan duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Jasson. Kamar VIP dengan fasilitas mewah menjadi tempat Jass dirawat, karena Reyhan ingin memberikan semua yang terbaik untuk lelaki yang sudah bersedia mengorbankan nyawa untuk anaknya. "... aku senang banget karena keadaanmu udah membaik," kata Raka. "Terima kasih," sahut Jasson kembali dengan sikapnya yang selalu minim ekpresi. "Harusnya aku yang bilang terima kasih sama kamu, karena kamu udah nyelamatin nyawa aku," kata Raka. Jass terdiam sejenak. Pandangan matanya menerawang lurus ke depan kemudian berkata, "Semua demi kebahagiaan Nona Mayang. Dia bisa sangat sedih kalau sampai kamu kenapa-napa. Jadi lebih baik aku saja yang celaka." "Jass ... aku udah menduga jawabanmu akan seperti ini, tapi .... kamu udah salah kalau kamu pikir Mayang nggak akan sedih kalau kamu terluka. Itu salah besar ...." Raka mengambil ponsel yang ada di saku celana jeansnya. Dia buka galeri yang isinya sebuah video yang dia rekam kemarin tanpa sepengtahuan Mayang. "Lihat ini, Jass! Gimana khawatirnya dia nungguin kamu dioperasi kemarin," kata Raka. Dia memperlihatkan video itu pada Jasson. Jasson menyorotkan netranya ke screen. Di sana dia bisa melihat jelas kalau Mayang sedang gelisah dan tidak bisa duduk tenang. Gesture tubuhnya menunjukkan bahwa ada ketakutan yang sangat dahsyat yang sedang dia alami saat ini. Dan Jass bahagia karena Mayang juga takut kehilangan dirinya. "Kamu berharga buat dia, kamu yang selama ini ada di dekat dia, Jass. Kamu harus menjaga dirimu dengan baik, karena senyum Mayang juga ada pada keselamatanmu. Aku hanya orang asing yang akan menjadi orang asing setelah ini. Aku nggak bisa sama-sama Mayang, meski kami memaksa dengan sekuat tenaga, Sandrina nggak akan mungkin membiarkan Mayang dekat dengan aku. Setelah aku memastikan kalau kamu benar-benar sembuh, aku yang akan pergi jauh dari hidup Mayang," jelas Raka. Sorot kesedihan menguar dan dapat dengan jelas Jasson merasakannya, karena dia tahu kalau diam-diam Raka juga memendam rasa pada Mayang. "Sekuat apapun Nyonya Sandrina berusaha memisahkan kalian, cinta kalian yang akan tetap menang," ucap Jasson yang kembali menatap lurus ke depan setelah video yang Raka putar sudah selesai hingga ujung durasi. "Jaaas!" seru Mayang kegirangan. Gadis itu tetiba sudah nongol di depan pintu. Dia bahagia sekali ketika dokter mengabarkan jika keadaan Jasson sudah membaik dan dia sudah siuman sekarang. Mayang berlari dan dengan spontan memeluk Jasson yang terbaring. "Aku kangen banget sama kamu, Jass," desah Mayang sambil mengeratkan pelukannya. "Aoww ... sakiit, Nona," keluh Jass karena tubuh Mayang menindih luka jahitan operasinya. "Ya Allah .... " Mayang segera memundurkan tubuhnya. "... maaf-maaf, Jass. Saking senengnya aku lihat kamu udah buka mata, aku kangen kamu ..." Mayang menguyel-uyel pipi Jass dengan jemari tangannya, seperti kegemasan melihat bayi mungil berpipi chubby. "Saya juga merindukan anda, Nona," sahut Jass. "A-" Mayang hendak memeluk Jass lagi, tapi dengan cepat Jass menegurnya. "Nona! Apa anda ingin benang dijahitan operasi saya terlepas?" "Hahahaha, iya-iya, Jass. Maafkan aku!" Mayang tertawa. Raka memilih untuk pergi setelah melihat kedekatan Mayang dan Jass yang begitu akrab. Bahkan kehadirannya seperti tidak dianggap oleh Mayang. Raka kecewa, tapi memang inilah yang terbaik untuk mereka. "Nona, di mana Raka?" tanya Jass sambil mengedarkan pandangan matanya, karena fokus dengan Mayang dia sampai tidak tahu kalau lelaki yang menjenguknya itu sudah pergi dari sisinya. "Mas Raka udah pergi, Jass," jawab Mayang yang mendadak lesu. "Anda mengabaikannya tadi. Dia pasti salah paham," ucap Jass. "Di antara kita nggak ada hubungan apa-apa, Jass. Jadi buat apa salah paham? Aku kan udah bilang aku bakal hindarin Mas Raka .... " Mayang murung. "Demi keselamatan nyawa dan hidupnya," lanjutnya sambil menundukkan kepala. ** Seorang lelaki paruh baya, sebut saja Mr. R, berada dalam sebuah mobil mewah berwarna hitam dan kini sedang mengintai sebuah sekolah putih abu-abu yang menjadi target penyelidikkannya. Lelaki tersebut memakai kaca mata dan masker untuk menyamarkan wajahnya. Bersama Mr. R ada dua orang tangan kanannya, yang akan membantu dia untuk melaksanakan semua rencana-rencananya dan akan melindunginya dari tindakan jahat orang lain padanya. "Tunjukkan aku yang mana gadis itu!" perintah si lelaki misterius tersebut ketika pagar sekolah sudah terbuka lebar dan para siswa-siswi berhambur keluar halaman karena jam sekolah yang sudah usai. "Siap, Tuan," kata anak buahnya, sebut saja X. Dia mempertajam pandangan matanya, jangan sampai gadis yang diincarnya bisa lolos begitu saja. "Itu, Tuan!" ucap X sambil menunjukkan jari telunjuknya ke seorang siswi cantik berseragam putih abu-abu yang kini sudah masuk ke dalam sebuah mobil mewah. "Ikuti mobilnya!" perintah Mr R ketika melihat mobil yang ditumpangi gadis itu sudah melesat pergi meninggalkan depan sekolah. "Siap, Tuan!" Mereka akan menjalankan setiap instruksi dari bos mereka, karena Mr. R membayar mereka dengan gaji yang sangat tinggi. "Mereka sepertinya menuju ke sebuah hotel, Tuan," kata Y yang bertindak sebagai sopir saat ini. "Sebisa mungkin buat hubungan gadis itu berantakan! Jangan biarkan lelaki hidung belang itu menyentuhnya!" Mr. R melontarkan perintahnya kembali. "Saya sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, Tuan. Rencana kita pasti berhasil," jawab Y dengan sangat optimis. "Baiklah aku percaya denganmu." Mr. R tidak pernah kecewa dengan kinerja dua anak buahnya ini, maka dia pun tidak akan meragukan apa yang akan mereka lakukan. ** Menggunakan mobil yang lain, Mr R meminta X untuk mengantarkannya ke sebuah alamat, sedangkan Y masih tetap dengan rencana awal mereka. "Kau bisa memastikan kalau alamat yang kau dapat adalah benar?" tanya Mr R ketika mereka masih ada dalam perjalanan. "Tentu, Tuan," jawabnya dengan mantab. Setengah jam kemudian, X berhasil membawa Mr R ke alamat yang dia tuju. Sebuah komplek perumahan elite dengan jajaran rumah-rumah orang kaya. "Jadi ini rumahnya?" Mr R mengamati sebuah rumah yang paling terlihat megah bangunannya lebih dari rumah-rumah di sekitarnya. "Hm ... hidupnya kaya raya, tapi semua dibangun menggunakan hak milik orang lain," gumam Mr R geram. Y turun dari dalam mobil untuk meminta ijin pada satpam yang stand by di depan rumah agar mobilnya dibiarkan masuk ke dalam. Y berbohong dan berkata kalau dia dan tuan rumah sudah membuat perjanjian sebelum ini. Bodohnya, satpam itu percaya dan tanpa banyak bertanya ia membukakan pagar besar dan kokoh yang melindungi rumah megah itu menggunakan remot. Mr. R sudah ada di depan pintu rumah utama. Y memencet tombol beberapa kali hingga seorang maid datang untuk membuka pintu. "Tolong katakan pada tuanmu kalau kami sudah tiba!" perintah Y menipu si pembantu, maid itu pun menurut dan segera menuju ke kamar tuannya untuk memberitahu bahwa ada tamu yang datang. "Siapa yang datang? Aku tidak memiliki janji temu dengan siapa pun hari ini," gumam si tuan rumah sebut saja Mr. RR sambil berjalan tergesa-gesa menuju ke ruang tamu. Lelaki paruh baya, yang usianya sama dengan Mr. R, yang hari lahirnya pun juga sama hanya berbeda jam saja itu pun penasaran melihat lelaki berbaju serba hitam, masker penutup wajah hitam, kaca mata juga hitam sudah duduk diam di sofa mahal yang ada di ruang tamunya yang luas. "Anda siapa?" tanya Mr. RR penasaran. Jelas dia tidak bisa mengenali siapa yang bertamu di rumahnya dengan keadaan wajah yang ditutup rapat seperti ini. Sedangkan, lelaki bertubuh besar dan tinggi yang stand by di sisi pria misterius itu pun Mr. RR juga tidak mengenalnya. "Kau tidak kenal denganku lagi?" tanya balik Mr. R. Mendengar suara itu Mr. RR teringat akan seseorang. "Baiklah, ternyata uang bisa membuatmu melupakan segalanya termasuk janji dan sumpahmu padaku!" ketus Mr. R membuat Mr. RR menelan ludah kasar. Jantung Mr. RR berdetak dengan cepat ketika mendengar suara lelaki misterius tersebut. "Akan aku ingatkan siapa aku, Adikku tersayang," tegas Mr. R sambil membuka kaca mata dan masker yang menutupi wajahnya. Kini wajah tampan lelaki paruh baya itu pun sudah bisa dilihat dengan jelas. Mr. RR terhenyak ketika melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Ternyata tebakkannya tentang identitas Mr. R adalah benar. "M-Mas .... " Mr. RR memanggil Mr. R dengan sebutan 'Mas'. Iya, wajah mereka mirip dan mereka pun dilahirkan dari rahim yang sama. Mereka dua lelaki yang ditakdirkan lahir menjadi saudara kembar, tapi keadaan membuat mereka harus berpisah dengan begitu lama. Iya ... karena sebuah perjanjian yang dibuat enam belas tahun yang silam. "Kau masih ingat denganku kan? Aku pikir uang seratus milyar yang aku berikan untuk keluargaku melalui dirimu sudah membutakan matamu dan juga mata hatimu!" tembak Mr. R membuat Mr. RR gelagapan dan salah tingkah. "Mas ... aku pikir kau-" "Aku apa? Kau pikir aku sudah mati, iya?" potong Mr. R. "Kau mencurangiku! Aku memintamu untuk menjaga anak dan istriku ketika aku sudah tidak bisa bersama dengan mereka lagi, tapi kenapa kau tidak melaksanakan perjanjian kita seperti apa yang sudah kita sepakati bersama?!" tegur Mr. R naik emosinya. "A-apa maksudmu, Mas? A-Aku ... aku sudah memberikan semua hak anak dan istrimu seperti yang kau amanatkan padaku enam belas tahun yang lalu," jawab Mr. RR dengan terbata-bata. "Kau bohong! Kalau anak dan istriku tercukupi semua kebutuhan mereka, maka mereka tidak akan menderita selama ini! Anak sulungku kau buat berjuang dengan usahanya sendiri, padahal seharusnya dia bisa hidup enak dan bisa membangun bisnisnya tanpa bersusah payah! Dan anak bungsuku, anak yang belum pernah aku lihat langsung, yang tidak sempat aku adzankan ketika dia lahir ... kini terjerumus pada pergaulan yang salah karena didikanmu!" serang Mr. R tidak membiarkan saudara kembarnya untuk memberi pembelaan. "Mas ... kau pergi dari hidup kami tanpa diperbolehkan untuk melihat atau pun bertemu dengan kami lagi kan? Itu perjanjianmu dengan lelaki kaya raya yang menyewamu, jadi aku rasa kau tidak tahu apa yang terjadi selama enam belas tahun ini." Mr. RR mendapatkan keberaniannya untuk melawan. "Kau salah! Aku tahu segalanya! Aku tahu uang yang seharusnya milik anak dan istriku kau gunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadimu sendiri! Kau tidak bisa dibiarkan! Aku mau kau mengembalikan semua hak anak dan istriku sekarang juga!" sentak Mr. R tidak bisa lagi menahan emosinya. "Tidak bisa, Mas! Perjanjian di antara kita hanya terucap lewat lisan, kau tidak bisa menggugatku seberapa banyak pun uang dan usahamu," cibir Mr. RR sambil menyunggingkan senyum setannya. "Aku pikir kau bisa menjaga amanah yang sudah aku berikan padamu karena kau adalah adik kandungku, kau tahu bagaimana kebingungan dan takutnya aku saat itu, semua pengorbanan besar ini aku lakukan demi kebutuhan mereka agar tercukupi! Tapi ternyata kau justru memanfaatkan kepercayaanku! Kau membuat anak dan istriku tidak hidup dengan layak, bahkan anak bungsuku pun sudah salah jalan karena didikanmu!" amuk Mr. R. "Keamanan! Usir orang ini dari sini!" teriak Mr. RR meminta satpam rumahnya untuk mengusir saudara kembarnya. "Kau tidak perlu mengusirku! Aku akan pergi, tapi ingat! Hidup orang yang memakan hak orang lain tidak akan pernah berkah!" tegas Mr. R lalu melenggang pergi meninggalkan kediaman adiknya, yang mana rumah tersebut adalah seharusnya hak milik istri dan anak-anaknya. "Astaghfirullah! Beri aku kesabaran! Ternyata perngorbananku selama ini sia-sia, hanya meninggalkan rasa benci untuk mereka karena aku sudah pergi tanpa pesan. Maafkan aku ... maafkan ayah, Nak," lirih Mr. R dengan berlinangan air mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN