**
"Sayang, besok kita ke rumah sakit! Kita jenguk Jasson dan juga daddy mau kamu melakukan visum!" Daddy memberi perintah pada Mayang setelah mereka sudah ada di dalam kamar Mayang.
"Kenapa aku mesti visum, Dad?" tanya Mayang dengan sisa-sisa isakan tangisnya yang masih terdengar.
"Daddy sudah tidak bisa lagi mentoleransi apa yang dilakukan oleh mommy-mu, daddy harus menyeretnya ke penjara biar dia jera dan tidak menyiksamu lagi," terang Reyhan. Amarahnya masih berkobar meski kejadian menjengkelkan itu sudah setengah jam berlalu.
"Jangan lakuin itu, Dad! Aku nggak mau mommy di penjara kalau sampai mommy di penjara pasti mommy bakalan semakin benci sama aku," pinta Mayang.
"Tapi .... " Suara Reyhan terdengar parau, manik hitamnya terlihat menampakkan embun bening.
"... daddy kasihan denganmu, Mayang. Kamu adalah anak yang sangat baik, penurut dan juga pintar. Tidak seharusnya mommy memperlakukanmu seperti ini," ujar Reyhan kemudian menyeka lelehan air matanya.
"Dad .... " Tangis Mayang yang tadi sudah reda kini kembali deras.
".... aku cuma pingin tahu kenapa mommy benci sama aku, tadi mommy udah mau bilang, tapi nggak jadi karena ada daddy. Dad, kalau aku tahu apa masalahnya aku bisa mengkoresksi diri aku, Dad. Biar aku paham di mana letak kesalahanku," terang Mayang.
Reyhan menarik tubuh anak gadisnya di dalam dekapannya. "Kamu tidak pernah salah, kehadiran anak di dunia ini tidak pernah ada yang salah melainkan anugerah dari Tuhan. Yang salah adalah orang tua yang terlalu egois dan menyimpan banyak dendam. Mayang ... tidak perlu kamu pikirkan masalah ini! Yang perlu kamu tahu ... daddy sangat mencintaimu. Dan kamu harus bahagia, suatu saat nanti. Itu sudah janji daddy pada opa," tutur Reyhan dengan penuh kasih.
Bersama daddy, Mayang merasa menjadi anak yang bahagia, anak yang beruntung karena memiliki ayah sebaik dan sesabar Reyhan. Bukankah hidup itu seperti sekeping mata uang yang bertolak belakang, selalu ada plus minus dari setiap keadaan. Dalam hal ini bisa kita bandingkan, Raka beruntung memiliki ibu yang baik, tapi dia tidak beruntung karena ayahnya pergi meninggalkannya. Mayang memiliki ayah yang super, tadi dia memiliki ibu yang sangat kejam dan otoriter. Itulah yang sekarang sedang Mayang cerna dan Mayang pahami, tentang bagaimana Allah merancang nasib kehidupan setiap umatnya dengan segala kebahagiaan dan kesedihan sesuai porsinya.
"Aku juga cinta banget sama daddy. Daddy segalanya buat aku," ungkap Mayang tentang perasaan cintanya pada sang ayah.
"Udah! Daddy jangan nangis! Nanti aku nangis terus juga," tegur Mayang sambil menghapus air matanya.
**
Raka tertegun di depan teras rumah. Banyak hal yang dia pikirkan selain masalah cafe yang sedang dalam proses pembangunan kembali. Salah satunya adalah tentang Jasson. Lelaki yang sudah menyelamatkan nyawanya.
"Kenapa Jasson ngorbanin nyawanya demi gue? Dia tahu gue udah pasang badan buat ngelindungi Mayang, peluru itu bakalan nembus jantung gue bukan Mayang," gumam Raka. Lelaki itu duduk di atas kursi panjang sambil membawa sebuah botol minuman bersoda di tangannya.
Kemudian, Raka dibuat teringat akan pertemuannya tempo hari dengan lelaki yang sekarang sedang berjuang melawan hidup dan mati tersebut. Di mana saat itu Raka meminta Jass menjelaskan apa hubungan antara dia dan Pak Rahmat, si pegawai abal-abal yang ternyata adalah orang suruh Jass. Di situ Jass berkata, kalau dia melakukan semua ini demi Mayang, dia sampai harus mengeluarkan uang seratus juta rupiah demi membahagiakan Mayang.
"Demi kebahagiaan Mayang .... " lirih Raka.
Selepas salat, Raka tak henti memanjatkan doa untuk keselamatan Jasson, dia berharap Jass segera melewati masa kritisnya. Jass lelaki baik, itu yang Raka yakini dan dia juga percaya kalau yang Jass lakukan bukan hanya karena persoalan pekerjaan, tapi juga karena ada unsur perasaan di dalamnya.
Namun, yang Raka sedihkan hingga saat ini, karena Mayang yang memutus akses komunikasi di antara mereka. Meski Raka sudah tahu apa alasan gadis itu mengambil keputusan yang menyakitkan seperti ini, tapi tetap saja Raka tidak bisa menepis rasa sedihnya. Apalagi ketika dia tahu kalau Mayang sudah rela memikirkan kebahagiaannya.
Tentang ulah kriminal Sandrina. Raka memilih untuk tidak membaginya dengan siapa pun, apalagi Bunda Amel dan juga Andika. Biar rasa hati ingin sekali memenjarakan wanita jahat itu, tapi dia sama sekali tidak memiliki bukti yang kuat dan hanya mendengar dari pengakuan Mayang.
**
Pagi ini Mayang diminta ijin oleh Reyhan, karena mengingat kejadian yang kemarin dan Reyhan tidak berani melepaskan anaknya bersekolah dulu untuk sementara waktu. Reyhan mengajak Mayang untuk ke rumah sakit. Jadwal hari ini adalah operasi pengangkatan peluru yang bersarang di jantung Jasson.
Mayang dan Reyhan pergi bersama menggunakan mobil yang sama. Di belakang dan di depan mobil mereka, ada satu unit mobil lain yang isinya adalah bodyguard kepercayaan Reyhan. Reyhan tidak mau kejadian mengerikan itu terulang lagi, atas dasar pertimbangan tersebut maka dia memutuskan untuk memperketat pengamanan dan pengawalan.
"Mayang, apa keadaan Raka baik-baik saja?" tanya Reyhan membuka pembicaraan setelah beberapa saat mereka saling mengunci mulut mereka.
"Kemarin aku lihat dia baik-baik aja, Dad," jawab Mayang.
Semoga kamu selalu baik-baik aja, ya, Bambang. Harap Mayang dalam hati.
"Lalu sekarang?" tanya lagi Reyhan.
"Aku nggak tahu, Daddy," jawab Mayang dengan lesu dan tidak bersemangat.
Reyhan memicingkan mata hingga keningnya nampak berkerut-kerut.
"Kenapa tidak tahu? Apa kamu belum berkomunikasi dengannya hari ini?" selidik Reyhan seperti mengorek informasi dari Mayang.
Mayang menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kalian bertengkar?" Reyhan terus saja melempar pertanyaan.
"Enggak, Dad. Kami baik-baik aja, kok," jawab Mayang lalu melempar senyum simpul.
"Coba ceritain tentang kehidupan Raka sama daddy! Daddy pingin tahu lelaki yang mendekati anak daddy itu bagaimana kelakuannya, apa dia lelaki baik atau tidak," ucap Daddy memberi sebuah kalimat pancingan pada Mayang.
"Mas Raka nggak deketin aku, Dad," sanggah Mayang. "Daddy ini ada-ada saja," sungutnya.
"Cepat ceritakan tentang Raka!" desak Reyhan.
"Daddy kepo banget, ya?" Mayang geleng-geleng kepala.
"Jadi Raka itu anak pertama dari dua bersaudara, Dad. Aku juga baru tahu beberapa hari ini sie kalau Mas Raka punya adik." Mayang memulai ceritanya tentang Raka.
"Oh ... siapa nama adiknya Raka? Laki-laki atau perempuan?"
"Adiknya Mas Raka itu cewek, Dad. Namanya Rania. Umurnya seusiaku gitu dan sekolahnya seberangan sama sekolah aku."
Rania ... nama yang bagus. Dia pasti cantik seperti ibunya, aku yakin itu. Reyhan membantin.
"Tapi, Dad." Mayang terlihat menunjukkan wajah prihatin.
"Kenapa, Sayang?"
"Jadi aku pernah ketemu sama Rania, dia jalan sama om-om, Dad."
Pengaduan Mayang membuat Reyhan sangat shock, mata lelaki tersebut sampai terbelalak saking kagetnya.
"Maksud kamu dia jadi-"
"Iya, simpanan om-om," potong Mayang sambil melipat ke dua tangannya di depan d**a. Gadis itu mengerecutkan bibirnya.
Astagfirullah, Rania. Reyhan sangat prihatin.
"Bunda Amel ngedidik Mas Raka dengan baik, Mas Raka taat salatnya, dia juga enggak kurang ajar, beda banget sama Rania yang tinggal sama om-nya. Namanya Om Inan, Dad," jelas Mayang.
"Jadi Rania tidak tinggal satu rumah dengan ibu dan kakaknya?"
"Enggak, Dad. Mas Raka bilang Rania nggak suka tinggal di rumah bunda yang sempit dan jelek, dia maunya di rumah Om Inan yang kaya raya. Aku juga udah ngingetin Rania kemarin, tapi dia malah ngamuk, katanya aku itu nggak pernah ngerasain hidup susah, jadi aku nggak akan pernah tahu gimana rasanya hidup pas-pasan," jelas Mayang.
"Aku sampai nggak berani bilang sama Mas Raka, Dad. Kalau Mas Raka tahu dia pasti kecewa banget kalau tahu adiknya jadi simpanan om-om," imbuhnya.
Astaghfirullah. Reyhan menyebut Asma Allah karena memprihatikan perangai Rania adik kandung Raka.
"Dan ... yang bikin aku kaget itu karena wajah Om Inan mirip banget sama Daddy, ya ... aku pikir kalian kembar. Hahaha," celetuk Mayang kemudian tertawa.
Reyhan salah tingkah. "Mana mungkin daddy memiliki kembaran, Sayang? Kamu ini ada-ada saja, mungkin hanya kebetulan mirip saja," tepis Reyhan.
**
Di kamar operasi. Seorang lelaki bernama Jasson Arkadinata berumur dua puluh dua tahun terkapar di atas ranjang dengan banyak alat medis yang terpasang di tubuhnya mulai dari hidung hingga tubuh bagian bawahnya. Suara alat perekam detak jantung terdengar paling mendominasi ruangan berukuran sedang ini.
Ada seorang dokter dengan beberapa asisten yang siap untuk mengoperasi jantung Jasson, di mana di benda vital itu, organ yang menjadi tempat dipompanya darah untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh tersebut terdapat benda asing yang membuat Jasson nyaris saja kehilangan nyawanya.
"Ini sangat beresiko. Semoga Tuhan melancarkan operasi pagi ini," kata Dokter yang sudah mengenakan pakaian yang wajib digunakan ketika menangani pasien di ruang operasi. Semuanya harus sesteril mungkin.
Operasi dilakukan dengan sangat hati-hati mengingat resiko kematian yang sangat besar bila operasinya gagal. Sedangkan itu, di luar sana, ada Raka dan juga Mayang yang duduk bersandingan di depan kamar operasi untuk menunggu Jass melewati perjuangannya. Reyhan pergi beberapa menit sebelum Raka datang. Tidak jauh dari Mayang ada dua bodyguard yang bertugas untuk melindungi Mayang menggantikan tugas Jass.
Kamu pasti sembuh, Jass. Harap Mayang sambil menyatukan ke sepuluh jari jemarinya dengan mata terpejam.
Selamatkan nyawa Jass, Ya Allah. Dia lelaki yang baik. Doa Raka.
"Mayang," sapa Raka ingin membuka obrolan dengan Mayang yang masih memasang sikap sok cuek padanya.
"Iya," sahut Mayang singkat.
"Kamu pasti takut Jass kenapa-napa, kan? Banyak berdoa! Allah pasti melindunginya," ucap Raka menasehati Mayang.
"Hm ... iya, aku takut banget. Mas Raka nggak usah khawatir! Aku nggak pernah berhenti doain Jasson," sambut Mayang.
"Oya, di mana daddy-mu?" tanya Raka sambil mengedarkan pandangan matanya mencari orang yang dia maksud, meski dia sama sekali belum pernah bertemu dengan ayah Mayang.
"Beberapa kali aku ke sini, tapi aku nggak pernah ketemu sama daddy kamu," lanjut Raka.
"Tadi daddy ada di sini menemaniku, tapi beliau pergi beberapa menit sebelum Mas Raka datang. Daddy sedang sibuk mengurus proses hukum penembakan Jass."
"Hm ... iya, setelah ini aku diminta untuk memberi keterangan di kantor polisi, apa kamu juga, May?" Percakapan yang biasanya santai, kali ini terasa sangat canggung seperti dua orang yang baru mengenal.
"Iya, Mas. Aku juga," jawab Mayang singkat.
Kemudian keheningan kembali datang ketika mereka kembali membungkam mulut mereka masing-masing. Meski dalam hati mereka sangat ingin mengulang keakraban, canda tawa dan kebahagiaan yang pernah mereka rasakan bersama.
Aku kangen kita yang dulu, Sri. Desah Raka dalam hati.
Andai aku masih bisa terus sama-sama Mas Raka, kaya dulu lagi. Batin Mayang.
Inikah yang dinamakan cinta yang kandas sebelum menjalin. Sangat sakit ... lebih sakit dari diselingkuhi, itu yang Raka rasakan.
**
Setelah mengurus kasus Jasson, Reyhan kembali ke rumah. Dia menghubungi orang kepercayaannya dan meminta mereka untuk menemuinya di rumah. Ada sesuatu hal yang ingin Reyhan tugaskan pada mereka.
"Apa yang harus kami lakukan, Tuan?" tanya Ismail, tangan kanan rahasia Reyhan.
"Aku minta kamu dan anak buahmu untuk ...." Reyhan menjelaskan sedetail mungkin apa tugas mereka. Mereka menyimak dengan baik apa yang menjadi tanggung jawab mereka dan setelah itu segera melaksankannya dengan sebaik mungkin.
"Siap, Tuan!" Ismail bersiap untuk menjalankan tugas.
"Jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang ini terutama Sandrina dan Mayang!" Reyhan memperingatkan.
"Semua pasti beres di tangan kami, Tuan. Kami permisi." Ismail dan anak buahnya yang berjumlah dua orang itu pun pergi meninggalkan ruangan kerja Reyhan.
"Aku tidak akan membiarkan keluargaku berantakan, terutama anakku ... kalian harus jadi anak-anak yang aku banggakan. Maafkan ayah tidak bisa mendidikmu, Nak ... tapi ayah janji untuk memberi kalian kebahagiaan," gumam Reyhan kecewa dengan dirinya sendiri.