**
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya petugas polisi mengintrogasi dua penjahat yang hendak menculik Mayang dan berhasil membuat Jasson dalam bahaya.
Setelah melakukan penyelidikan, ternyata dua orang tersebut adalah orang-orang suruhan Adi Wijaya, salah satu kolega bisnis Sandrina. Dia dendam karena sikap Sandrina yang memutuskan kerjasama secara sepihak dan menjudge lelaki itu dengan kata-kata dan kalimat yang kasar. Maka dia berniat untuk menyekap Mayang agar Sandrina menyesal karena sudah bermain-main dengannya.
Dua orang penjahat tersebut dan Adi Wijaya kini melalui proses hukum. Reyhan sangat berterima kasih dengan cara kerja polisi yang sangat cepat dan cekatan.
Reyhan mengajak Mayang untuk pulang, atas permintaannya dia tidak ingin Mayang dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan karena anak gadisnya tersebut masih sangat shock. Maka polisi pun memutuskan untuk memberi Mayang waktu sampai dia benar-benar siap untuk bersaksi.
Mayang diam melamun dan mengurung diri di kamar setelah mandi dan mengganti seragamnya. Bayangan itu masih terngiang di pikirannya. Sangat menakutkan. Dia bahkan tidak menyangka nyawa Jass lah yang akan menjadi taruhannya.
"Jass, bertahanlah demi aku!" lirih Mayang sambil memeluk boneka pemberian opa.
"Aku nggak mau kehilangan kamu, Jass." Mayang terus berharap atas kesembuhan Jass.
Tetiba senyum Jass yang lelaki itu pamerkan, melintas di ingatan Mayang. Iya ... senyum tulus yang tidak pernah Mayang lihat selama ini. Senyum pertama sebelum dia menutup matanya kembali dan Mayang berharap itu bukanlah senyum Jass yang terakhir.
**
"Kamu keterlaluan, Sandrina!" sentak Reyhan sambil membuka pintu kamar istrinya dengan kasar.
"Hei, kau ini kenapa, Rey? Apa lagi salahku? Hah? Aku sudah tidak pernah lagi menyentuh anakmu kan? Dan itu pun masih kau anggap keterlaluan?" debat Sandrina tidak terima karena Rey menyalahkannya.
"Jass sedang kritis dan dirawat di rumah sakit sekarang," ucap Rey. Emosionalnya masih sangat tinggi terlihat dari nada bicaranya dan juga raut wajahnya yang menakutkan.
"Benarkah? Kenapa bisa begitu?" tanya Sandrina. Memang belum ada yang memberinya kabar tentang kejadian mengerikan yang menimpa Jasson dan Mayang.
"Karena dia menyelamatkan Mayang dari dua orang preman yang akan menembak anak kita," jawab Reyhan.
"Oh jadi begitu, lalu Mayang selamat kan?" tanya Sandrina yang bisa-bisanya bersikap santai tanpa ada rasa empati sedikit pun pada keadaan Jass.
"Mayang selamat berkat Jasson!" tegas Reyhan.
"Nah ... itu kan sudah tugas dia untuk melindungi Mayang. Kita sudah membayarnya dengan gaji yang tinggi selama ini, syukurlah! Ternyata dia bekerja dengan sangat baik, lalu apa masalahnya?" decit Sandrina dengan mudahnya berkata demikian. Iya, dibayar dengan uang lalu ketika Jass memberikan nyawanya maka itu dia anggap hal yang setimpal.
Reyhan makin tersulut emosi dengan reaksi istrinya yang sama sekali tidak memiliki perasaan. Seolah nyawa itu adalah hal yang sepele dan bisa diganti dengan uang.
Lelaki yang sedang marah itu mencengkeram ke dua lengan istrinya dengan kasar dan menariknya agar mendekat kepadanya.
"Karena kau! Semua ini terjadi karena sikap angkuhmu dan attitude-mu yang mengecewakan!" murka Reyhan.
"Rey! Lepaskan aku! Kau menyakitiku!"
"Kamu adalah wanita berhati iblis yang pernah aku kenal, San!" umpat Reyhan.
"Apa maksudmu? Kenapa semua hal yang terjadi akulah yang bersalah? Lepaskan aku lelaki parasit!" serang Sandrina sambil menggerak-gerakkan badannya agar terlepas dari cengkeraman suaminya yang menyakitkan.
"Seorang lelaki bernama Adi Wijaya menyewa orang untuk menculik anak kita karena dia dendam denganmu! Jika tidak ada Jass dan Raka maka anak kita yang nyawanya dalam bahaya! Semua memang karenamu! Karena sikapmu yang gemar menyakiti perasaan semua orang! Kau keterlaluan, San!" jelas Reyhan kemudian melepaskan tangan istrinya dengan kasar hingga wanita itu terjatuh ke atas ranjang.
"Jadi Adi yang- .... Rey, ini bukan salahku! Dia yang berusaha menipuku untuk itulah aku memberinya pelajaran! Kau tidak bisa seenaknya menyalahkan aku, Rey!" debat Sandrina membela dirinya.
"Bagaimana aku tidak menyalahkanmu? Bahkan ketika aku menunjukkan di mana salahmu pun kau tidak paham dan tidak mau merubah dirimu. Setidaknya punya hati sedikit! Kau seorang wanita, kau adalah ibu dari seorang anak gadis yang beranjak dewasa, maka bersikaplah selayaknya kodratmu! Jangan bertingkah seperti iblis seperti ini, San! Anak kita yang selama ini selalu menjadi korban dari semua perangai burukmu dan sekarang nyawa Jass yang menjadi taruhannya, apa kau mengerti itu?" berang Reyhan tidak bisa lagi menahan rasa kecewa dan marahnya pada sang istri.
Sandrina berdiri dari ranjang dan mendekat pada suaminya. Matanya memerah dan rahangnya mengeras. Wanita itu tersulut emosinya karena disamakan dengan iblis oleh Reyhan.
"Sudah puas kau menyalahkan aku, Rey?! Sekarang pergilah dari kamarku! Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu! Pergi!!" teriak Sandrina sambil mendorong suaminya agar keluar dari dalam kamarnya.
Wanita itu mengamuk dan melempar semua barang yang ada di dalam kamarnya. Dia menangis histeris dan berteriak serta meracau tidak karuan. Kemudian, dia menarik laci naki dan mengambil obat penenang untuk dia telan dengan sekujur badan yang berkeringat dan gemetaran.
**
Mayang mengambil air wudlu setelah mendengar suara adzan maghrib dari ponselnya. Gadis itu ingat apa kata Raka agar kita selalu mengingat Allah dalam segala keadaan baik suka maupun duka. Kita harus mengadukan segalanya hanya pada Allah yang pemilik hidup dan penentu nasib semua makhluk yang ada di dunia. Hanya Allah yang Maha Pemberi Pertolongan, hanya Dia-lah pulalah yang bisa menyelamatkan nyawa Jasson yang sekarang tengah berjuang demi hidupnya.
Meski belum fasih dengan bacaan salat, tapi Mayang tetap berusaha. Dia selalu menyisihkan sedikit waktu setiap harinya untuk menghapal bacaan-bacaan salat yang belum terlalu diingatnya. Begitu dangkal ilmunya tentang agama, sama seperti Sandrina yang tidak pernah menyebut nama Tuhan dalam hidupnya. Mayang tidak mau seperti mommy yang tidak pernah puas dengan pencapaiannya dan akan selalu mengeluh dan menyalahkan orang lain atas apa pun yang menimpanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu," ucap Mayang sambil menengok ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Dia sudah mentunaikan kewajibannya malam ini.
Mayang menengadahkan tangannya, dengan mata berkaca-kaca dia menyebut nama Jasson Arkadinata bodyguarnya. Pada saat itu juga Reyhan membuka pintu dan melihat anak gadis semata wayangnya itu tengah berdoa dengan memakai mukena baru pemberian dari lelaki baik yang bernama Raka. Reyhan mengintip dari celah pintu.
"Ya Allah, aku mohon selamatin nyawa Jasson. Aku sayang banget sama dia. Lancarkan operasinya, lancarkan proses penyembuhannya. Aku janji aku bakal jadi anak yang baik dan nggak nyusahin pekerjaannya lagi, Ya Allah. Aku .... " Mayang terisak-isak.
".... aku sayang Jasson, aku nggak mau kehilangan dia ...." doa Mayang.
"Amiin," imbuhnya menutup doa yang dia panjatkan secara tulus pada Tuhan.
"Amiin," sahut daddy ikut mengaminka doa anaknya sambil membuka pintu kamar Mayang lebar-lebar.
Mayang menengok ke belakang. "Daddy," serunya.
"Sejak kapan Daddy ada di sini?" tanya Mayang.
"Sejak tanganmu menengadah ke atas dan dengan mendoakan keselamatan Jasson," jawab Reyhan sembari berjalan mendekati anaknya.
"Dad, aku takut banget, aku khawatirin Jasson banget," keluh Mayang yang kini sedang membuka mukenanya.
"Kamu sudah berdoa pada Allah, maka serahkan dan pasrahkan semuanya kepadaNya," kata Daddy yang duduk di lantai untuk menyeimbangkan posisinya dengan Mayang.
"Hm ... dia rela melakukan apapun buat aku. Jasson lebih dari seorang pengawal pribadi buatku, Dad. Dia itu kayak kakak, dia udah ngorbanin nyawanya demi aku." Mayang selalu haru setiap kali mengingat pengorbanan Jass untuknya. Karena ini dia sadar kalau selama ini dia selalu membuat Jasson kesusahan dengan tingkah nakalnya.
"Iya, karena Jasson sayang denganmu seperti adiknya sendiri."
"Dad, apa daddy sudah menghubungi orang tua Jasson? Aku pernah sekali ngobrol dengan Papanya Jasson," cerita Mayang. Iya, hanya pembicaraan lewat telepon beberapa bulan yang lalu tapi Mayang masih ingat benar apa yang mereka obrolkan.
"Kamu bertemu dengan papanya Jass?" tanya Reyhan sambil mengerutkan keningnya.
"Nggak, Dad. Kami mengobrol by phone," jawab Mayang.
"Oh ... baiklah. Apa yang kalian obrolkan?" selidik Reyhan.
"Banyak hal. Papanya Jass itu beda banget sama Jass, dia lebih cerewet dan lucu." Mayang mengingat lelaki tua yang belum pernah ia jumpai tersebut sebagai figur yang ramah dan juga humoris.
"Iya, nanti daddy akan menghubungi orang tuanya Jasson. Sementara ini daddy sedang fokus dengan kasus penembakan dan upaya penculikanmu ini. Apa kamu sudah siap untuk bercerita bagaimana rentettan kejadiannya, Sayang?" tanya daddy, karena keterangan Mayang sebagai saksi kunci amatlah diperlukan.
"Iya, Dad. Aku udah siap," jawab Mayang. Berusaha untuk menyembuhkan rasa traumanya demi mendapatkan keadilan hukum untuk Jass dan dirinya.
"Kita duduk di atas, Sayang!" pinta Reyhan sambil beranjak dari atas lantai. "Biar enak ngobrolnya," imbuhnya.
Mayang mengikuti permintaan daddy dan mereka pun duduk berhadap-hadapan di atas tempat tidur Mayang yang berbedcover bergambar teddy bear kesukaannya.
"Ceritakan pada daddy bagaimana rentettan kejadian tadi siang?!" perintah Reyhan.
"Jadi siang itu setelah aku janjian bertemu dengan Mas Raka, aku dan Jass pulang. Kami bertemu di Restoran X langganan opa semasa masih hidup," cerita Mayang.
"Hm ... lalu?"
"Lalu setelah mobil ninggalin restoran di tengah jalan tiba-tiba ada mobil yang berhenti menghadang mobil kita, Dad. Lalu turun dua orang berbadan besar, mereka minta aku buat turun, tapi kata Jass aku nggak boleh turun. Jass menyeret dua orang itu menjauh dari mobil. Terus aku lihat salah satunya keluarin pistol yang di arahkan ke kepala Jasson. Aku panik, aku ketakutan banget, aku turun dari mobil dan manggil nama Jass. Saat itu juga arah pistol mereka berubah ke arah aku, Dad ...."
"Ini mengerikan sekali," komentar Reyhan. "Lanjutkan, Sayang!"
"Hm ... tiba-tiba ada Mas Raka yang datang, dia mau ngajak aku pergi karena takut aku kena tembak, nggak lama setelah itu .... " Mayang mengambil napas dalam-dalam dan air matanya kembali mengembang di pelupuk mata.
"Kamu masih kuat untuk bercerita? Kalau kamu tidak sanggup, daddy tidak akan memakasamu, Mayang."
"Suara tembakan terdengar sangat kencang, aku menutup mata dan telinga, Dad. Tapi sebelumnya aku melihat Mas Raka berdiri menutupi tubuhku, dia mau ngelindungin aku, tapi ...." Mayang tidak kuasa menahan isakan tangisnya.
".... bukan Mas Raka yang tertembak malah Jasson, aku pikir Jasson yang nyelamatin Mas Raka, aku nggak tahu kenapa dia ngelakuin itu." Mayang menutup ceritanya.
Aku tidak menyangka, anakku dicintai oleh dua lelaki baik sekaligus. Jass mencintaimu, Mayang. Untuk itulah dia tidak mau Raka terluka karena dia tahu kamu sangat mencintai Raka. Jass sadar kalau bahagiamu ada di Raka, jadi dia rela melakukan ini demi kamu, karena kamu pasti akan sangat hancur kalau Raka sekarat, dia rela menggantikan posisi Raka demi menjaga hatimu agar tetap utuh. Jass, semoga Allah menyelamatkan nyawamu. Batin Reyhan dengan netra yang berkaca-kaca. Dia salut dengan pengorbanan dan keikhlasan Jass untuk Mayang.
**
Saat makan malam, Sandrina tidak terlihat ada di meja makan. Hanya ada Mayang dan Daddy Reyhan yang sudah siap untuk menyantap makanan mereka.
"Dad, apa aku boleh ke kamar mommy?" tanya Mayang meminta ijin.
Seorang maid mengatakan jika Sandrina tidak membuka pintu ketika ia memanggilnya untuk makan malam. Mayang mengkhawatirkan keadaan mommy.
"Untuk apa? Biarkan mommy dengan dunianya sendiri," jawab Reyhan acuh.
"Mungkin mommy shock karena rekan bisnisnya hampir nyulik aku dan nyelakain Jasson, Dad. Bukannya saat seperti ini aku harusnya ada di dekat mommy? Aku mau mommy tahu kalau aku sayang sama mommy," jelas Mayang tentang niatnya dan pemikirannya.
Andai kamu tahu kalau Mommy sama sekali tidak memikirkanmu, Mayang. Tapi daddy tidak mau bikin kamu sedih. Pikir Reyhan.
"Kamu memang anak yang baik, Mayang," puji Reyhan.
"Aku bukan anak kecil lagi, Dad. Aku wanita dewasa sekarang," kata Mayang sambil mencebikkan bibirnya dan meletakkan sendok dan juga garpu yang dipegangnya.
"Benarkah begitu? Oke, anak daddy sudah dewasa karena dia sudah berani jatuh cinta," ledek Reyhan membuat rona merah di pipi Mayang menyembur secara alami.
"Dad, kalau mommy dengar aku bisa dipenggal, hahaha."
"Tidak akan! Daddy yang akan memenggal kepala mommymu duluan, hahaha."
Selepas menyelesaikan makan malamnya. Mayang meminta maid untuk menyiapkan makanan karena dia berniat membawakannya ke kamar mommy.
"Mom, buka pintunya!" Mayang membenturkan kepalan tangannya di pintu kamar Sandrina.
Hingga hampir lima menit menunggu, tapi Sandrina tak juga membukakan pintu untuknya. Maka Mayang nekad membukanya sendiri, kebetulan pintu kamar mommy sedang tidak dikunci.
"M-Mom ..." Mayang terbelalak dan kaget melihat keadaan kamar Sandrina yang seperti kapal pecah. Semua barang berantakan dan berserah ke mana-mana, bahkan ada serpihan kaca yang terlihat berhambur di atas lantai. Iya, sebuah gelas dan vas bunga menjadi sasaran keamukan Sandrina.
"Mom ...." Mayang meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja. Ditatapnya sang bunda yang tertidur lelap dan tidak menyadari akan kehadirannya
Mayang sedih, kenapa mommy selalu bersikap temperamental seperti ini.
"Mom ... kenapa mommy mengamuk?" lirih Mayang berjalan pelan mendekati mommy yang terbaring di atas ranjangnya yang lebar.
Perlahan Mayang duduk di sisi ranjang. Bila dilihat wajahnya amat sangatlah mirip dengan Sandrina, tidak tahu kenapa dia merasa sama sekali tidak ada kemiripan dengan Reyhan, tapi Mayang yakin kalau biar pun tidak mirip Reyhan pasti ayah kandungnya, karena Reyhan bersikap baik dan penuh kasih sayang dengannya. Berbeda jauh dengan sikap Sandrina yang tidak ada sikap keibuan sama sekali ketika menghadapinya.
"Apa benar kalau anak dan ibu wajahnya mirip pasti mereka bakal berantem terus setiap hari?" Pertanyaan itu pernah Mayang tanyakan pada Jasson dan Jasson menjawab, "Iya, Nona. Itu benar." Namun, jawaban Jass itu hanya untuk membuat Mayang diam, agar dia tidak terus bertanya kenapa mommy membencinya, meski Jass tahu benar apa alasannya.
"Mom, Mayang sayang sama mommy," lirih Mayang yang lagi-lagi harus menangis karena amat sangat ingin dipeluk oleh Sandrina.
Mayang menyapukan pandangan matanya ke setiap sudut kamar Sandrina. Dia berniat untuk membersihkan kamar ini, tapi mana mungkin dia bisa menyelesaikannya sendiri, maka dia berpikir untuk memanggil maid untuk membantunya. Namun, ketika berjalan beberapa langkah. Mayang dibuat tertarik dengan sebuah foto yang tergeletak di lantai berdekatan dengan vas bunga yang pecah.
"Foto siapa itu?" Mayang bergumam, lalu diambillah foto itu dari tempatnya.
Sebuah gambar lelaki muda nan tampan. Lelaki yang diperkirakan usianya masih dua puluh tahunan.
"Ini siapa?" tanya Mayang penasaran. Mayang membalik foto itu, terdapat tulisan tangan Sandrina yang tintanya sudah mulai usang sama seperti foto lelaki itu yang warnanya sudah memudar. Bisa dipastikan kalau ini pasti foto lama.
"Bara love Sansan," ucap Mayang membaca tulisan itu dengan suara yang pelan.
"Bara?" Mayang mengerutkan keningnya. "Apa dia mantan pacar mommy saat mommy masih muda?" Mayang menduga-duga.
"Mayang! Apa yang kau lakukan!" Suara Sandrina membuatnya berjingkat ketakutan. Nampaknya wanita itu terbangun dan tidak suka melihat Mayang ada di dalam kamarnya.
Mayang berbalik badan dan menyembunyikan foto itu dari balik punggungnya.
"M-Mommy ... mommy udah bangun?" Mayang gelagapan, terlihat dari cara bicaranya dan juga gesturenya.
"Ngapain kamu di kamar mommy? Mommy sudah bilang padamu kau tidak boleh masuk ke dalam kamar mommy tanpa mommy minta, Mayang!" sentak Sandrina. Meski bangun tidur dan masih belum sepenuhnya sadar dari obat yang dikonsumsinya, tapi dia masih kuat untuk meneriaki anaknya.
"Mom, a-aku ... aku membawakan makanan buat Mommy, karena Mommy nggak makan malam bareng aku dan daddy. A-aku ... aku takut mommy sakit," jawab Mayang yang semakin belingsatan mendapatkan sorotan tajam netra Sandrina yang menakutkan. Mayang segera menunduk, seperti biasa hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk menghalau sinar kebencian mommy yang selalu terpancar melalui manik matanya.
"Aku baik-baik saja! Justru kehadiranmu yang membuat mommy menjadi sakit!" teriak Sandrina.
"Pergilah kau dari sini!" usirnya sambil berjalan mendekat pada Mayang dan mendorong lengan gadis itu dengan kasar.
"I-iya, Mommy. Aku akan pergi, tapi mommy makan, ya!" kata Mayang yang tubuhnya bergeser akibat dorongan dari Sandrina.
"Kau tidak perlu memperdulikan aku! Cepat pergi! Tapi .... " Sandrina curiga dengan apa yang disembunyikan Mayang.
"... apa yang kau bawa, Mayang?" selidik Sandrina.
Mayang menggeleng cepat. Ketakutannya memuncak karena ulahnya mencomot barang pribadi Sandrina ketahuan.
"A-aku ... aku nggak bawa apa-apa, Mom," kelit Mayang.
"Coba mana! Mommy mau lihat, Mayang!" Sandrina menarik tangan Mayang dengan paksa maka Mayang pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan foto itu pada Sandrina.
Sandrina marah besar ketika tahu Mayang melihat apalagi menyembunyikan foto seseorang di masa lalunya.
"Plak ...!" Sandrina menampar wajah Mayang dengan cukup kencang hingga gadis itu terjatuh di atas lantai.
"Kau sudah lancang melihat apa yang tidak boleh kau lihat! Hanya dengan menyentuh handle pintu kamarku saja itu sudah suatu kesalahan untukmu apalagi kau berani masuk dan mengambil barang-barang pribadiku, Mayang!" murka Sandrina kesetanan.
"Maafin aku, Mom! Aku nggak maksud kurang ajar. Aku mohon maafin aku!" Mayang menangis terisak-isak sambil memegang kaki ibunya dan memohon pengampunan.
"Tidak ada ampun bagimu!" geram Sandrina.
"Mom, ayo ngomong, Mom! Kenapa Mommy benci banget sama aku? Aku anak kandung Mommy kan? Mommy yang melahirkan aku kan?" Mayang mengangsur beberapa pertanyaan untuk Sandrina.
Sandrina membelalakkan matanya dan mencengkeram dagu Mayang kuat-kuat, lalu ia mendongakkan wajah Mayang menghadap dirinya hingga sorot netra mereka kini bertemu dalam satu titik.
"Kau ingin tahu kenapa aku membencimu? Hah?" tanya Sandrina dengan nada tinggi.
"Baiklah akan aku katakan sekarang, karena sudah tidak ada lagi yang akan mencegahku. Papi sudah meninggal dan dia tidak akan lagi bisa membelamu!" serang Sandrina semakin tinggi volume suaranya.
"Aku membencimu ka-"
"Hentikan, San! Apa kamu sudah gila!" Reyhan datang dan segera menyingkirkan tangan Sandrina yang masih mencengkeram dagu Mayang.
Karena kehadiran Reyhan yang tiba-tiba, Sandrina mengurungkan niatnya untuk memberitahu Mayang.
"Anakmu yang kurang ajar, dia masuk ke kamarku tanpa ijin," kata Sandrina sambil memalingkan muka tidak mau melihat Reyhan. Mayang kini berada dipelukan ayahnya.
"Itu bukan kurang ajar! Dia datang karena dia perhatian denganmu, dia memikirkan dirimu yang tidak makan malam ini!" berang Reyhan, rahang lelaki itu nampak mengeras.
"Apa yang kau lakukan pada anakku?! Jawab! Kenapa pipinya merah seperti ini?" tanya Reyhan ketika memeriksa wajah Mayang.
"Jawab, Nak! Apa mommy menamparmu lagi?" Reyhan menanyai anaknya yang hanya diam dan menangis ketakutan.
Mayang menggeleng. "Mommy tidak menamparku, Dad," bantahnya.
"Bohong, kau bohong sama daddy, Mayang." Reyhan tidak percaya begitu saja, karena dia tahu Mayang pasti akan membela ibunya.
"Lihat saja kau, San! Aku akan memasukkanmu ke dalam penjara!" ancam Reyhan lalu membawa Mayang pergi bersamanya meninggalkan kamar istrinya yang seperti neraka.