48. Pengorbanan Jasson

1866 Kata
** Mayang meminta Jass untuk menurunkannya di sebuah restoran. Restoran favoritnya dengan opa. Di sana lah dia dan Raka akan bicara. "Mas Raka mau ngomong apa?" tanya Mayang tanpa menatap mata Raka dan justru fokus melihat vas bunga yang ada di atas meja. "May, terima kasih kamu udah bantuin aku buat bangkit," ujar Raka sambil menatap wajah ayu Mayang lekat-lekat. "Aku nggak tahu kalau-" "Jass yang membantu Mas Raka bukan aku," potong Mayang melihat ke arah Raka sejenak kemudian melempar pandangannya ke sembarang arah. "Tapi itu demi kamu, jadi aku berterima kasih sama kamu dan Jass juga," jelas Raka. "Iya hanya itu kan yang mau Mas Raka bilang? Sekarang aku udah dengar jadi aku boleh pulang?" Mayang menunjukkan sikap yang sangat berbeda dari biasanya. Sikap ramah, ceria dan menyenangkan itu seolah luntur darinya. Raka seperti tidak mengenali Mayang lagi. "May, kenapa kamu berubah sama aku? Aku salah apa, May?" tanya Raka sendu. Dia harap Mayang mau bicara agar dia tahu di mana letak kesalahannya. "Mas Raka nggak salah apa-apa, kok. Justru aku yang banyak salah," jawab Mayang. Lagi-lagi air mata itu merembes dari ke dua manik hitamnya. "Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Aku ngerasa kamu nggak punya salah apa-apa, May. Please, jangan buat Bambang jadi bingung gini, Sri!" pinta Raka dengan sangat lembut. "Aku emang sengaja ngejauh dari Mas Raka karena aku nggak mau bikin Mas Raka kena masalah terus karena aku," jelas Mayang terisak-isak. "Masalah apa? Justru kamu yang bantu masalah aku, aku udah cari pinjaman ke mana-mana, tapi nggak dapat juga. Kamu dan Jass yang udah bantu aku," tandas Raka. "Mas Raka nggak ngerti-" "Iya apa yang aku nggak ngerti?" desak Raka. "Cafe Mas Raka kebakar juga karena ulah mommy aku, Mas," aku Mayang lalu menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangan. Gadis itu menangis semakin kencang. "A-apa? Kamu yang bener, May?" Ternyata firasatnya benar, kebakaran di cafenya memang karena kesengajaan dari orang. "Iya, itu bener, Mas. Sekarang Mas Raka udah tahu, Mas Raka bisa laporin mommy ke polisi kalau Mas Raka punya bukti, tapi aku nggak bisa apa-apa meski aku tahu yang sebenarnya. Karena dia mommy-ku dan Mas Raka .... " Mayang mengambil napas sejenak, karena susah sekali untuk bicara sambil menangis terisak-isak seperti sekarang. ".... aku mencintaimu, Mas," ucap Mayang mengakui perasaannya. Raka bahagia mendengar pengakuan Mayang tentang perasaannya, tapi ada sebuah kesedihan yang juga terganjal dalam hatinya. "Aku nggak bisa kalau disuruh milih antara kalian. Aku tahu sekarang aku bukan anak kecil lagi, aku udah dewasa dan Mas Raka yang membuatku jadi dewasa. Aku banyak belajar banyak hal darimu, tentang agama, tentang perjuangan, kerja keras .... " Rasa haru menyeruak. ".... tentang kesopanan seorang lelaki dalam menjaga harga diri seorang wanita ... semua Mas Raka tunjukin di depan mata aku dan itu yang bikin aku jatuh sejatuh-jatuhnya di cinta Mas Raka. Meski hanya beberapa bulan kita saling mengenal, tapi selama itu udah cukup ngebuktiin kalau Mas Raka lelaki baik," ungkap Mayang panjang lebar. Betapa dia sangat mengagumi attitude Raka, iman Raka ... ya meski kadang Raka masih suka lupa dan menyentuh Mayang tanpa dia sadari, tapi Raka tidak pernah sedikit pun melecehkannya. Meski banyak kesempatan yang datang untuk Raka melakukannya. "Mas Raka udah tau sekarang apa alasanku ngejauhin Mas Raka selama ini, jadi Mas Raka jangan berpikir aku yang macam-macam. Aku cuma pingin Mas Raka baik-baik aja seperti dulu saat Mas Raka belum kenal aku," imbuh Mayang. "Meski aku juga tahu Mas Raka nggak cinta sama aku, tapi nggak apa ... banyak orang yang nggak dapatin cinta mereka, cukup ngelihat orang yang kita cintai bahagia itu udah lebih dari pada cukup," tutup Mayang kemudian berdiri dan berlari meninggalkan Raka. Raka tertegun. Kata-kata gadis belia itu sukses membuat sekujur urat syarafnya membeku. Tak sadar air matanya menetes. Apa benar itu Mayang yang mengatakannya? Gadis belia dan manja yang selalu tertawa dan membuat lelucon yang bisa membuatnya tergelak? Gadis yang mengakui perasaannya secara gamblang dengan berbagai pengorbanan yang sudah dia lakukan demi kebahagiaannya. "Kamu udah dewasa Mayang. Kamu bukan anak kecil seperti yang aku pikirin." Raka berdiri meninggalkan tempat duduknya setelah meletakkan beberapa uang di atas meja untuk membayar minuman mereka yang sama sekali belum tersentuh. Raka berlari mengejar Mayang yang dia harap jaraknya belum jauh darinya. Di parkiran yang luas. Mayang terlihat memeluk Jasson dan menangis terisak-isak didekapan lelaki minim ekspresi tersebut. "Aku udah jujur sama Mas Raka, Jass. Tapi aku sedih harus ninggalin dia," keluh Mayang. "Hidup itu pilihan, Nona," sahut Jass. "Mayang!" Raka datang untuk menyusul Mayang yang belum pergi meninggalkan restoran. Mayang melepaskan pelukan Jass. Dia berbalik badan dan melihat Raka sudah ada di depan matanya. "Ayo kita pergi, Jass!" perintah Mayang yang memilih mengabaikan kehadiran Raka. Gadis itu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Raka. "May! Kamu nggak bisa cuekin aku kayak gini, May!" protes Raka sambil mengetung-ngetuk kaca mobil Mayang yang sudah tertutup rapat. "Jass, kita pergi sekarang!" pinta Mayang ketika Jass tak juga menyalakan mesin mobilnya. "Tapi Raka-" "Jalan, Jass!" potong Mayang tidak mau mendengarkan apapun selain ingin pergi dari tempat ini. "Baik, Nona." Jass menuruti apa keinginan Mayang tanpa banyak bicara atau pun mendebat. ** Raka membuntutti mobil Mayang. Lelaki yang belum mau mengakui perasaannya kepada Mayang karena masih gamang dan belum mantab itu pun seolah tidak mau berpisah dalam keadaan yang seperti sekarang. Hanya Mayang yang sejak tadi terlalu banyak bicara, sedangkan dia belum berkata apapun tentang apa yang dia rasakan. Di tengah perjalanan ada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di depan mobil yang Jass kemudikan. Otomatis Jass yang kaget segera menginjak pedal remnya dalam-dalam untuk menghindari kecelakaan. Begitu pun Raka yang juga menghentikan kendaraannya secara mendadak. "Jass, siapa mereka?" tanya Mayang yang mendadak ketakutan ketika dua orang berbadan besar turun dari dalam mobil dan menghampiri kendaraan mereka. "Saya tidak tahu, Nona," jawab Jass yang masih bisa memasang sikap biasa saja meski Mayang sudah belingsatan tidak karuan. "Keluar!" Salah satu lelaki yang berkaca mata hitam dengan pakaian yang juga serba hitam itu pun mengetuk kaca jendela Mayang dengan sangat kasar. "Jass, bagaimana ini?" Mayang semakin dibuat panik. "Jangan keluar, Nona! Jangan buka pintunya!" perintah Jasson sambil membuka pintu mobilnya. Lelaki gagah pemberani itu menghampiri preman jahat yang sudah berhasil menakut-nakuti Mayang. "Jangan ganggu Nona Mayang! Siapa kamu? Apa urusanmu?!" tegur Jass sambil menarik lelaki itu agar menjauh dari Mayang yang masih ada di dalam mobil. "Kamu tidak perlu tahu siapa aku!" sentak lelaki itu sembari memberi kode kepada kawannya untuk maju dan membantunya melawan Jass. Kini Jasson berhadapan dengan dua preman berbadan besar sekaligus. "Ya Allah, lindungilah Jasson," doa Mayang. Dia khawatir sekali kalau Jasson kenapa-napa. "Kami cuma ingin membawa Nona mudamu pergi. Jadi jangan halangi kami!" kata si lelaki satunya lagi. "Jangan harap kalian bisa menyentuh Nona Mayang meski seujung kuku pun apalagi sampai membawanya pergi!" sahut Jass. "Kau mau mati ternyata!" geram penjahat itu. Mayang takut sekali ketika salah satu dari dua lelaki yang mencoba menculiknya mengeluarkan sebuah senjata api dan diulurkan tepat ke arah kepala Jass. Banyak orang yang melintas, tapi tidak ada satu pun yang berani untuk ikut campur dalam masalah ini. Mereka takut dan tidak mau nyawa mereka ikut melayang karena menolong orang. Melihat Jass dalam bahaya, spontan Mayang membuka pintu kemudian turun dari dalam mobil. Demi Tuhan dia tidak mau Jass kenapa-napa karena dirinya. "Jass!" teriak Mayang. Jarak Mayang dan ke tiga lelaki yang sedang bersitegang tersebut kurang lebih sepuluh meter karena Jass memang menggiring mereka untuk menjauh dari Mayang. Jass menengok ke belakang, dilihatnya Mayang sudah berdiri dan ingin mendekatinya, tapi .... arah pistol yang tadi mengarah ke kepalanya bergeser dan beralih menuju ke arah Mayang. "Dia yang akan mati," ucap si pembawa pistol bak Malaikat Izroil yang ditugaskan untuk mencabut nyawa manusia. Raka diam-diam mengintai dan hendak membantu Jass, tapi ketika dia tahu nyawa Mayang dalam bahaya maka Raka memilih untuk menyelamatkan Mayang. "May, kamu bisa mati kalau penjahat itu melepaskan pelurunya," kata Raka sambil menarik tangan Mayang agar menyingkir. "Tapi Jass-" "Mereka mengincar kamu, Mayang. Bukan Jass," seru Raka. Penjahat itu tidak peduli dia melesatkan pelurunya, suara tembakan itu terdengar nyaring. Refleks Raka memasang badan tepat di depan Mayang agar gadis itu selamat dari tembusan timah panas yang bisa membuat nyawanya melayang. Mayang menutup ke dua telinga sembari memejamkan mata. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Raka pun juga menutup matanya, tapi ... setelah suara tembakan itu hilang terbawa angin kenapa dirinya tidak merasakan sakit apapun .... harusnya bila si penjahat itu bisa membidik dengan tepat maka dia-lah yang akan tumbang. Raka membuka matanya. Dan ... dia berteriak ketika melihat Jass terkapar di atas aspal dengan d**a yang mengeluarkan banyak darah. "Jasssooon!" Raka segera berlari untuk menolong bodyguard Mayang yang sudah terkapar tidak berdaya tersebut. Mendengar Raka menyebut nama Jass dengan kencang, Mayang pun segera membuka matanya. Air matanya jatuh ketika melihat Jass sudah ada dipangkuan Raka. "Jaaass!" Mayang berlari. Hujan air mata kembali membanjiri wajah ayunya. Sedangkan ke dua penjahat itu segera pergi setelah berhasil membuat jantung Jass tertembus peluru hingga lelaki gagah itu tumbang hanya dengan hitungan beberapa detik saja. "Jass, bangun Jass!" Mayang menepuk-nepuk pipi Jass untuk membuat lelaki itu membuka matanya. "Aku cari pertolongan dulu, May! Aku nggak bisa nyetir," kata Raka sambil mengalihkan kepala Jass dan berpindah ke pangkuan Mayang. Raka berlari untuk meminta pertolongan orang-orang yanga ada di sekitar sana. "Jass, bangunlah! Biarin aku yang mati, Jass!" Mayang terisak-isak hingga air matanya jatuh membasahi kelopak mata Jass yang tertutup rapat. "Jass, aku mohon buka matamu!" Mayang mengiba lalu memeluk Jass dengan sangat erat. Tak khayal darah Jass yang merah dan pekat mengotori seragam putih abu-abu yang dikenakannya. "No-Nona ...." Jass membuka matanya sedikit dan memanggil Mayang. "Jass .... Jass, kamu harus kuat! Mas Raka lagi nyari bantuan buat bawa kamu ke rumah sakit," kata Mayang sedikit lega setelah melihat mata Jass terbuka meski sorot tajam itu kini terlihat sangat redup tak seperti biasanya. "S-Saya ... saya ingin a-anda-" "Jass, diamlah! Jangan banyak bicara!" potong Mayang, air matanya masih tidak bisa ia tahan. Jass tersenyum. Senyum yang jarang sekali Mayang lihat menghiasi wajah lelaki dingin itu selama ini. "Ber-baha-gia-lah, No-Nona," lirih Jass sebelum akhirnya mata itu kembali terpejam. Jass kehilangan kesadarannya. ** Rumah Sakit. "Jasson kehilangan banyak darah, Tuan. Dia harus segera mendapatkan tranfusi darah dan kami akan segera mengangkat peluru yang bersarang di jantungnya," jelas dokter yang menangani keadaan Jasson pada Reyhan. "Lakukan yang terbaik untuk Jasson, Dok! Selamatkan nyawanya!" pinta Reyhan yang juga sangat panik dengan keadaan bodyguard pribadi anaknya tersebut. "Tentu kami akan melakukan yang sebaik mungkin, Tuan. Permisi!" Dokter pun segera pergi. "Mayang, daddy mau ke kantor polisi dulu sebentar, ya. Nanti kamu pasti juga akan banyak ditanya, tenangkan dirimu dulu!" jelas Reyhan sambil memeluk anak gadisnya yang tidak berhenti menangis sejak tadi hingga matanya terlihat membengkak. "Iya, daddy," sahut Mayang. Daddy pun pergi, setelah itu Raka datang setelah melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam. Dia mendampingi Mayang yang masih shock. Sesekali dia melihat darah Jass yang masih bercecer membasahi seragamnya. "May, gimana keadaan Jass?" tanya Raka. "Jass kehilangan banyak darah, dia akan segera dioperasi setelah tranfusi darah, Mas," jawab Mayang. "Semoga nyawa Jass tertolong," harap Raka. Jass, harusnya kamu nggak perlu korbanin dirimu kayak gini. Aku udah ngelindungi Mayang, kamu tahu itu kan? Kenapa kamu nekad menghalau peluru itu pakai tubuh kamu. Desah Raka dalam batin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN