47. Melindungi Fisik Dan Hatinya

1744 Kata
** Sore hari, Raka datang ke rumah Pak Rahmat, pegawai bank yang sudah membantunya mendapatkan bantuan pinjaman untuk memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih Raka padanya. Namun, ada sesuatu yang membuat Raka kaget ketika dia mendapati mobil Mayang yang biasa dikendarai oleh Jasson terparkir di depan rumah lelaki berumur empat puluh tahunan tersebut. "Ngapain Jass ada di sini?" Raka menjadi sangat penasaran. Apa hubungannya Jasson dengan Pak Rahmat? Raka memilih mengintai Jasson dari kejauhan. Lamat-lamat Raka melihat bodyguard Mayang itu memberikan sebuah amplop cokelat pada Pak Rahmat lalu mereka berjabat tangan. Terlihat Pak Rahmat sangat senang mendapatkan amplop itu yang diperkirakan isinya adalah uang. ** Lima menit berselang Jasson keluar dari halaman rumah Pak Rahmat. Lelaki itu pergi meninggalkan rumah sederhana tersebut dengan mobil mewah yang ditungganginya. Karena Raka penasaran dan mendadak dia jadi negatif thinking sama hubungan Jass dan Pak Rahmat (meski sudah berkali-kali mengucap istighfar, tapi tetap aja suudzon Raka nggak hilang-hilang). Maka Raka pun memutuskan untuk menyusul Jass. Dia ingin sekali tahu apa hubungan antara Jass dengan Pak Rahmat. "Tiiiin ... !" Raka membunyikan klakson motornya hingga membuat Jass kaget setengah mati. Tak lama ... "Cyiiit ... " Raka menginjak rem roda duanya dalam-dalam tepat di depan mobil Jasson. Buru-buru Jass pun juga menginjak pedal rem mobilnya. Untung saja roda empat itu segera berhenti hingga membuat tabrakan itu bisa terelakkan. "Raka ..." Jass meminggirkan mobilnya, kebetulan ini masih di dalam gang sehingga keadaan tidak terlalu ramai dan hanya beberapa orang saja yang lewat. "Apa kamu mau bunuh diri?" tanya Jass ketika keluar dari dalam mobil dan mengampiri Raka. Dua lelaki tampan dan berbadan gagah itu pun berdiri berhadap-hadapan. "Gue nggak mau bunuh diri, gue cuma mau tanya ... to the point aja, apa hubungann lu sama Pak Rahmat pegawai bank x?" tanya Raka. Jadi Raka lihat aku sama Pak Rahmat? Pikir Jass sambil membuang muka. "Itu urusanku," jawab Jass dingin. "Ini aneh sie buat gue. Pak Rahmat datang ke rumah gue nawarin pinjaman yang Masya Allah gampang banget dengan nominal yang besar dan tanpa jaminan. Apa ini ada campur tangan lu?" "Ikut aku! Jangan bicara di sini!" Jass masuk ke dalam mobilnya dan meminta Raka untuk membuntuttinya. Ternyata Jass membawa Raka ke sebuah restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana. Mereka duduk berdua di meja yang letaknya paling sudut dan jauh dari keramaian. "Jadi apa yang bisa kamu jelasin?" tanya Raka dengan sapaan yang lebih sopan dari sebelumnya yang memakai istilah lu gue. Masing-masing secangkir kopi hangat singgah di depan Raka dan Jasson. Ke duanya nampak tegang dan canggung karena memang tidak pernah berbincang banyak seperti yang akan mereka lakukan sekarang. "Tentang hubunganku dengan Pak Rahmat. Itu yang kamu ingin tahu," kata Jass kemudian menyeruput secangkir kopi hitam pekat miliknya. "Iya," sahut Raka singkat. "Pak Rahmat memang orang suruhanku," jelas Jass membuat Raka mengerutkan keningnya. "Orang suruhanmu untuk?" "Untuk memberikan uang seratus juta rupiah itu sama kamu. Aku yakin kamu nggak akan mau menerima pemberian orang secara cuma-cuma," jelas Jasson. "Jadi aku menyewa orang untuk berpura-pura menjadi pegawai Bank, semua aku yang merancangnya," imbuh Jass. "Tapi buat apa kamu ngelakuin ini?" "Buat Nona Mayang," jawab Jass lalu menghembuskan napas kasar. "Ma-Mayang?" "Iya demi Nona Mayang. Dia yang minta aku buat kasih uang itu ke kamu. Dia pingin banget bantu kamu sampai dia jual perhiasan pemberian opanya demi kamu. Itu berbahaya, kalau Nyonya Sandrina tahu dia bisa dihukum berat," tutur Jasson. "Astagfirullah, Mayang ...." Raka menjadi takut Mayang kena masalah karena membantunya. "Kalau gitu mending aku balikin aja uangnya dan beli lagi perhiasan seperti yang dia jual, aku nggak mau dia diapa-apain Ibunya," jelas Raka. Itu jalan keluar satu-satunya menurutnya. Masalah cafe mungkin dia bisa mencari pinjaman lain yang penting jangan sampai Mayang terluka karena ulah ibunya. "Tidak perlu! Aku sudah memikirkan semuanya. Nona Mayang aman bersamaku," jelas Jasson. "Ta-" "Nona Mayang memang meminta aku untuk menjual perhiasannya, tapi aku sudah memprediksikan segala resikonya jadi aku urungkan untuk menjualnya," potong Jasson. "Lalu uang siapa yang sekarang aku bawa?" selidik Raka. "Itu uang pribadiku," jawab Jass membuat bola mata Raka membola. "Uangmu? Kamu mengeluarkan uang sebanyak itu demi membantu aku?" "Demi kebahagiaan Nona Mayang, itu alasannya," tegas Jasson. "Jass, aku bisa kembaliin uang kamu. Aku-" "Dengan kamu kembalikan uang pemberianku itu sama saja kamu membuat senyum Nona Mayang hilang. Terima saja! Itu bukan seberapa untukku," jelas Jasson dengan sedikit sombong. "Jass, apa kamu mencintai Mayang?" Ekspresi wajah Jass terlihat masih datar ketika Raka menanyakan hal pribadi itu kepadanya. Tatapan elangnya lurus menatap ke depan. "Demi kebahagiaan Mayang, itu terus yang kamu bilang lalu apa artinya kalau kamu nggak cinta sama dia?" cecar Raka karena Jass masih mengunci mulutnya. "Cinta atau tidak itu sudah tugasku untuk melindunginya-" "Melindungi fisiknya itulah tugas bodyguard bukan perasaannya," tukas Raka membuat Jass kembali mengunci mulutnya rapat. "Hanya penjelasann itu kan tadi yang ingin kamu dengar? Aku permisi!" Jass berdiri dari tempat duduknya kemudian melenggang pergi meninggalkan Raka yang masih diam mematung memperhatikan lelaki itu perlahan lenyap dari pandangan matanya. Jass, lelaki yang selalu tidak mau urusan hatinya diusik. Mayang ... sebegitu besar pengorbanan kamu buat aku. Sampai kamu nggak mikirin keselamatan kamu sendiri. Dan Jass rela melakukan apapun demi nglindungi kamu, bukan hanya fisikmu, tapi juga perasaanmu. Raka membatin. ** Setelah bertemu dengan Jasson, Raka segera menuju ke cafenya yang kini sudah mulai untuk direnovasi. Ada Andika juga yang sejak tadi ada di sana untuk mengawasi dan juga membantu membersihkan puing-puing yang tersisa. "Gimana, Dik? Lancar kan?" tanya Raka. "Lagi beres-beres ini, beneran nggak ada barang-barang yang bisa diselamatkan, panci aja item banget kayak gini," jawab Andika. "Iyalah, apinya segede itu," sahut Raka lesu. "Kenapa lu? Kayak nggak semangat gitu," tegur Andika. "Gue shock banget, Dik. Ternyata Pak Rahmat itu orang suruhannya Jass buat pura-pura ngasih pinjaman ke kita," cerita Raka. "Jass bodyguardnya Mayang?" "Iya, Mayang yang minta Jass buat ngelakuin itu. Gue nggak nyangka segitu care-nya Mayang sama gue." "Tapi kata lu dia udah nggak mau lagi hubungin lu atau ngobrol lagi sama lu?" "Iya, dia memang ngehindar banget dari gue selama ini. Gue berpikir kalau dia nggak mau lagi temenan sama gue karena gue sekarang udah nggak punya apa-apa, tapi ternyata di belakang gue dia udah ngelakuin pengorbanan sebesar ini," tutur Raka merasa sangat berdosa karena sudah berprasangka buruk dengan Mayang. "Keren ... dia beneran tulus sama lu, Ka. Jadi keputusan gue buat mundur itu bener, karena gue nggak akan mungkin menang ngelawan lu," ujar Andika sambil menepuk bahu Raka. "Tapi kita tetap bakal usaha buat nyicil uang itu, Dik. Gue nggak enak ngrepotin Jass, karena itu pakai duit pribadi Jass," jelas Raka. "Katanya Mayang kok jadi duit Jass, Ka?" Andika kebingungan karena Raka tidak menjelaskannya secara detail. "Ceritanya panjang, ntar aku jelasin. Ya udah kita bantu bersih-bersih lagi aja dulu!" ajak Raka. ** Keesokan harinya, Raka nekad menemui Mayang di sekolah karena gadis itu tak juga mau untuk membalas pesan atau mengangkat panggilan darinya. Dan Raka datang ke sekolah Mayang lebih dulu dari Jass yang setiap hari menjemputnya. "Mas Raka!" Mayang panik, dia hendak melarikan diri dengan masuk kembali ke dalam sekolah, tapi Raka mengejarnya. "Mayang, kamu kenapa sie ngejauhin aku terus kayak gini?" tanya Raka sambil menarik tangan Mayang agar gadis itu mau berhenti berlari. Winda yang masih berdiri di depan gerbang hanya memperhatikan sahabatnya itu kejar-kejaran dengan Raka tanpa mengambil tindakan apapun. "Lepas, Mas!" pinta Mayang yang matanya sudah memerah efek menahan tangisnya. "Maaf-maaf, tapi jangan lari lagi! Aku mau ngomong sama kamu, May." Raka buru-buru melepaskan tangannya. "Mas Raka mau ngomong apa?" tanya Mayang. "Kita cari tempat ya buat ngobrol!" ajak Raka. "Tapi tunggu Jass datang." Mayang memberi syarat. Rupanya Jass baru saja tiba ketika Mayang dan Raka keluar beriringan dari dalam sekolah. Seperti biasa Winda yang juga menunggu jemputan sedang sibuk menggoda lelaki dingin itu. "Kenapa udahan sie main kejar-kejarannya? Ganggu aku sama Jass pacaran aja," sungut Winda sambil bergelendot centil di lengan Jass. Kenapa ada Raka di sini? Jass tidak memperhatikan kalau motor Raka terparkir di seberang jalan. "Jass, tolong beri aku waktu buat ngomong sama Mayang!" Raka meminta ijin pada Jasson. "Semua tergantung pada Nona Mayang," jawab Jass sambil menatap Mayang sesekali terlihat menyeka air matanya. "Aku mohon, Mayang!" pinta Raka dengan sangat. "Iya, oke. Mas Raka ikuti mobil Jass, ya! Ayo, Jass!" Mayang mengambil keputusan untuk memberi Raka kesempatan untuk bicara. "Win, kamu mau ikut?" tanya Mayang pada sahabatnya sebelum dia pergi. "Nggak usah, May. Jemputanku sebentar lagi juga datang, kok," tolak Winda. "Ya udah, aku tinggal, ya." Mayang melambaikan tangannya pada Winda sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil. ** "Nona, maafkan saya!" ucap Jass ketika roda empat yang ditungganginya sudah berjalan kira-kira sepuluh meter meninggalkan sekolah. "Maaf untuk apa, Jass?" tanya Mayang ingin Jass menjelaskan lebih detail apa kesalahannya. "Raka sudah tahu kalau uang seratus juta itu adalah dari anda," jawab Jass. Mayang menyerongkan posisi duduknya agar bisa menatap ke arah Jass dengan lebih jelas. "Kenapa bisa? Aku udah bilang sama kamu jangan sampai ini bocor," tegur Mayang. "Maafkan saya, Nona. Raka memergoki saya dengan Pak Rahmat, orang yang saya bayar untuk memberikan uang itu pada Raka. Saya tidak bisa berbohong karena Raka terus mendesak," jelas Jass. "Jadi begitu? Ah ya sudahlah!" desah Mayang memilih untuk tidak banyak bertanya lagi apalagi menyalahkan Jass. Dia percaya Jass pasti sudah berusaha melakukan tugasnya dengan baik, lagi pula demi keselamatannya Jass sudah mau merogoh uang sekian banyak. "Anda tidak marah kan, Nona?" tanya Jass, dia tidak mau membuat Mayang kecewa. "Enggak, Jass," jawab Mayang dengan senyuman tersungging di bibirnya. "Kamu udah ngelakuin yang terbaik buat aku, jadi ngapain aku mesti marah," imbuhnya. "Terima kasih, Nona," sahut Jass merasa lega. Mayang menengok ke belakang dan melihat Raka berada tepat di belakang mobilnya. Mata Mayang kembali mengeluarkan embun bening. "Jass, aku rasanya pingin banget segera pergi dari Indonesia. Aku nggak mau buat Mas Raka kena masalah terus karena kehadiranku di hidup dia," tutur Mayang. "Anda mencintainya, Nona?" tanya Jass, pertanyaan tentang hal pribadi yang jarang-jarang Jass utarakan. "Aku nggak tahu kenapa aku bisa semudah itu jatuh cinta sama Mas Raka. Iya ... baru pertama aku dekat sama cowok selain kamu. Dan Mas Raka itu beda, dia ngejagain aku dan bimbing aku," jawab Mayang. Jelas jawaban yang membuat ulu hati Jass seperti di tusuk sembilu. Namun, Jass bisa apa selain terus menyembunyikan perasaannya. "Cinta memang bisa datang tanpa diminta, tidak peduli seberapa lama kita saling mengenal," ucap Jass dengan sangat serius. "Iya, itu yang saat ini aku rasain. Eh, tapi .... kayak kamu pernah jatuh cinta aja sie, Jass," cibir Mayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN