**
Mayang kembali ke tempat duduknya ketika pesanan mereka sudah siap sedia di atas meja.
"Lama banget ke toiletnya," tegur Raka.
"Habisan tadi rame banget, Mas. Maaf, ya. Kenapa Mas Raka belum makan?" Sebisa mungkin Mayang menutupi apa yang terjadi sebelum ini. Dan ... Rania kini sudah pergi dari cafe ini dengan pergerakan yang sangat terburu-buru. Itu bagus, jangan sampai Raka melihatnya.
"Nanti nunggu kamu datang."
Ya Allah kasian Mas Raka sama Bunda. Batin Mayang yang kini matanya sudah nampak mengeluarkan embun bening. Gadis itu belum duduk kembali ke tempatnya, karena pikirannya masih tertuju pada Rania hingga membuatnya menjadi ngehang secara mendadak.
"May, duduk! Ngapain bengong?" tegur Raka.
"Eh, iya, Mas." Mayang segera menempatkan paantatnya di kursi yang ada di hadapan Mayang.
"Makan dulu! Biar kamu punya tenaga buat ketawa," perintah Raka yang kini sudah mulai memegang sendok dan garpu di kedua tangannya.
"Iya, Mas," sahut Mayang dengan tidak bersemangat.
Aku nggak bisa bayangin gimana kecewanya Bunda Amel dan Mas Raka kalau tahu Rania menjadi gadis simpanan om-om. Mayang terus membatin, dia menjadi tidak fokus dan nasi goreng seafood pesanannya pun hanya dia aduk-aduk tanpa ada satu sendok pun yang masuk ke dalam mulutnya.
"Sri! Hei, kamu kenapa bengong gitu? Ayo dimakan!" tegur Raka ketika dia diam-diam mengamati raut wajah Mayang. Mayang yang melamun menjadi tidak sadar kalau sedari tadi Raka memperhatikan dirinya.
"Nggak apa kok, Mas. Hehehe." Mayang akan terus berusaha menyembunyikan semuanya, demi menjaga perasaan Raka.
"Kamu lagi ada masalah?" selidik Raka.
"Nggak ada kok, Bambang. Udah makan aja!" jawab Mayang.
**
"Jadi kamu masih menemui Raka, Mayang?" tanya Sandrina.
Tumben sekali, wanita itu beberapa hari ini betah sekali ada di rumah, termasuk siang ini ketika Mayang pulang sekolah dan Sandrina lah yang menyambutnya.
"Mom, aku-"
"Tidak perlu kau menutupinya dariku! Usman tidak mungkin merekayasa hasil laporannya," potong Sandrina.
"Jadi anda meminta Usman untuk mengawasi kami, Nyonya? Saya rasa anda terlalu berlebihan. Tuan Reyhan mengijinkan Nona Mayang untuk menemui Raka jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan," debat Jasson. Dia tahu kalau Mayang pasti tidak bisa menjawab perkataan mommy-nya.
"Mayang anakku dan aku tidak suka dia berdekatan dengan lelaki yang tidak selevel dengan keluargaku, Jass," serang Sandrina mulai dibuat naik pitam dengan kata-kata dingin dari bodyguard anaknya.
"Nona Mayang hanya berteman dengan Raka bukan untuk berpacaran. Masih jauh untuknya memikirkan jodoh. Mohon maaf! Anda terlalu berlebihan, Nyonya," bantah Jasson.
"Kau-"
"Nona, masuklah ke kamar anda dan istirahat!" Jass memerintah Mayang dan membungkam mulut Sandrina yang hendak memberikan sanggahannya.
"Iya, Jass," sahut Mayang lalu berjalan melewati ibunya.
"Mayang, aku bisa buat Raka lebih menderita dari ini kalau aku tahu kau masih menemuinya!" teriak Sandrina mengancam Mayang.
"Diamlah, Nyonya!" sentak Jass.
"Kau sekarang sudah pandai membantahku, Jass!"
"Itu sudah tugas saya melindungi Nona Mayang," kata Jass kemudian memilih pergi dari hadapan Sandrina. Jass paling malas beradu argumen dengan orang lain.
Di kamar, lagi-lagi Mayang menangis terisak-isak. Ternyata surat wasiat dari opa tak serta merta memerdekakan hidup Mayang. Nyatanya batinnya masih saja tersiksa.
"Aku selalu aja bikin Mas Raka kena masalah. Dulu dia nyaris aja kehilangan nyawa karena mommy dan sekarang cafenya yang terbakar juga karena mommy. Andai aku memiliki keberanian yang lebih, pasti aku udah laporin mommy ke polisi, tapi nggak mungkin ... biar bagaimana pun juga dia ibu yang ngelahirin aku, tapi di sisi lain aku juga nggak mau Mas Raka kenapa-napa karena aku," gumam Mayang. Gadis itu berpikir apa yang harus dia lakukan setelah ini. Jelas dia mendengar kalau mommy mengancam akan membuat Raka semakin menderita dan itu membuat Mayang menjadi sangat was-was.
**
Tujuh hari berlalu dan tujuh hari pula Mayang berusaha bersikap acuh pada Raka. Meski hatinya merasa sakit ketika dia harus mengabaikan beberapa pesan yang dikirim Raka sepanjang harinya. Perasaannya hancur ketika dia harus me-reject panggilan yang masuk dari lelaki pujaan hatinya tersebut.
Begitu pun yang Raka rasakan. Dia bingung kenapa Mayang begitu berubah sikap dengannya akhir-akhir ini. Lagi-lagi Raka harus mengurut apa kesalahannya. Apa Mayang salah paham lagi seperti saat dia memergoki Raka menjemput Rania? Atau ada hal lain yang membuat Mayang menjadi seperti ini.
"Apa Mayang kayak gini karena cafe gue lagi kena musibah? Mungkin dari sini dia sadar kalau level kita itu jauh kayak langit dan bumi, dia anak orang kaya dan gue? Hah!" gumam Raka bermain-main dengan prasangkanya sendiri.