45. Demi Mayang

1042 Kata
** Flasback beberapa jam sebelum ini. Selepas mengantarkan Mayang ke sekolah, Jass segera pergi ke toko perhiasan untuk menjual barang yang diminta Mayang. Namun, ketika baru sampai di separuh perjalanan, lelaki itu berpikir ini akan membahayakan diri Mayang. Sandrina selalu memeriksa semua barang berharga yang Mayang punya termasuk dengan perhiasan ini ketika Mayang tidak ada di rumah. Kalau sampai Sandrina tahu perhiasan itu tidak ada di tempatnya pasti dia akan mengintrogasi Mayang dan mencaci maki Mayang apalagi bila dia tahu barang itu dijual demi Raka. "Aku tidak mau Nona Mayang kena masalah, sebaiknya perhiasan ini aku kembalikan ke tempatnya saja," gumam Jasson lalu berputar arah dan kembali ke rumah berniat untuk mengembalikan benda mahal itu pada tempatnya. Flashback Off. "Tadinya saya ingin mengembalikan kotak perhiasan ini ke tempatnya, tapi tidak jadi karena mendadak ada urusan yang lebih penting, Nona," jelas Jasson menutup ceritanya. "Jadi uang seratus juta yang katamu kamu kasihin ke Mas Raka itu uang siapa, Jass?" tanya Mayang. Jika perhiasan ini belum dijual lalu dari mana uang itu berasal? "Itu ...." Jass menjeda sebentar. ".... itu uang pribadi saya, Nona," lanjutnya. "What? Jass ... kenapa jadi kamu yang keluarin uang buat Mas Raka?" Mayang terkejut, sampai seperti ini Jass melindunginya dan rela merogoh kocek dalam demi menuruti keinginnya. "Tidak apa, Nona. Asal Nona bahagia apapun saya lakukan," cetus Jass sambil memejamkan matanya kemudian menundukan kepala, dia sedang berusaha menutup sesuatu dari Mayang. Iya ... tentang perasaannya. "Jass, melindungiku itu tanggung jawabku, tapi-" "Kalau saya nekad menjual perhiasan itu seperti yang anda minta konsekuensinya adalah ... anda akan kena masalah, tapi kalau Raka tidak terbantu karena saya tidak menjual perhiasan itu maka anda pun akan sedih, jadi jalan satu-satunya-" "Jass .... " Belum selesai Jass menjelaskan tentang pemikirannya kenapa dia bisa mengambil keputusan seperti ini, Mayang keburu memeluknya dan membuat Jasson segera membungkam mulutnya. "... makasih banget kamu udah ngelakuin ini buat aku. Aku nggak tahu kalau hidupku tanpa kamu, Jass," tutur Mayang dengan penuh rasa haru yang memenuhi rongga hatinya. Apapun akan aku lakukan demi senyummu, Nona. Pikir Jass menahan rasa pilu yang ada dalam hatinya. "Jass, aku akan mengganti uangmu, aku janji, aku akan mencicilnya-" "Tidak perlu anda pikirkan, Nona! Saya ikhlas membantu anda," sela Jasson. Bagi Jass yang dibayar dengan gaji tinggi selama bekerja di sini itu bukanlah uang yang banyak. Jass tipikel lelaki yang pintar menyisihkan uangnya, dia tidak suka menghambur-hamburkan uang. "Jass, aku nggak tahu harus membalas semua kebaikanmu dengan apa," lirih Mayang sembari melepaskan pelukannya. "Dengan kebahagiaanmu saja, Nona," sahut Jass dengan nada bicara yang sedikit beda dari biasanya. ** "Mas Raka, kenapa Mas Raka kelihatan bahagia banget?" tanya Mayang. Raka mengajak Mayang janjian untuk bertemu di sebuah cafe yang ada di dekat sekolah Mayang selepas gadis itu pulang sekolah. "Iya, aku seneng banget karena udah ada pihak bank yang mau minjemin aku duit, May. Jadi, buat ngerayain kebahagiaan aku, aku mau traktir kamu makan," jawab Raka dengan sangat antusias dan senyumnya yang begitu merekah sempurna di bibirnya. "Aku ikut senang, Mas. Asyiik ... jadi aku boleh pesen apapun yang aku suka, ya?" Mayang juga antusias. Kalau Raka senang dia juga akan senang. Meski dalam hati rasa bersalah itu selalu ada karena semua ini karena ulah ibu kandungnya. "Siaap asal perutmu muat aja aku bayarin, Sri," sahut Raka sambil melambaikan telapak tangannya pada seorang pelayan. "Nggak muat juga sie, Mas. Itu tadi gaya doang aku, hahaha." Mayang terkekeh. "Dasar! Ini kamu mau pesen apa, Sri?" Raka menyodorkan buku menu pada Mayang. Beberapa menit setelah mereka selesai memesan makanan. Ada seorang cewek memakai baju seragam sekolah masuk dari pintu utama bergandengan dengan seorang cowok yang usianya jelas lebih tua dari cewek tersebut. Ya Allah, itu kan Rania. Sama siapa dia? Kok kayak om-om sie yang gandeng dia. Batin Mayang ketika melihat adik Raka itu begitu mesra dengan si pria yang ditaksir usianya kisaran tiga puluh tahunan ke atas. Kalau Mas Raka sampai tahu bisa ngamuk. Pikir Mayang lagi. "Mas, aku ke toilet dulu, ya!" pamit Mayang dengan terburu-buru. Arah datangnya Rania membelakangi posisi Raka duduk dan kebetulan Rania memilih meja yang jauh dari meja Raka dan Mayang, untuk itulah Raka tidak menyadari kedatangan adiknya. "Oke, ati-ati, May," sahut Raka yang kemudian memilih fokus pada gadgednya. Mayang berjalan dengan cepat menuju ke tempat Rania dan lelaki itu berada. "Ran ... " Mayang memegang lengan Rania dengan sedikit menariknya hingga gadis itu dibuat kaget karena ulah Mayang. "Kamu ngapain sie?" sentak Rania. "Ran, jangan teriak!" tegur Mayang. Sedikit-sedikit dia melihat ke arah Raka karena takut jika lelaki itu memergoki adiknya ada di sini. "Ada Mas Raka di sini, apa kamu mau dia memarahimu?" tanya Mayang masih sesekali melihat ke arah lelaki yang menunggunya, arah mata Rania pun mengikuti Mayang dan dengan jelas dia bisa melihat kakaknya yang sedang duduk menanti makanan datang. "Ya ampun, kenapa dia ada di sini? Jadi kamu kencan sama abangku? Astaga!" desah Rania. "Kenapa, Beb?" tanya lelaki yang datang bersama Rania dengan mesra. "Jadi om-om ini pacar kamu, Ran? Astagfirullah." Mayang mengelus dadanya. "Bentar ya, Beb. Aku mau ngomong dulu sama si pengacau ini," kata Rania kemudian menarik tangan Mayang agar ikut dengannya. Rania membawa Mayang ke toilet. Kebetulan toilet sedang sepi dan Rania dengan bebas bisa mengintimidasi Mayang. "Kamu jangan sampai bilang ke Bang Raka kalau aku pacaran sama suami orang!" Rania memberi peringatan pada Mayang. "Ya Allah, Ran! Sadar! Ingat bunda sama Mas Raka! Yang kamu lakuin ini salah, Ran," nasehat Mayang mencoba membuat Rania menyudahi kekhilafannya. "Nggak usah sok ngajarin aku, Yang! Hidup kamu sama hidup aku itu beda! Sejak lahir kamu nggak pernah yang namanya kekurangan uang, beda sama aku yang hidup pas-pasan! Sekarang dari lelaki itu aku bisa dapatin apapun yang aku mau, jadi mending tutup mulutmu! Jangan sampai Abangku atau bunda tahu, kalau mereka tahu pasti itu kamu yang ngadu! Udah aku mau pergi dari sini!" tekan Rania emosi, gadis itu mendorong lengan Mayang hingga Mayang hampir terjatuh kemudian berlari pergi meninggalkan toilet. "Kita pergi dari sini, Beb!" ajak Rania dengan terburu-buru. Ini sudah menjadi rahasia umum bagi teman-teman Rania di sekolah, rata-rata mereka sudah tahu kalau Rania menjalin asmara dengan suami orang. Gadis itu tumbuh dengan liar karena kurang tuntunan dari keluarga yang mengasuhnya yaitu Reynand dan istrinya, yang tidak lain adalah om dari Raka dan Rania.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN