**
"Jass!" Mayang memeluk lelaki itu dengan sangat erat, membiarkan tangisnya pecah hingga baju Jass kebasahan karena air matanya.
"Nona, ada apa?" tanya Jass bingung.
"Apa kamu benar-benar nggak tahu apa yang mommy-ku rencanakan, Jass?" tanya Mayang dengan nada menuduh. "Kamu pasti tahu semua rencana mommy, kan?"
"Nona, anda berbicara apa? Rencana apalagi maksudnya?" Jass memang benar-benar tidak tahu, karena Sandrina paham kalau Jass lebih memihak pada Reyhan dari pada dirinya. Dengan Jass tahu apa yang akan dia lakukan, itu hanya akan mempersulit rencana jahatnya.
"Mommy, Jass! Dia yang meminta Mang Usman dan anak buahnya untuk membakar cafenya Mas Raka!" cetus Mayang dengan emosi. Dia mendongakkan wajahnya ke atas agar bisa menatap wajah Jass.
"Apa?" Jass kaget bukan kepalang.
"S-Saya ... demi Tuhan saya tidak tahu, Nona," kata Jass dengan terbata-bata.
"Semua ini karena aku, Jass. Mas Raka kena musibah karena aku." Mayang semakin terisak-isak. Dia kembali membenamkan wajahnya ke d**a bidang Jass.
Nona, sedalam itukah cintamu untuk dia? Jass mengerakkan tangannya dan kini tangan besar itu sudah mampir di rambut Mayang. Elusan lembut Jass berikan agar Mayang sedikit tenang.
"Nona, jangan menangis! Semua sudah terlanjur terjadi," ucap Jasson.
"Kasihan Mas Raka, Jass. Aku ... aku mau bantuin dia. Jass, tolong bantu aku!" Mayang melepaskan pelukannya lalu menutup pintu kamar Jass rapat-rapat agar tidak ada satu pun orang yang tahu tentang rencananya selain Jass saja.
"Jass, hanya kamu yang bisa bantuin aku," kata Mayang setelah menutup pintu dia menggandeng Jass untuk mengikutinya.
Mereka berdua kini tengah duduk di atas sofa berhadap-hadapan.
"Jass ...." Mayang membuka resleting tas yang dia bawa lalu dia keluarkan isinya.
".... apa kamu tahu berapa harga perhiasaan ini?" tanya Mayang.
"Ini perhiasaan pemberian Tuan Ardi kan, Nona?" Jass justru balik bertanya.
"Iya, apa kamu tahu berapa kisaran harganya, apa mencapai seratus juta?" Mayang mengulang pertanyaannya dengan lebih detail.
"Hm ... jelas lebih dari itu, Nona. Lihat saja batu berlian yang terpasang di kalung dan juga gelang ini, ini pasti sangat mahal! Lagi pula Tuan Ardi tidak pernah memberikan barang yang murah untuk anda kan?" Jass sangat yakin aksesoris favorit para wanita ini harganya bisa kisaran dua ratus juta rupiah.
"Kalau begitu, apa kamu mau bantuin aku jual ini, Jass?"
"Buat apa, Nona? Uang di rekening anda kan masih banyak," selidik Jass.
"Jass, sudah aku bilang aku mau bantu Mas Raka. Dia butuh uang seratus juta rupiah buat bangun kembali cafenya. Aku pikir dengan hasil penjualan perhiasan ini aku bisa bantuin dia. Tolong aku, Jass! Jual perhiasan ini dan kasihin uangnya sama Mas Raka. Jangan sampai dia tahu kalau aku yang ngasih dia uang, karena dia pasti nggak bakal mau nerima," terang Mayang menjelaskan idenya.
Sebesar ini dia berkorban demi lelaki itu. Batin Jass.
"Iya, baiklah. Biar saya yang atur semuanya, Nona. Sekarang tidurlah! Dan jangan menangis lagi!"
Tidak mungkin Jass menolak, karena kebahagiaan Mayang adalah segalanya untuknya. Dan ternyata sekarang kebahagiaan gadis cantik itu ada di senyum Raka. Meski pun sakit, tapi Jass akan melakukan apapun demi membuat Mayang tersenyum.
"Terima kasih, Jass. Kamu selalu membantu semua masalahku, semoga kamu sehat selalu. Aku sayang kamu, Jass." Mayang memeluk Jass, hanya sebentar saja.
"Nggak apa kan, ya meluk kakak sendiri?!" Mayang tersenyum karena teringat kata-kata Bunda Amel yang harus berjaga jarak dengan lawan jenis yang bukan muhrim, tapi kenyataannya dia nemplok mulu sama Jass bodyguard kesayangannya. Iya, Mayang mengganggap Jass sebagai kakaknya sendiri.
**
Mayang masih tidak bisa menghentikan lelehan air matanya. Gadis itu duduk di atas ranjang dengan ke dua kaki yang tertekuk dan dia peluk dengan erat.
"Mommy, kenapa mommy nggak pernah mau lihat aku bahagia. Kenapa mommy?" desah Mayang.
Perasaannya sebagai anak benar-benar sangat tersakiti, apalagi sekarang Sandrina sudah sangat kejam membuat lelaki yang Mayang cintai menjadi menderita seperti ini. Ingin rasanya dia menemui Sandrina dan menegurnya, meluapkan segala rasa marah dan kecewa yang ada di hatinya, tapi dia tahu semua itu hanya akan sia-sia. Semakin dia memberontak maka akan semakin kejam Sandrina menyiksanya. Iya ... mungkin tidak fisiknya, tapi hatinya sudah sangat babak belur akibat perlakuan ibu kandungnya sendiri.
"Aku rasa ada sesuatu yang mommy sembunyiin dari aku, mommy pasti memiliki alasan kenapa dia benci sama aku. Mommy selalu bilang kalau aku hidup karena opa, itu artinya dia nggak pernah ingin aku ada," ringis Mayang meracau tidak karuan.
"Nak!" Suara Reyhan terdengar dan tak lama pintu kamar Mayang terbuka lebar.
"Mayang, kenapa kamu nangis lagi? Apa mommy menyakitimu?" tanya Reyhan yang baru saja pulang dari bekerja. Lelaki tampan itu masih mengenakan jas formal dan membawa tas kerjanya di tangan kanan. Nampaknya beliau langsung menemui Mayang ketika menginjakkan kaki di rumah ini.
"Dad, aku nggak apa, kok." Mayang menghapus air matanya lalu segera memeluk ayahnya dengan erat.
"Kalau nggak kenapa-napa nggak mungkin nangis kan?" desak Reyhan.
"Aku cuma kangen sama Opa kok, Dad," tutur Mayang, terpaksa menyembunyikan yang sebenarnya. Meski tidak dia pungkiri kalau setiap detik Mayang selalu teringat pada opa dan merindukan kehadiran opa.
Kalau aku cerita sama daddy pasti mommy bakal diseret ke penjara, iya aku memang marah banget sama dia, tapi aku juga sayang banget sama mommy, seburuk-buruknya dia, dia tetap ibu kandungku. Batin Mayang.
"Bagaimana sekolahmu, Sayang?"
"Semua berjalan baik, Dad."
"Semua persiapan untuk kamu ke luar negeri sudah papi urus, kamu nanti harus mengurus pasport, lalu apartment untuk kamu tinggal juga sudah papi booking jauh-jauh hari. Kamu akan tinggal bersebelahan dengan apartement Jass, oke?! Kamu tidak keberatan kan?" jelas Reyhan.
Sejujurnya beliau berat melepas Mayang tinggal berjauhan dengannya, tapi apa mau dikata kalau itu yang terbaik. Yang terbaik dalam hal apa? Yang Reyhan pikir, kalau Mayang jauh dari Sandrina setidaknya istrinya itu tidak bisa mengintimidasi Mayang atau menyiksa batin Mayang dengan segala sikap buruk dan angkuhnya, meski caranya dengan mengungsikan Mayang ke tempat yang jauh agar dia bisa bebas dari tekanan dari ibunya.
Papi, selepas Mayang kuliah dan kembali ke Indonesia Reyhan akan menepati janji Reyhan, untuk memastikan Mayang menikah dengan lelaki yang Papi pilihkan. Kata hati Reyhan sambil memandang wajah anaknya yang sembab.
"Iya, aku nggak keberatan kok, Dad. Lagian aku juga nggak bisa lama-lama jauh dari Jass. Dia itu selalu bantuin aku dan lindungin aku, apalagi di negeri orang pasti aku nggak ngerti apa-apa kan di sana? Jass yang bakalan bantuin aku," tutur Mayang berusaha tersenyum dan tegar di hadapan Reyhan. Yang bikin Mayang sedih selain karena harus pisah sama Daddy adalah karena dia juga harus berjauhan sama Raka.
"Iya, Jass memang bodyguard terbaik buat kamu," sahut Reyhan.
Maafin aku, Dad. Aku nggak bisa ngomong jujur kalau sebenarnya aku nangis bukan karena kangen opa tapi karena mommy. Aku cuma nggak pingin ada masalah di rumah ini. Biar Mayang aja yang kesiksa, asal Daddy dan yang lainnya jangan. Desah Mayang terasa pilu hatinya saat ini.
**
Raka dan Andika benar-benar pusing karena pengajuan kredit mereka ditolak.
"Terus kita mesti cari duit di mana, Dik?" decak Raka sambil memijit pelipisnya. Hingga saat ini, Bunda Amel belum tahu kalau cafe milik Raka dan Andika tertimpa musibah. Raka tidak mau membuat ibunya menjadi ikut kepikiran.
"Gue juga udah putek banget ini, untung masih ada tabungan sama pinjaman dari Aji jadi kita bisa bangun cafe itu sedikit-sedikit, ya meski belum semaksimal sebelum ini," sahut Andika.
"Memang lagi apes kita, Dik. Di saat cafe lagi berkembang pesat, bahkan kita mikir buat buka cabang eh malah begini," desah Raka.
"Mau naik kelas kata lu kan? Sabaaar, gue rasa sebentar lagi ada pertolongan," timpal Andika yang lebih terlihat tenang ketimbang Raka yang jadi jarang makan semenjak kejadian buruk ini menimpanya.
"Tapi gue masih aneh banget kenapa cafe kita bisa kebakar." Raka melipat ke dua tangannya di depan d**a.
"Gue juga, Ka. Tapi kata petugas pemadam kebakaran juga nggak ada yang aneh, kata mereka besar kemungkinan karena konsleting listrik kan."
"Tapi feeling gue nggak enak gini, Dik. Kayak ada unsur kesengajaan aja." Raka mengutarakan firasatnya.
"Nggak boleh suudzon gitu, Ka!" tegur Andika.
"Astagfirullah! Khilaf gue, Dik. Makasih udah diingetin," sambut Raka.
Tetiba ada seorang lelaki datang dan menemui Raka dan Andika. Kebetulan saat ini mereka sedang nongkrong di depan rumah Raka.
"Selamat siang, Mas. Saya Rahmat dari Bank Xxx." Bapak-bapak berumur kurang lebih empat puluh tahunan itu menyatukan ke dua telapak tangannya memberi salam hormat pada Raka dan Andika.
"Siang, Pak. Saya Raka." Raka ikut menangkupkan ke dua tangannya.
"Saya Andika, Pak," timpal Andika melakukan hal yang sama dengan yang Raka lakukan.
"Jadi begini kami mendengar Cafe Radika terbakar dua hari yang lalu kebetulan Bank kami sedang mencari nasabah dan menawarkan pinjaman, mungkin kami bisa membantu anda, Mas?"
Berita baik ini disambut dengan senyuman oleh Andika dan Raka, ke duanya saling bertatap mata dan mengucap Alhamdulillah bersamaan.
"Syaratnya apa, Pak? Tahu aja kalau kita lagi butuh bantuan," ujar Raka dengan sangat antusias.
Setelah lama berbincang dan hanya menyerahkan foto kopi KTP serta copian sertifikat cafe, Raka dan Andika diminta datang ke kantor. Dan tanpa banyak syarat lagi uang seratus juta kini sudah ada di tangan Raka dan Andika.
Mereka kembali ke rumah setelah proses transaksi usai, uang sudah ada di tangan, tapi mereka merasa ada yang janggal. Kenapa semudah itu mereka mendapatkan pinjaman sedangkan yang ditahan hanya foto copian sertifikat cafe dan bukan yang aslinya.
"Ka, aneh banget sie," kata Dika.
"Iya, Dik. Gue juga ngerasa aneh, emang mereka nggak takut apa kita nggak bayar? Kan yang ditahan nggak bisa dijadiin jaminan," sahut Raka.
"Iya, maka dari itu. Bank lain aja pada nolak dengan alasan ini itu kenapa ini ... Ck yang penting dapat duitnya dulu lah, lagian kan akan tetap kita bayar," jelas Andika yang memilih untuk tidak ambil pusing.
**
"Mayaaang!" teriakan terdengar begitu melengking dan nyaring. Siapa lagi kalau bukan Sandrina yang memanggil anaknya dengan sekasar itu.
"Iya, Mom." Mayang yang baru saja tiba di rumah selepas pulang dari sekolah langsung berlari ke arah sumber suara ibunya.
Wanita itu tengah ada di dalam kamar Mayang dan terlihat sedang marah besar.
"Ada apa, Mom?" tanya Mayang begitu sampai di hadapan mommy-nya.
"Di mana perhiasan yang opa berikan di hari ulang tahunmu yang ke lima belas, Mayang? Kenapa aku tidak menemukannya di dalam lemari?!" tanya Sandrina dengan nada tinggi. Matanya terbelalak dengan sangat lebar.
Mayang melihat lemari miliknya sudah terbuka dengan beberapa isi yang keluar dari tempatnya.
Matilah aku! Kenapa mommy bisa menggeledah barang-barangku. Mayang ketakutan sekali. Harus menjawab apa dia sekarang.
"A-aku ... aku nggak tahu, Mom. Aku nggak pernah mengotak-atik lemari sejak meninggalnya opa," jawab Mayang asal-asalan.
"Tidak mungkin kalau kau tidak tahu! Tidak akan ada pencuri di dalam rumah ini, Mayang!" teriak Sandrina murka. Mana pernah dia percaya dengan Mayang sekali pun Mayang mengatakan kebenaran padanya.
"M-Mom ... aku benar-benar tidak tahu." Mayang yang selalu tertunduk di depan mommy, perlahan mengambil langkah mundur ke belakang. Dia takut kalau mommy kembali khilaf dan memukulnya.
"Kau bohong, Mayang! Kemarin kau mengambil uang lima juta rupiah dari rekening dan sekarang perhiasan mahal itu hilang?! Kau gunakan untuk apa sebenarnya? Apa uang jajanmu kurang? Hah?!" murka Sandrina.
"Mom, aku udah bilang kalau uang lima juta itu untuk-"
"Panti asuhan?! Iya?" potong Sandrina.
Mayang mengangguk.
"Kau pikir aku percaya? Aku tahu kau sering menemui lelaki miskin itu di belakang aku, Mayang," imbuh Sandrina sambil melipat ke dua tangannya di depan d**a.
"Jangan sebut Mas Raka seperti itu, Mom!" protes Mayang sambil menaikkan dagunya dan menatap sorot mata mommy yang menakutkan.
"Kau berani melihat mataku sekarang?!" sentak Sandrina membuat Mayang kembali menundukkan wajahnya dan menangis terisak-isak.
"Mommy, Jahat! Hiks ... mommy udah bakar cafenya Mas Raka," lirih Mayang.
"Jadi kau tahu itu? Kau menguping pembicaraanku ternyata?"
"Iya, aku memang menguping!" sentak Mayang tanpa ia sadari, ini kali pertama dia menjawab pertanyan mommy dengan nada tinggi.
"Mommy boleh membenciku, mommy boleh menyiksaku, tapi jangan sakiti Mas Raka, Mom!" tegas Mayang.
"Hebat! Lelaki itu sudah berhasil membuatmu menjadi anak pembangkang." Senyum setan tersinggung di bibir merah Sandrina.
"Mommy nggak punya perasaan. Cafe itu sumber pendapatan Mas Raka, Mom. Tapi mommy sudah membakarnya." Mayang selalu tidak tega ketika wajah pucat dan sedih Raka kembali terngiang di pikirannya. Gadis cantik itu terduduk di lantai dengan air mata yang masih bercucuran.
"Mommy jahat banget," racau Mayang sembari menundukkan kepalanya.
"Tidak usah bahas lelaki miskin itu! Berani kau laporkan ini pada orang lain, aku tidak segan-segan untuk-"
"Jangan berani menyentuh Nona Mayang, Nyonya!" Jass datang tepat waktu ketika Sandrina sudah mengulurkan tangannya hendak menyeret Mayang. Jass mencengkeram erat tangan nyonya besarnya itu hingga merah.
"Berani anda menyentuh Nona Mayang, saya yang pastikan anda membusuk di penjara!" ancam Jasson lalu melepaskan tangan Sandrina dengan kasar.
"Nona, anda tidak kenapa-napa, kan?" Jass berlutut untuk mensejajarkan dirinya dengan Mayang yang duduk di lantai.
"Jass .... " keluh Mayang.
Lelaki itu segera memeluk Mayang untuk menenangkannya.
"Sudah jangan menangis, Nona!" pinta Jasson.
"Di mana perhiasannya, Mayang? Kau belum menjawab pertanyaanku." Sandrina akan terus bertanya hingga rasa penasarannya tertunaikan.
"Perhiasannya ada pada saya, Nyonya. Berliannya ada yang lepas dan saya membawanya untuk dibetulkan." Dengan lantang Jass yang menjawabnya.
Jass, kenapa kamu menjawab seperti itu? Nanti mommy pasti akan menagih barangnya. Batin Mayang.
"Nona, anda duduk di sini dulu, ya!" Jass mengajak Mayang berdiri dan meminta gadis itu untuk duduk di atas tempat tidur.
"Saya akan mengambilkannya agar anda percaya, tunggu sebentar!" kata Jass lalu bergegas pergi keluar dari kamar Mayang dengan langkahnya yang lebar.
Lima menit kemudian Jass sudah kembali dengan membawa sekotak perhiasan mahal yang dicari-cari oleh Sandrina.
"Silahkan anda periksa! Perhiasan ini sudah selesai diperbaiki," kata Jass sambil mengulurkan barang mewah itu pada nyonyanya.
Mayang terperangah. Kenapa perhiasanku masih utuh di tangan Jass? Bukannya dia bilang sudah menjualnya?
Sandrina buru-buru membuka kotak perhiasan itu. "Hm ... baiklah semuanya masih utuh. Aku pikir anak nakal ini sudah menjualnya dan diberikan pada lelaki miskin itu. Apa kau tau anakku sayang? Lelaki itu berpura-pura baik hanya untuk uangmu, kau terlalu bodoh!" cibir Sandrina.
"Baiklah, aku amankan perhiasan ini. Daaah ...." Sandrina melenggang pergi setelah apa yang dia mau sudah dia dapatkan.
"Jass, kamu bohong sama aku? Kamu bilang-"
"Nona, saya bisa menjelaskannya," potong Jass buru-buru. Dia yakin Mayang pasti akan salah sangka dengannya.