**
Matahari telah selesai melaksanakan tugasnya hari ini untuk menyinari akhir pekan yang banyak dimanfaatkan orang untuk berkumpul dengan orang-orang yang mereka cintai. Kini senyum rembulan siap sedia menggantikan posisi sang surya yang sudah damai di dalam peraduannya.
Detik jarum jam berputar, rasa kantuk menyergap di setiap insan ketika malam semakin larut dan malam pun beberapa jam lagi berganti pagi. Namun, tidur Raka terganggu akibat bunyi ponselnya yang berdering secara berulang-ulang.
"Siapa sie? Astagfirullah!" Raka mengerjapkan matanya yang masih buram beberapa kali. Lalu ia bangkit sebab suara ponselnya masih terus saja bernyanyi.
Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Andika dan beberapa pesan dari karyawannya di cafe.
"Ada apa sie kok mereka heboh banget?" Raka bergumam sambil terus menggerakan jemari tangannya untuk membuka pesan.
"Mas, cafe terbakar." Raka membaca pesan dari salah satu karyawannya.
"Astagfirullah!" Raka kaget bukan main. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dia berharap ini hanyalah mimpi buruk, tapi ....
"Iya, Dik?!" Raka menjawab panggilan dari Andika yang sudah berkali-kali menghubunginya sejak tadi.
"Ka, cepat ke cafe! Cafe kebakaran, Ka!" kata Andika dengan suara yang terdengar amat sangat panik. Bahkan suara sirine pemadam kebakaran pun dapat Raka dengar dengan jelas dan dari sinilah dia yakin kalau ini nyata, ini bukan mimpi buruk dalam tidurnya.
"Oke, aku otewe sekarang." Raka gegas memakai celana panjang, jaket dan mengambil kunci motornya. Lelaki itu tidak mau menunggu lama, dia harus segera sampai ke tempat kejadian. Tak khayal lelaki itu pun memutar gas motornya dengan kecepatan paling tinggi. Untung saja jalanan lengang dan membuatnya bisa sampai ke cafe dengan waktu yang lebih singkat.
**
"Astagfirullah, kenapa aku segelisah ini, Ya?" Mayang terbangun dari tidurnya. Gadis itu duduk bersandar pada sandaran ranjang. Masih teringat jelas mimpi buruk yang baru saja mampir dalam tidurnya dan membuat Mayang menjadi tidak enak hati seperti ini.
"Api," cetus Mayang ketika gambar mengerikan itu terulang lagi. Iya, dalam bunga tidurnya ia melihat kobaran api yang melahap sebuah bangunan.
"Mimpi hanya bunga tidur, tidak ada artinya apa-apa, tadi kenapa aku setakut ini," gumam Mayang.
Gadis itu beringsut turun dari ranjang setelah menyibakkan selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Ia memakai sandal lucu pemberian Raka. Otaknya memerintahnya untuk berjalan menuju ke kamar Opa. Iya, kamar kosong yang sudah lama tidak berpenghuni sepeninggal si tuan rumah menghadap Yang Maha Kuasa.
"Opa, Mayang kangen banget." Mayang mengambil figura kecil di mana ada gambar dirinya semasa bayi sedang dipangku oleh opa. Iya, enam belas tahun yang lalu dan opa masih terlihat muda.
Mayang berbaring di kamar opa sambil memeluk figura tersebut. Mungkin dengan begini dia bisa mengobati rasa rindunya dan juga bisa menenangkan hatinya yang sedang gelisah.
Tanpa sadar Mayang tertidur lelap di tempat tidur opa yang nyaman, tapi dua puluh menit kemudian dia terbangun. Tidak tahu kenapa dia merasa ada yang tidak beres yang menimpa seseorang yang dia cinta.
Mayang mengerjapkan matanya, sudah pukul dua lebih seperempat ketika Mayang melihat jam yang terpasang di dinding kamar opa.
"Kenapa, ya? Ada apa?" Mayang tidak tahu firasat untuk siapakah ini.
"Kenapa aku mendadak takut seperti ini?" gumam Mayang.
Gadis itu tidak dapat memejamkan matanya lagi. Dia ingin sekali mencari teman untuk menjadi tempatnya mengadu. Namun, kepada siapa dia harus bercerita? Tidak mungkin dia membangunkan mommy hanya untuk meminta wanita itu mendengarkan keluh kesahnya. Amat sangat tidak mungkin, yang ada hanya amukan yang Mayang dapat dan akan semakin memperburuk moodnya.
"Kalau daddy pasti capek banget seharian kerja, lalu .... " Mayang berjalan pelan meninggalkan kamar opa sambil berpikir dengan siapa dia akan bercerita hingga akhirnya dia teringat pada si tampan nan dingin Jasson Arkadinata.
"Aku gangguin Jass aja nggak apa kali, ya," lirih Mayang sambil mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai di kamar Jass.
"Jass! Kamu belum tidur kan?" tanya Mayang sambil mengetuk pintu kamar Jass.
Tidak lama Jass membuka pintu kamarnya. "Kenapa anda belum tidur?" tanya Jass. Lelaki itu memakai pakaian santai dengan warna hitam dari baju hingga celana.
"Aku mimpi buruk, Jass. Jadi aku susah tidur," jawab Mayang sambil berjalan masuk ke dalam kamar Jass tanpa permisi terlebih dulu.
Jass membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
"Tapi ini sudah mau pagi, Nona," tegur Jass sembari mengekor di belakang Mayang lalu ia menjatuhkan dirinya di atas sofa. Nampaknya lelaki itu sudah sangat mengantuk, karena ketika Mayang mengetuk pintu, dia baru sepuluh menit memejamkan matanya.
"Jass, aku mimpi api banyak banget," cerita Mayang yang kini duduk di ranjang Jass yang selimutnya sudah tersibak.
"Kebakaran, Nona?" tanya Jass lalu menguap dengan lebar.
"Hm ... iya, aku baru saja dari kamar opa, aku bisa tidur di sana, tapi cuma beberapa saat terus gelisah lagi," jawab Mayang, dia juga menguap dengan sangat lebar.
"Kalau anda susah tidur cobalah menghitung anak domba!" saran Jass. Sebuah saran yang familiar yang kerap digunakan ibu-ibu ketika anaknya susah untuk tidur.
"Memang aku anak bayi?" sungut Mayang.
"Hoaaam!" Mayang kembali menguap kemudian membaringkan dirinya.
"Tidurlah, Nona!" pinta Jasson, beberapa detik kemudian lelaki itu pun tertidur lelap disusul oleh Mayang yang ikut pulas di ranjang Jasson.
**
"Astagfirullah, Innalilahi wa innailahi rojiun." Raka mengucap kalimat Allah ketika melihat kobaran api yang cukup besar membakar cafenya. Air mata lelaki itu pun tumpah mendapati tempatnya mengais rejeki selama ini sudah luluh lantah dilahap si jago merah yang mengamuk di tengah malam.
"Ka, gimana ini, Ka?" tanya Andika, orang yang pertama kali dikabari oleh warga sekitar kalau tempat usaha mereka mendapatkan musibah.
"Aku juga bingung, Dik," jawab Raka sambil terduduk lemas di atas trotoar. Matanya yang merah akibat menangis tak lepas memandangi kobaran api yang masih menari-nari indah memakan semua bangunan cafenya. Sedangkan suara sirine pemadam kebakaran terus berbunyi lantang, semua petugas dengan sigap menyeret selang panjang dan besar yang mengeluarkan air yang cukup banyak untuk mengalahkan amukan si jago merah.
"Hari ini cafe libur pasti nggak ada kompor yang menyala kan, Dik? Terus kenapa bisa kebakaran? Apa konsleting atau gimana?" Raka mulai menduga-duga penyebab kebakaran cafenya.
"Nggak ngerti juga gue, Ka. Yang gue rasain cuma bingung, bingung dan bingung, terus kita kudu gimana? Mana cafe belum sempat kita asuransiin kan?" decak Andika sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat.
"Astagfirullah. Semoga ada jalan keluarnya dari semua ini, Dik. Kita lagi dicoba sama Allah, mau naaik level," kata Raka memotivasi dirinya sendiri dan juga sahabatnya.
Hampir tiga jam, api baru bisa dipadamkan. Total ada lima buah bangunan yang terbakar, tapi ke empat bangunan yang lain tidak pernah ditempati oleh pemiliknya, hanya cafe Raka yang beroperasional setiap harinya.
"Kami akan menyelidiki penyebab kebakaran, Mas," kata petugas pemadam kebakaran setelah mereka selesai dengan tugas mereka menjinakkan kobaran si jago merah.
"Terima kasih, Pak," sahut Raka dengan lemas.
Ya Allah, kuatkan aku dalam menghadapi segala cobaanMu ini. Doa Raka dalam batin.
**
Mayang girang bukan main ketika menginjakkan kakinya di dalam kelas.
"Winda Winduul!" serunya dengan senyuman yang mengembang sempurna di bibirnya.
"Roman-romannya lagi happy ini kamu, Yang," tebak Winda sambil memperhatikan wajah sahabatnya yang berseri-seri.
"Iyalah, kemarin aku ke rumah Mas Raka," cerita Mayang. Gadis itu bergegas menaruh tasnya lalu duduk di singgasananya yang ada di sebelah Winda.
"Udah nggak ngambek lagi emang?" tanya Winda sembari mengerutkan keningnya.
"Enggak," jawab Mayang sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukannya Mas Ra-"
"Aku salah paham, Win. Astagfirullah, aku malu banget!" Mayang menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangan.
"Salah paham gimana?" tanya Winda penasaran, jiwa keponya mulai meronta-ronta.
"Jadi Rania itu ternyata adik kandungnya Mas Raka bukan ceweknya," jawab Mayang membuat mata Winda membola.
"What? Jadi dia adiknya Mas Raka, edaaan!" Winda geleng-geleng kepala. "Kenapa kelakuan adiknya sama masnya bisa jauh banget gitu, ya? Padahal satu didikan kan?"
"Beda didikan, Win. Mas Raka itu diasuh sama Bundanya, kalau Rania dia tinggal bareng sama om-nya, dan apa kamu tahu, Win? Wajah om-nya Rania itu mirip banget sama daddy-ku."
"Masa sie? Bisa kebetulan gitu, ya." Winda manggut-manggut.
Saat asyik mengobrol, datanglah kawan Mayang yang memberi kabar pada Winda kalau Cafe Radika kebakaran tadi malam.
"Yang benar?" tanya Winda dan Mayang dengan kompak.
"Iya, ini aja aku baru tahu beritanya masuk ke sosial media, secara itu kan cafe yang lagi ngehits di kalangan anak muda," jawab kawan Mayang dan Winda tersebut.
"Astagfirullah! Aku mau telpon Mas Raka, Win. Kasihan dia pasti sedih banget."
**
Selepas pulang sekolah, Mayang datang untuk menemui Raka di rumahnya. Wajah lelaki itu yang biasanya terlihat sumringah dan ceria, kini nampak lesu dan pucat. Efek shock dan banyak pikiran. Raka bahkan tidak napsu makan apapun sejak pagi tadi.
"Mas Raka, aku sedih banget," kata Mayang dengan mata berkaca-kaca. Dia nggak tega lihat Mas Raka seperti ini.
"Aku juga, May. Tapi mau gimana lagi ini udah cobaan dari Allah dan kudu aku terima," jelas Raka.
"Semalam aku mimpi kebakaran, Mas. Aku sampai nggak bisa tidur, jadi ternyata itu firasat burukku tentang cafenya Mas Raka. Ya Allah, Mas Raka yang sabar, ya!" Mayang baru sadar setelah ini terjadi, jika mimpinya semalam adalah pertanda yang dikirimkan oleh Allah padanya.
Mayang dan aku memiliki kontak batin yang kuat, tapi ... kita tetap tidak mungkin bisa bersama meski sekuat apapun aku menantang dunia. Pikir Raka yang mendadak menjadi semakin sedih.
Cafe itu segalanya buat Mas Raka, banyak harapan yang tertopang di sana. Ya Allah kenapa aku jadi ngerasa bersalah kayak gini, kayak semua kesialan yang terjadi sama dia itu karena kehadiranku. Batin Mayang sambil menyeka lelehan air matanya.
Tak lama Andika dan Aji datang, wajah lelaki itu pun sama-sama murungnya seperti Raka.
"Kita butuh dana yang banyak buat bangun cafe kita lagi, Ka," kata Andika sambil menempatkan dirinya duduk di sofa single yang ada di dekat Mayang.
"Tabungan kita cuma ada tujuh puluh juta, Dik," kata Raka.
"Aku ada tabungan tiga puluh juta, kalian pakai aja dulu," timpal Aji. Dari segi ekonomi Aji anak dari keluarga mampu tidak seperti Andika dan Raka yang harus keras berjuang.
"Jadi kurang seratus jutaan, kita harus nyari pinjaman ke Bank, Ka," ujar Andika.
"Ck!" Raka berdecak sambil memijit pelipisnya yang terasa kencang.
Aku pingin banget bantu Mas Raka. Batin Mayang yang sejak tadi diam saja.
**
Di rumah Mayang sampai tidak konsen belajar karena terus teringat dengan problem yang dipikul oleh Raka. Gadis itu sangat ingin membantu Raka karena Raka juga selalu membantunya selama ini.
"Seratus juta rupiah, lalu aku harus cari di mana uang sebesar itu? Aku ambil duit lima juta aja ditanyain terus sama mommy," decak Mayang.
"Tapi aku beneran nggak tega lihat Mas Raka seperti itu," gumam Mayang.
Gadis itu mengambil ponselnya sekedar untuk mengirimi Raka sebuah pesan yang mengingatkan lelaki itu agar jangan sampai lupa makan. Mayang nggak mau kalau Raka sampai sakit.
"Apa aku minta uang sama mommy? Atau daddy?" Mayang masih terus meminta otaknya untuk berpikir.
"Ah nggak mungkin! Mereka pasti nggak akan setuju aku membantu Mas Raka dengan uang sebanyak itu."
Mayang masih larut dalam pikirannya hingga buku pelajaran yang sejak tadi dia buka pun dia abaikan.
"Ah aku ingat, aku punya perhiasan hadiah dari opa waktu usiaku lima belas tahun. Iya .... " Mayang meninggalkan kursi belajar yang sejak sejam tadi dia duduki dan berjalan ke arah lemari yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan barang-barang berharga.
"Ada kalung, cincin, gelang dan anting-anting. Ini pasti mahal." Mata Mayang berbinar-binar ketika membuka kotak perhiasan bercover beludru merah pemberian opanya setahun yang lalu. Masih banyak juga barang berharga lainnya hadiah pemberian opa dan daddy yang Mayang simpan.
"Opa, opa tidak akan marah kan kalau aku menjualnya demi membantu Mas Raka? Dia baik banget sama Mayang, Opa. Dia udah banyak bantu Mayang selama ini, lagian masih banyak juga hadiah dari Opa yang Mayang simpan," tutur Mayang seolah sedang berbicara dengan Opa.
Mayang mengambil perhiasan itu dan dia masukkan ke dalam tas kecil miliknya. Mayang berjalan hendak ke kamar Jass untuk meminta bantuan. Namun, ketika ia melewati ruang pribadi Sandrina yang pintunya terbuka sebagian, tiba-tiba Mayang tertarik untuk menguping pembicaraan Sandrina dan beberapa anak buahnya.
Mayang berjalan dengan pelan dan hati-hati mendekati pintu. Lalu dengan perlahan-lahan pula ia menempelkan telinganya di badan pintu. Yang pertama kali dia dengar adalah suara tawa ibu kandungnya yang menggelegar. Sepertinya ada sesuatu yang membuat wanita sosialita itu sangat bahagia.
"Kali ini kalian bekerja dengan sangat baik. Kalian bisa memastikan kalau polisi tidak kan tahu tindakan kita ini kan? Aku tidak mau terkena masalah karena kecerobohan kalian," ujar Sandrina dengan ciri khas suaranya yang selalu angkuh.
"Kami bekerja dengan sangat baik, Nyonya. Tidak ada satu pun bukti yang tertinggal di tempat kejadian perkara. Cafe pemuda itu sudah hangus dan hanya tinggal puing-puing saja," jawab Usman, lelaki yang kala itu memukuli Raka.
Mayang hancur mendengar kenyataan menyakitkan ini. Ternyata benar semua kesialan Raka adalah karena dirinya. Cafe Raka terbakar karena dendam mommy pada Raka. Mayang menangis terisak-isak dan berlari ke kamar Jasson.