**
Raka dan Mayang kembali masuk ke dalam rumah. Rania langsung melengos kesal begitu mendapati Mayang ada di depan matanya.
"Mayang, syukurlah Bunda pikir kamu udah pulang," kata Bunda Amel yang sangat senang melihat Mayang belum pulang.
"Aku tadi ngobrol dulu sama Mas Raka di taman sana, Bunda," jawab Mayang sambil mengedarkan pandangan matanya. Dia sedang mencari omnya Raka yang sudah tidak ada lagi di sana, mobilnya juga udah nggak ada lagi di depan rumah.
Kembaran daddy udah pulang. Pikir Mayang.
"Pantas lama banget," sahut Bunda. Mereka sekarang ada di ruang tamu.
"Bagusan juga pulang aja," ketus Rania.
"Rania! Kamu nggak boleh kayak gitu!" sentak Raka mengingatkan adiknya.
"Bunda nggak pernah ngajarin kamu nggak sopan sama tamu, Ran," tegur Bunda.
"Bun, Rania itu keterlaluan, dia udah ngerti pacaran juga sekarang." Raka mengadukan sikap adiknya pada Bunda.
Rania membelalakan bola matanya memelototti Mayang seketika itu juga.
"Kamu pasti yang ngadu macam-macam sama abangku kan?" tuduh Raka sambil menunjukkan jari telunjuknya ke muka Mayang.
"Rania!" sentak Raka mengingatkan adiknya untuk selalu bersikap sopan.
"Kamu keterlaluan, Rania! Bunda kan udah bilang fokus sekolah jangan main cinta-cintaan!" murka Bunda.
Ya Allah, aku salah kayaknya udah jujur sama Mas Raka tentang masalah Winda sama Rania, jadinya sekarang Rania dimarahi sama abangnya dan bunda. Kasihan Rania. Maafin aku ya, Ran. Pikir Mayang merasa bersalah.
Awas kamu, Mayang! Aku nggak akan biarin kamu lepas gitu aja, aku pasti bakal balas kamu! Pikir Rania yang menjadi dendam dengan sahabat musuhnya tersebut.
"Aku nggak main cinta-cintaan, Bun. Mayang pasti udah fitnah aku," tuduh Rania membela diri.
"Buat apa Mayang fitnah kamu, Ran? Nggak ada keuntungannya juga buat dia," tukas Raka, dia lebih percaya dengan Mayang dari pada Rania karena adik semata wayangnya tersebut memang suka berbohong.
"Aku nggak ngerti deh dari mana kamu bisa kenal abangku sama bunda aku, tapi kayaknya kehadiran kamu di tengah kami itu bikin hubungan kami jadi nggak baik. Mendingan kamu pergi aja!" Rania berdiri dan mendekat pada Mayang. Dengan cepat gadis itu menarik pergelangan tangan Mayang dan meminta Mayang untuk pergi dari rumahnya.
"Pergi kamu!" usir Rania kasar.
"Rania! Kamu udah keterlaluan!" sentak Raka sambil melepaskan tangan Mayang dari genggaman adiknya.
"Ran, aku minta maaf, aku nggak tahu kalau Mas Raka bakal semarah ini sama kamu," kata Mayang dengan terisak-isak.
"Nggak perlu juga kan kamu ngadu sama abangku?! Apa emang kamu sengaja mau bikin aku dimarahin karena kamu kesel sama aku?" tuduh Rania.
"Rania, ayo masuk kamar! Ikut Bunda!" Bunda Amel menarik tangan anaknya dan mengajaknya paksa masuk ke dalam kamar. Beliau rasa sikap Rania sudah amat sangat keterlaluan.
"Mayang, tangan kamu sampai merah. Ini kena cakar kukunya Rania, ya? Maafin adikku, ya!" Raka menjadi sungkan dengan Mayang. Dia malu juga memiliki adik yang sikapnya semakin bar-bar dari hari ke hari. Inilah kenapa Raka tidak pernah setuju ketika Rania diasuh oleh keluarga lain, ya meski pun itu adalah omnya sendiri. Karena menurut Raka bunda lah yang bisa mendidik anaknya dengan baik, bukan orang lain. Namun, apa boleh dikata kalau Rania pun lebih memilih tinggal di rumah mewah milik om mereka ketimbang tetap singgah di gubug sederhana milik Bunda.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Lagi pula aku juga yang salah, harusnya aku nggak perlu ngomong sama Mas Raka soal masalah pribadi Rania. Kasihan dia pasti lagi dimarahin bunda, dimarahin itu nggak enak, Mas," tutur Mayang menyalahkan dirinya. Dimarahi itu nggak enak, karena dia kerap merasakannya ketika mommy mulai mengeluarkan taringnya.
"Kamu nggak salah, yang kamu lakuin udah bener, aku pingin adikku nggak badung lagi kayak sekarang," sahut Raka yang masih sangat kesal dengan perilaku adiknya.
"Mas, tapi jangan terlalu keras juga negurnya! Kasihan." Mayang iba. Dia menempatkan dirinya pada posisi Rania.
"May, kamu ya ... udah nggak usah nangis dan ngerasa bersalah kayak gitu!" Raka tersenyum.
Mayang gadis yang baik, andai Rania bisa sepenurut Mayang. Batin Raka sambil memandangi wajah cantik Mayang yang biar pun matanya sembab, tapi tetap keluar aura kecantikannya.
"Aku nggak tega aja, Mas. Sedih kalau lihat anak dimarahi sama Ibunya," tutur Mayang yang sudah mulai mau menangis lagi.
"Shuut! Udah jangan nangis lagi!" Raka selalu nggak tega lihat Mayang menangis. Lelaki itu sudah mengulurkan tangannya hendak menghapus air mata Mayang, tapi dengan segera dia ingat akan batasannya.
"Aku ambilin tisu, ingus kamu pada luber ke mana-mana tuch," ledek Raka kemudian berjalan ke arah dapur dan mengambilkan sekotak tisu untuk Mayang.
"Makasih ya, Bambang," kata Mayang sembari menarik satu lembar helaian putih tipis itu dari tempatnya. Mayang mengusap sisa-sisa air matanya.
Makan siang. Mayang, Raka, Bunda Amel dan Rania duduk dalam satu meja. Rania terlihat habis menangis membuat rasa bersalah Mayang semakin menjadi-jadi.
"Rania, aku minta maaf, ya!" Mayang mengulurkan tangannya pada Rania yang duduk di sebelahnya.
Rania melengos kesal dan mengabaikan uluran tangan Mayang, tapi kemudian Raka memelotottinya dengan galak.
Dengan terpaksa, Rania membalas uluran tangan Mayang hanya karena tidak mau membuatnya kembali kena omelan dari Bunda dan juga Raka.
"Iya, aku maafin," sahut Rania. Hanya sebentar ia menjabat tangan Mayang kemudian bergegas menariknya.
"Mayang itu nggak salah, tapi dengan legowo dia mau meminta maaf. Kamu harus tiru kebesaran hati Mayang, Rania!" nasehat Ibunda pada anak bungsunya tersebut.
"Iya, Bunda." Rania menjawab dengan malas-malasan.
Aku benci banget sama Mayang. Hidupnya juga beruntung banget, beda banget sama aku yang nggak punya apa-apa kalau bukan karena Om Inan yang menampungku aku pasti nggak bisa bergaya ya meskipun Om Inan juga terhitung masih pelit banget sama aku, siapa sie yang nggak kenal Mayang? Gadis keturunan bule yang kaya raya, bahkan teman-teman cowok di sekolahku pada kenal dia ya meski pun pada takut ngedeketin karena Mayang selalu dijaga ketat sama bodyguard-nya. Gerundel Rania dalam hati. Ternyata ada rasa iri juga yang tertanam pada hati Rania selama ini. Hanya menilai Mayang dari luarnya saja, tanpa dia ketahui kalau sebenarnya hidup dari gadis yang dia irikan tidak semanis dari kenyataannya.
"Ayo sekarang kita makan!" ajak Bunda.
**
Pukul tiga sore. Raka dan Mayang kini sedang ada di sebuah panti asuhan. Ternyata cafe Raka hari ini libur karena ada acara tali asih yang khusus disumbangkan oleh Raka dan Andika dari hasil menyisihkan keuntungan cafe mereka. Raka dan Andika memiliki keyakinan, selama mereka mau membantu orang yang membutuhkan, rejeki mereka tidak akan berkurang, tapi justru akan dilipat gandakan oleh Allah.
Di acara ini tentu ada Andika dan juga Aji yang baru kali pertama bertemu dengan Mayang.
"Hai, Mas Aji," sapa Mayang dengan ramah.
"Cantik bener emang, adik bule dari mana?" tanya Aji yang matanya berbinar-binar melihat pesona Mayang.
"Aku orang Indonesia kok, Mas," jawab Mayang kemudian nyengir.
Raka menutup mata Aji dengan ke dua telapak tangannya, karena dia tidak nyaman dengan cara Aji memandang Mayang. "Zina mata! Jangan kelamaan!" ketus Raka.
Aji menyingkirkan tangan Raka. "Iya-iya, ini jatah lu, Ka. Nggak akan gue ganggu," sungutnya.
"Apaan sie lu?" tegur Raka sambil memukul lengan Aji dengan sebal.
Acara hari ini tentunya pasti ada doa-doa yang niatnya untuk meminta kesehatan, keselamatan n rejeki yang berkecukupan untuk semua orang yang ada di sini, setelah itu Mayang membantu Raka dan Andika untuk membagikan lima puluh buah bingkisan yang akan diberikan merata kepada semua anak. Raka dan Andika juga memberikan uang santunan yang nilainya lumayan yang mereka berikan kepada ketua panti asuhan. Kegiatan ini sudah rutin mereka lakukan sejak tiga bulan yang lalu di mana omset cafe mereka mulai berkembang pesat.
"Mas, aku juga mau ikut nyumbang dong," kata Mayang sambil menyerahkan sebuah amplop putih berisi uang kepada Raka.
"Eh, nggak usah, May! Nanti kamu dimarahi mommy kamu," tolak Raka.
Sebelum ini, Mayang meminta Jasson untuk mengambilkan uang di atmnya sebesar lima juta rupiah. Setiap bulan daddy selalu mengirim uang kepada Mayang dan dia tabung hingga menumpuk banyak, begitu pun juga dengan transferan dari almarhum opanya yang membuat tabungan Mayang menjadi gendut. Tabungan Mayang masih atas nama Sandrina karena masih di bawah umur dan juga agar Sandrina bisa memeriksa transaksi yang dilakukan oleh anaknya, meski kartu atm sepenuhnya dibawa oleh Mayang dan dia bebas menarik uangnya kapan saja, tapi akan selalu ada pertanggungjawaban yang ditanyakan oleh Sandrina.
"Nggak apa kok, Mas. Udah ambil aja dan kasihin ke ibu panti!" paksa Mayang dan Raka pun menerimanya.
"Makasih, ya, Sri. Semoga berkah," kata Mayang sambil menarik sudut bibirnya.
**
Mayang senang sekali, senyum merekah dari bibirnya. Jasson bisa melihat aura kebahagiaan menguar dari dalam diri nona mudanya. Sepanjang perjalanan pulang gadis itu terus bernyanyi dan sesekali menggoda Jass yang nampak serius dengan pikirannya sendiri.
Hanya Raka yang bisa membuatmu sebahagia ini, Nona. Jadi benar apa kata Tuan Reyhan ... dan aku kalah sebelum berperang. Batin Jass.
"Jass, apa kamu tahu rasanya cemburu?" tanya Mayang tiba-tiba membuat lelaki itu menoleh ke arah gadis cantik yang duduk di sisinya.
"Kenapa?" tanya Mayang sambil menaikkan sebelah alisnya.
Jass menggeleng. "Tidak ada, Nona," jawabnya singkat kemudian beralih menatap ke depan dan kembali fokus pada kemudinya.
"Hahaha, iya-iya aku yang salah karena tanya hal yang kayak gini sama kamu, jelas pasti kamu nggak tahu gimana rasanya cemburu, kamu kan nggak pernah jatuh cinta, Jass," cibir Mayang. Gadis itu terkekeh menertawakan kisah cinta Jasson yang hambar bak sayur tanpa garam.
Soal rasa cemburu saya masternya, Nona. Batin Jass. Hanya bisa mengatakan perasaannya dalam hati saja, kalau dia keluarkan lewat lisannya pasti Mayang akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Jadi kemarin .... " Mayang mulai bercerita dan Jass akan selalu siap menyimak apapun yang dikatakan Mayang tanpa perlu dikomando terlebih dulu.
"... beberapa hari yang lalu saat aku pulang sekolah dan kamu lihat aku nangis, kamu ingat kan, Jass?" tanya Mayang memeriksa daya ingat Jasson.
"Hm ... iya, saya ingat," jawab Jass. Mana pernah lelaki itu melupakan segala hal tentang Mayang.
"Jadi ... " Mayang bercerita dengan sangat antusias. "... aku nangis karena aku habis lihat Mas Raka jalan sama Rania, Mas Raka jemput Rania di sekolahnya dan nyium kening Rania mesra bangat, kamu ingat Rania kan, Jass? Itu lhoh yang dulu pernah ribut sama Winda." Mayang bercerita lalu kembali mengetest daya ingat Jasson yang tidak bisa diragukan lagi.
"Iya, saya tahu, tadi pun saya melihat Rania masuk ke dalam rumah Raka. Jadi anda berpikir Rania adalah pacar Raka lalu anda cemburu dan menangis, Nona?" Tebakan Jasson sangatlah tepat.
"Hahahah, kamu benar sekali, Jass. Oke satu ciuman buat kamu." Mayang memajukan bibirnya dan mengecup pipi Jasson hingga jantung lelaki itu berdetak dengan sangat cepat.
Mayang mengelus-elus pipi Jass yang bekas gambar pipinya. "Jass, lipglosh-ku menempel di pipimu, hahaha." Mayang terkekeh.
"Tapi kata Mas Raka kita nggak boleh nyium-nyium lawan jenis, bukan muhrim." Mayang mencebikkan bibirnya.
"Tapi nggak masalah sie, kamu kan kakakku, Jass. Benar begitu kan, Tampan?" Mayang menggoda Jass hingga debaran jantung lelaki itu semakin cepat dan bergejolak.
Hanya diangggap seperti kakak, iya baiklah. Memang sebaiknya begitu. Pikir Jass.
"Jadi ternyata Rania itu adik kandungnya Mas Raka, Jass." Mayang kembali pada topik pembahasan yang ingin dia sampaikan.
"Oh .... " Hanya dua huruf itu yang keluar dari mulut Jasson.
"Padahal aku udah salah sangka banget sama Mas Raka, aku ngambek sama dia, aku cuekin chatnya, aku jutekin juga, eh nggak taunya aku salah paham doang. Aku seneng banget pas tau mereka itu kakak adik, tapi malunya, Jass ... aku berasa kayak pingin nyembunyiin wajahku di kolong tempat tidur. Hahahaha," jelas Mayang. Gadis itu kembali tertawa ketika mengingat-ingat tentang kekonyolannya.
"Hm ... itulah budaya orang Indonesia, yang tidak pernah mau bertanya dulu dan langsung menjudge yang tidak-tidak," seloroh Jasson.
"Iya, itu namanya cemburu buta, Jass. Kata Winda, aku kan baru pertama kali ngerasain kayak gini. Hm ... Jass, you wanna try? (Hm ... Jass, apa kamu mau mencoba?)" tanya Mayang.
"What i have to try? (Apa yang harus saya coba?)" tanya balik Jasson.
"Try to love someone and fell jeoules if she with another boy, (Mencoba untuk mencintai seseorang dan rasakan cemburuka jika dia dengan lelaki lain)," jawab Mayang.
Saya sudah pernah merasakannya, Nona. Tidak ada lagi yang perlu saya coba. Saya merasakannya setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik. Fell jeoules. Kata hati Jasson berkata.