Raka benar-benar tidak enak hati atas sikap Rania pada Mayang. Apalagi sejak kemarin Mayang sudah berubah sikap padanya. Jadi hati Raka semakin dibuat sedih karena hal ini.
"Aku minta maaf, Sri. Rania memang jutek banget anaknya, dia agak sombong dan suka seenaknya kalau bicara, tapi sebenarnya dia baik, kok. Aku juga nggak nyangka ternyata kalian saling kenal, padahal sekolah kalian kan nggak sama," ujar Raka tangannya masih nangkring di lengan Mayang.
Mayang melirik tangan itu memberi kode pada Raka agar segera menjauhkan tangannya. Bukan muhrim, apalagi ada Bunda Amel di sini.
"Maaf, May," ucap Raka dan segera menarik tangannya perlahan menjauh dari tubuh Mayang.
"Mas Raka kenal banget ya sama Rania? Bahkan karakternya pun Mas Raka paham, Mas Raka cinta sama dia?" tanya Mayang dengan ketus sambil membuang muka.
"Ya jelas aku kenal dan paham sama dia dan jelas aku sayang sama Rania," jawab Raka membuat tangis Mayang kembali jatuh.
Kenapa cemburu itu rasanya sakit banget kayak gini sie? Keluh Mayang.
"Berarti Mas Raka bohong sama aku!" tuduh Mayang sembari mendorong d**a Raka dengan ke dua tangannya.
Sekilas info, bapak-bapak yang duduk di depan rumah Raka dan mengantarkan Rania, yang wajahnya dibilang mirip dengan seseorang oleh Mayang, bergegas masuk ke dalam rumah ketika melihat Raka keluar mengejar Mayang.
"Bohong? Aku bohongin kamu apa, May?" Raka mengerutkan keningnya. Di mana letak kebohongannya?
"Mas Raka nggak usah pura-pura nggak paham! Beberapa hari yang lalu aku lihat Mas Raka jemput Rania di sekolah, aku lihat Mas Raka mesra banget sama dia bahkan sampai nyium keningnya di depan orang banyak dan Rania juga manggil Mas Raka sayang. Mas Raka bilang sama aku kalau enggak mau pacaran lagi, tapi nyatanya Mas Raka malah pacaran sama Rania, Mas Raka selalu bilang sama aku kalau aku ini anak kecil, jangan mikirin pacaran ...."
Mendadak Raka menjadi geli mendengar ocehan Mayang.
Jadi ini anak ngambek karena mikir aku sama Rania pacaran. Ya Allah, Sri ... kamu tuch lucu banget, ya.
"Mas Raka kenapa senyam-senyum gitu? Aku lagi marah sama kamu ini!" ketus Mayang.
"Habisan kamu lucu, Sri," ledek Raka. Tawanya pecah seketika mendengar kesalah pahaman Mayang.
"Malah ketawa lagi. Kata Winda ... " Mayang menangis terisak-isak.
"Yach ... malah tambah kenceng nangisnya." Raka menghentikan tawanya.
"Kata Winda Mas Raka bohongin aku karena Mas Raka nggak suka sama aku, Mas Raka mau nolak aku secara halus, jadinya Mas Raka bilang kalau nggak mau pacaran, eh nggak taunya anak abege Mas Raka embat juga," serang Mayang yang masih tidak mau berhenti mengoceh menyalah-nyalahkan Raka.
"Udah ngomelnya, Sri?" tanya Raka sambil melipat ke dua tangannya di depan d**a. Senyum usil terkembang di bibirnya.
"Udah! Sekarang aku mau pulang, aku nggak mau lagi ketemu Mas Raka," desah Mayang.
"Ya Allah, kamu itu salah paham. Rania itu adik aku ... dia adik kandung aku, Mayang," jelas Raka membuat Mayang membelalakkan ke dua bola matanya.
"A-apa? Adik?" Mulut Mayang sampai ternganga dan menatap Raka yang kembali tertawa terpingkal-pingkal.
"Iya, kan tadi Bunda udah bilang, adikku mau ke sini, masa dari situ aja kamu nggak ngeh sih kalau dia adikku? Hahaha." Raka puas sekali karena bisa menjulidti Mayang.
"Ja-Jadi-"
"Jadi dari beberapa hari ini kamu jutek sama aku karena itu?" Raka geleng-geleng kepala.
"Mendingan kita duduk dulu dech! Ayo kita ke taman yang di sana!" Mayang menujuk sebuah taman yang ada di seberang sana, kebetulan di tengah gang perumahan Raka ada taman.
"Kita selesaiin semuanya di sana, kan malu kalau sampai didengar Bunda." Raka berjalan duluan lalu disusul oleh Mayang yang mengekor di belakangnya.
Ketika melintasi mobil milik Mayang yang di dalamnya ada Jass yang setia menunggu. Raka memberi sapaan pada bodyguard pribadi Mayang tersebut.
"Hai, Jass! Kok nggak ikut masuk aja?" tanya Raka berbasa-basi.
Kaca mobil tadinya hanya terbuka sebagian, kemudian diturunkan seluruhnya ketika Raka menyapanya. Jass sedikit tersenyum, hanya sedikit saja. "Aku di sini saja," jawabnya.
"Jass, aku ke taman dulu, ya," pamit Mayang sambil melambaikan tangannya. Wajah Mayang masih terlihat sembab.
Sampai di taman. Mayang dan Raka duduk di sebuah kursi panjang dengan jarak lima jengkal tangan orang dewasa. Jaga Jarak Aman! Kalau ingat jaga jarak, kalau gak ingat ya mepet lagi. Dasar Raka!
"May, Rania itu adik kandung aku." Raka mengulang penjelasannya.
"Tapi kalau adik kandung kok nggak tinggal bareng?" tanya Mayang. Rasanya malu banget setelah dia tahu kalau dia cuma salah sangka.
"Adikku memang dari kecil diasuh sama om aku, dia yang tadi duduk di depan rumah," urai Raka. Terpaksa bercerita tentang kehidupan pribadinya lebih jauh pada Mayang.
"Jadi yang wajahnya mirip sama daddy itu om-nya Mas Raka?" tanya Mayang.
"Mirip daddy kamu? Emang iya?"
Mayang mengangguk. "Iya mirip banget, Mas. Tapi kata orang kan kita memiliki tujuh kembaran di dunia ini."
Bisa kebetulan gitu? Pikir Raka. Hanya kebetulan. Raka berusaha menepis pikiran aneh-aneh yang mampir dalam otaknya.
"Ceritain dulu kenapa Mas Raka sama Rania bisa nggak tinggal bareng!"
"Iya, jadi om aku nggak punya anak, May. Dan kebetulan setelah Rania sekolah dia diajak tinggal bareng sama om aku itu, Ranianya mau karena di rumah omku lebih terjamin semuanya," ujar Raka.
Mayang manggut-manggut. "Jadi gitu, terus di mana ayahnya Mas Raka?" Pertanyaan yang selama ini Mayang pendam akhirnya lolos juga.
Raut wajah Raka berubah murung ketika Mayang menyinggung tentang ayah.
"Kalau Mas Raka nggak mau cerita nggak apa, kok. Maaf ya, Mas." Mayang menjadi tidak enak hati karena sudah membuat Raka menjadi sedih.
"Ayah aku udah pergi ninggalin aku sama Bunda dan adikku. Tepat saat Bunda mau melahirkan Rania, ayah justru ngilang tanpa kabar," seloroh Raka dengan mata berkaca-kaca.
"Astaghfirullah, Mas Raka aku beneran minta maaf, aku nggak tahu-"
"Ya udah sie, biar kamu tahu aja dan nggak tanya-tanya lagi. Jadi, aku sayang banget sama bunda karena dia yang menopang hidup kami selama ini, beliau dulu kerja di pabrik, May. Ya kadang kala om aku ngasih jatah bulanan, tapi aku berasa kayak orang ngemis aja sama sikap dia yang sombong, entahlah aku pun heran kenapa dia mendadak jadi kaya raya. Dan ... aku tipe orang yang nggak suka diremehin, May. Jadi saat aku SMA, aku ambil side job gitu dech, apa aja selama halal, aku berjuang bareng sama Andika. Pernah jadi sales freelance, kerja dicuci motor pun pernah, uangnya aku kumpulin. Saat kuliah pun sama aku masih nyari side job juga, aku sama Dika nabung dan akhirnya jadilah cafe itu yang dulunya cuma kayak angkringan biasa terus jadi berkembang seperti sekarang. Hidupku aku itu nggak mudah, May." Raka mengeluarkan segala unek-unek dan juga cerita tentang perjuangan hidupnya dan Bunda Amel yang tidak semudah hidup Mayang dalam hal perekonomian.
"Mas, tapi kamu hebat lho. Aku bangga malahan, aku yakin kamu pasti bisa sukses," puji Mayang kemudian memberi semangat pada Raka.
"Amiin. Ya aku pingin usahaku lebih maju dan terus maju, cafe itu segalanya buat aku, May. Penghidupan aku ada di sana soalnya."
"Iya, Mas aku tahu, kok."
"May, kamu tahu kan sekarang, kasta kita itu udah beda banget. Usia mungkin nggak terlalu jadi penghalang sebuah hubungan, tapi kamu kan tau sendiri aku sama kamu itu ibarat langit dan bumi. Keluarga kamu nggak mungkin ngijinin anaknya dapat lelaki miskin kayak aku-"
"Mas kok ngomongnya gitu?" protes Mayang.
"Itu kenyataan, May. Kamu marah, kamu cemburu saat lihat aku sama Rania. Aku rasa itu udah berlebihan, aku harapnya perasaan kamu ke aku bisa berangsur ilang. Karena kita nggak mungkin bersama, ibarat kamu minyak dan aku air, nggak akan pernah bersatu meski berpijak di tempat yang sama," urai Raka yang mendadak mengeluarkan banyak pengibaratan dalam kata-katanya.
Mayang menjadi sedih mendengar Raka bicara demikian.
"Mas, kata Mas Raka kan jodoh Allah yang ngatur, kenapa kesannya jadi malah Mas Raka yang sok tahu?!" protes Mayang.
"Bukan sok tahu aku cuma realistis aja, May," sahut Raka.
"Mas ... aku juga nggak ngerti kenapa aku bisa senyaman ini sama Mas Raka," ungkap Mayang.
"Hanya sementara, tapi pasti bakalan ilang setelah kamu kenal banyak lelaki di luar sana, apalagi sebentar lagi kamu mau ke luar negeri, pasti banyak cowok cakep di sana dan kamu bisa lupa sama aku." Ini sebuah harapan atau sebuah kekhawatiran yang ada di hati Raka. Entahlah! Lelaki dewasa ini bahkan tidak bisa mengartikan dengan baik perasaannya pada Mayang.
"Yang pertama itu pasti yang berkesan dan susah buat dilupain," celetuk Mayang yang mendadak menjadi dewasa banget.
"Udah sie lupain bahas tentang cinta, Sri!" dengus Raka mencoba untuk mengajak Mayang untuk berganti topik pembahasan mereka.
"Kenapa kamu sama Rania bisa kenal dan kayaknya kalian musuhan, ya?" selidik Raka kembali membahas perihal Mayang dan juga adiknya.
Mayang malah mengerucutkan bibirnya maju ke depan sambil menatap Raka dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, kenapa lagi sih, Sri?" tanya Raka heran.
"Aku malu sama kamu, Bambang. Udah tetiba ngambek dan cemburu nggak jelas gitu sama kamu, padahal kan kita bukan siapa-siapa, ya. Ah ... malu aku." Mayang menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangan sambil menghentak-hentakkan kakinya bergantian ke tanah.
"Hahahaha, lagian kamu mah telmi banget!" ejek Raka di awali dengan tawanya yang menggelegar.
"Telmi itu apa?" Mayang tidak paham bahasa yang disingkat-singkat.
"Telmi itu singkatan dari telat mikir, udah jelas tadi Bunda bilang adikku mau ke sini, ya gitu kamu masih nggak paham Rania siapaku? Dasar! Cemburumu unfaedah banget, Sri! Dasar anak kecil!" Raka iseng mencubit hidung mancung Mayang dengan sela jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu menariknya dengan gemas.
"Mas, sakit! Maaass!" teriak Mayang sambil memukuli tangan Raka yang mampir di hidungnya.
"Hahaha, habisnya ngeselin bin gemesin banget si kamu," kata Raka.
"Udah dibilangin Bunda kan nggak boleh pegang-pegang, tapi masih ngeyel aja. Dasar! Naksir aku kan kamu, Bang?" goda Mayang sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Kenapa lu? Kelilipan?"
"Kelilipan cintamu." Mayang ngegombal.
"Nah kumat bucinnya," cemooh Raka sambil menyunggingkan senyumnya.
Selalu bikin gue deg-degan tiap kali digombalin sama ini anak kecil. Desah Raka dalam hati.
"Udah balik lagi ke pokok permasalahan yang awal tadi, kenapa kamu sama Rania bisa musuhan?" tanya Raka penasaran banget nget nget nget.
"Aku sama Rania aslinya nggak ada masalah apa-apa, Mas," jawab Mayang, memang bener sie Mayang dan Rania kan nggak pernah ada slek selama ini.
"Terus palsunya?" Raka malah bercanda.
"Palsunya karena Rania itu pernah rebutan cowok sama sahabat aku yang suka main ke cafe Mas Raka itu lho, Si Winda," jelas Mayang.
"Rania rebutan cowok sama Winda? Ya Allah, udah dibilangin nggak boleh pacaran sama Bunda juga masih ngeyel," desah Raka kesal banget sama sikap adiknya yang memang nggak pernah mau nurut kalau dikasihtahu.
"Jadi aku nggak ada urusan apa-apa sama Rania, berhubung aku sahabatnya Winda jadinya dia ikutan sensi sama aku," jelas Mayang membuat Raka mengerti duduk perkara yang sebenarnya.
"Keterlaluan emang itu Si Rania, ayo kita balik ke rumah! Kamu jangan pulang dulu, Sri! Kita kan belum makan siang bareng, biar nanti Rania aku yang urus, aku suruh dia minta maaf sama kamu," jelas Raka dengan sedikit emosional. Dia paling nggak suka kalau ada orang yang suka cari musuh apalagi itu adiknya sendiri.