40. Bertemu Bunda Amel

2001 Kata
** Mayang masuk ke dalam mobil disusul oleh Jasson kemudian yang menempatkan dirinya di belakang kursi kemudi. "Cepat, Jass! Nanti mommy keburu teriak lagi," kata Mayang tergesa-gesa. "Siap, Nona!" Jass yang patuh menuruti perintah dari Nona mudanya. Kini mereka naik mobil mewah berwarna hitam yang biasa dipakai oleh Tuan Ardi ke mana pun beliau pergi, karena mobil itu sekarang menjadi alat transportasi Mayang menggantikan mobil yang lama. "Mobil bagus tentunya bisa ngebut kan, Jass?" tanya Mayang yang artinya Jasson diminta untuk mempercepat laju kendaraan yang dia kemudikan. "Hm ...." jawab Jass singkat. Begitu semangatnya dirimu ketika berhubungan dengan Raka. Pikir Jass. Beberapa puluh menit kemudian, Jass berhasil membawa Mayang sampai ke rumah Raka dengan selamat. Mayang melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah jam setengah sebelas. Waktu yang pas, Raka pasti sudah pergi dari rumah dan kini sedang ada di cafenya. "Jass, apa kamu mau ikut masuk?" tanya Mayang ketika gadis itu hendak turun karena Jass sudah membukakan pintu untuknya. "Tidak, Nona! Saya akan menunggu anda di mobil saja," jawb Jass. "Okelah kalau begitu, aku masuk dulu, ya. Dah, Jass!" Mayang berjalan ke arah rumah Raka sambil melingkarkan tas slempangnya. Namun, Mayang terkejut ketika dia melihat motor Raka masih terparkir di dalam rumah, kondisi saat ini pintu rumah Raka terbuka lebar. Baru saja Mayang mau mengetuk pintu, tangannya pun sudah terkepal dan terulur ke papan kayu tersebut, tapi dengan perlahan Mayang turunkan tangannya akibat melihat tungganan Raka masih anteng di ruang tamu. "Kok Mas Raka masih ada di rumah. Malas banget ah," gumam Mayang yang lalu berbalik badan hendak pergi meninggalkan rumah Raka. Niat hati mau menunggu di dalam mobil sampai Raka benar-benar pergi baru dia masuk, tapi .... "Mayang!" Suara Bunda Amel seperti rem cakram yang seketika menghentikan langkah kaki Mayang. Udah nggak bisa lari lagi kayaknya. Pikir Mayang sambil berbalik badan. "Mayang, bunda kangen sama kamu," kata Bunda sambil merentangkan ke dua tangan hendak memeluk gadis keturunan bule yang sudah menjadi teman dekat anaknya beberapa bulan ini. "Aku juga kangen sama bunda," sahut Mayang kemudian mendekat untuk menyatukan tubuhnya dan tubuh bunda menjadi sebuah pelukan yang hangat. "Kenapa tadi malah mau pergi kalau kangen sama bunda?" selidik Bunda membuat Mayang bingung untuk menjawab. "Mm .... " Mayang sedang berpikir keras, mencari jawaban yang rasional agar Bunda tidak curiga kalau dia sedang kesal dengan Raka. "Mayang, kamu udah datang?" Raka keluar dari dalam kamar, kamar Raka ada di posisi depan jadi dia pasti langsung dengar suara Mayang dan Bunda. Bunda dan Mayang mengurai pelukan mereka. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Raka, tapi mengajak bunda untuk ke kamar beliau. "Bunda, aku mau ngobrol," ucap Mayang lalu menggandeng tangan bunda. "Ayo, bunda juga pingin ngobrol sama kamu," sambut Bunda Amel dengan senang hati. Raka semakin dibuat bingung dengan sikap Mayang padanya, kenapa tidak ada keramahan dan keakraban yang biasanya gadis itu pertontonkan. Kenapa Mayang seperti tidak menganggap keberadaannya. Raka sedih, tapi mungkin nanti saja dia bertanya langsung pada Mayang, selepas gadis itu dan bundanya berkangen-kangenan ria. Raka memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar. Bunda dan Mayang duduk berhadap-hadapan di atas tempat tidur. "Nak, maaf ya bunda nggak bisa ikut takziah ke rumah orang tua kamu saat opa kamu meninggal. Bunda turut berduka cita, kamu yang sabar, ya! Doain opa terus setiap kamu selesai salat, opa pasti seneng kalau dapat doa dari cucu kesayanganya," ujar Bunda Amel sembari memberikan sedikit nasehat pada Mayang. Nasehat yang sama yang selalu Raka ingatkan pada Mayang, hanya doa yang dibutuhkan oleh orang yang sudah meninggal. "Makasih ya, Bunda. Insya Allah, aku nggak pernah berhenti doain opa kok, Bun," cetus Mayang, meski pada kenyataannya salat Mayang masih sering bolong-bolong. "Terus gimana? Apa mommy masih suka mukulin kamu?" tanya Bunda, karena ini yang juga jadi kekhawatiran Bunda Amel tentang Mayang. Mayang menggelengkan kepalanya. "Udah nggak lagi kok, Bun," jawab Mayang. "Alhamdulillah." Bunda Amel sangat lega. "Itu pun karena surat wasiat opa, Bun," beber Mayang. "Surat wasiat apa, Sayang?" selidik Bunda ingin tahu. Mayang menjelaskan secara detail dan rinci. "Jadi begitu ... hanya karena takut dimasukkan ke penjara? Tapi nggak apa-apa, May. Apapun alasannya yang penting mommy kamu udah nggak mukulin kamu lagi," jelas Bunda sembari mengelus rambut Mayang dengan lembut. "Makanya aku senang banget kalau deketan sama bunda gini aku jadi kayak punya ibu. Aku boleh peluk bunda lagi?" Mayang meminta ijin dengan sorot manik hitamnya yang sudah berkaca-kaca. "Tentu boleh, Sayang." Bunda Amel tersenyum, sesegera mungkin beliau melebarkan ke dua tangannya untuk memberi space pada tubuh Mayang agar masuk ke dalam dekapannya. "Aku sayang, Bunda," ungkap Mayang dengan mengeratkan pelukannya. "Bunda juga sayang kamu, Mayang. Kamu itu udah bunda anggap kaya adiknya Raka," jelas Bunda. "Uhuk ... uhuk ... " Bunda Amel terbatuk-batuk. Mayang melepas pelukannya. "Bunda lagi sakit?" tanya Mayang khawatir. "Lagi nggak enak badan aja kok, Yang. Bunda nggak apa-apa, bunda udah biasa begini," jawab Bunda. Mendadak kepala Bunda juga menjadi pusing, tapi Bunda Amel mencoba untuk tidak terlalu merasakan rasa sakitnya. "Kalau nanti aku udah jadi dokter, kalau Bunda enggak enak badan ngomong aja sama aku, ya! Biar aku yang ngerawat bunda," tutur Mayang akan harapannya yang besar di masa depannya dengan menjadi seorang dokter, agar dia bisa mengobati orang-orang sekitar yang sedang membutuhkan tenaganya. "Amin. Bunda doain kamu jadi dokter yang sukses Mayang, biar bunda bisa punya dokter pribadi," sahut Bunda sambil menyunggingkan senyumnya. Setelah hampir setengah jam melepaskan rindu, lalu curhat ke sana kemari, akhirnya Mayang dan Bunda keluar kamar karena sudah waktunya makan siang. Bunda mau memasak balado telur dan juga sayur sop ayam kesukaan anak-anaknya. "Bunda, aku mau bantu masak, ya." Semenjak sering melihat Raka dan anak buahnya memasak di dapur cafe, Mayang jadi tertarik untuk belajar memasak berbagai makanan yang lainnya. "Oke, jadi wanita itu harus pandai masak, Mayang." Bunda menyerahkan panci berisi telur ayam mentah pada Mayang. "Ini kamu cuci telurnya terus kasih air galon terus kamu rebus!" Bunda memberi intruksi pada Mayang. "Kalau cuma rebus telur mah aku bisa, Bun. Ini gampang banget," kata Mayang sudah sok-sokan ahli dalam hal rebus merebus. Wkkwkwk ... Tak lama suara pintu kamar dibuka. Mayang sudah menduga kalau itu Raka, karena degup jantungnya yang tadi stabil kini bergejolak bak kobaran api yang tertiup angin. Apalagi bau parfum Raka yang sampai ke indera penciuman Mayang dengan sangat menyengat. "Dih ... lagi bantu Bunda masak, ya, May?" tanya Raka yang berjalan mendekat pada Mayang. Mayang menoleh sebentar. Kok Mas Raka pakai baju sama celana pendek doang, bukannya dia harusnya udah pergi juga dari rumah. Kata hati Mayang berbicara demikian. "Hm ... iya," jawab Mayang singkat dan dingin, tangannya masih bergerak menggosok-gosok telur agar bersih sebelum melalui proses perebusan. Tuch kan, ketularan Jasson kayaknya jadi dingin begitu Si Sri. Gumam Raka dalam batin. "Bunda mau masak apa memangnya?" tanya Raka pada Bunda Amel yang sedang mengupas bawang merah. "Mau bikin balado telur sama sop ayam, Raka. Kan Rania mau ke sini di antar sama Om Inan," jawab Bunda kemudian memberitahu Raka tentang adiknya yang akan datang. "Tumben," sahut Raka singkat sambil mencebikkan bibirnya. "Bunda, ini udah bersih kan? Terus kasih air yang di galon itu?" Mayang menunjuk sebuah dispenser yang berdiri di dekat rak piring. "Iya, Sayang," jawab Bunda Amel yang kini beralih dengan bawang putih di tangannya. Mayang melewati tubuh Raka untuk berjalan mendekat pada galon yang ia maksud. Raka memperhatikan Mayang dengan tatapan penuh tanda tanya, kenapa Mayang bersikap jutek dingin seperti ini? Raka sangat-sangat bingung, kalau memang Sandrina tidak mengijinkan Mayang untuk bertemu denganya lagi, pasti Mayang juga tidak akan pernah datang kemari demi menemui Bunda Amel. Jadi pasti ada satu dan lain hal yang salah. Apa ada omonganku yang nyakitin hati Mayang? Perasaan terakhir kita cuma bahas soal sekolah dia aja sie, nggak ada yang lain. Raka masih terus berpikir dan mencari akar permasalahan di mana letak kesalahannya. "Bunda, air galonnya habis," kata Mayang sambil mengguncang-guncangkan galon tersebut dengan satu tangannya. "Raka, tolong angkatin galonnya yang baru!" perintah Bunda Amel. "Siap, Bun," sahut Raka. Lelaki tersebut gegas mendekati Mayang di mana di dekat Mayang berdiri ada sebuah galon yang masih tersegel dan penuh airnya. Baru saja Raka mau mengajak Mayang bercanda seperti biasanya, tapi gadis itu justru pergi dan menaruh panci yang dibawanya di atas meja. Mayang mendekati bunda dan iseng-iseng memegang cabe dan memisahkannya dengan tangkainya. "Astagfirullah," ucap Raka sembari mengelap bagian atas galon dengan tisu basah. Si Sri bikin gue bener-bener bingung. Gumam Raka dalam batin sambil mengangkat galon yang sudah dia bersihkan untuk naik ke atas dispenser. "Mayang, ini udah aku ganti galon baru," kata Raka setelah pekerjaannya selesai. "Iya, makasih," kata Mayang ketus. Gadis itu kembali mengambil panci yang tadi ia letakkan dan mengisinya dengan banyak air untuk merebus telur-telur ayam yang berjumlah sepuluh butir tersebut. "Bunda, cara nyalain kompornya gimana?" Mayang belum paham cara menyalakan kompor gas. "Sini lihat cara bunda!" Bunda Amel memegang knock pemutar kompor lalu beliau putar ke kiri, "Ceklek!" bunyi tuas kompor gas terdengar nyaring dan api pun menyala dengan warna biru. "Oh gitu caranya." Mayang manggut-manggut. "Sekarang taruh pancinya di atas kompor, kita tunggu sampai mendidih," ujar Bunda Amel. Sejam kemudian, Bunda dan Mayang sudah selesai memasak dua menu makanan sederhana. Mayang suka ke duanya karena di rumah para maid suka juga memasak makanan ini. Lalu sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Ketika itu Bunda dan Mayang sedang duduk-duduk di ruang tamu dan Raka ada di dalam kamarnya. "Bunda, Assalamualaikum," teriak seorang gadis seusia Mayang sambil berlari kecil masuk ke halaman rumah Raka. Di belakang gadis tersebut ada seorang lelaki berusia kurang lebih lima puluh tahunan. "Walaikumsallam." Bunda dan Mayang membalas salam bersamaan. "Bunda, aku udah datang," seru gadis tersebut yang langsung bisa dikenali oleh Mayang. "Rania?!" Mayang kaget setengah mati. "Mayang?! Ngapain kamu ada di sini?" tanya Rania nyolot dan tidak suka. Jadi hubungan Mas Raka sama Rania udah seserius ini sampai dia bebas masuk ke rumah Mas Raka? Pikir Mayang semakin dirasuki rasa cemburu. "Rania kamu kenal sama Mayang? Nggak boleh ketus gitu ah ngomongnya!" tegus Bunda Amel. Raka keluar dari kamar setelah mendengar suara Rania. Lelaki itu tersenyum dan mendekat pada gadis yang wajahnya cantik natural ala Indonesia punya. "Ran, udah datang kamu?" tanya Raka sambil melingkarkan tangannya di pundak Rania. "Bang Raka, aku kangen kamu bangeeeet." Rania memeluk Raka dengan manja. "Kemarin juga baru ketemu udah kangen aja," cemooh Raka sambil melepaskan pelukannya. Mata Mayang mengeluarkan embun bening. Rasanya kok sakit banget kayak gini. Lirih Mayang dalam hati. "Ngapain sie Mayang ada di sini?" tanya Rania pada Raka. Nada bicaranya masih ketus. "Jangan gitu, Ran!" tegur Bunda Amel lagi. "Kamu kenal sama Mayang?" tanya Raka. "Iya kenal banget. Dan aku nggak suka abang dekat-dekat dia!" ketus Rania membuat tetesan air mata Mayang seketika luruh. "Bun, aku pulang, ya. Yang penting kan aku udah ke sini seperti permintaan Bunda," kata Mayang sambil menyeka air matanya. Gadis itu menyilangkan tas slempang yang ia letakkan di kursi sofa. "May, kok pulang sie?" Raka kecewa. Mayang tidak menanggapi permintaan Raka. Gadis itu berjalan cepat keluar rumah dan ada satu hal lagi yang membuatnya shock selain kedatangan Rania, yaitu lelaki yang ikut bersama Rania dan memilih untuk duduk di kursi depan rumah Raka tanpa masuk ke dalam. Mayang menghentikan langkah sejenak, ditatapnya lelaki paruh baya itu lekat-lekat. "Kenapa wajah bapak itu mirip sama-" "Mayang!" Raka menyusul Mayang membuat gadis itu melanjutkan lagi langkah kakinya yang sempat terhenti dan mengabaikan si bapak yang melempar senyum padanya karena merasa Mayang amati sejak beberapa detik tadi. "Mayang, kamu marah sama Rania? Tolong maafin dia, ya. Dia anaknya memang kayak gitu, aku minta maaf atas nama dia." Raka memegang lengan Mayang agar gadis itu mau berhenti dan mendengarkan ucapannya. Mayang dan Raka berdiri berhadap-hadapan di depan halaman rumah. Jass bisa melihat dengan jelas adegan yang menyakit matanya tersebut dari dalam mobil. "Kenapa Nona Mayang menangis? Apa Raka membuat Nona sakit hati? Kalau memang iya, aku nggak bisa biarin ini." Jass hendak turun dari dalam mobil, tapi dia teringat kata-kata Tuan Reyhan. Iya ... kata-kata yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Maka Jasson pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk diam di dalam mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN