Winda mengelus-elus pundak Mayang ketika Rania memutar kepalanya ke belakang untuk menjulurkan lidahnya pada Winda dan Mayang. Rania sengaja meledek mereka karena saat ini dia menggandeng cowok yang lebih oke dari yang pernah dia dan Winda perebutkan dahulu.
"Aku nggak nyangka ternyata Mas Raka udah punya pacar lagi, Win," cetus Mayang dengan mata yang berkaca-kaca.
Iya, cowok tampan dan gagah yang menjemput Rania adalah Raka. Dari tempat Mayang duduk, dia bisa melihat jelas kalau itu adalah Raka, tapi Raka tidak tahu kalau ada Mayang di dalam sana. Dia hanya fokus melihat ke Rania tanpa melihat ke sekitarnya.
"Jangan sedih ya, Yang. Kamu kan cantik, masih bisa nyari yang lain lagi," sahut Winda sambil memeluk Mayang untuk menenangkannya.
"Tapi Mas Raka bilang dia nggak mau punya pacar lagi, Win. Dia bilang udah tobat dan nggak mau pacaran sebelum nikah, tapi kok gini kenyataan yang aku lihat ...." Mayang menangis terisak-isak.
"Jadi Mas Raka bilang gitu? Itu artinya dia nolak kamu secara nggak langsung, Yang. Lah kenyataannya dia pacaran sama Rania, mana mesra banget gitu. Kamu kan pernah cerita juga kalau Mas Raka nggak pernah ciuman sama cewek karena bukan muhrim. Nah ... itu apa buktinya? Dia nyium kening Rania mesra banget," tutur Winda yang semakin membuat hati Mayang menjadi sedih.
"Tahu gitu mending aku nggak usah jatuh cinta, Win. Ternyata Mas Raka cuma kedok doang sok baik dan alim di depan aku," decit Mayang dengan linangan air matanya yang semakin banjir.
Ponsel Mayang berdering. Ternyata Jasson yang menelponnya.
"Nona, anda di mana?" tanya Jass seketika itu juga saat Mayang mengangkat panggilannya.
"Hm ... aku ada di warung seberang jalan, Jass. Jemput aku, ya," jawab Mayang masih terisak.
Kenapa Nona Mayang menangis? Tanya Jasson dalam batin. Suara Mayang sangat jelas menunjukkan keadaannya yang sedang sedih.
Jasson mengarahkan kemudi mobilnya untuk mendekat pada warung yang Mayang maksud.
"Tiiin ...." Jass membunyikan klakson untuk memberi kode agar Mayang segera keluar dari dalam warung tersebut.
"Win, Jass udah nungguin aku, ini bayar makanan dan minumannya, aku pulang, ya," ucap Mayang sambil menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah yang dia ambil dari saku seragamnya pada Winda.
"Iya, Yang. Jangan nangis lagi, ya!" sahut Winda, dia ikutan sedih kalau Mayang sedih.
Mayang akhirnya memilih terbuka dan menceritakan banyak hal tentang Raka pada sahabatnya. Dengan Winda dia berbagi banyak hal kecuali tentang mommy yang kerap menyiksanya. Winda sudah berkali-kali jatuh cinta dan beberapa kali pacaran, jadi Mayang banyak belajar dari Winda.
"Tapi kalau aku lihat Mas Raka beneran kayak orang alim wajahnya, eh nggak tahunya," gumam Winda yang turut menyesalkan perilaku Raka yang bertolak belakang dari yang Mayang ceritakan.
**
"Nona, kenapa menangis?" tanya Jass sambil memerhatikan sebentar gadis cantik keturunan bule yang duduk di sisinya.
Kalau aku cerita sama Jass pasti aku disalah-salahin, dari awal kan dia udah bilang buat hati-hati sama Mas Raka karena dia orang asing. Batin Mayang sambil melirik Jass yang kembali menatap lurus ke depan memerhatikan kondisi jalanan agar tidak menabrak.
Mayang menghapus air matanya. "Nggak apa-apa, Jass. Pingin nangis aja," jawab Mayang.
"Oh ... ada ya orang pingin nangis," sahut Jass.
"Ada ... ini aku," ketus Mayang.
"Hm ... Iya, Nona." Jass membungkam mulutnya.
"Jass, aku mau tanya sesuatu sama kamu," tutur Mayang membuka lagi pembicaraan.
"Silahkan, Nona!"
"Jass, kenapa cowok itu penipu?" tanya Mayang. Pertanyaan yang membuat Jass menelan ludah dengan kasar.
"Mm ... maksud anda, Nona?" tanya balik Jass membuat Mayang menjadi kesal.
"Begitu saja kamu nggak paham, Jass? Astagfirullah!" cemooh Mayang sambil meletakkan ke dua tangannya di pinggang.
"Nona, ingus anda nanti keluar kalau anda galak seperti itu," ejek Jasson.
"Oh, jadi kamu sekarang udah bisa ngeledek aku ya Jass?" sungut Mayang.
"Nona, saya benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan anda."
"Iya kenapa cowok itu suka banget nipu cewek, misal kemarin dia bilang A, tapi kelakuannya malah nunjuk ke B." Mayang memperjelas maksudnya agar Jasson paham.
"Saya tidak seperti itu, Nona," kilah Jass merasa sebagai kaum lelaki yang disebut penipu oleh Mayang.
"Iya, bukan kamu. Kamu mana mungkin nipu cewek? Jatuh cinta aja nggak pernah," cibir Mayang. Tangisnya sudah berhenti karena sibuk meledek Jasson.
"Ya udahlah, kayaknya percuma juga tanya sama kamu, Jass. Makanya Jass kamu itu cari cewek, masa iya aku lihat di kontak hape pribadimu nggak ada nomor cewek sama sekali selain nomorku, foto cewek juga nggak ada, tapi fotoku malah banyak banget. Kamu curi gambarku diam-diam ya, Jass? Ayo ketahuan!" jelas Mayang yang malah jadi teringat ketika ia membawa ponsel pribadi Jass ketika pelariannya dari rumah. Di saat itu ia sempat membuka-buka galeri foto karena penasaran apa Jass memiliki pacar atau tidak. Eh, ternyata dia malah menjumpai fotonya sendiri dengan berbagai gaya.
"Itu hanya iseng saja, Nona," kata Jass.
"Iseng atau iseng? Jass, memang kamu nggak bosen jadi jomblo terus sejak embrio? Aku aja pingin banget punya pacar," celoteh Mayang.
"Nona, sudah saya bilang jangan bahas tentang saya!" tegur Jass tidak suka.
"Kamu ini, ya. Atau jangan-jangan benar kalau kamu itu suka-"
"Nona, saya masih normal," potong Jasson.
"Hahaha, jadi kamu udah paham ya Jass aku mau ngomong apa?" Mayang tertawa.
"Sudah paham sekali. Karena itu yang anda tuduhkan pada saya berulang-ulang," ketus Jass.
"Makanya cari pacar, nanti kalau aku udah menikah kamu akan pensiun jadi bodyguarku, jadi kamu harus punya istri, hahaha." Mayang semangat sekali menggoda Jasson.
"Ntar kamu udah brewokkan, tapi masih bujang, Jass. Hahaha." Suara tawa Mayang semakin kencang mengantikan tangisnya akibat patah hati dengan Raka.
Kalau dengan meledekku itu bisa membuatmu bahagia maka lakukan saja, Nona. Kata hati Jass berkata demikian.
**
Seperti hari-hari biasanya, selepas pulang sekolah, Mayang diharuskan makan siang. Hm ... berjajar menu makanan lezat yang bergizi dan menggugah selera sudah tertata rapi di depan Mayang.
"Nona, mau makan dengan apa? Biar saya ambilkan." Seorang maid hendak melayani Mayang seperti seorang putri raja.
Makan seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun, mana ada orang di jam seperti ini? Orang tua Mayang pastinya sibuk dengan rutinitas mereka masing-masing, terutama Daddy yang kini menggantikan peran opa untuk mengurus perusahaan. Sedangkan, Mommy paling shoping dan kongkow dengan teman-teman sosialitanya.
"Aku bisa ambil sendiri, Bi. Bibi pergi aja!" tolak Mayang, dia tidak nyaman kalau harus diladeni seperti ini.
Selepas makan siang, Mayang kembali membuka buku pelajarannya. Ia mengulang apa saja yang sudah dia pelajari sekolah, menjelang ujian semakin banyak tugas yang harus dia kerjakan.
Sore harinya Mayang menutup buku pelajarannya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian bersantai sebentar meski hanya sekedar bermain game atau membaca novel online di aplikasi. Nah ternyata ada beberapa chat masuk dari Raka, Mayang jadi teringat dengan kejadian tadi siang, rasa sakit dan kecewa itu kembali mampir.
"Mas Raka penipu!" Mayang memilih untuk mengabaikan pesan yang masuk dari Raka. Padahal tanpa dia tahu saat ini lelaki yang mengiriminya pesan sedang menunggu balasannya.
Selepas leha-leha dengan ponselnya, Mayang kembali membuka buku pelajaran, sampai selepas maghrib dia belajar hingga teriakan mommy membuatnya keluar dari kamar, ternyata jam makan malam sudah tiba.
Makan malam yang selalu terasa hambar, meski berjajar makanan enak di depan mata. Hanya sekali saja, Mayang ingin merasakan hidup dalam keluarga yang seperti layaknya keluarga pada umumnya, tapi ternyata itu hanya sebuah imajinasi di pikiran Mayang saja.
Tidak ada yang spesial, tidak ada obrolan yang penting, hanya daddy yang menanyakan perihal sekolah Mayang hari ini, kemudian semua anggota keluarga masuk ke dalam kamar masing-masing.
Selepas makan, buku lagi yang dia pegang. Namun, sebelumnya Mayang menyempatkan diri untuk melihat ke ponselnya, ada dua buah chat dari Raka, lelaki itu mengingatkan Mayang untuk akan dan juga salat.
"Cuekin aja, pokoknya aku marah banget sama Mas Raka," gumam Mayang lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Mayang kembali berkutat dengan berbagai ilmu pengetahuan yang ia dapat di sekolahnya. Hm ... kegiatan yang sangat monoton dan membosankan. Tadi Jass sempat bertanya, apa Mayang mau diantarkan ke Cafe Raka? Namun, Mayang menolaknya tanpa memberi alasan.
**
"Mayang kenapa sie kok sejak tadi nggak mau balas pesan gue?" gumam Raka.
"Kenapa, Ka?" tanya Andika ketika melihat sahabatnya ini seperti sedang mencemaskan sesuatu.
"Gue chat Mayang dari tadi nggak dibalas juga," jawab Raka dengan gelisah.
"Mungkin lu ada salah sama dia, coba diingat-ingat!" sahut Andika.
Raka pun berpikir keras. Sepertinya dia tidak melakukan kesalahan apapun. Terakhir mereka ngobrol itu semalam dan mereka akur-akur aja.
**
Pulang bekerja dari cafe, Raka bertemu dengan Bunda Amel. Kebetulan beliau masih belum tidur di larut malam seperti ini.
"Kenapa Bunda belum tidur?" tanya Raka pada ibu kandungnya tersebut.
"Bunda tiba-tiba teringat Mayang. Apa dia baik-baik saja?" Bunda gantian melempar pertanyaan pada Raka.
"Alhamdulilah kabar Mayang baik, Bun," jawab Raka sedikit lesu karena sampai sekarang Mayang belum membalas chatnya.
"Alhamdulilah, kapan-kapan suruh main ke rumah nemuin bunda, ya! Dia udah nggak disiksa ibunya lagi kan?"
"Udah enggak kok, Bun. Iya nanti Raka kasih tahu Mayang ya, Bun."
"Ya sudah kamu istrirahat, ya!"
Sampai dalam kamar, Raka lekas menghubungi Mayang kembali. Dua panggilan suaranya terabaikan, akhirnya Raka kembali mengirim pesan kepada gadis itu dan menyampaikan pesan dari bunda.
Lagi-lagi Mayang hanya membacanya dilihat dari tanda ceklis dua yang berwarna abu berubah warna menjadi biru.
"Mayang kenapa sie? Apa jangan-jangan dia dilarang sama mommynya ya buat hubungi gue lagi? Bisa jadi sie," gumam Raka sambil berpikir.
**
Hari minggu yang cerah, Mayang sudah mandi dan memakan sarapan yang dikirim oleh seorang maid ke kamarnya. Sengaja Mayang tidak ikut makan bersama daddy dan mommy karena dia sedang malas untuk melihat ke dua orang tuanya terus berdebat.
Mayang duduk di depan meja riasnya, dia menatap pantulan wajah polosnya yang hanya tersapu bedak sedikit dan lipglosh di bibirnya. Gadis itu teringat pada pesan Raka dua hari sebelum ini yang meminta dia untuk datang ke rumah karena Bunda Amel sangat merindukannya.
"Enaknya ke sana atau enggak, ya? Aku juga kangen sama Bunda sie, tapi aku malas ketemu Mas Raka," gumam Mayang.
"Atau aku tunggu aja sampai Mas Raka berangkat ke cafe, biasanya jam sepuluhan Mas Raka udah pergi. Oke ntar aku ke sana, yang penting bisa ketemu sama bunda." Akhirnya Mayang memberi keputusan.
**
"Jass, antar aku ke rumah Mas Raka, ya!" perintah Mayang dengan suara pelan karena mommy sedang ada di rumah saat ini.
"Siap, Nona." Jass menuruti perintah Mayang.
Hei, hatiku. Kau memang harus siap terluka kapan pun itu. Jass mengusap dadanya dengan satu tangan.
"Kenapa, Jass?" tanya Mayang kepo dengan pergerakan tangan Jass.
"Hmm ... tidak ada, Nona," jawab Jass.
"Oh ya udah." Mayang celingukan ke kanan dan kiri, dia sedang mengamati keberadaan mommy-nya. "Ayo kita segera pergi! Aku udah ijin sama daddy, daddy memang baik banget sama aku. Ayo, Jass!" Mayang menggandeng Jasson dan berjalan dengan langkah yang terburu-buru.
Ternyata sial untuk Mayang, teriakan mommy yang tiba-tiba menghentikan pergerakan kakinya dengan seketika.
"Mau ke mana kau, Mayang?" tanya Mommy yang sudah sangat cantik dan wangi seperti hari-hari biasanya.
"Mm ... aku mau ke toko buku, Mom. Ada tugas sekolah jadi aku harus cari buku tambahan," jawab Mayang sambil menundukkan kepalanya.
"Kau tidak sedang membohongi aku kan?" tanya Sandrina dengan tatapan sadisnya yang bisa membuat jantung Mayang berhenti berdetak kapan saja.
Mayang menggelengkan kepalanya dengan masih tertunduk takut.
"Jass, kau jaga Mayang dengan benar! Aku tidak mau dia membuat masalah!" tegas Sandrina pada Jasson.
"Siap, Nyonya," sahut Jasson dengan patuh menuruti perkataan Sandrina.
"Belajar yang rajin dan benar, Mayang! Aku mau kau diterima di Universitas X dan segera pergi dari sini!" ketus Sandrina.
Sandrina melenggang pergi meninggalkan Mayang dan Jasson dengan ciri khas berjalannya yang angkuh. Dan Mayang pun kini bisa bernapas dengan lega karena Mommy mempercayai alasannya, dengan begitu dia bisa segera pergi ke rumah Bunda Amel.
"Ayo, Jass!" Mayang menggandeng tangan Jass dan meminta lelaki itu untuk berlari mengikutinya. Dia takut kalau Sandrina berubah pikiran.