38. Belajar Banyak Hal

2083 Kata
Andika meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja yang ada di dekat Raka kemudian mendekati Mayang. "Seriusan kamu mau nyuci piring? Ntar mommy kamu ngamuk kalau anak kesayangannya suruh nyuci," kata Andika. "Kan beberapa bulan lagi aku mau ke luar negeri, Mas. Jadi harus mandiri, cepetan ajarin aku!" Mayang menarik-narik tangan Andika agar segera mengajarinya. Mayang beneran mau kuliah ke luar negeri? Raka sedih mendengar Mayang akan pergi beberapa bulan lagi. "Aduh ... kalau kamu ke luar negeri terus aku gimana dong, Yang?" tanya Andika sembari mengambil satu buah gelas lalu dia usapkan spon berbuih itu pada benda tersebut. "Ya nggak gimana-gimana dong, Mas," jawab Mayang sambil memperhatikan cara Andika mencuci piring. Mayang dan Andik bersenda gurau dengan tangan mereka yang basah dan penuh busa. Bahkan ada sedikit busa yang mampir di hidung Mayang hingga membuat ke dua orang itu tertawa terpingkal-pingkal. Raka dari kejauhan memerhatikan tingkah sahabat dan juga gadis abege yang mengisi hatinya tersebut dengan pikiran yang ke mana-mana. Meski tangannya terus bergerak membelah buah alpukat menjadi dua lalu dia kerok isinya dan dia masukkan ke dalam blender untuk dijadikan jus pesanan pelanggan, tapi pikirannya tertuju pada Mayang. Ketika Adzan Ashar berkumandang, Raka mengajak Mayang untuk salat bersama. Iya bersama Andika juga di sebuah masjid yang tidak jauh dari cafe tersebut, karena kalau di kamar kecil yang ada di cafe Raka tidak cukup untuk tiga orang. Selepas dari masjid, Raka mengajak Mayang untuk makan, gadis itu minta dibuatkan steak ayam spesial buatan Raka. Maka lelaki itu pun dengan senang hati mengabulkan permintaan Mayang. "Jadi ini ayam filletnya harus dimasukkin ke tepung ya, Mas?" tanya Mayang sambil menusuk-nusuk daging ayam yang ada di dalam wadah dengan ujung kukunya. Agak jijik, jijik gimana gitu, secara Mayang belum pernah terjun ke dapur seumur hidupnya. "Hm ... biar jadi chrispy, Sri. Jadi kamu taruh dulu ke tepung yang kering, lalu masukin ke tepung yang basah, adonannya harus pakai air dingin, kemudian kalau udah masukin lagi ke tepung yang kering," jelas Raka yang sedang memotong bawang bombay untuk sausnya. "Oh gitu, aku cobain ya, Mas?" Mayang menjadi pensaran dan ingin sekali melakukannya. "Coba aja! Cewek harus pintar masak, nanti suamimu mau kamu kasih makan apa coba?" ledek Raka. Mayang memegang ayam itu dengan ujung jari telunjuk dan jempolnya. Wajah gadis itu terlihat tidak nyaman saat daging ayam yang empuk-empuk berwarna pink ke putihan itu menyentuh kulitnya. "Kan suamiku nanti udah pinter masak, jadinya aku yang bakal dimasakin," ujar Mayang sambil meletakkan daging ayam yang ia bawa berpindah pada cawan berisi tepung. "Sok tau banget kamu, Sri. Jodoh itu rahasia Allah, iya kalau beneran pinter masak kalau enggak," sahut Raka yang kini sedang menggeprek bawang putih lalu dia cincang-cincang menjadi serpihan yang halus. "Tapi aku yakin kalau jodohku itu Mas Raka, hehehe," balas Mayang kemudian memamerkan cengiran yang sangat manis pada Raka. "Sok tahu!" cibir Mayang sambil mencebikkan bibirnya. Tadinya jijik, tapi lama kelamaan Mayang malah semakin suka bermain tepung seperti ini. Dasar, masa kecil kurang bahagia. Hahaha .... "Mas Raka, aku udah selesai nyelimutin ayam sama tepung terus diapain lagi?" tanya Mayang. "Kalau udah tinggal digoreng, itu minyaknya udah aku panasin. Kamu masukin aja ke dalam penggorengan!" kata Raka memberikan tutorial. "Iiih ... ngeri ... takut kena minyak panas, Mas," desah Mayang. "Ya, pelan-pelan masukinnya!" Raka mengingatkan. "Cepetan masukin keburu apinya naik ke atas kalau kelamaan dibiarin!" tegur Raka, karena Mayang malah bengong tak juga bergerak. "Eh iya, Mas." Dengan takut-takut, Mayang mengangkat daging ayam yang sudah dia baluri dengan tepung lalu dia dekatkan ke arah wajan yang sudah berisi dengan sepenuh minyak goreng yang panas. "Bismillah," kata Raka membimbing Mayang. "Bismillah." Mayang mengikuti Raka. "Semua perbuatan yang mau kita lakukan itu harus didahului sama Bismillah, May," jelas Raka mengajari Mayang. "Iya, Mas. Aku tahu kok cuma memang sering lupa ngucap," sahut Mayang. "Oh My God!" Mayang heboh ketika ayam itu sudah mulai berenang di dalam minyak dan mengeluarkan bunyi juga buih yang membuat minyaknya ada yang keluar dari wajan. "Hahaha, dasar anak mommy! Gitu aja takut," ledek Raka. Mayang pun memperhatikan Raka yang membuat bumbu steak selepas dia menggoreng ayam. Mayang mengingat-ingat bagaimana caranya dan sesekali bertanya tentang bumbu yang tidak begitu familiar dengannya. Sepuluh menit kemudian, tiga porsi steak ayam sudah siap untuk di santap. Mayang, Andika dan Raka duduk di meja makan dan sibuk menikmati makanan mereka masing-masing. "Enak banget, aku bakalan ingat-ingat resepnya dan nanti akan aku praktektin," kata Mayang dengan mulut penuh makanan. "Yang, ada saos di bibir kamu sini aku bersihin." Andika yang memang lagi berusaha mepet sama Mayang dengan penuh perhatian menarik tisu dan membersihkan sudut bibir Mayang yang belepotan. "Makasih ya, Mas Dika," kata Mayang sambil tersenyum. Dika beneran suka sama Mayang kayaknya. Pikir Raka sambil memerhatikan wajah sahabatnya dan Mayang bergantian. Mayang yang buta soal cinta memang belum begitu peka kalau Andika menaruh hati dengannya, jadinya gadis itu ya biasa aja diperlakukan manis oleh sahabat Raka tersebut. ** Selepas makan, Raka dan Mayang berbincang-bincang di bawah pohon mangga yang ada di depan cafe Raka. Kebetulan pengunjung sudah mulai sepi dan pesanan bisa dihandle oleh tiga karyawan Raka lainnya. "Jadi kamu beneran mau ke luar negeri, May?" tanya Raka pada Mayang yang sedang menyeruput satu cup es teh buatannya sendiri. Di cafe Raka ini Mayang semangat sekali melakukan hal baru yang belum pernah dia coba selama ini. "Hm ... Iya, Mas. Kata Mommy aku boleh jadi dokter asal aku harus tetap kuliah di luar negeri, semakin aku cepat pergi semakin mommy senang," jawab Mayang. "Ada ya ibu yang nggak sayang sama anaknya, aku baru tahu ini," desah Mayang. Raka pun selalu berpikir apa penyebab Ibu kandung bisa membenci anaknya sendiri, anak yang tidak pernah minta untuk dia lahirkan. Namun ... menurut Raka hanya seorang ibu yang nggak waras yang tega menyiksa anaknya. Tidak ada pun hal yang membenarkan kebencian ibu pada seorang anak. "Yang penting sekarang mommy udah nggak pernah lagi mukul aku, Mas. Dan aku jadi sedikit bebas sekarang, buktinya aku bisa main di cafe Mas Raka, daddy udah ngijinin kok," jelas Mayang. "Iya Alhamdulillah, May. Aku turut lega kalau kamu udah nggak pernah disakitin sama mommy kamu lagi," sahut Raka. Pembicaraan antara dua insan manusia ini terhenti sejenak. Mendadak canggung dan memutuskan untuk menikmati semilir angin sore yang menerbangkan apapun yang disentuhnya. Dari tempat Mayang duduk, mobil Jasson nampak tidak telihat. Entah ke mana perginya lelaki itu, Mayang tidak tahu. Mayang sedikit heran juga kenapa Jass malah pergi, bukannya dulu dia yang selalu takut ketika Mayang berdekatan dengan Raka yang selalu disebutnya dengan lelaki asing. "Jadi kamu mau kuliah ke negara mana, May?" tanya Raka menyudahi kesenyapan yang tercipta. "Mommy bilang aku sudah didaftarkan di Universitas X yang ada di Inggris, Mas," jawab Mayang. "Wow ... itu Universitas yang terkenal dan memang keren banget, May. Jadi kamu harus fokus belajar biar kamu bisa lolos masuk ke sana. Buat orang tuamu bangga, May. Dan gapai cita-citamu setinggi langit," kata Raka memberi suport serta nasehat untuk Mayang. "Iya, Mas. Aku selalu mikirin pendidikan aku kok, tapi ...." Mayang menggantung kata-katanya kemudian tertunduk lesu. "Kenapa?" tanya Raka. "Aku harus kepisah jauh sama Mas Raka," jawab Mayang dengan mata berkaca-kaca. "Aku sedih kalau harus jauh dari Mas Raka," imbuhnya. Raka terharu mendengar kerisauan Mayang karena akan hidup jauh darinya. "Mas, aku bakalan balik ke Indonesia selepas kuliahku selesai, kata mommy enam sampai tujuh tahun lagi ... saat aku pulang pasti Mas Raka udah punya anak istri," resah Mayang dan kini satu tetes air matanya pun lolos tanpa bisa ditahan lagi. "May, jangan nangis gitu! Aku kan selalu bilang nggak ada yang tahu jodoh kita siapa," sahut Raka, selalu berusaha berpikir diplomatis dan rasional. "Tapi selama enam tahun itu aku nggak yakin Mas Raka belum menikah," ujar Mayang kembali mengutarakan ketakutan yang ada dalam hatinya. "Nggak usah nunggu enam tahun, pasti Mas Raka habis ini juga udah dapat pacar lagi." Mayang masih terus mengoceh. "Aku udah tobat, May. Nggak mau pacaran lagi, sakit hati terus itu nggak enak, aku mau nurut apa kata bunda, mau nikah tanpa pacaran," jelas Raka. "Nggak perlu kamu khawatirin apapun, May! Cukup belajar aja yang bener," tambah Raka. ** Menjelang maghrib Mayang meninggalkan cafe milik Raka karena Jass sudah menunggunya di depan sana. Selepas Mayang pergi, Andika mengajak Raka bicara berdua. "Kenapa, Dik?" tanya Raka pada sahabatnya tersebut. "Jangan boong deh lu, Ka! Lu suka kan sama Mayang?" tembak Dika langsung ke point yang akan dia bicarakan. "Kenapa lu seyakin itu?" tanya balik Raka bukannya menjawab. "Karena gesture lu menunjukkan demikian. Jangan bikin gue jadi kayak Aji, Ka! Gue nggak mau bikin lu patah hati sama kayak yang Aji lakuin. Jadi, sebelum gue terlalu berharap lebih dari Mayang mending lu jujur tentang perasaan lu sama gue," desak Andika. "Haah!" Raka menghela napas kasar sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa yang ada di ruang pribadinya dan Andika. "Di antara kita nggak ada satu pun yang cocok sama Mayang, kelas kita udah beda, Dik. Mayang pun juga udah bilang kalau dia bakalan dijodohin selepas dia lulus kuliah nanti. Terus apa yang bisa kita harapin dari dia? Ini sama aja kayak pungguk yang merindukan rembulan, Dik," jelas Raka membuat Dika berpikir keras. Iya ... benar memang kasta mereka sangat jauh dari Mayang yang anak konglomerat. "Jadi dia udah ada jodohny?" tanya Andika. "Hm ... setahuku begitu, tapi nggak tahu juga, hidup itu kan rahasia Allah," jawab Raka. "Tapi kenapa Mayang jadi bisa bolak-balik nemuin lu? Bukannya dia takut kalau kedatangannya bakal nyelakain lu?" selidik Andika yang semakin ingin tahu saja perihal Mayang. "Daddy-nya ngijinin Mayang ketemu gue, tapi pasti tanpa sepengetahuan mommy-nya Mayang sie. Kalau sampai macan betina itu tahu, pasti bakalan ngamuk." "Mayang kayaknya naksir sama lu, Ka." Andika mengambil kesimpulan. "Nggak usah ngomongin cinta, Dik!" protes Raka. "Kalian saling suka, tapi nggak mau ngaku," seloroh Andika. "Gue juga nggak tahu apa bisa cinta datang secepat ini? Setelah gue patah hati buat kesekian kalinya," ujar Raka kemudian melenggang pergi meninggalkan sahabatnya. "Gue tau kalian pasti saling suka, Ka. Okelah, mendingan gue kubur harapan gue tenang Mayang," gumam Andika. Biar bagaimana pun Raka lah yang menyelamatkan hidup Mayang, yang sudah mau melindungi Mayang dan mengajarkan Mayang hal apapun demi kebaikan gadis itu. Raka yang duluan bertemu dengan Mayang, jadi dia yang lebih berhak untuk mencintai Mayang. Andika tidak mau mengulang kesalahan yang sama seperti yang sudah pernah dilakukan oleh Aji. Persahabatan tetap di atas segalanya, itu yang dia pelajari dari Raka, yang masih mau membuka pintu maaf yang selebar-lebarnya meski Aji sudah menusuknya dengan tega. ** Mayang belajar dengan tekun demi menggapai cita-citanya yang sangat tinggi. Dia tidak mau mengecewakan orang-orang yang mencintainya, apalagi Raka selalu bilang dengan Mayang jadi anak pintar dan berguna, pasti mommy perlahan akan mencintainya. Iya, setidaknya lakukan yang terbaik demi mendapatkan cinta mommy. ** Pulang sekolah, tumben-tumbenan Jass terlambat menjemputnya. Lalu dari pada bengong di depan gerbang, maka Winda mengajak Mayang untuk kongkow dulu di sebuah warung kecil yang ada di seberang sekolah mereka sambil menunggu Jass datang, kebetulan di dekat warung tersebut juga ada sebuah sekolah. Jadi sekolah Mayang berhadap-hadapan dengan sekolah lainnya. Mayang memesan es kopi s**u dan Winda memesan es capucino cincau. Mereka asyik ngerumpi sambil mengunyah roti bakar berisi selai cokelat. Tak disangka datanglah seorang gadis seusia dengan mereka. Dia adalah Rania, musuh bebuyutan Winda karena dulu mereka pernah suka sama cowok yang sama. "Dih ... kok lu ada di area sekolah gue sie?" tegur Rania dengan gayanya yang tengil. Dia mencolek pundak Winda dengan ujung jari telunjuknya. "Suka-suka gue, dong! Memang ada aturanya gue nggak boleh nongkrong di sini?" ketus Winda. "Udah kalian ini kenapa nggak damai aja, sie?" tegur Mayang. "Ini lagi puteri raja sok-sokan nyuruh damai!" cibir Rania. Antara Mayang dan Rania tidak ada masalah apa-apa, tapi berhubung Mayang adalah sahabat baik Winda, maka Rania juga mengganggap Mayang adalah musuhnya. "Emang dia anak puteri raja, kenapa? Iri bilang, bos!" cemooh Winda membela sahabatnya. "Kalian berdua, ya!" sentak Rania tidak terima diolok-olok oleh dua sahabat yang sangat dia benci. "Apa?" tantang Winda tidak ada takut-takutnya. "Hiiih!" Rania sudah mengulurkan tangannya hendak menjambak rambut Winda, tapi .... "Rania!" Seruan seorang lelaki membuat gadis galak itu menghentikan niatnya. Rania menoleh, begitu pun dengan Mayang dan Winda. Nampak seorang lelaki berjaket denim dengan celana jeans membalut kaki jenjangnya. Lelaki itu sangat gagah dan tampan. Dia berjalan mendekati Rania. "Yang ... itu kan?!" Winda mengenal siapa lelaki tersebut. "Eh, sayangku ... "Rania kecentilan dan berjalan mendekat pada lelaki tersebut. Mayang terpaku menatap Rania menggandeng mesra lelaki itu. Bahkan, si cowok yang umurnya dua puluh tahunan ini nampak mencium kening Rania dengan mesra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN