37. Tentang Jodoh Mayang

1998 Kata
** Mayang melangkahkan kakinya menuju ke kamar Jasson dengan sangat bahagia. Gadis itu bersiul-siul senang. Senyumannya tertarik dengan sempurna menghiasi wajah cantiknya. "Jass!" seru Mayang sambil membuka pintu kamar Jasson tanpa mengetuk pintu. Tanpa disangka, ternyata lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan masih bertelanjang d**a dan tubuh bagian bawahnya hanya ditutupi dengan handuk putih yang membelit melingkar di pinggangnya. "Oh My God!" teriak Mayang sambil menutup ke dua matanya dengan telapak tangan. "Nona!" Jasson kaget bukan main melihat Mayang sudah ada di depan pintu kamarnya. Lelaki itu segera mengambil baju dan celana yang sudah dia persiapkan dan dia letakkan di atas tempat tidur. Jasson berlari dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi lagi. "Jass, apa kamu udah pakai baju?" tanya Mayang dengan suaranya yang kencang. Ke dua telapak tangannya masih setia menutupi pandangan matanya "Sebentar, Nona!" teriak Jass menjawab pertanyaan Mayang. "Jangan lama-lama!" Mayang memperingatkan. Satu menit kemudian. Jass sudah selesai memakai bajunya. Lelaki itu memakai kaos berwarna putih dengan celana panjang berwarna hitam. "Saya sudah selesai, Nona," kata Jasson yang kini berdiri di depan Mayang. Mayang segera membuka matanya. "Jaaas!" seru Mayang dengan senyum gembira yang kembali mengembang di bibirnya. Gadis itu merentangkan tangannya sambil melonjak-lonjak. "Aku bahagia banget, Jass," ungkap Mayang lalu melingkarkan ke dua tangannya di leher Jasson dan masih terus melonjak-lonjak kegirangan. Lelaki itu tidak mengerti hal apa yang membuat nona mudanya sebahagia ini. Jasson justru sibuk menatap senyum Mayang yang semakin membuat wajah gadis belia ini terlihat semakin cantik. "Aku senang ... senang bukan main ... kita harus merayakan ini, Jass," cetus Mayang dengan antusiasme yang sangat tinggi. "Jass, ayo sini!" Mayang menyudahi aksinya lalu menggandeng Jasson untuk ikut dengannya. Gadis itu mengajak Jass berbincang-bincang di atas tempat tidur Jass yang lapang dengan bed cover berwarna biru tua. Mereka kini duduk berhadap-hadapan. "Jass, kamu pasti bingung kan kenapa aku senang sekali?" tanya Mayang. "Hm ... Iya, Nona. Ada apa?" tanya balik Jasson sangat penasaran. "Jadi ... aku baru saja mendengarkan apa isi surat wasiat dari opa. Dan-" "Dan apa, Nona?" potong Jasson tidak sabaran. "Dan ... Opa bilang kalau aku boleh menjadi dokter, lebih bahagianya lagi di situ opa juga berpesan kalau Mommy nggak boleh mukulin aku lagi kalau nggak siapa pun boleh bawa mommy ke penjara. Jass, mau nggak mau mommy harus tunduk sama semua wasiat opa karena kita semua udah tanda tangan di atas materai. Aku seneng banget, Jass," cerita Mayang dengan sangat bersemangat. Wajah gadis itu berbinar-binar. "Selamat, Nona. Anda bisa bebas sekarang," sambut Jass ikut merasakan kelegaan jika nona mudanya ini akan terbebas dari kekerasan ibu kandungnya. "Semoga aja perlahan mommy bisa lebih halus denganku dan bisa mencintai aku. Tapi mommy tadi marah, Jass," adu Mayang, mimik wajahnya berubah sedih. "Iya, pasti Nyonya akan marah dan keberatan." "Mommy marah karena harta opa tujuh puluh lima persen diberikan pada Daddy ... kamu tahu kan kalau mommy itu ... yach ... you know lah ..." "Iya, saya paham, Nona." "Tapi ada satu hal lagi yang masih aku pikirin," desah Mayang. "Apa?" tanya Jass singkat. "Kata opa jodohku nanti daddy yang menentukan berdasarkan kriteria dari opa. Apa itu artinya aku kan dijodohkan, Jass?" Mayang terlihat lesu. Bibirnya yang sebelum ini membentuk senyuman yang sangat manis, kini melengkung ke bawah menciptakan gurat kesedihan yang terpancar jelas dari hatinya. Dijodohkan? Pikir Jass turut merasa kecewa. "Nona-" Baru saja Jass akan menjawab pertanyaan Mayang, tetiba Reyhan masuk ke dalam kamarnya dan membungkam mulut lelaki itu seketika. "Sudah daddy duga kamu pasti ada di sini, Mayang," kata Reyhan yang sejak tadi mencari-cari keberadaan anaknya. "Hm ... aku sedang ngobrol dengan Jass, Daddy," sahut Mayang. "Tapi bisakah kamu meninggalkan daddy berdua dengan Jass? Ada hal yang penting yang ingin daddy bicarakan dengannya." Sebuah perintah yang berkamuflase sebagai sebuah pertanyaan tercetus dari bibir Reyhan. "Oh iya baiklah, Daddy. Aku kembali ke kamarku, ya. Dah ... Jass!" Mayang berdiri dari tempatnya singgah. Dan ... " Cup!" Sebuah kecupan mendarat mulut di pipi Jasson secara tiba-tiba. "Aku sayang sama kamu, Jass. Terima kasih udah jagain aku selama ini," tutur Mayang lalu memeluk Jass. "S-Sama-sama, Nona," sahut Jass dengan terbata-bata. Ini kali pertama ada bibir seorang lawan jenis yang berani hinggap di area wajahnya. Jantung Jass berdegap dengan kencang dan sebenarnya dia pun ingin sekali mengatakan kalau dia pun juga sayang dengan Mayang. "Aku balik ke kamarku dulu, ya, Jass. Daddy udah pelotottin aku," kata Mayang sambil melepas pelukannya. "Perasaan mata daddy biasa aja dech," protes Reyhan. "Hahaha ... akunya aja yang lebay, Dad. Dah daddy!" Gantian pipi daddy yang mendapatkan ciuman dari Mayang. Mayang pun pergi meninggalkan kamar Jasson. Dua lelaki dewasa ini siap untuk berbincang-bincang secara serius. "Jass, aku ingin membicarakan perihal wasiat dari ayah mertuaku padamu," ucap Reyhan memulai pembicaraan. "Sebaiknya kita bicara di ruang kerjaku saja!" ajak Reyhan yang berjalan duluan meninggalkan bodyguard pribadi anak gadisnya tersebut. ** Ruangan berukuran sepuluh kali sepuluh meter ini suasananya sangat sepi. Tidak ada musik, tidak ada suara televisi apapun. Karena Reyhan tidak bisa bekerja dalam keadaan ramai dan banyak suara. Kini dua lelaki yang ada di hidup Mayang duduk berhadap-hadapan dengan meja kaca besar sebagai pembatasnya. Sepeninggal almarhum opa, tak pelak ke dua lelaki ini menjadi orang yang sangat diharapkan almarhum opa untuk bisa menjaga Mayang dengan sangat baik, bahkan mungkin dengan seluruh jiwa dan raga mereka. Karena Mayang adalah segala-galanya untuk opa. "Tentang wasiat opa kamu pasti sudah mendengar apa isinya dari Mayang kan? Dia ke kamarmu pasti untuk mengadu. Benar begitu, Jass?" tembak Reyhan tanpa berbelit-belit. "Iya, saya sudah tahu semuanya, Tuan," ucap Jass. "Dan yang ingin saya bicarakan sama kamu adalah tentang jodoh Mayang," tegas Reyhan. Mendengar itu, jantung Jass dibuat berdebar kencang untuk ke dua kalinya, setelah tadi yang pertama karena mendapatkan ciuman dari Mayang. "Itu tadi yang nona mudanya tanyakan pada saya, Tuan. Apakah nona akan dijodohkan?" Pertanyan Mayang, Jass berikan pada Reyhan agar segera dijawab, karena Jass pun sangat penasaran dengan hal ini. "Tidak ada yang ingin menjodohkan Mayang, Jass," jawab Reyhan. "Lalu maksudnya apa, Tuan?" tanya Jass tidak mengerti. "Biar aku jelaskan, Jass," kata Reyhan dengan serius. ** Mayang kembali ke dalam kamarnya dan mengerjakan semua tugas sekolah yang menumpuk. Beberapa bulan lagi dia akan menghadapi ujian kelulusan jadi dia harus mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. "Kriet ...!" Pintu kamar terbuka, membuat gadis yang sedang fokus dengan deretan angka yang tertulis di buku matematikanya menjadi kaget bukan kepalang. "M-Mommy .... " Mayang terbata dan langsung menundukkan kepala ketika tahu Sandrina lah yang membuka pintu kamarnya. "Anak pintar, kau harus mengikuti semua yang aku katakan!" perintah Sandrina sambil tersenyum setan. "I-Iya, Mommy," sahut Mayang. "Aku mengijinkanmu untuk jadi dokter seperti wasiat opa, tapi dengan satu syarat," jelas Sandrina sambil membelai rambut anak gadisnya perlahan-lahan. "Apa, Mom?" tanya Mayang, mendongakkan wajahnya sejenak untuk melihat wajah mommy kemudian menunduk lagi. "Kau tetap harus menempuh pendidikanmu di luar negeri, apa kau mengerti?" "Jadi aku tetap akan pergi selepas aku lulus sekolah? Mom ... aku bukan gadis yang mandiri, kalau aku tinggal di luar negeri seorang diri lalu bagaimana-" "Jasson akan ikut denganmu. Dia akan ikut ke mana pun kau pergi, Mayang. Tidak usah khawatir!" potong Sandrina yang kini menyandarkan tubuhnya di meja belajar Mayang. "Aku dan Jass tinggal berdua?" "Hm ... kenapa? Asal kau jauh dariku aku pasti bahagia," cetus Sandrina membuat lelehan air mata Mayang seketika itu jatuh membasahi pipinya. "Jass tidak mungkin kurang ajar denganmu, jadi tidak perlu khawatir seperti itu," decak Sandrina. "Belajarlah dengan baik dan cepatlah pergi dari sini!" ketus Sandrina kemudian melenggang pergi meningalkan kamar Mayang. Gadis itu berjalan menuju ke tempat tidurnya. Ia menjatuhkan dirinya di atas spring bed dengan posisi badan tertelungkup. Isakan tangis Mayang semakin kencang dan membasahi bed cover. "Kenapa aku mesti dilahirin sie kalau orang yang ngelahirin aku aja nggak sayang sama aku?" gerundel Mayang. Tak lama setelah larut dalam kesedihannya, ponsel Mayang tiba-tiba berdering. Mayang segera berbalik badan dan beringsut turun dari tempat tidurnya. Gadis itu menyeret langkah kakinya menuju ke meja belajar di mana ponsel itu berada. Begitu layar ia lihat, ada sebuah panggilan suara dari seseorang yang membuat tangis Mayang terhenti seketika. "Halo, Mas Raka." Mayang menjawab telepon dari orang tersebut. "Assalamu'alaikum." Raka memberi salam. "Walaikumsallam, Mas," balas Mayang. "Ada apa, Mas? Kangen aku, ya?" goda Mayang. Meski tidak pernah bertemu, tapi mereka intens berkomunikasi. "Diih ... ge-er. Hahaha ...." Padahal sebenarnya Raka memang kangen sama suara Mayang. "Ya udah kalau enggak kangen aku tutup ni, Mas," ancam Mayang. "Eh ya jangan, dong!" larang Raka. "Makanya ngaku dulu kalau kangen!" Mayang memaksa. Entahlah, kenapa ketika dia ngobrol dengan Raka, rasa sedihnya bisa berangsur hilang. "Iya, Bambang kangen sama Sri," cetus Raka dengan malu-malu membuat Mayang pun ikutan malu. "Kok suara kamu serak gitu? Habis nangis, ya?" selidik Raka. Mayang dan Raka pun bertukar suara cukup lama, hampir setengah jam. Mereka asyik bersenda gurau. Tanpa Mayang ketahui ada lelaki yang hatinya kini sedang patah karena melihat keakrabannya dengan lelaki lain. ** Jass berbaring di atas tempat tidurnya sambil menekuk ke dua tanganya bertindih di belakang kepala. Sorot netra lelaki itu lurus ke depan, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih dengan lampu yang menyala terang. "Jadi aku harus merelakan sesuatu yang belum aku miliki," gumam Jass teringat pada percakapannya dengan Reyhan beberap jam yang lalu. "Aku kalah sebelum berperang," resahnya. "Tapi demi kebahagiaannya aku memang harus berusaha ikhlas. Demi senyumnya agar terus berkembang. Iya ... hanya dengan lelaki itu dia bahagia." Jass memejamkan mata. Rasanya remuk sekali hatinya saat ini, menjadi serpihan kecil yang susah untuk disatukan lagi. Sudah tahu kalau patah hati itu tidak enak, tapi kenapa banyak orang suka sekali jatuh cinta? Iya ... cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan memang akan sangat menyakitkan. Bahkan yang dialami Jass adalah ... dia harus dituntut mundur sebelum ia maju untuk berjuang. Dia diminta untuk mengikis cintanya dengan gadis yang akan dia lihat di sepanjang harinya. "Inilah tugasku ada di sini, seperti perintah orang baik hati yang sudah memungutku dan membesarkan aku ... aku harus menjaganya, melindunginya dan memastikan dia bahagia. Baiklah! Mulai esok akan kutahan semuanya ... " Jass tersingkir dalam kesakitannya yang semakin memperparah perasaannya. ** Hari berganti hari. Hubungan Mayang dan Raka bukannya semakin menjauh, tapi justru semakin dekat. Entahlah, Mayang pun tidak tahu kenapa Jass begitu baik hati dengan mengantar Mayang ke rumah Raka atau hanya nongkrong di cafenya tiga kali dalam seminggu. Yang Mayang tahu, Jass selalu tidak suka setiap kali Mayang membahas apalagi bertemu dengan Raka. Namun, sudah berhari-hari ini hampir sebulan ... Jass tidak pernah memperketat pengamanannya ketika Mayang bersama dengan Raka. Seperti saat ini, pulang sekolah Mayang meminta Jass untuk mengantarkannya ke cafe Raka. Tidak ada penolakan dari lelaki itu melainkan hanya menurut saja apa yang diminta oleh nona mudanya, meski Mayang selalu ijin dengan daddy setiap kali dia akan pergi. Lalu Sandrina? Semenjak ia menanda tangani surat pernyataan yang diminta oleh pengacara almarhum Ardi Soesetya, dia tidak lagi otoriter mengurusi hidup Mayang, dia sibuk dengan dunianya sendiri. "Saya tunggu di mobil, Nona," kata Jass ketika mengantarkan Mayang hingga masuk ke dalam cafe Raka. "Hm ... iya, Jass," sahut Mayang. Gadis itu segera masuk dan mendapati Raka sedang sibuk membantu karyawannya di dapur. "Mas Raka!" seru Mayang sambil menepuk pundak Raka dengan cukup kencang. "Sri, kamu ini ya ngagetin aku aja!" omel Raka yang sedang sibuk membuat jus jeruk pesanan pelanggan. "Hahahha, begitu saja kaget. Dasaar," ledek Mayang. "Mas Raka sini aku bantuin, jadi aku harus apa?" tanya Mayang sambil melepas tas slempangnya dan dia letakkan di atas kursi plastik yang ada di sana. "Adanya cuma nyuci piring, May," jawab Raka. "Ya udah aku cuci piring, dech." Mayang sok-sokan bisa nyuci piring saja, dia melingkas lengan jaketnya hingga tingi ke atas sambil berjalan menuju ke tempat cucian piring yang menumpuk banyak. "Jangan gaya dech, May! Kayak bisa aja," ledeek Raka. "Eh ada Mayang." Andika yang baru saja pulang selepas mengantarkan beberapa makanan di meja pelanggan matanya berbinar melihat kedatangan Mayang. "Mas Dika, ajarin aku cara nyuci piring dong," pinta Mayang yang saat ini tengah sibuk bermain-main dengan spons busa yang sudah diberi sabun pencuci piring.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN