36. Surat Wasiat

2005 Kata
"Di mana Mas Raka, ya?" Mayang celingak-celinguk sambil memegang tali tas ranselnya. Gadis berseragam putih abu-abu dengan dasi melingkar di lehernya ini sangat ingin bertemu dengan Raka. "Kayaknya nggak ada dech yang aku lihat cuma Mas Dika doang," gumam Mayang seraya melemaskan ke dua bahunya karena kecewa berat. Dia sekarang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. Hanya ada empat kamar mandi di cafe Raka, dua kamar mandi cewek dan dua kamar mandi cowok. "Ya sudahlah aku balik lagi ke meja aja," kata Mayang sambil berbalik badan dan .... Mayang kaget bukan main ketika tubuh seorang lelaki menabrak dirinya. Hampir saja dia terjatuh, tapi lelaki itu segera menangkap pinggang Mayang. Pergerakan refleks si lelaki sangat baik dan menyelamatkan Mayang yang bisa akan sangat malu kalau sampai dia jatuh dan dilihat oleh orang banyak. "Mas Raka," lirih Mayang ketika menyadari wajah tampan Raka kini sudah ada di depan matanya. "M-Mayang." Raka terbat-bata menyebut nama Mayang. Berasa kayak mimpi juga bisa bertemu dengan Mayang di cafenya. Raka segera melepaskan pinggang Mayang. Dengan malu-malu dan saling salah tingkah, Raka membuka obrol dengan bertanya kenapa Mayang bisa ada di sini. "Aku diajak temen sekolah aku, Mas. Tadinya aku nggak tahu kalau cafe yang dia maksud itu cafenya Mas Raka, kalau aku tahu mungkin aku bakalan nolak. Iya ... dari pada Mas Raka kena masalah kalau ketemu aku," jawab Mayang sambil menundukkan kepalanya dan menyibakkan sulur anak rambutnya di belakang telinga. Belum apa-apa kita udah berjarak, May. Pikir Raka sedih. "Tumben kamu dibolehin keluar sama mommy kamu?" tanya Raka. Iya ... Mayang kan dikekang banget oleh aturan dari ibunya. "Mommy ke luar negeri, Mas. Dan daddy ngijinin aku buat main, yang penting pas mommy pulang aku udah sampai di rumah," jawab Mayang. Mendadak ada rasa canggung di antara mereka. Tanpa mereka sadari ada dua mata yang mengawasi pertemuan mereka. Siapa lagi kalau bukan Jasson. Meski gadis yang duduk di depannya saat ini tengah sibuk mengoceh dan mengajaknya bicara, tapi Jasson sama sekali tidak menggubrisnya. Fokusnya hanya pada Mayang dan juga Raka. "Tunggu sebentar, Nona!" kata Jasson membungkam mulut Winda seketika. "Jass, mau ke mana?" tanya Winda ketika tubuh gagah Jasson meninggalkan kursi yang dia dudukki dan berjalan menjauh dari meja mereka. "Susah banget ya naklukin si makhluk pluto satu itu," desah Winda sambil menggaruk-garuk kepalanya. Jasson semakin mendekat dan membuat Mayang menjadi ketakutan. "Mas ... ada Jasson," ucap Mayang. Dia tahu kok kalau Jasson tidak suka berdekatan dengan Mayang, karena kata Jass, Raka itu orang asing dan dia wajib siaga kalau-kalau orang tersebut berbuat jahat dengan Mayang. "Iya kamu mending balik lagi ke meja kamu," sahut Raka dengan ekspresi sedikit kecewa. "Nona, kenapa lama sekali?" tanya Jass berbasa-basi. Padahal dia tahu kalau Mayang sejak tadi tidak masuk ke dalam kamar mandi, tapi hanya berdiri dan terlihat mencari seseorang. "Kamar mandinya penuh, Jass. Jadi aku mengantri," kilah Mayang kemudian masuk ke dalam toilet yang kosong. Kini hanya tinggal Jass dan Raka berdua. Lelaki dewasa yang usianya terpaut satu tahun itu, lebih tua Raka, sama-sama memasang wajah dingin dan tegang. "Aku tidak tahu apa maksudmu masuk ke dalam kehidupan nona muda, tapi lebih baik jauhi Nona Mayang kalau kamu masih sayang dengan nyawamu!" tegas Jasson memperingatkan Raka. "Aku nggak punya maksud apapun. Aku cuma iba karena Mayang mendapatkan tekanan batin dan juga fisik dari ibunya," balas Raka. "Ada aku ... aku yang akan melindunginya-" "Tapi dia tetap tersakiti meski ada kamu di dekatnya," tukas Raka meremehkan Jasson. Bukan meremehkan sie, Raka hanya berusaha bicara sesuai fakta yang dia lihat. "A-" Baru saja ingin mematahkan statement Raka tentang dirinya Mayang keburu keluar dari dalam kamar mandi. Jass tidak mau perdebatan ini sama diketahui oleh Mayang. "Ayo, Jass! Aku udah selesai." Mayang melingkarkan tangannya di lengan Jasson. "Ayo, Nona!" Jass dan Mayang pun pergi meninggalkan Raka yang masih berdiri di tempatnya dan menatap punggung Mayang dan Jass yang bergerak bersamaan. "Ya ampun, ke toilet aja pakai dijemput. Kamu itu berlebihan banget ya, Jas," cibir Winda ketika melihat Jass dan Mayang datang. "Cerewet banget kamu, ya. Kan Jasson ditakdirkan untuk terus sama-sama aku. Ya kan, Jass?" ucap Mayang lalu melempar senyum pada bodyguardnya tersebut. Iya seumur hidup aku ingin selalu bersamamu ... Kata hati Jasson berbicara demikian. Sepuluh menit kemudian pesanan Mayang, Winda dan Jasson datang. Satu porsi steak ayam dan milkshake cokelat sudah ada di depan meja mereka masing-masing. Asap panas masih mengebul dengan gelembung-gelembung saos steak yang berwarna cokelat dengan irisan jamur di dalamnya. "Steaknya enak banget lho," kata Winda yang sudah mulai memegang pisah dan garpu di tangan kanan dan kirinya. "Hm ... aku tahu itu," sambung Mayang yang ikutan memegang sendok dan garpunya juga. Selera makannya mendadak meningkat dengan pesat. Makanan ini memang sangat menggoda, eh bukan makanannya, tapi karena dia habis bertemu dengan Raka jadi itu sedikit memperbaiki moodnya. Mayang memotong-motong daging ayam berselimut tepung dengan saos yang melimpah ruah itu dengan bersemangat, lalu sepotong daging masuk ke dalam mulutnya setelah beberapa kali Mayang meniupnya. "Hm ... yummy. Ayo dimakan, Jass! Kenapa malah bengong?" seru Mayang sambil mengunyah. "Iya, Nona." Jass baru mengambil sendok dan pisaunya setelah Mayang menegurnya. "Jass, apa kamu mau aku menyuapimu?" tawar Winda dengan genit. "Tidak usah, Nona!" tolak Jass. "Hahahaha ... usaha terus, tapi nggak ada hasil. Kasian kamu, Win," ledek Mayang ketika melihat raut wajah Winda yang masam. Tanpa ada yang tahu. Raka memperhatikan Mayang dari kejauhan. Entahlah, kenapa dia bisa sebahagia ini karena bisa melihat tawa dan wajah cantik Mayang. ** Malam hari. Di rumah kediaman almarhum Ardi Soesetya. Tuan Reyhan mengumpulkan Mayang dan Sandrina di ruang kerjanya selepas makan malam, tapi sebelum itu perdebatan sempat terjadi di kamar Sandrina, ketika itu Reyhan masuk ke dalam kamarnya dan meminta wanita itu untuk datang ke ruang kerjanya karena akan ada hal penting yang ingin dia sampaikan. "Kau masuk ke kamarku lagi tanpa ijin. Makin lama kau makin tidak tahu sopan santun!" cemooh Sandrina ketika melihat suaminya sudah ada di dalam kamar saat dia sedang ada di dalam kamar mandi. "Aku suamimu, aku bahkan berhak melakukan apapun denganmu," debat Reyhan. "Suami di atas kertas," hina Sandrina sambil menarik satu sudut bibirnya. "Apa kau tidak tahu malu masih ada di sini? Papiku sudah meninggal itu artinya tidak ada lagi yang menginginkanmu di sini? Orang yang sudah memungutmu sudah meninggal, Rey! Jadi sebaiknya kau tahu diri untuk pergi dan enyahlah dari rumah juga perusahaanku sejauh-jauhnya!" geram Sandrina dengan galak. "Apa kau yakin? Justru aku yang bisa menendangmu dari rumah ini," ancam Reyhan sambil melempar senyum setan pada istrinya. "Apa maksudmu?! Lihat saja! Aku akan segera menggugat cerai dirimu!" ancam balik Sandrina tanpa rasa takut. Iya ... wanita angkuh ini tidak pernah takut dengan apapun, apalagi hanya ancaman dari suaminya yang tidak pernah dia anggap. "Ikut aku ke ruang kerjaku! Pengacara Papi sudah menunggu kita," kata Reyhan kemudian melenggang meninggalkan Sandrina yang masih kesal. "Demi Tuhan, lelaki itu benar-benar membuatku muak!" decak Sandrina sambil meletakkan satu tangannya di pinggang dan satu tangan lagi ia tempelkan di keningnya. ** Di ruangan kerja pribadi Reyhan. Pengacara almarhum Ardi Soesetya sudah datang dan menunggu semua anggota keluarga untuk berkumpul. Iya ... hanya tiga orang, Mayang, Sandrina dan juga Reyhan. Wajah Mayang dan Sandrina terlihat tegang, tapi tidak untuk Reyhan yang sudah tahu apa isi surat wasiat yang ditulis oleh ayah mertuanya. "Selamat malam, perkenankan saya untuk membacakan isi surat wasiat yang ditinggalkan oleh Almarhum Tuan Ardi Soesetya kepada seluruh anggota keluarga. Mohon disimak dan diterima dengan lapang d**a setiap keputusan yang sudah Tuan Ardi buat," jelas pengacara keluarga. "Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Ardi Soestya. Dengan senang hati dan tanpa paksaan dari pihak manapun-" "Cepat langsung pada point pentingnya saja, Pak! Tidak usah bertele-tele membacakannya!" potong Sandrina tidak sabaran. "Baik, Nyonya," sahut pengacara tersebut. "Saya menyerahkan seluruh harta, aset dan perusahaan saya yang bernilai dua ratus triliyun rupiah kepada menantu dan anak saya, Reyhan Soesetya dan Sandrina Soesetya dengan bagian tujuh puluh lima persen untuk menantu saya dan dua puluh lima persen untuk anak kandung saya -" "Apa-apaan ini? Kenapa jauh lebih besar untuk Reyhan dari pada aku?" protes Sandrina, padahal pengacara belum selesai membacakannya. "Saya hanya membacakan mandat yang tertulis di surat yang Tuan Ardi buat, Nyonya," jelas pengacara tersebut. Meski Sandrina terlihat sangat emosi, tapi pengacara itu masih santai menanggapinya. "Dengarkan dulu sampai selesai, San!" tegur Reyhan. "Ini pasti kau yang sudah mencuci otak Papiku!" tuduh Sandrina. "Mana pernah aku melakukan itu? Aku bahkan tidak tahu kalau Papi sudah menulis surat wasiat!" bantah Reyhan tidak terima. "Bisakah anda untuk diam dulu, Tuan, Nyonya? Masih ada yang harus saya bacakan," potong bapak pengacara. "Silahkan, Pak!" kata Ardi. "Kepemimpinan di perusahaan sepenuhnya saya jatuhkan pada tangan menantu saya, dialah yang menggantikan semua tugas dan peran saya selama saya masih hidup. Dan saya mengijinkan cucu saya, Mayang Arneshia Soesetya untuk melanjutkan pendidikannya di dunia kedokteran, siapa pun tidak ada yang bisa membantah keputusan saya ini ... " Mayang sangat bahagia mendengar berita gembira ini. Dia pikir harapannya untuk menjadi dokter sudah terkubur bersama opa, tapi ternyata opa memperhatikan pendidikannya ini hingga memasukkannya ke dalam surat wasiat. "Terima kasih, Opa," cetus Mayang dengan mata berkaca-kaca. "Kau senang, Sayang?" tanya Reyhan pada anak gadisnya. "Aku senang banget, Daddy," jawab Mayang. "Dan selepas Mayang menempuh pendidikannya dan menjadi seorang dokter profesional, maka perusahaan akan dipegang oleh suami dari cucu saya dibawah pengawasan dari menantu saya, Ardi Soesetya, dan dia pula yang akan memilihkan jodoh yang terbaik untuk cucu saya. Apabila masih ada kekerasan fisik yang dilakukan oleh anak saya, Sandrina kepada cucu saya, Mayang. Maka siapapun juga saya ijinkan untuk menyeret anak saya ke jalur hukum-" "Apa-apaan ini?" sentak Sandrina makin tidak terima dengan isi surat dari Almarhum Papinya. "Agar tindakan kekerasan yang kerap dilakukan oleh anak saya bisa dihentikan. Dan apabila ada perceraian di antara anak saya dan menantu saya, maka harta saya sebesar tujuh puluh lima persen akan tetap pada menantu saya. Sekian surat ini saya buat secara sadar dan tanpa paksaan dari siapapun. Saya berharap keluarga yang saya tinggalkan kehidupannya semakin membaik dari segala aspek kehidupan." Pengacara tetap melanjutkan membaca meski Sandrina sudah marah besar. Papi keterlaluan! Dia membuatku tidak bisa berbuat apa-apa! Pekik Sandrina benar-benar sangat kecewa. Iya, Tuan Ardi sudah mengantisipasi segalanya. Beliau juga mencoba untuk tetap melindungi Mayang meski pun beliau sudah tidak ada, hak Mayang dalam memilih masa depan pun juga turut beliau pikirkan. Dengan begini Sandrina menjadi tidak bisa berkutik lagi atau apabila dia masih nekad untuk melanggar maka ancamannya adalah masuk bui dan kehilangan banyak harta. Jadi aku tidak bisa menggugat cerai Reyhan. Dengan menjadi istrinya maka harta tujuh puluh lima persen itu pun masih bisa aku nikmati. Pikir Sandrina. "Jadi sudah jelas sekali apa yang Tuan Ardi tinggalkan dan pesan apa yang harus seluruh anggota keluarga turuti. Saya minta untuk semuanya menerima dengan baik dan lapang d**a segala keputusan yang sudah Almarhum buat. Silahkan tanda tangan di sini sebagai persetujuan!" Pengacara tersebut membuka satu buah stopmap, di dalamnya terdapat surat pernyataan yang isinya bahwa setiap yang bertanda tangan di surat ini akan menerima, memahami dan menjalankan amanat dari Tuan Ardi Soesetya dengan sebaik mungkin. Reyhan dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya di atas kertas bermaterai tersebut begitu pun dengan Mayang. Berbeda halnya dengan Sandrina yang amat sangat berat hati menerima keputusan dari mendiang ayahnya. Selepas pengacara pergi karena tugasnya sudah selesai, maka Reyhan dan Sandrina pun kembali berdebat. "Kau senang kan karena berhasil menguasai harta papiku?" sindir Sandrina. "Berhasil kau bilang? Aku tidak pernah berusaha sedikit pun untuk menguasai harta papi," bantah Reyhan. "Mommy, Daddy sudah jangan bertengkar!" pinta Mayang. "Kau hanya anak kecil jadi jangan ikut campur urusan orang tua!" sentak Sandrina. "Jangan berani kau bentak anakku atau pun menyakitinya kalau tidak aku akan menyeretmu ke penjara seperti yang papi minta!" ancam Reyhan. Dengan begini Sandrina pasti tidak akan berani lagi melawan. "Hahaha ... iya ... kau bebas Mayang. Mommy tidak akan lagi menyakitimu, karena mommy tidak mau masuk penjara," celoteh Sandrina sambil mengibaskan ujung rambut anaknya. "Silahkan kalian berdua bercelebracy! Aku muak dengan semua ini!" teriak Sandrina kemudian melenggang pergi meninggalkan ruang kerja Reyhan. Wanita itu berjalan sambil meracau tidak karuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN