Fenna terkejut melihat kedatangan Aji yang tiba-tiba. Wajah wanita itu sampai memerah dan ketakutan parah apalagi melihat ekspresi kemarahan Aji yang meledak-ledak. Sedangkan Raka masih duduk tenang di tempatnya, sesekali senyum kecut tersungging di bibir lelaki itu.
"K-Kenapa ada kamu di sini, Sayang?" tanya Fenna, senyumnya terlihat sangat getir. "Raka, kamu jebak aku, ya?" Raka tak menjawab hanya mencebikkan bibirnya membuat Fenna menjadi kesal.
"Keterlaluan kamu, Fen! Ternyata kamu beneran player!" sentak Aji murka.
Fenna berdiri, mendekati pada Aji dan berusaha memberi penjelasan pada kekasihnya tersebut.
"Ini nggak seperti yang kamu pikirin, Kok. R-Raka ...." Fenna menunjuk Raka dengan jarinya.
"... di-dia yang meminta aku buat datang ke sini. Dia yang ngejebak aku, Sayang." Fenna menyalahkan Raka.
"Iya ... aku udah tahu," tegas Aji. Ditatapnya manik mata Fenna yang berbalut lensa cokelat lekat-lekat.
"A-Aji ... aku ...." Fenna tergagap.
Sialan! Gue dikerjain sama ke tiga lelaki ini. Pekik Fenna seraya menelan ludah kasar.
"Dan gue juga denger lu minta balikan sama Raka," cetus Aji, dia sudah mengganti kata sapaan untuk Fenna, sudah benar-benar tidak ada keramahan lagi untuk wanita penghianat sepertinya. Hati Aji mendadak mati rasa saking sakit sekali karena diperlakukan seperti ini oleh wanita yang dicintainya.
"Ji ... kita bicarain ini berdua oke?" Fenna memegang lengan Aji mencoba mengajak lelaki itu untuk pergi.
Aji melepas dengan kasar tangan Fenna dari lengannya. "Dan gue juga denger kalau lu bakalan ninggalin gue demi Raka!" geram Aji. Mata lelaki itu terlihat memerah dengan otot-otot leher yang menonjol dan rahang yang mengeras.
Fenna kebingungan. Gesture tubuhnya salah tingkah. Sesekali ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, menggaruk-garuk kepala, menghela napas berat. Fenna seperti seorang penjahat yang sudah dikepung oleh banyak polisi hingga dia tidak bisa lari lagi, parahnya polisi memiliki bukti kuat dan membuatnya tidak bisa memberi pembelaan atas dirinya sendiri.
"Cepat putusin gue! Karena gue nggak pernah mutisin cewek duluan!" pinta Aji dengan bentakan yang sangat kasar, lelaki itu tidak dapat lagi menahan emosinya yang justru semakin meledak.
Fenna menggelengkan kepalanya, air matanya menetes dengan deras. "Aku nggak mau putus dari kamu, Ji. Ji ... maafin aku! Aku benar-benar minta maaf!" Fenna memegang erat tangan Aji dan menangis tersedu-sedu.
"Maaf kata lu? Karena Raka nggak mau balik sama lu terus lu nggak jadi mutusin gue gitu? Hah?" Aji membentak Fenna lagi.
"Nggak gitu juga, Ji. Please dengerin aku dulu!" Fenna terus memohon.
Fenna melepas tangan Aji dan beralih mendekati Raka yang masih bersikap santai meski sahabatnya kini tengah bersitegang dengan kekasihnya.
"Brak!" Fenna menggebrak meja dengan kasar.
"Astagfirullah," sebut Raka sambil mengelus dadanya.
"Ini perempuan udah kayak macam ya ngamukan," ledek Andika yang berdiri di dekat Aji.
"Diem lu!" sembur Fenna sambil membelalakkan bola matanya pada Andika.
"Busyet!" Andika geleng-geleng kepala.
"Lu keterlaluan ya, Ka! Lu udah nipu gue dan jebak gue! Tega lu bikin hubungan sahabat lu jadi berantakan kayak gini!" Bukannya intropeksi diri, tapi Fenna malah menyalahkan orang lain. Jelas-jelas dia yang sudah berkhianat.
"Jadi menurut lu gue bakal diam aja gitu lihat sahabat gue punya cewek macam lu? Entah ... dulu pun gue juga heran kenapa bisa jatuh cinta sama lu dan sekarang gue sadar lu itu memang perempuan nggak bener," balas Raka ketus.
"Lu jahat banget Ka ngatain gue gak bener!" Air mata Fenna semakin banjir.
"Terus apa? Lu selingkuh sama sahabat gue dan lu masih cinta sama gue terus ngajakin gue balik? Lu pikir lu bisa ngadalin kita berdua? Enggak, Fen! Lu pemain, tapi kita pelatih!" sentak Raka membuat Fenna malu setengah mati.
"Jadi mending lu pergi jangan pernah ganggu gue atau pun Aji lagi! Dan ... jangan pernah temui Mayang! Dia nggak ngerti apa-apa!" tegas Raka.
"Ji ... kamu masih cinta sama aku kan?" Fenna kembali mendekat pada Aji dengan wajah memelas.
"Iya ... " jawab Aji jutek. Fenna tersenyum, tapi Andika dan Raka mengernyitkan keningnya.
"... tapi itu dulu, sekarang udah enggak," lanjutnya membuat senyum Fenna luntur seketika itu juga. Gelak tawa hadir karena Andika dan Raka yang tidak bisa menahan geli melihat ekspresi Fenna yang kecewa.
"Kamu kok kayak gitu? Aku udah ninggalin Raka demi kamu, Ji."
"Nggak usah nangis! Tangis buaya betina mah nggak mempan buat gue. Udah sekarang putusin gue! Cepat! Gue kan udah bilang gue nggak pernah mau mutusin cewek duluan," jelas Aji sembari melipat ke dua tangannya di depan d**a.
"Ji-"
"Ya udah .... " Aji memotong kata-kata Fenna.
"... untuk pertama kalinya, gue bakal putusin cewek duluan. So, kita putus, ya," ucap Aji, emosional lelaki itu sudah mereda dan bisa memutuskan hubungannya dengan Fenna dengan sangat santai. Lagi pula untuk apa hubungan mereka diteruskan kalau sudah jelas Fenna sudah mempermainkan perasaannya dan juga perasaan sahabatnya. Tidak akan bahagia hidup dalam hubungan yang penuh dengan kepalsuan.
"Kamu tega banget sama aku, Ji!" pekik Fenna tidak terima.
Sial! Niat hati pingin dapat dua-duanya kenapa malah ilang semua. Desah Fenna.
"Lu yang tega! Udah pergi sana! Jangan ulangi lagi! Awas kalau ketemu buaya bisa habis dimangsa lu!" cemooh Aji. Lelaki itu meminta Fenna yang kini sudah resmi menjadi mantannya itu untuk enyah dari hadapannya.
"Awas kalian bertiga!" ancam Fenna sebelum angkat kaki dari cafe Raka.
"Dasar buaya betina!" teriak Andika yang ikutan keki karena dua sahabatnya sudah menjadi mangsa.
Aji terpaku di tempatnya, perlahan air matanya menetes. Lelaki itu menyeka lelehan air matanya dengan segera.
"Njiir ... perasaan tadi kelihatan tegas banget, galak, badas ... eh sekarang malah nangis," ledek Andika.
"Sory ya, Ji. Gue terpaksa lakuin ini, karena gue nggak mau lu semakin sakit," kata Raka sambil menepuk pundak Aji.
"Iya, Ka. Gue paham kok. Makasih, ya," sahut Aji. Aji sama sekali tidak menyalahkan Raka, toh awal mula dia lah yang bersalah karena sudah tega merebut Fenna darinya. Dan mungkin benar ini adalah karma. Hm ... iya ... karma yang dibayar lunas.
"Udah nggak usah nangis! Cewek masih banyak, janda pun banyak yang menggoda. Cuma Fenna gini ditangisin," ledek Andika dengan kocaknya.
**
Seminggu kemudian. Selama tujuh hari ini, Mayang tidak bertemu dengan Raka. Mereka hanya saling sapa melalui pesan. Dan itu pun tidak sepanjang hari karena ada kalanya Mayang harus fokus belajar dan Raka harus fokus mencari uang.
"Yang, kita jalan dulu yuk sehabis pulang sekolah! Mommymu masih di luar negeri kan?" Winda mengajak Mayang untuk kongkow selepas kegiatan belajar mereka usai.
"Hm ... iya, Mommy nanti malam baru sampai ke Indonesia," sahut Mayang.
"Ya udah kita nongkrong dulu aja, aku baru tahu ada cafe yang asyik. Aku mau ajakin kamu ke sana, kan kita nggak cabut dari sekolah," jelas Winda bersemangat.
"Hm ... aku mau banget, Win. Tapi ...." Mayang terlihat gamang.
"Mending kamu ijin sama Daddy kamu aja, Yang! Cepetan gih! Biar kamu nggak sedih mulu mikirin Opa sama Mas Rakamu itu. Hm ... galau mulu dasar abege labil!"
"Iya ... yang udah tante-tante," ledek Mayang.
Mayang segera menghubungi Daddy untuk meminta ijin. Jelas pasti Daddy akan mengijinkannya untuk pergi ke mana pun asal tidak di tempat-tempat terlarang dan maksiat, lagian ada Jass yang selalu siap sedia untuk menjaga Mayang.
"Daddy akan bilang pada Jass untuk mengantarkanmu dan Winda pergi," kata Daddy sebelum panggilan suara diakhiri.
Mayang senang bukan main. Jahat nggak sie kalau di berharap mommy menetap saja di luar negeri dan tidak akan pernah kembali lagi? Hm ... demi sebuah kebebasan dan mental yang sehat.
"Boleh kan, Yang?" tanya Winda dengan mata berbinar-binar.
"Hm ... Iya boleh," seru Mayang kegirangan seperti seorang tahanan yang lepas dari penjara.
"Asyiik ...." Winda bersorak bahagia.
"Jadi entar kita berangkat diantar Jass," kata Mayang membuat Winda semakin bersemangat.
"Ini adalah hari keberuntungan aku. Nanti aku yang duduk di depan ya, Yang. Aku pingin berduaan sama yayangku." Winda mulai halusinasi. Hm ... terlalu terobsesi dengan Jass ini anak.
**
Seperti rencana. Mayang dan Winda pergi ke sebuah cafe yang kata Winda tempatnya asyik banget buat tongkrongan anak muda. Selepas sekolah, seperti biasa Jass sudah menunggu di depan gerbang.
"Silahkan masuk, Nona!" Jass membukakan pintu untuk Mayang, tapi yang nyelonong masuk malah Winda.
"Jass, buat siang ini aku yang duduk di sebelah kamu gantiin Mayang. Nggak apa kan?" Winda sok-sokan minta ijin, padahal dia tidak peduli mau Jass suka atau enggak dia tetap akan duduk di depan, di samping yayank Jass.
"Hm .... " Jasson menutup pintu yang ia buka setelah Winda sudah duduk dengan benar. Hanya Hm saja yang keluar dari mulut dari lelaki dingin itu.
"Makasih ya, Sayang," kata Winda centilnya minta ampun.
"Nona, silahkan masuk!" Jass membuka pintu mobil yang belakang untuk Mayang duduki.
"Makasih ya, Jass," sahut Mayang.
Perjalanan ke cafe yang Winda maksud ternyata membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menitan. Sepanjang perjalanan Winda terus saja mengoceh mengajak Jass bicara meski lelaki itu hanya membalas omongan Winda dengan jawaban yang singkat-singkat, tapi Winda tidak tahu diri dan tetap saja berceloteh sesuka hatinya, sedangkan Mayang? Gadis itu malah ketiduran dan tidak menyimak kelakuan sahabatnya yang sudah sukses membuat Jass menjadi jengah.
"Apa tidak ada cafe lain selain ini?" tanya Jass.
"Nggak ada, Jass. Aku suka cafe ini kayak aku suka sama kamu," jawab Winda diakhiri dengan gombalan. Nggak mempan juga Jass digitun, Win.
Mobil yang Jass kendarai sudah berhenti di tempat yang mereka tuju. Sebuah cafe yang tidak asing untuk Mayang dan Jasson.
"Yang, bangun!" Winda berbalik badan dan mengguncang-guncangkan tubuh Mayang dari tempatnya duduk.
"Udah sampai, Ya? Ya Allah aku pules banget bobonya." Mayang menegakkan badannya yang tadi berbaring di jok yang dia duduki. Begitu ia melihat ada Cafe Raka di depan matanya, gadis itu girangnya tidak karuan.
"Jadi cafe ini yang kamu maksud, Win?" tanya Mayang kesenangan.
"Iya, Yang. Best bangetlah pokoknya, aku udah dua kali diajak ke sini sama abangku. Ayo buruan!" Winda membuka pintu mobil sendiri, sedangkan Jass membukakan pintu untuk Mayang. Kesel juga karena Jass tidak memperhatikannya.
"Jass, aku boleh masuk ke dalam?" tanya Mayang pada Jass. Mengingat ini adalah cafe milik Raka.
"Hm ... Tuan sudah mengijinkan maka masuklah, Nona!" jawab Jass dengan berat hati mengijinkan.
"Thanks ya, Jass. Ayo!" Mayang menggandeng tangan Jasson.
"Kamu ikut juga sama kami, ya," kata Mayang.
"Tidak, Nona! Saya mengawasi anda dari sini saja," tolak Jass.
Winda ikut-ikutan menggandeng tangan Jass yang satu lagi, tanpa ijin dan main comot tangan Jass yang nganggur kemudian nyengir kuda setelah si empunya tangan menoleh. Jadilah, Jass diapit oleh dua gadis abege yang cantik-cantik.
"Kita nongkrong bareng ya, Jass!" ajak Winda.
Baiklah! Jass pun menuruti permintaan dua anak abege labil yang ada di kanan dan kirinya. Mereka menyebrang membelah jalanan yang lumayan padat siang ini.
Kenapa aku deg-degan banget? Duh ... kangen banget aku sama Bambang. Pikir Mayang yang jadi tidak fokus.
Ketika kaki Jass dan Winda sudah melangkah, tapi gadis itu malah bengong dan diam di tempatnya hingga tangan Jass yang ada di genggaman tangannya terulur. Jass berbalik badan untuk melihat kenapa Mayang masih diam?
"Nona, ayo!" tegur Jass.
"Eh, iya!" sahut Mayang menghentikan lamunannya.
Ke tiga orang itu pun kini ada di depan pintu masuk cafe Raka.
Kalau bukan karena pesan Tuan Reyhan, aku tidak akan pernah mau membawa Nona datang ke sini. Gerutu Jasson sambil menyelipkan kaca mata hitam untuk menutupi ke dua mata elangnya.
"Kita duduk di sana saja." Winda yang memilihkan mereka tempat untuk nongkrong. Meja nomor tiga belas. Hm ... bukannya itu angka sial?
Jass dan Mayang menuruti permintaan Winda. Suasana cafe Raka terlihat ramai dan hanya menyisakan dua meja saja dan yang satu yang sekarang mereka duduki, jadi hanya bersisa satu meja lagi yang kosong.
Mayang menyisirkan pandangan matanya. Jass mengamati Mayang dari balik kaca mata hitamnya.
Pasti Nona Mayang mencari Raka. Batin Jass tidak suka.
"Pelayan!" Winda melambaikan tangannya dan satu orang karyawan Raka datang dengan membawa nampan dan juga tiga buah buku menu.
"Silahkan, Kakak! Mau pesan apa?" Pelayan wanita itu sangat ramah.
"Win, aku kayak kamu aja, ya. Aku mau ke toilet dulu. Bentar, ya!" pamit Mayang.
Jass terus mengawasi nona mudanya. Inilah gunanya memakai kaca mata hitam agar pergerakan matanya tersamarkan.
Mayang mempercepat langkahnya mendekati toilet yang letaknya berdekatan dengan pantry. Mayang sama sekali nggak kebelet pipis, dia cuma cari alasan doang. Dia cuma ingin melihat Raka yang biasanya suka membantu karyawannya di dapur kalau cafe lagi ramai seperti ini.