34. Misi Penjebakkan

1907 Kata
** Malam ini Raka dan Mayang dilanda kegalauan parah. Mereka sama-sama tidak bisa memejamkan mata karena ingatan mereka saling terkait satu sama lainnya. "Mungkin cuma hubungi lewat telepon nggak apa kali, ya. Toh mommy dan anak buahnya nggak akan tau kan," gumam Mayang. Maka diraihlah benda pipih bernama ponsel yang ia letakkan di atas meja yang ada di dekat ranjangnya. "Kalau cewek hubungin cowok duluan itu boleh apa nggak sie sebenarnya?" Mayang masih ragu untuk menghubungi Raka duluan. Kemarin pun karena terpaksa saking kepikirannya dia sama Raka. "Aku telpon Winda aja, dech," kata Mayang yang akhirnya malah memutuskan untuk menghubungi Winda. Niat hati meminta saran sama temannya tersebut yang udah pengalaman masalah berhadapan dengan lawan jenis. "Wiiin, kamu belum bobo kan?" tanya Mayang sambil mengerucutkan bibirnya, manyun. "Belum, Yang. Kenapa? Eh, kemarin kamu ke mana?" Winda mulai kumat keponya. "Udah dibilang nggak usah nanya-nanya!" sungut Mayang. "Hm ... dasar pelit!" omel Winda. "Terus kenapa kamu nelpon aku malam-malam?" tanya Winda dengan nada jutek. "Jadi aku ... Mm .... " Mayang terdengar malu-malu untuk bertanya. "Apa? Heh! Jangan kayak anak perawan desa gitu dech!" cela Winda kemudian terkekeh. "Memang aku masih perawan. Apaan lu? KTP aja belum punya. Winda, aku mau tanya kalau cewek nelpon cowok duluan itu boleh nggak sie?" Akhirnya Mayang memberanikan diri untuk bertanya. "What? (Apa?) Nggak salah denger aku? Memang siapa yang mau kamu telpon, Yang? Dih ... udah mulai cinta-cintaan, ya? Hayoo ... ngaku!" goda Winda dengan bersemangat. Sudah diduga, Winda pasti akan membullynya habis-habisan. "Ayo jawab! Ntar aku kasih tahu dech kemarin aku ke mana," bujuk Mayang agar Winda mau berhenti meledeknya dan menjawab pertanyaannya. "Beneran, ya? Awas kalau boong!" Winda takut Mayang hanya ngeprank dia doang. "Iya-iya, bawel!" sungut Mayang. "Tergantung seberapa tebal muka ceweknya, Yang." Winda menjawab pertanyaan Mayang yang ia lontarkan beberapa saat sebelum ini. "Kok gitu? Aku aja nggak pernah pakai bedak, paling oles-oles dikit. Jadi muka aku nggak tebel. Astagfirullah, ini maksudnya gimana sie, Win?" Mayang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Winda. "Hahaha. Dasar dodol!" ledek Winda. Dia selalu bersemangat ketika meledek sahabatnya. "Terus gimana maksudmu?" Mayang bertanya dengan nada memelas. Niat hati mencari pencerahan yang ada malah semakin dibuat puyeng. "Nggak ada aturan cewek nggak boleh nelpon cowok duluan, tapi kalau emang si ceweknya bisa nahan malu karena udah hubungin cowoknya duluan ya nggak masalah. Hm ... emansipasi wanita sie sebenarnya," jelas Winda. Itulah yang dimaksud Winda tergantung dengan seberapa tebal mukanya. "Jadi gitu ...." Malu juga sie kalau harus telpon Mas Raka duluan, tapi .... Mayang berpikir. "Jadi kemarin kamu pergi ke mana sampai dicariin pacarku ke mana-mana?" Winda menagih janji Mayang yang akan memberitahunya ke mana dia pergi kemarin. "Pacarmu? Siapa? Jadi kamu udah punya pacar lagi setelah putus dari Bastian?" Bukannya menjawab, tapi Mayang justru salah fokus dengan kata pacarku yang diungkapkan oleh Winda. "Lagian memangnya pacar kamu kenal aku sampai ikut nyariin aku?" imbuhnya. "Ya kenal bangetlah sama kamu. Pacarku adalah Jasson Arkadinata. Huwaaa ... sayang banget tadi aku ketemu dia, tapi cuma bisa lirik-lirik doang. Abisan ada bokap nyokap aku dan orang tua kamu. Hm ... makin ganteng aja dia dari hari ke hari," celoteh Winda sambil membayangkan wajah Jasson yang tampan, tapi datar. "Oh begitu, jadi kamu lagi ngajak aku berhalusinasi kayak author-author Innovel? Okelah aku jabanin. Hm ... dasar!" cemooh Mayang sambil mencebikkan bibirnya. "Hahahaha. Dasar kamunya aja yang terlalu serius jadi orang. Sok atuh jawab kemarin kamu ke mana?" Winda rasanya bosan mengulang pertanyaan itu hingga berkali-kali, tapi tak juga mendapatkan jawaban dari Mayang. "Aku tersesat dan ketemu cowok baik banget namanya Mas Raka," jawab Mayang berkhilah. Iya ... meski sudah lama berteman, tapi Winda tidak tahu kalau Mayang kerap disiksa oleh ibunya. Jadi, Mayang berusaha untuk menutupinya dari Winda. "Kenapa bisa tersesat?" selidik Winda. "Kamu kan nggak pernah pergi keluar tanpa Jass," imbuh Winda. "Panjang ceritanya, pokoknya gitu, dech. Ya udah, ya. Besok lagi ngerumpinya, aku mau bobo." Mayang cepat-cepat menutup sambungan teleponnya sebelum Winda semakin mendesaknya untuk bercerita banyak. "Siiialan ini Si Mayang," desah Winda kesal. Ternyata keputusannya untuk menelpon Winda bukanlah jalan keluar yang tepat. Nyatanya Mayang masih galau antara ingin menelpon Raka atau tidak. Beberapa saat kemudin ponsel Mayang yang ada di tangannya bergetar. Ada satu pesan masuk ke dalam aplikasi handphone-nya. Sebuah chat singkat yang mampu membuat Mayang melebarkan ke dua sudut bibirnya. "Mas Raka." Mayang menyebut nama si pengirim pesan dengan mata berbinar-binar. "May, jangan lupa salat dan jaga kesehatan!" Mayang membacakan isi pesan dari Raka. Sebuah chat yang hanya berisi tujuh kata, tapi bisa membuat Mayang mendapatkan banyak energi. "Terus aku harus balas apa, Ya?" Mayang nerves secara mendadak. "Nona, apa anda sudah tidur?" Terdengar suara Jasson dari arah luar kamar Mayang. "Masuk aja, Jass! Aku belum tidur," teriak Mayang dan tak lama pintu kamar Mayang terbuka lebar. Jass masuk dengan membawa satu gelas s**u cokelat untuk Mayang. "Nona, jangan lupa minum s**u! Jangan sampai anda sakit!" kata Jass memperhatikan Mayang. "Taruh saja, Jass!" sahut Mayang tanpa menoleh bahkan melirik ke arah Jasson pun tidak. Dia sibuk menatap layar ponsel dan bertukar pesan dengan Raka. Siapa yang sedang Nona Mayang kirimi pesan? Kehadiranku sampai tidak dianggap. Desah lelaki itu kesalnya bukan main. Ingin sekali rasanya dia merampas handphone Mayang agar gadis itu mau fokus dengan dirinya. "Nona, ini sudah malam," tegur Jass. "Iya, aku tahu, Jass." Masih serius dengan kegiatannya. "Minum s**u anda segera!" perintah Jass dengan nada yang mulai meninggi. Mayang baru menoleh ketika mendengar perubahan intonasi bicara Jass. "Iya-iya, Jass. Tumben kamu galak banget," gerutu Mayang sambil meletakkan ponselnya ke tempat di mana tadi dia mengambilnya. "Mana." Mayang mengulurkan tangannya ke arah bodyguard-nya, maka segelas s**u cokelat itu pun kini beralih ke tangan Mayang. Gadis itu segera meneguk minuman tersebut hingga habis tanpa sisa. "Kata Mas Raka aku harus sehat, Jass. Aku nggak boleh sakit dan selalu ingat buat salat," celoteh Mayang sembari meletakkan gelas kosong di atas meja. Jass hanya diam, tidak berkomentar apapun. Sifat dinginnya kembali muncul. "Istrirahatlah, Nona! Dan jangan buat masalah lagi!" Jass memperingatkan kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar Mayang. "Jass ini kenapa, ya? Dasar aneh!" cibir Mayang ketika lelaki itu sudah menghilang dari balik pintu. ** Pagi harinya. Aji dan Andika berkumpul di Cafe milik Raka, Raka tetiba meminta mereka untuk datang padahal cafe masih dalam keadaan tutup dan baru buka lagi besok. Ada hal penting yang akan dia tanyakan kepada ke dua sahabatnya tersebut. Ini masih tentang Mayang. Raka sangat penasaran siapa orang yang sudah memberitahu Mayang tentang kejadian mengerikan yang menimpa dirinya di malam itu. Jelas bukan Aji atau pun Andika, karena mereka berdua sedang nongkrong bersama Raka saat seseorang memberitahu Mayang. "Gue yakin bukan kalian berdua, tapi gue minta kalian buat jujur! Adakah orang lain yang kalian kasih tahu perihal masalah gue ini?" tanya Raka dengan sangat serius. "Gue nggak kasih tahu siapa pun juga," jawab Andika dengan tegas dan sedikit ngotot karena takut disalahkan. Sedangkan Aji terlihat sesekali menundukkan kepala dan salah tingkah. Ini pasti kerjaan Fenna. Pikirnya. "Dan lu, Ji?" tanya Raka membuat Aji langsung mendongakkan wajahnya untuk menatap Raka. "Sorry, Ka. Gue keceplosan ngasih tahu Fenna," jawab Aji dengan rasa penyesalan yang ada dalam hatinya. "Ck!" Raka berdecak sambil menepuk keningnya. "Lu kenapa ceroboh banget sie, Ji? Asal lu tahu, ya! Fenna itu masih nggak terima gue putusin. Dia juga cemburu banget pas tahu gue deket sama Mayang. Dan gue yakin dia pasti yang ngebocorin ini semua sama Mayang dan intimidasi Mayang buat nggak deket-deket lagi sama gue," jelas Raka dengan raut wajah kesal. "Ya gue bisa nggak sadar gitu pas cerita sama dia dan gue nggak mikir sampai ke sana kalau Fenna bakal laporin ini sama Mayang," kata Aji dengan raut wajah tidak bersemangat. "Ji, mending lu pikirin lagi dech hubungan lu sama Fenna! Dia udah berani hianatin Raka dan suatu saat nanti gue yakin lu pasti bakal bernasib sama kayak Raka. Gue yakin, Ji. Karma itu ada dan menurut gue Fenna itu cewek ngak bener," timpal Andika menasehati sahabatnya. "Kalau lu nggak percaya kalau Fenna masih cinta sama gue, gue berani ngetest dia," sambung Raka dengan keyakinan yang sangat tinggi. Benar kata Andika, Fenna bukan cewek baik-baik. "Gimana caranya?" tanya Aji. Wajahnya sudah mulai tegang, biar bagaimana pun dia cinta sama Fenna. Iya ... cinta yang salah karena hadir ketika pertama kali Raka memperkenalkan Fenna padanya. Raka mengambil ponselnya. "Biar gue chat Fenna sekarang," kata Raka. "Gue mau ajak dia buat ketemuan di Cafe," imbuhnya. Jari jemari Raka menari lincah di layar sentuh untuk mengirim pesan pada mantan kekasihnya tersebut. "Kita lihat bagaimana reaksi dia," ucap Andika yang sangat penasaran juga. Aji terlihat tidak tenang. Ada rasa khawatir, takut ... entahlah, kerja jantungnya dirasa lebih cepat dari biasanya. Hanya beberapa detik, ponsel Raka berbunyi. Balasan chat dari Fenna datang. Raka tersenyum sambil mengarahkan layar ponselnya pada Aji dan Andika. "Oke, tunggu ya, Ka." Andika membacakan pesan Fenna. "Njiir ... mau lho dia diajak ketemuan sama Raka," gerutu Andika sambil geleng-geleng kepala. "Jadi sekarang mending kalian sembunyi dan motor lu parkirin dulu di mini market dekat cafe, Ji! Biar Fenna nggak curiga. Cepet! Buruan! Dia udah otewe ini," perintah Raka dan mereka berdua pun segela melaksankannya. Setengah jam kemudian. Fenna sudah datang dan duduk berhadap-hadapan dengan Raka di salah satu meja yang ada di dekat dapur. Sengaja memilih sedikit masuk ke dalam agar Andika dan Aji yang bersembunyi di balik pantry bisa mendengar percakapa Raka dan Fenna dengan jelas. Misi penjebakkan dimulai. "Ka, cafe kamu tutup, ya?" tanya Fenna berbasa-basi. Wanita itu terlihat sangat cantik, mungkin riasannya lebih mencolok dari biasanya. Dan harum parfum wanita itu pun semerbak hingga Andika dan AJi bisa ikut merasakan wanginya. "Kayak kuburan baru," bisik Andika di telinga Aji. Kembali ke Raka dan Fenna. "Iya, cafe gue tutup," jawab Raka sesuai pertanyaan. "Gimana luka kamu udah sembuh, Ka?" tanya Fenna sok perhatian membuat Aji di tempat persembunyiannya menjadi kepanasan. "Saabaar, Ji!" Andika mengelus-elus punggung sahabatnya. "Iya, Alhamdulillah. Dari mana lu tahu aku dikeroyok orang? Aji yang bilang?" selidik Raka, meski tanpa bertanya pun dia sudah tahu jawabannya karena Aji sudah mengaku padanya. "Iya, Aji yang cerita. Tau nggak sih, Ka? Aku khawatir banget pas tahu kamu dianiaya sama anak buah Ibunya Mayang, aku pingin banget nemuin kamu, tapi aku pura-pura cuek di depan Aji biar dia nggak cemburu," tutur Fenna dengan mudahnya membuat kobaran api di hati Aji semakin menyala besar. "Terus lu datang ke rumah gue dan ketemu Mayang di sana, terus lu ngaduin kelakuan nyokapnya ke dia dan minta dia buat ngejauhin gue. Gitu kan?" tembak Raka membuat Fenna menelan ludah kasar. Sial! Jadi Mayang ngadu sama Raka. Umpat Fenna dalam hati. "Ma-Mayang ... dia ngadu sama kamu?" tanya Fenna. "Nggak! Dia nggak bilang apapun sama gue," jawab Raka sedikit ketus. "Ka, Ibunya Mayang itu bahaya buat nyawa kamu. Lagian ngapain sih kamu sok peduli sama anak abege itu? Mending kamu balik lagi sama aku ...." Fenna berusaha menyentuh tangan Raka, tapi segera ditepis kasar oleh Raka. "Aku bakalan ninggalin Aji demi kamu, aku khilaf, Ka. Serius," bujuk Fenna dengan wajah memelas. Air mata buaya mulai terlihat mengembun di pelupuk matanya. "Njiiir ... bener-bener player ini cewek!" desah Andika keheranan. Sedangkan Aji sudah terlihat mengepalkan tanganya karena geram. "Gue nggak bisa diem!" kata Aji emosi. "Anyiing! Sabar dulu napa!" Andika menggeret jaket Aji ketika lelaki itu hendak keluar dari persembunyian. "Gue nggak bisa lagi sabar!" sentak Aji sambil mengibaskan jaketnya yang ditarik oleh Andika. "Begitu cara lu ya, Fen!" teriak Aji murka sambil menunjukkan jarinya ke arah sang kekasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN