33. Hanya Sandiwara

2192 Kata
** Mayang sudah bersiap akan pulang ke rumah hanya tinggal menunggu Jasson menjemputnya. Gadis itu duduk di bangku yang ada di depan rumah Raka sambil memeluk mukena yang diberikan oleh Raka. Tak lupa ia pakai juga alas kaki yang lelaki dewasa itu hadiahkan. "Mommy boleh pukul aku, tapi jangan Mas Raka!" lirih Mayang sembari menyeka lelahan air matanya. Angin malam berhembus, menyentuh kulit Mayang yang hanya mengenakan kaos berlengan pendek tanpa jaket. Gadis itu mendekap dirinya yang kedinginan dengan erat. Lalu, sebuah jaket tebal tetiba mampir dan menutupi tubuhnya. Mayang menoleh dan melihat Raka sudah berdiri di belakangnya. "Dingin sekali. Jangan sampai kamu sakit!" kata Raka memperhatikan Mayang. Mungkin ini perhatian terakhir yang bisa dia berikan untuk Mayang. Mayang tersenyum simpul. "Terima kasih, Mas," sahutnya. "Tiiin ... tiin ...!" Suara klakson terdengar nyaring dengan sorot lampu mobil yang membuat Raka dan Mayang dengan kompak memicingkan mata mereka. Mobil itu berjalan pelan dan berhenti tepat di depan Raka dan Mayang. Tak lama Jasson turun untuk dari dalam kursi kemudi dan menghampiri Mayang. Selalu saja wajah lelaki itu terlihat dingin dan datar. "Ayo kita pulang, Nona!" ajak Jasson sambil mengulurkan tangannya pada Mayang. "Iya, Jass," jawab Mayang dengan berat hati ia memang harus meningalkan rumah Raka. Mayang berdiri dari tempat duduknya, tapi sebelum itu ia menyempatkan diri untuk melihat Raka yang sesekali terlihat melemparkan pandangan matanya ke atas. Iya, Raka tidak ingin Mayang tahu kalau dirinya sedang dilanda kesedihan yang mendalam hingga matanya kini memerah. "Mas, aku pulang, ya," pamit Mayang. Raka menganggukkan kepalanya. Kemudian menoleh ke belakang sejenak untuk menghapus lelehan air matanya yang tidak mampu lagi dia tahan. "Iya, kamu baik-baik, ya! Belajarlah yang pintar! Kamu harus bisa membuat orang tuamu dan Almarhum opamu bangga, Mayang," pesan Raka untuk gadis itu. Untuk kesekian kalinya Mayang menangis. Jadi, dalam dua hari ini dia harus merelakan dua lelaki baik yang sangat berarti untuknya? Hah ... Mayang sangat sedih dan tidak bisa lagi mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. "Iya, aku akan selalu ingat nasehat Mas Raka," kata Mayang dengan suara yang bergetar. "Jangan lupa salat juga!" imbuh Raka. Mayang tersenyum. "Siap, Bambang ... aku ... aku pasti akan sangat merindukan Mas Raka." Mayang menangis terisak-isak. "Sudah malam, Nona. Ayo!" Jasson tidak nyaman melihat adegan perpisahan antara Mayang dan lelaki asing yang menjadi pesaingnya. "Iyaa, Jas." Mayang masuk ke dalam mobil segera dan meninggalkan Raka. "Tolong jaga Mayang!" pinta Raka pada Jass. "Tanpa kamu minta aku akan menjaganya," tegas Jasson tanpa memandang wajah Raka. "Permisi!" pamitnya kemudian berbalik badan. Raka masih berdiri di tempatnya, menatap mobil mewah Mayang yang dikemudikan oleh Jass yang perlahan menjauhinya. "Bahkan rasanya ini lebih sakit dari kenyataan diselingkuhi sama Fenna dan Aji. Kenapa gue bisa kayak gini? Mayang itu seusia Rania, adek gue sendiri, pantas nggak kalau gue nyimpan rasa sama dia? Dan ... kasta kita berbeda, itu yang pasti akan membuat kita berjarak dan susah buat disatuin," gumam Raka. ** Mobil berwarna hitam keluaran terbaru yang Mayang tumpangi berjalan dengan kecepatan sedang menembus jalanan ibu kota yang masih ramai di jam seperti ini. Gadis itu melihat ke luar jendela, melamun, masih sedih sepeninggal opa dan juga berpisah dengan Raka. "Nona, apa anda sudah makan?" tanya Jass memecah kebisuan di antara mereka. "Aku tidak lapar, Jass," jawab Mayang. "Nanti anda sakit." "Aku udah sangat sakit karena kelakuan Mommy, Jass. Dan ...." Mayang mengubah posisi duduknya, beralih menatap Jasson yang fokus melihat jalan agar mobil yang dikemudikannya tidak menabrak kendaraan yang lainnya. "... apa kau tahu kalau Monny menyuruh anak buahnya untuk memukuli Raka, Jass?" tanya Mayang dengan sorot mata yang menghakimi, seolah dia bukannya bertanya, tapi menuduh. Iya ... karena Jass selalu tahu apapun yang terjadi di rumah mereka, tentang dirinya dan juga tentang rencana yang mommy buat. "Saya tidak tahu, Nona," jawab Jasson. Entah sedang berbohong atau tidak, nyatanya nada bicara Jass memang selalu datar. "Aku nggak percaya kalau kamu nggak tahu. Kamu selalu tahu apapun yang Mommy lakukan, Jass. Kamu pasti juga tahu kalau malam itu Mas Raka dikeroyok Mang Usman dan kawan-kawannya kan, Jass? Jawab, Jass!" desak Mayang dengan teriakannya yang kencang hingga membuat telinga Jasson berdenging. Shit! Raka lagi Raka lagi! Jasson mendesah kasar dalam hatinya. "Saya benar-benar tidak tahu, Nona. Terserah anda percaya atau tidak," jawab Jass pasrah. "Jass ... Mommy meminta Mang Usman dan anak buahnya mengeroyok Mas Raka. Mereka mau membunuh Mas Raka kalau Mas Raka nggak mau jauhin aku ...." cerita Mayang dengan sangat emosional. "... Jass ... Mommy udah sangat keterlaluan ... kenapa Mommy nggak suka sama Mas Raka? Dia baik, Jass. Di malam itu dia yang jagain aku, yang nolongin aku ... harusnya Mommy berterima kasih sama Mas Raka .... " Cukup, Nona! Jangan sanjung lelaki itu terus di hadapanku! Jass menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak menggubris ocehan Mayang tentang Raka. "Dan karena aku nggak mau Mas Raka terkena masalah lagi, aku udah mutusin buat nggak lagi ketemu dia, tapi aku ... aku sedih banget, Jass. Baru pertama kali aku kenal sama teman lelaki yang sebaik Mas Raka ...." "Nyonya Sandrina sudah bilang, jangan berteman dengan lawan jenis apalagi jatuh cinta sebelum kuliah anda selesai, Nona," tutur Jass mengingatkan larangan Sandrina pada Mayang. "I'm just friends, but I'm like a criminal (Aku hanya berteman, tapi aku seperti seorang kriminal)." "Tapi anda berlebihan tentang Raka dan itu yang membuat Nyonya tidak suka," ucap Jass. Bukan hanya Nyonya besar, tapi dirimu juga kan Jass? "Berlebihan yang bagaimana, Jass? Iya ... aku sadar ... ini pertama kalinya buat aku, Jass. Aku berteman dengan orang lain selain Winda. Dan aku nyaman sama Mas Raka ... usiaku sudah enam belas tahun, teman-temanku aja udah beberapa kali jatuh cinta, tapi aku dilarang? Hah?" "Semua alasan sudah pernah Nyonya Sandrina katakan pada anda, Nona. Kenapa beliau membuat aturan seperti itu." "Jass ... tapi aku manusia, aku punya hati, aku punya perasaan. Sekarang aku baru ngerasain apa yang teman-teman aku rasain. Jatuh cinta!" Mayang menekan dua kata terakhir yang dia ucapkan. "Hanya beberapa hari kenal dan jatuh cinta? Saya rasa ini cinta monyet," cibir Jasson dengan gayanya yang santai. "Kamu akan tahu nanti, Jass! Kalau kamu udah ngerasain apa yang namanya jatuh cinta!" tegas Mayang sambil mencebikkan bibirnya. Jatuh cinta membuat gila. Itu saja yang saya rasakan. Sahut Jass dalam batin. "Aku rasa akan susah buat aku untuk ngejauhin Mas Raka, Jass. Aku mau selalu ada didekat dia," keluh Mayang sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar. ** Sampai di rumahnya yang seperti istana kepresidenan. Mayang berjalan dengan langkah malas masuk ke dalam rumah. "Yaang!" teriak Winda dan berhambur memeluk sahabatnya dengan erat. Jadi ada Winda, Ibunya alias Ibu Christin kepala sekolahnya dan juga ayahnya Winda datang ke rumah Mayang untuk bertakziah. "Winda!" Mayang membalas pelukan sahabatnya. "Aku turut berduka ya, Yang. Aku tahu kamu sayang banget sama Opa kamu, kamu pasti terpukul banget," ujar Winda memberikan ucapan duka cita. "Iya, Win. Aku udah nggak punya Opa lagi sekarang," tutur Mayang sedih. Di ruang tamu itu tidak hanya ada ke dua orang tua Winda, tapi ada juga Reyhan dan juga Sandrina, orang tua Mayang. "Mayang ... ayo sini duduk, Sayang!" perintah Sandrina yang berlagak sok baik karena ada orang lain di antara mereka. Mayang dan Winda saling melepaskan pelukan mereka. Mayang berjalan mendekat pada mommy sambil menundukkan kepala, cara jalannya masih terlihat sedikit pincang efek kakinya yang masih terasa nyeri karena tertusuk pecahan piring tadi pagi. "Sini, Sayang!" Mommy berakting seperti ibu normal yang mencintai dan menyayangi anaknya. Sandrina meminta Mayang untuk duduk di tengah di antara dirinya dan juga Reyhan, suaminya. Iya ... berlagak seperti keluarga yang harmonis dan bahagia. "Kenapa jalanmu pincang, Mayang?" tanya Ibu Christin yang sejak tadi memperhatikan anak didiknya tersebut. "Oh, Mayang kakinya terkilir, Bu. Ini dia baru saja pulang dari dokter diantar oleh Jass." Sandrina ambil bagian untuk menjawab meski yang ditanya bukan dirinya melainkan Mayang. Lagi-lagi dia berakting seolah tidak terjadi apa-apa. "Oh .... " Andai mommy selalu baik sama aku, bukan hanya saat ada Ibu Christin di sini.Pikir Mayang sedih. Winda dan keluarganya cukup lama bertamu di rumah Mayang. Mereka banyak berbincang-bincang dengan hangat. Dan ... ketegangan itu kembali datang menyergap rumah megah tersebut setelah Ibu Christin beserta rombongan pamit undur diri. Mayang bergegas bersembunyi di balik punggung ayahnya ketika menyadari ekspresi ibunya yang sudah mulai merubah. Keramahan yang sejak tadi dipamerkan oleh mommy sudah menghilang semenjak Winda dan ke dua orang tuanya pergi meninggalkan rumah mereka. "Nak, apa kamu baik-baik saja?" tanya Reyhan sambil memeluk anak kesayangannya tersebut. "Aku baik-baik saja, Dad," jawab Mayang seraya membenamkan wajahnya di d**a ayahnya. "Aku sedang lelah, kalau tidak aku sudah memberimu pelajaran, Mayang," ketus Mommy sambil melipat ke dua tangannya di depan d**a. "Berani kau menyentuh anakku, aku akan membawamu ke jalur hukum! Kali ini aku tidak hanya akan mengancammu! Aku akan membuktikan omonganku!" tegas Reyhan dengan urat-urat di lehernya yang menonjol, pertanda ada emosi yang tinggi di setiap kata yang tercetus dari mulutnya. "Terserah apa katamu!" sentak Sandrina lalu melenggang pergi meninggalkan Mayang dan Reyhan. Ada juga Jasson yang masih berdiri di sana. Rey dan Mayang tidak menyahuti apa yang dikatakan oleh Sandrina, mereka hanya melihat punggung wanita itu bergerak akibat hentakan kakinya yang perlahan membawanya jauh meninggalkan ruang tamu. ** Mayang dan Reyhan sudah berpindah tempat dan kini ada di dalam kamar pribadi Mayang. Ayah dan anak itu bercengkeram dengan sangat hangat. "Dad, Mas Raka ngasih ini buat aku," kata Mayang sambil mengeluarkan mukena yang ada di dalam tas untuk dia tunjukkan pada Daddy. "Wah ... mukena ya, Sayang? Baik sekali dia, ya. Apa kau suka?" tanya Daddy dengan senyum terkembang di bibirnya. "Sangat suka, Dad. Tapi .... " Mayang tertunduk sedih. "Kenapa?" tanya Daddy ingin tahu. "Aku udah janji nggak akan temuin Mas Raka lagi, Dad," jawab Mayang. Manik matanya kembali mengeluarkan embun bening. "Kenapa? Daddy sudah memberimu ijin, jadi kamu boleh berteman dengannya. Dia lelaki yang baik kan?" selidik Daddy. "Bukan masalah ijin dari Daddy, tapi .... " Mayang menggantung kalimatnya. Dia sedang berpikir apakah harus mengadukan hal ini pada daddy atau tidak. Kalau mengadu, nanti yang ada ke dua orang tuanya akan bertengkar, tapi kalau tidak dikatakan, Mayang kasihan dengan Raka. Bisa saja Sandrina akan melakukan hal lain selain ini. Ya sudahlah aku bilang saja sama Daddy. Lagi pula Mommy dan Daddy kan udah terbiasa bertengkar. Pikir Mayang setelah beberapa saat berpikir. "Mommy meminta Mang Usman dan anak-anak buahnya buat mukulin Mas Raka, Dad. Mommy nggak suka aku dekat-dekat Mas Raka, jadi aku pikir mending aku yang ngejauh dari Mas Raka. Aku nggak mau Mas Raka terkena masalah karena aku," cerita Mayang. Astagfirullah, jadi Sandrina udah senekad itu sampai mukulin Raka juga? Semakin hari tingkahnya semakin gila. Batin Reyhan sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Jadi itu masalahnya? Ya sudah, kamu istirahat ya, Sayang! Daddy mau bicara sama mommy sebentar," kata Reyhan dengan intonasi yang sangat halus. "Daddy mau memarahi mommy?" tanya Mayang penasaran. Reyhan tersenyum. "Ini urusan orang dewasa, Sayang. Kamu hanya perlu pikirkan sekolahmu saja," jawab Daddy. Dan satu kecupan mendarat di kening Mayang. Reyhan pergi setelah Mayang berbaring di atas tempat tidurnya dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut. "Aku yakin Daddy dan Mommy pasti akan berantem lagi," gumam Mayang. ** "San! Buka pintunya!" teriak Reyhan sambil mengetuk pintu kamar istrinya. Wanita itu sedang memakai skincare dan bercermin di depan meja riasnya. "Mau apa lagi dia? Menggangguku saja," gerutu Sandrina, tak berniat membukakan pintu untuk suaminya meski Reyhan sudah cukup lama ada di luar sana. Dia lebih tertarik dengan kosmetik mahal yang ada di depannya. Mengoleskan krim malam anti keriput dengan jari-jari lentiknya merata di seluruh wajah. "Saan!" teriakkan Reyhan terdengar semakin nyaring disertai dengan ketukan pintu yang semakin kencang pula. "Hissh ... !" Sandrina mendesah kasar dan terpaksa melepas botol kosmetik yang ada di tangannya. Wanita itu berjalan dengan langkah malas-malasan ke arah pintu. Begitu pintu dibuka, Reyhan langsung nyelonong masuk tanpa permisi. Meski dia tahu kalau Sandrina paling tidak suka kalau dia masuk ke dalam area pribadinya, tapi dia tidak peduli. "Apa yang kau lakukan? Malam-malam kau masuk ke kamarku dan membuat moodku berantakan!" sentak Sandrina sembari meletakkan ke dua tangannya di pinggang. "Kau benar-benar sudah gila! Kenapa kau meminta Usman untuk memukuli Raka?" tanya Reyhan tanpa basa-basi dan langsung ke pokok permasalahan yang akan dia bahas. "Tahu dari mana kau? Iya, itu karena pemuda asing itu sudah ikut campur urusanku dengan Mayang dan aku tidak suka," jawab Sandrina tanpa berkelit sedikit pun. Dengan terang-terangan dia mengakui apa yang sudah dia lakukan. "Untuk apa kau berobat ke psikiater kalau otakmu semakin hari semakin gila?! Semua orang kau anggap musuh, tidak ada satu pun orang yang kau anggap benar di rumah ini! Bahkan Raka yang sudah berbaik hati menyelamatkan anak kita justru kau sakiti! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Sandrina!" murka Reyhan terbakar amarah. "Baik hati? Atau sok pahlawan? Dia hanya lelaki asing yang memanfaatkan situasi. Aku lihat dia bukan dari kalangan berada, dia bisa saja memiliki maksud tersembunyi mendekati Mayang. Aku tidak mau ada benalu datang ke rumah ini untuk ke dua kalinya," sindir Sandrina sambil melirik Reyhan dengan tatapan tidak suka. "Lihat saja kalau kau berani menyakiti Raka atau Mayang! Aku yang akan maju untuk memberimu pelajaran!" ancam Reyhan kemudian pergi meninggalkan kamar istrinya untuk kembali ke kamarnya sendiri. "Deeer!" Reyhan membanting pintu kamar Sandrina dengan kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN