32. Don't teach me something if you can't do it!

1653 Kata
Jasson membenarkan jas kerjanya yang tidak berantakan untuk melampiaskan rasa malu yang seolah mencoreng image tenang dan juga dingin yang melekat pada dirinya. "Kita kembali pada pokok permasalahan, Tuan!" pinta Jass, sebisa mungkin mengembalikan jati dirinya. "Oke, as you wish! (Baik, seperti yang kamu inginkan!) I will continue what I wanted to say, ️(Aku akan melanjutkan apa yang ingin aku katakan,)" ujar Reyhan seraya menyunggingkan senyumnya. Beliau kembali duduk pada singgasananya. "Aku tidak melarangmu untuk mendekati anakku, tapi kau harus berjuang dengan sangat keras. Karena sepertinya Mayang sudah terpikat oleh pesona Raka," jelas Reyhan dengan gamblang. Dan ia secara tidak langsung menantang Jasson untuk membuktikan rasa cintanya pada Mayang. "Tuan, saya rasa anda begitu dini menyimpulkan perasaan Nona Mayang. Nona masih muda, perasaannya bisa berubah seiring berjalannya waktu. Lagi pula Nona dan Raka baru saja saling mengenal. Mereka membutuhkan banyak waktu untuk saling mengerti satu sama lain, " debat Jasson. "Pemikiranmu tidak salah, Jass. Tapi aku mengenal baik anakku. Kau harus berjuang keras untuk mendapatkan hati Mayang. Ingat pesanku baik-baik, Ya!" papar Reyhan dengan sangat yakin. "Jadi hanya itu yang anda ingin katakan, Tuan?" Reyhan mengangguk. "Untuk sementara hanya itu, tapi nanti setelah tujuh hari kematian Papi, ada hal lain yang lebih penting yang harus aku sampaikan pada Sandrina, Mayang dan juga dirimu, karena kau adalah perwakilan dari orang yang sebenarnya ... lebih berhak dalam hidup Mayang," jelas Reyhan seraya memainkan pulpen yang kini ada di tangannya. Jasson tertunduk. "Hmm ... saya siap melaksanakan apapun yang anda perintahkan, Tuan," ucap Jasson. "Pergilah ke kamarmu, Jass! Sepertinya tugasmu akan semakin banyak setelah ini, karena kegiatan Mayang tidak hanya akan ke sekolah lalu pulang ke rumah, tapi dia akan melakukan banyak aktivitas lain termasuk mengunjungi Mas Rakanya tercinta. Dan kau harus kuat-kuat menahan rasa cemburumu, hahaha," canda Reyhan. Entah kenapa ia semakin semangat menggoda Jasson yang tidak pernah menunjukkan ekpresi yang lain selain tenang, dingin dan tegas. "Jangan mengganggu saya, Tuan!" Peringatan Jasson layangkan. Lelaki itu terpaksa memalingkan wajahnya karena ia tidak mau Reyhan tahu bahwa wajahnya kini memerah karena menahan rasa marah. "Aku hanya ingin melihatmu tertawa, Jass! Lihatlah, Raka! Dia itu lelaki yang ceria, humoris dan .... " "Sudah cukup, Tuan! Saya permisi dulu!" potong Jasson dengan lincah dan terkesan menjadi tidak sopan pada Reyhan. Namun, Reyhan tidak merasa tersinggung. Dia paham jika Jass kini sedang terbakar amarah karena ia yang terus memancing emosi Jasson. Bodyguard tampan itu sesegera mungkin meninggalkan ruangan bosnya untuk kembali ke kamar. Untuk itulah aku selalu menolak untuk jatuh cinta. Fall in love make me like stupid man. (Jatuh cinta membuat aku seperti lelaki bodoh). Batin Jass seraya menutup pintu ruangan Reyhan. ** Mayang menunggu Raka pulang di dalam ruang tamu rumah. Hampir tiga jam ia menunggu hingga akhirnya lelaki yang dinantinya datang dengan membawakan satu kresek makanan untuk Mayang. "May, lama nungguin aku ya?" tanya Raka seraya tersenyum simpul pada Mayang. "Mas, aku mau ngomong sama Mas Raka," ujar Mayang tidak menjawab pertanyaan yang Raka lontarkan padanya. Raka keheranan karena melihat wajah Mayang yang sedih dan juga lesu. Matanya pun memerah tidak seperti mata asli gadis itu yang bening, putih dengan lensa mata berwarna cokelat. "May, are you okay? (May, apa kamu baik-baik saja?)" tanya Raka dengan suara pelan seraya mengamati tingkah gadis itu yang nampak gelisah. Mayang menggelengkan kepalanya yang tertunduk, sebisa mungkin ia menghindari kontak mata dengan Raka. "In reality I'm not okay,(Pada kenyataannya aku tidak baik-baik saja,)" jawab Mayang. "What happen when i am not at home, Mayang? (Apa yang terjadi ketika aku tidak ada di rumah?)" tanya Raka lebih detail lagi. "Why did you lie to me? (Kenapa kamu membohongiku?)" tanya balik Mayang. Tak lama setelah itu isakan tangisnya terdengar hingga ke telinga Raka. Raka memegang ke dua pundak Mayang dan kembali melempar pertanyaan. "Apa maksudmu, Mayang? Aku berbohong apa sama kamu?" Sepersekian menit Mayang tak kunjung menjawab pertanyaan dari Raka. "Kenapa kamu nangis, Sri? Hei, ngomong dong! Aku bohong apa sama kamu?" desak Raka karena sangat penasaran. Mayang mendongakkan kepalanya. Terpaksa ia menatap mata Raka karena ia teringat apa kata Daddy, jika seseorang berbohong atau tidak itu bisa dilihat dari sorot matanya. Mayang menempelkan telapak tangannya pada luka lebam yang ada di wajah Raka. "Mas Raka kenapa nggak bilang kalau Mommy yang minta orang untuk mukulin Mas Raka?" tanya Mayang dengan linangan air matanya yang semakin deras. Raka terperangah. Dari mana gadis ini tahu? Apa Andika yang mengatakannya? Pikir Raka. "M~May .... " Raka terbata-bata. "Jawab aku, Mas! Kenapa Mas Raka nggak jujur sama aku?" desak Mayang dengan sesenggukan. Raka menghela napas panjang. Beberapa saat ia meminta Mayang untuk menunggu jawabannya. "Oke, kita bahas ini sambil duduk, Ya!" Raka menggandeng Mayang dan meminta gadis itu untuk duduk di sofa panjang dan Raka duduk di sisi Mayang. "Maafkan aku, May. Iya aku memang berbohong sama kamu .... " Memang benar kata Bunda serapat apapun engkau menyimpan bangkai pasti baunya akan tercium juga. "Tapi kenapa, Mas? Bukannya Mas Raka yang bilang sama aku kalau kita itu nggak boleh boong?" Mayang mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Nada suara gadis itu meninggi bahkan nyaris berteriak. "Don't teach me something if you can't do it!(Jangan mengajariku sesuatu jika kau tidak bisa melakukannya!)" sentak Mayang murka. "May, dengerin penjelasan aku dulu! Aku terpaksa boongin kamu karena ... " Raka menghembuskan napas pelan. "... aku nggak mau bikin kamu benci sama ibu kamu," lanjutnya. "Tapi apa yang Mommy lakuin ke Mas Raka itu jahat banget! Gimana kalau Mas Raka sampai kenapa-napa atau .... " Mayang semakin terisak-isak. "May, tenangin diri kamu dulu! Istighfar!" Raka berusaha bersikap setenang mungkin meski tidak ia pungkiri, ia pun sangat takut akan ada hal yang berdampak buruk untuk Mayang setelah ini. "How can I be calm if you could lose your life because of my mom? (Bagaimana aku bisa tenang jika kamu bisa saja kehilangan nyawamu karena ibuku?)" tanya Mayang dengan nada suara yang masih meninggi. Gadis itu menangis meraung-raung. "Tapi aku baik-baik aja. Nggak ada yang perlu kamu khawatirin," sahut Raka. "Aku cuma nggak mau memperkeruh hubungan kamu sama ibu kamu, May. Itu aja," imbuhnya. "Berarti benar apa yang Mas Dika omongin. Kalau sebenarnya dia yang bntuin Mas Raka bukan Mas Raka yang bantuin dia," ujar Mayang. "Jadi Andika yang ngasih tau kamu?" Mayang menggeleng. " Bukan! Orang lain, tapi Mas Raka nggak perlu tahu siapa orangnya." "Mas Raka minta maaf ya, May," pinta Raka tulus dari hati. "Aku yang harusnya minta maaf sama Mas Raka, karena ulah Mommy ... Mas Raka jadi celaka. Dan ... makasih banget Mas Raka nggak laporin Mommy ke polisi. Tapi karena ini juga aku tahu kalau kehadiran aku dalam hidup Mas Raka itu hanya jadi beban dan berbahaya buat Mas Raka. Aku mau pulang, Mas ... " jelas Mayang panjang lebar. "Jangan ngomong kayak gitulah, may! Kamu itu udah aku anggap kayak adik aku sendiri jadi mana mungkin jadi beban?" balas Raka. Tapi aku pinginnya lebih dari adik, Mas. ♥️ "Aku mau pulang dan sebaiknya emang benar apa kata Mas Raka dulu, kita nggak usah ...." Mayang kembali terisak. Bibir merah gadis cantik itu bergetar. Susah sekali untuk mengatakan ini pada lelaki dewasa yang sudah merebut hatinya dengan cara yang istimewa. "... Kita nggak usah ketemu lagi Mas Raka," kata Mayang seraya menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangan. Raka lemas. Entah ... rasanya hati lelaki itu dipenuhi oleh awan duka sekarang. Iya ... dulu ia pernah berpikir hal yang sama agar mereka tidak pernah lagi bertemu, tapi pada kenyataannya hati Raka tidak bisa dibohongi, ia begitu memikirkan Mayang. Beberapa menit berlalu, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Raka. Hanya diam dan sedang mencari apa yang sebenarnya ia rasa. "Jasson sebentar lagi akan menjemputku, Mas. Terima kasih buat semuanya ya, Mas. Semoga Mas Raka selalu dalam lindungan Allah." Mayang berdiri dari temptnya. Ia masuk ke dalam kamar Bunda Amel untuk mengambil sebuah barang yang diberikan oleh Raka. Dan mungkin benda itulah yang akan menjadi pengobatnya di kala rasa rindu pada Raka mulai menyiksa. Meski ini terasa berat untuk Mayang, tapi apa mau dikata? Mommy bisa saja melakukan hal yang lebih buruk dari pada ini jika ia tetap nekad bersama Raka. ** Mayang meneruskan tangisnya di dalam kamar Bunda Amel. Ia dekap mukena yang masih baru pemberian Raka dengan sangat erat. Hadiah yang mungkin akan Mayang simpan seumur hidupnya, yang tidak akan pernah ia lupa atau bahkan bisa menjadi pengobat di kala rasa rindunya pada Raka teramat sangat menyiksa. Sedang Raka masih diam terpekur di tempat duduknya. Ia merasa hati dan mulutnya memang tak pernah sejalan. Dia bilang dia hanya iba, bukan jatuh cinta, tapi pada kenyataannya hati Raka tak bicara demikian. Kenapa rasa ini sungguh sakit melebihi saat ia berpisah dengan gadis-gadis sebelum Mayang? Hubungan yang belum saja dimulai, belum ia genggam, belum juga sempat mereka katakan, tapi kini harus terpaksa berpisah di ujung jalan. Memilih berpisah arah di kala takdir tak membuat mereka berjalan beriringan. Meski rasa menyiksa, rindu akan kerap bergejolak, tapi apa daya ... Jika semua dilakukan demi kebaikan dan keselamatan bersama. Cinta yang datang dalam waktu yang singkat. Tumbuh dengan subur dengan kebaikan-kebaikan yang Raka berikan. Mayang merasa aman dan nyaman di sisi Raka. Lelaki dewasa itu terus mengingatkan ia pada Rabb-nya. Lelaki sederhana itu tak henti mengajarinya tentang apa itu tanggung jawab manusia pada Tuhan-nya. Bukan hanya tentang mengejar kebahagiaan dunia, tapi juga kebahagiaan di akhirat kelak. Ketika banyak lelaki memberikan bunga dan janji yang manis tentang cinta, Raka memberinya sebuah mukena putih dengan design yang cukup indah. Bukan kata manis atau rayuan yang keluar dari bibirnya, tapi petuah agar Mayang tak pernah lalai menjalankan panggilan Tuhan. Raka ... Dia berbeda ... Itulah mengapa Mayang begitu yakin memberikan hatinya, meski belum sempat ia katakan tentang perasaannya. Namun, biarkan kali ini mereka berpisah ... Kelak ... Mayang akan datang untuk menuntaskan kisah yang belum sempat dimulai ini. "Tapi aku nggak baik-baik aja meski aku berusaha untuk baik-baik aja," lirih Raka seraya mencengkeram erat rambutnya dengan ke sepuluh jemari tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN