31. Perasaan Jass

2012 Kata
Mayang larut dalam pikirannya sendiri, sampai tanpa ia sadari ada seseorang yang sejak tadi memerhatikan dirinya. Seorang wanita seusia Raka yang diam-diam menaruh dendam pada Mayang. Tatapan kebencian itu menusuk begitu tajam dan membuat niat busuk sekonyong-konyong hadir dalam pikirannya. Wanita itu menjejakkan kakinya mendekati Mayang. Langkahnya ia biarkan perlahan agar tidak membuat gadis incarannya menjadi panik ataupun kaget karena kehadirannya. "Eheem .... " decak wanita itu seketika membuat Mayang menoleh ke arahnya. "Kamu?" tanya Mayang dengan mata terbelalak. Wanita itu berdiri dengan melipat ke dua tangannya di depan d**a. pakaiannya sungguh minim hingga sampai sekarang Mayang tidak habis pikir kenapa Raka yang alim dan rajin beribadah bisa berpacaran dengan wanita sepertia dia. "Kenapa? Nggak suka aku ke sini? Ini kan rumah pacar ...." "Mantan ...." potong Mayang mengoreksi perkataan wanita itu. Wanita itu membelalakkan bola matanya dengan ke dua tangan yang kini ia taruh di pinggang. "Berani banget ya kamu ngomong kayak gitu sama aku? Biar aku mantan, tapi aku nggak sekejam kamu," sentak wanita itu murka. Mayang berdiri dari tempat yang ia duduki lalu mengadapi ocehan manusia yang tak tahu malu itu tanpa rasa takut sedikit pun. Ya ... meskipun usia Mayang jauh lebih muda, tapi postur tubuh mereka sama-sama tinggi semampai, bahkan bisa dibilang lebih besar tubuh Mayang yang berdarah blesteran dari Omanya dari pada tubuh rivalnya saat ini. "Maksud Mbak Fenna apa ya ngatain aku kejam? Memang apa yang udah aku lakuin sama Mas Raka?" tanya Mayang meminta Fenna menjelaskan maksud dari omongannya yang menurut Mayang tidak berdasar tersebut Fenna tersenyum kecut. Ia membetulkan sulur anak rambutnya yang menutupi wajah karena diterbangkan oleh semilir angin malam yang menerpa. Ditatapnya Mayang dengan senyuman yang masih sama. Senyum yang mengandung unsur kebencian yang mendalam. "Kamu beneran nggak tahu atau pura-pura nggak tahu sie?" Fenna bertanya balik. "Maksud Mbak Fenna apa sie? Aku beneran nggak ngerti lho!" sungut Mayang kesal, karena ia merasa benar tidak paham ke mana arah pembicaraan Fenna sebenarnya. "Dasar anak kecil, pinter akting juga kamu, Ya!" celoteh Fenna mencela Mayang. Mayang dibuat geram karena perkataan Fenna yang ngalor ngidul tanpa jelas juntrungannya. "Kalau Mbak Fenna mau cari gara-gara mending aku masuk rumah aja! Nggak jelas banget jadi wanita dewasa!" omel Mayang seraya berbalik badan hendak meninggalkan Fenna. Namun, Fenna yang keras kepala tidak akan membiarkan Mayang pergi begitu saja. Maksud dan tujuannya datang untuk menemui gadis itu belum tertunaikan Dengan gerakan yang cepat, Fenna menarik tangan Mayang hingga mau tidak mau Mayang harus menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan dan memasang wajah segalak mungkin untuk melawan Fenna yang gemar mencari masalah dengannya. "Kalau Mbak Fenna masih dendam sama aku karena Mas Raka yang sekarang dekat sama aku, itu harusnya Mbak yang sadar diri! Karena Mbak Fenna kan yang selingkuh," cibir Mayang dengan galak. Mayang sama sekali tidak memiliki rasa takut dalam menghadapi Fenna. Fenna bukan siapa-siapa, tidak ada hubungan apapun antara ia dan Fenna. Dan ... ia pun merasa kedekatannya dengan Raka tidak bisa dijadikan Fenna sebagai alasan untuk wanita itu membencinya. Fenna yang bersalah bukan Mayang yang merebut Raka darinya. Lagi pula tidak ada hubungan apapun antara Raka dan Mayang, setidaknya untuk saat ini. "Jadi kamu beneran nggak paham sama yang mau aku omongin?" tanya Fenna sambil menggeleng-geleng kepalanya pelan. "Nggak usah berbelit-belit dech, Mbak! Aku nggak punya banyak waktu. Lagian Mbak ini nggak tahu malu banget, Ya. Udah diputusin Mas Raka masih aja balik ke rumahnya," ledek Mayang lalu mencebikkan bibirnya. "Tutup mulutmu ya anak kecil! Kamu yang nggak tahu malu! Bisa-bisanya setelah ibu kamu nyelakai Raka kamu masih berani balik lagi ke sini!" seru Fenna dengan amarah yang memuncak. Mayang kaget. Jantungnya berdebar begitu kencang. "A~apa?" tanya Mayang dengan bibir bergetar dan terbata-bata. "Nggak usah pura-pura, dech! Nggak mungkin kalau kamu nggak tahu hal sebesar ini, Mayang!"cibir Fenna. "Mommy nyelakai Mas Raka?" lirih Mayang. "Iya, Mommy kamu nyuruh orang untuk mukulin Raka. untung aja ada Aji sama Andika yang nolong, kalau enggak Raka pasti sekarang udah tinggal nama doang gara-gara kamu," jelas Fenna menyalahkan Mayang. Mayang dibuat terlempar pada kejadian beberapa hari yang lalu ketika ia pertama kalinya kembali ke rumah setelah melarikan diri. Malam itu ia tidak bisa tidur dengan tenang dan ingatannya terus saja terngiang wajah dan nama Raka. Perasaan Mayang mengatakan jika ada yang tidak beres pada Raka. Dan ... sekarang ia baru sadar jika ternyata feelingnya ini benar. "Jadi luka di wajah Mas Raka itu bukan karena dia bantuin Mas Dika yang dikeroyok karena ngrebut pacar orang?" tanya Mayang mengorek informasi yang beberapa jam lalu ia dapatkan dari Raka. "Hahahaha." Fenna tergelak. "Kamu dapat informasi dari mana berita hoax kayak gitu?" Fenna menjawab pertanyaan Mayang dengan pertanyaan pula. "Mas Raka yang bilang sendiri, Mbak." "Yang ada Raka itu terluka karena ulah kamu, hm ... maksudnya ulah ibu kamu, tapi sama aja sih. Ibumu nggak akan mungkin nyelakai Raka tanpa sebab kan. Jadi intinya kamu yang nggak tahu malu! Belum apa-apa kamu udah bikin Raka babak belur, apalagi kalau kamu kelamaan dekat-dekat Raka. Bisa beneran melayang nyawa Raka gegara kamu," serang Fenna dengan lancar dan semangat membuat mental Mayang menjadi down. "Kenapa Mas Raka nggak ngomong jujur sama aku aja sih? Kenapa harus boongin aku?" Mayang sedih bukan kepalang. Raka menutupi hal sepenting ini darinya. Ini bukan hal sepele, apalagi tindak kriminal yang dilakukan oleh ibunya. "Karena Raka itu lelaki yang baik, dia juga nggak ngelaporin hal ini ke polisi lho padahal banyak saksi yang bisa ngelempar ibu kamu masuk ke penjara dengan mudah," ujar Fenna semakin memanas-manasi keadaan. Mommy ... kenapa Mommy tega ngelakuin ini? Mas Raka nggak salah apapun ... cukup aku aja yang Mommy pukulin, tapi jangan Mas Raka! Dia orang baik, Mom. Dia ngejagain Mayang dengan sangat baik. Ucap Mayang dalam batin. "Hiks ... hiks .... " Mayang terisak-isak. Sungguh sedih rasanya. Ia mengira bahwa Mommy hanya membencinya saja, tapi ternyata Mommy juga tega menyakiti orang yang dekat dengannya. Mayang tidak mengerti dendam apa Mommy terhadapnya hingga ia begitu benci pada Mayang yang notabene adalah anak kandungnya sendiri. "Eh anak kecil jangan nangis! Cengeng banget sie kamu! Entar orang ngira aku cubitin p****t kamu," tegur Fenna. "Makasih ya Mbak udah ngasih tahu aku. Mbak Fenna baik banget dech," ucap Mayang seraya menghapus air matanya. Gila! Ini bocah malah terima kasih sama gue! Pikir Fenna. "Hehehe, kamu baru tau ya kalau aku orang baik? Ya udah mau ngapain lagi kamu di rumah Raka? Cepetan pergi sana! Emang kamu nggak malu kalau tetangga sampai tahu ada anak perawan nginep satu rumah sama Raka? Raka itu udah terkenal pemuda yang baik di kampung ini, jangan sampai nama dia jadi jelek karena kamu. Cukup ibu kamu aja yang bikin masalah sama hidup Raka!" Fenna memanas-manasi Mayang. Mayang memikirkan perkataan Fenna. Dan memang benar semua yang Fenna ucapkan. Raka itu pemuda yang baik dan begitu banyak memberi dampak positif untuk Mayang, tidak sepantasnya jika dengan kehadirannya dalam hidup Raka justru membuat masalah untuk lelaki baik hati dan sholeh tersebut. "Aku bakalan secepatnya pergi kok, Mbak. Tapi aku mau ketemu dulu sama Mas Raka. Aku pingin ngomong sama dia, Mbak." "Ya udah kalau itu mau kamu, tapi aku mohon banget jangan bilang sama Raka kalau kamu tau hal ini dari aku! Janji dulu!" Fenna mengulurkan jari kelingkingnya pada Mayang, ia ingin mengambil sumpah Mayang seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak kecil pada masanya. Mayang melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Fenna. "Iya, Mbak. Aku janji kok," ujar Mayang menyetujui syarat dari Fenna tanpa banyak berdebat. "Dan satu lagi ...." Fenna masih akan memberi Mayang sebuah perjanjian. "Apa, Mbak?" tanya Mayang dengan lugunya. "Jangan pernah lagi temui Raka setelah ini! Itu pun kalau kamu nggak ingin buat Raka celaka lagi sie," jawab Fenna dengan santai, tapi setiap kata yang terlontar dari mulutnya mengandung sebuah tekanan. Mayang diam beberapa saat karena ia membutuhkan waktu untuk berpikir. Bagaimana mungkin aku bisa jauh dari Mas Raka? Aku nyaman banget sama Mas Raka. Mayang gelisah dan gamang. "Kalau kamu tetap pingin Raka dalam masalah sie ya nggak apa juga kalau kamu mau dekat-dekat dia terus," cetus Fenna seraya memainkan ujung rambutnya. "Enggak kok, Mbak. Iya, aku mau jauhin Mas Raka, yang penting Mas Raka nggak celaka, Mbak," sahut Mayang dengan cepat. Apalagi yang bisa ia lakukan selain ini. Semua demi keselamatan Raka kan? Nggak apa aku yang luka, Mas. Asal jangan Mas Raka, aku yang udah nyeret Mas Raka dalam masalah aku, dan aku juga yang harus selamatin Mas Raka dari kejahatan Mommy. Ujar Mayang dalam batin. "Oke. Itu baru namanya anak pintar," puji Fenna sembari mengelus-elus pucuk kepala Mayang dan memperlakukan Mayang seperti ia memperlakukan adiknya. "Hm ... iya, Mbak." Mayang memaksa untuk tersenyum meski hatinya terasa sangat sedih sekali. Fenna tersenyum senang. Ternyata begitu mudah untuk membujuk Mayang agar mengikuti setiap ucapannya ** Reyhan sedang menunggu Jasson di ruang kerjanya. Lelaki itu meminum secangkir kopi hangat yang disiapkan oleh seorang maid sembari menghadapi berbagai dokumen penting yang akan ia pelajari isinya. "Tak ... tak ... tak ...." Suara sepatu vantovel berbenturan dengan lantai terdengar lamat-lamat di ruangan yang sunyi bak tanpa kehidupan tersebut. Dari situ Reyhan yakin bila langkah orang yang ditunggunya semakin mendekat padanya. "Kriet ...!" Disambung suara pintu yang dibuka oleh seseorang dan nampaklah lelaki gagah dengan pakaiannya yang serba hitam formal tengah berdiri di ambang pintu dengan sikap tegap. "Masuklah, Jass!" kata Reyhan meminta lelaki itu untuk segera masuk ke dalam ruangannya. "Baik, Tuan," sahut Jass lalu dengan cepat berjalan jauh lebih dalam ke ruangan pribadi Reyhan. "Duduklah! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," perintah Reyhan seraya menunjuk kursi kosong yang ada di hadapannya. Tanpa berniat untuk menyahut, Jass mengikuti saja apa yang dikatakan oleh tuannya. "Ini tentang Mayang," ujar Reyhan membuka pembicaraan. "Baik, Tuan. Saya siap mendengarkan perintah," sambut Jass dengan patuh. "Mulai detik ini tolong longgarkan pengawasanmu pada Mayang!" Deg! "Tapi bagaimana mungkin, Tuan? Nyonya Sandrina bisa memecat saya jika terjadi apa-apa dengan Nona Mayang." Jasson merasa resah. "Mayang justru tidak aman di tangan ibu kandungnya sendiri kan?" Reyhan membalik statement Jasson dengan sangat mudah. Jasson terdiam. Bukan saatnya ia untuk membantah lagi. "Kau tetap harus mengawasinya hanya saja biarkan dia pergi ke mana pun yang dia mau. Biarkan dia menikmati hidupnya seperti layaknya remaja seusianya," jelas Reyhan dengan apa yang ia maksudkan dengan memperlonggar pengawasan. "Dan ... biarkan dia bergaul dengan anak muda yang bernama Raka!" lanjutnya. Jasson berdiri dari tempat duduknya. Ekspresi lelaki itu menjadi tidak enak setelah Reyhan menyebutkan nama Raka. "Saya tidak mengerti Tuan kenapa anda begitu percaya dengan lelaki asing itu. Kita tidak begitu baik mengenal dia," bantah Jasson. "Lagi-lagi itu yang kau katakan, Jass." Reyhan ikut berdiri dan mendekati Jass. Reyhan menepuk pundak bodyguard anaknya itu pelan. "Jass, akui saja jika kau memiliki rasa dengan anakku," ujarnya seraya tersenyum simpul. "Ini ... " Jass terlihat salah tingkah. Untuk ke dua kalinya Reyhan berhasil mengorek sisi lain dari Jass yang ternyata bisa juga kehilangan rasa percaya dirinya ketika membahas tentang cinta. "Ini tidak ada hubungannya dengan perasaan saya, Tuan," bantah Jasson. "Hahahaha." Reyhan tertawa terbahak-bahak membuat Jasson menjadi semakin salah tingkah. Apa aku terlihat bodoh hingga Tuan Reyhan tertawa seperti itu? Gumam Jass. "Aku tidak melarangmu jika kau memang mencintai anakku. Kau lelaki pintar, Jass. Dan kau bisa menjaga Mayang dengan baik selama ini, tapi .... " Reyhan menggantung kata-katanya. "Tapi apa, Tuan?" tanya Jass yang menjadi tidak sabaran. "Hahaha." Reyhan kembali tertawa. Apanya yang lucu? kenapa sejak tadi Tuan Reyhan menertawakan aku? Lagi-lagi Jass hanya bisa bergumam dalam hati. Ditatapnya wajah Reyhan lekat-lekat dengan penuh rasa penasaran. "Sepertinya kau sangat menyukai anakku ya, Jass." Tepukan pelan kembali mampir pada bahu Jasson. Reyhan memang sengaja menggantung kata-katanya untuk memancing reaksi Jass. Jika Jasson sabar menunggu hingga ia kembali meneruskan kalimatnya, itu artinya Jass memang tidak memiliki rasa apapun pada Mayang, tapi pada kenyataannya Jass terlalu bernapsu agar Reyhan segera meneruskan pembicaraannya yang terjeda. Jelas sekali jika reaksi lelaki itu menunjukkan bahwa ia telah memendam rasa pada Mayang. "Kenapa anda terus mendesak saya tentang hal itu, Tuan?" tanya Jass. Saat ini ia merasa menjadi orang yang bodoh dan t***l hanya karena dituduh sedang jatuh cinta oleh Reyhan. "Aku hanya bertanya bukan bermaksud untuk mendesakmu, Jass," bantah Reyhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN