Raka membawa Mayang ke belakang rumah di mana tempat ia dan Bunda Amel biasanya mengambil air wudlu sebelum menjalankan ibadah. Ada tiga keran air di sana dengan pipa yang membentang panjang untuk dialiri benda cair berwarna putih yang mensucikan tersebut.
"Kamu wudlu di situ!" Raka menunjuk keran yang berjarak satu meter dari keran air yang Raka hadapi.
"Siap, Pak Ustadz," sahut Mayang menerima perintah dengan taat dan segera memposisikan tubuhnya di depan keran yang Raka maksud.
"Aku bukan Pak Ustadz dan belum pantas dipanggil Ustadz!" protes Raka.
"Iya-iya! Skuy ajarin aku, Bambang!" cetus Mayang.
Raka mengalirkan air dari keran. "Lihatin gue, May!"
Mayang mengangguk-angguk tanda menurut. Ia memperhatikan setiap gerakan yang Raka lakukan. Gadis itu juga menghapalkan urutan wudlu yang benar dan bagaimana melakukannya sesuai dengan yang Raka contohkan.
Mayang dan Raka salat berjamaah di ruang tamu. Suara Raka sangat merdu membacakan Ayat-Ayat Allah hingga membuat hati Mayang menjadi damai dan nyaman ketika mendengarnya.
"Cepat gue tunggu lu di cafe!" Raka membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Andika dalam hati.
"May, kamu mau makan apa? Biar aku pesenin by online," kata Raka seraya memakai jaket sudah bersiap untuk pergi.
"Memang Mas Raka mau ke mana?" Tidak menjawab pertanyaan Raka, tapi berbalik melempar pertanyaan.
"Ada urusan sebentar di cafe, May," jawab Raka.
"Aku ikut, Mas." Merengek seperti anak kecil. Ditarik-tariknya ujung jaket Raka beberapa kali.
"Nggak usah! Kamu di rumah aja! Nggak takut kan aku tinggal sendiri?"
"Takut, Mas. Nanti kalau ada setan atau penculik datang gimana?" Mayang memasang ekspresi ketakutan padahal sebenarnya ia sama sekali tidak ada rasa takutnya. Jadi cuma akting saja.
"Sebentar aja kok, May. Aku janji nggak akan lama," kata Raka.
"Buruan mau makan apa?" Raka mengulang pertanyaanya.
"Aku belum lapar, Mas. Nanti saja nunggu Mas Raka pulang," kata Mayang.
"Ya udah aku pergi bentar ya, May! Kunci pintunya!" Raka meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Ia segera menunggangi motor besarnya dan melaju menuju tempat di mana Andika menunggu.
**
"Sorry, Dik. Tadi salat dulu," kata Raka seraya menempatkan dirinya di sisi Andika. Mereka janjian di sebuah cafe yang berada tidak jauh dari cafe mereka. Raka dan Andika memutuskan untuk menutup cafe mereka sementara waktu dan besok baru akan dibuka kembali.
Tak hanya Andika, Aji pun turut hadir di sana sebagai saksi perdebatan yang sebentar lagi akan terjadi antara Andika dan Raka.
"Salat dulu apa mojok sama Mayang?" tanya Andika sewot.
"Astagfirullah! Pikiran lu, Ya!" sungut Raka tidak terima.
"Ckckck ... bau-baunya akan ada persaingan nich," sambung Aji meledek ke dua temannya.
"Mana ada? Cukup lu sama Raka aja yang rebutan Fenna! Nggak ada di kamus Andika Sanjaya rebutan cewek sama orang! Itu cuma ada di fitnahannya Si kampret yang lucknut sebelah gue ini!" oceh Andika dengan semangat empat lima. Dia melengos kesal ke arah Raka.
"Apaan sih, Dik? Kagak paham gue," tutur Aji tidak mengerti apa maksud ocehan Andika.
"Tanya sendiri sama mantan pacar cewek lu!" sungut Andika.
Aji menatap wajah Raka yang terlihat belingsatan tidak tenang. Gesture lelaki itu menunjukkan bahwa ia memang telah melakukan sebuah kesalahan.
"Apaan sie, Ka?" Bertanya kebingungan.
Andika mencebikkan bibirnya.
"Beneran kan kalian rebutan cewek?" Aji menerka-nerka karena tak ada satu pun dari ke duanya yang menjelaskan.
"Tunggu, dech! Gue haus mau pesen minum dulu," sela Raka kemudian memanggil seorang pelayan untuk datang.
Lelaki itu memesan minuman serta cemilan favoritnya.
"Udah pesen minumannya? Skuy jelasin ke gue ada apa? Kenapa gue disuruh jadi saksi sama Si Andika?" Aji mulai menginterogasi kawan-kawannya.
"Jadi gini ... Mm .... " Raka bingung memulai dari mana.
"Sebelumnya gue minta maaf sama lu, Dik. Jadi gue terpaksa banget ngomong gitu sama Mayang, karena gue nggak mau Mayang sampai tahu kalau gue babak belur karena dikeroyok sama anak buah nyokapnya." Raka menjelaskan dengan serius.
"Ya tapinya kan lu nggak perlu fitnah gue kayak begitu juga! Cari alasan yang lain kek," tegur Andika.
"Enggak ada kepikiran untuk nyari alasan yang lain, Dik. Gue pun gak nyangka Mayang bakal nanyain tentang muka gue yang babak belur. Dan ... gue ingatnya wajah elu. Ya udah gue bilang gitu aja sama dia," jelas Raka.
Aji semakin bingung. Mayang? Alasan? Fitnah?
"Sebenarnya kalian lagi bahas apaan sie? Memang Raka ngomong apa sama Mayang sampai lu semarah ini?" Aji mengangsur dua pertanyaan pada Andika.
"Dia bilang sama Mayang kalau penyebab dia babak belur itu karena nyelamatin gue pas gue dikeroyok karena ngerebut bini orang, apa nggak anjire coba, Ji?" Andika masih dengan tensi darahnya yang meroket.
"Eh, gue gak bilang lu ngrebut bini orang kali, Dik," kilah Raka.
"Terus apaan?" tanya Andika nyolot.
"Gue bilangnya rebutan cewek bukan ngerebut bini orang!" jawab Raka.
"Sama aja, Bambang! Intinya lu itu udah bikin gue kehilangan nama baik gue di depan Mayang. Gue nggak terima, lu harus bersihin nama baik gue di depan cewek inceran gue. TITIK!" Andika berkata dengan cepat dan lantang seperti mahasiswa yang tengah berorasi.
"Iya entar gue laundry nama elu," sahut Raka.
"Plak ....!" Andika memukul bahu Raka cukup kencang.
"Sakit woey!" Raka mengusap-usap pundaknya yang terasa kebas.
"Salah sendiri!" sungut Andika.
"Jadi lu naksir sama Mayang, Dik? Emang secantik apa sie?" tanya Aji yang menjadi penasaran dengan sosok gadis yang bernama Mayang.
"Cantik banget, unyu, gemesin, lucu ... pokoknya kayak langit dan bumi sama Fenna. Tapi jangan sampai lu ketemu Mayang. Gue takut lu tikung dia kayak lu nikung si Fenna dari Raka." Belum-belum Andika sudah posesif dan paranoid.
"Emang iya secantik itu, Ka?" tanya Aji pada Raka untuk memastikan bahwa sobatnya ini tidak sedang berhalusinasi.
"Tanya Fenna dech, dia udah pernah ketemu Mayang kok," jawab Raka.
"Masa iya Fenna udah pernah ketemu Mayang? Di mana?" Mendadak menjadi tidak enak hati Si Aji.
"Iya. Mereka ketemu di cafe gue. Fenna ngamuk karena gue deket sama Mayang. Cewek lu juga ngerayu-rayu gue ngajak balikan lagi," papar Raka menceritakan yang sebenarnya.
"Ckckck ...." Aji mengelus d**a sambil geleng-geleng kepala.
"Hahahaha, masih mau lu pertahanin cewek nggak bener kayak Fenna? Bersyukur lu, Ka! Kalau enggak ada Aji lu masih terbelenggu sama cinta palsunya Fenna." Lagi-lagi menepuk bahu Raka dengan cukup kencang.
Raka menyedot es capucino pesanannya yang baru saja datang. Kemudian berkata, "Iya, gue bersyukur banget. Alhamdulilah. Malahan gue berniat mau bikin selametan setelah ini."
"Kampret lu, Ya!" sembur Aji merasa terpojok oleh perkataan ke dua kawannya.
"Udah! Stop! Nggak usah bahas soal Fenna dan gue! Selesaiin dulu masalah kalian! Malah ngelantur ke mana-mana!" omel Aji.
"Nah iya lu bener, Ji!" Andika menjetikkan jarinya.
"Jadi .... " Untuk ke tiga kalinya Andika menepuk pundak Raka.
"Nggak pake plak-plek-plok gitu napa sie, Dik?" Raka kesal.
"Bodo!" Memilih tidak menghiraukan kekesalan Raka karena ini saatnya dia yang mengomeli Raka.
"Jadi gue minta lu jelasin yang sejujurnya sama Mayang. Gue nggak mau image gue jelek di depan Mayang. Gue beneran naksir sama dia, Ka. Please lah dukung gue napa?" papar Andika.
"Nggak bisa gue ngomong jujur sama dia, Dik. Dia nggak boleh tahu kejahatan Ibunya, nanti dia bisa benci ibunya," tolak Raka.
"Ya enggak perlu jujur banget. Maksud gue, lu kan bisa ngasih alasan yang lain asal jangan begitu!" Andika mengkonfirmasi.
"Iya oke ntar gue pikirin. Tapi .... " Raka memasang wajah super serius.
"... Apa lu udah yakin mau perjuangin Mayang?" tanya Raka meminta kejelasan pada Andika.
"Ya jelas yakinlah, Bro. Gue itu udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama Mayang," jawab Andika dengan gaya khasnya yang suka sok-sokan.
"Ck .... " decak Raka seraya menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi yang ia duduki.
Aji memperhatikan ekspresi Raka. Ada sesuatu yang ia tangkap. "Kayaknya si Raka ini ada rasa juga deh sama Mayang," pikirnya dalam hati.
"Terus begini, dech. Seandainya Andika serius sama Mayang, lalu apa yang bikin kamu jadi lesu kayak gitu, Ka?" Aji berusaha memancing respon Raka dengan sebuah pertanyaan.
Raka yang tadinya bersandar seketika menegakkan punggungnya seraya memicingkan mata ke arah Aji.
"Maksud lu tanya begitu apa coba? Gue gak suka sama Mayang, jadi buat apa gue lesu kaya yang lu tuduhin?" jawab Raka dengan nada yang meninggi, ini cenderung terlalu berlebihan untuk menanggapi pertanyaan Aji yang biasa saja.
"Gue nggak nuduh, Ka. Gue kan cuma tanya doang," debat Aji.
Fix si Raka punya perasaan juga sama Mayang, tapi gengsi mau ngakuinnya. Pikir Aji dalam hati.
"Iya, memangnya kenapa sih kalau gue serius naksir sama Mayang? Kan hak asasi manusia, Ka," sambung Andika.
"Iya gue tahu itu hak asasi manusia, tapi apa lu nggak mikir? Mayang itu bagaikan langit dan bumi sama kita, kalian tahu sendiri kan ibunya sadis banget. Jalan lu bakalan berat, Dik. Jadi sebelum terlanjur dalam rasa cinta lu sama dia mending kamu stop dech! Gue nggak mau lu kenapa-napa," papar Raka mengemukakan pendapatnya.
Apa yang dikatakan Raka amatlah benar. Mayang bukan gadis biasa, ia adalah seorang anak dari pengusaha kaya raya, pastinya Ibu dan keluarganya tidak akan semudah itu menyerahkan Mayang pada lelaki yang tidak satu kasta dengan mereka. Terbukti, belum apa-apa saja Raka sudah dibuat bapak belur.
"Itu beda, Ka. Kamu kan jelas-jelas ngelawan ibunya Mayang, kalau gue nanti bakal pakai trik yang halus dan lembut untuk ngedeketin calon mertua gue," bantah Andika masih dengan tingkat kepedeannya yang selalu total.
"Dih ... serah elu deh, Dik! Yang penting gue dah ngasih tau ... lagian baru juga ketemu beberapa kali masa iya udah cinta banget kaya gitu sama Si Mayang," celoteh Raka, dalam hatinya memanas meski ia tahan.
"Ini namanya cinta pada pandangan pertama," kata Andika seraya membayangkan wajah cantik Mayang.
"Lu gila? Mana mungkin gue nggak ngelawan kalau lihat Mayang disakitin di depan mata gue? Tapi ya udah lah, pokoknya terserah elu yang penting gue udah kasih tahu elu dari awal," desis Raka pasrah.
"Iya-iya gue udah paham resikonya kok, Ka. Thanks ya lu udah perhatian banget sama gue," sambut Andika lalu menepuk pundak Raka dengan pelan.
**
Mayang merasa jengah karena terus di dalam rumah tanpa ada siapa pun yang menemaninya. Memang ia sudah terbiasa sendiri di dalam istana milik Opa yang megah, tapi sekarang dia tidak sedang ada di rumah Opa kan? Dia bisa keluar rumah sesuka hatinya tanpa takut pada para penjaga yang akan mencegahnya.
Selepas bertukar suara dengan Daddy Reyhan, Mayang memutuskan untuk ke luar dari rumah Raka untuk sekedar mencari udara segar. Gadis abege tersebut duduk di sebuah kursi panjang yang ada di halaman rumah Raka.
Meski rumah Raka sangat sederhana tapi halamannya begitu asri dengan banyaknya bunga mawar dari mulai yang berwarna merah, kuning, dan putih pun tertata begitu rapi dalam beberapa pot bunga berukuran kecil. Tak hanya mawar, masih banyak lagi koleksi bunga milik Bunda Amel yang menghiasi halaman tersebut, ditambah dengan rumput Jepang berwarna hijau yang semakin menambah kesan segar dan nyaman tempat tinggal Raka.
"Mas Raka ke mana sie? Lama amat perginya," lirih Mayang seraya memetik satu tangkai bunga mawar merah
"Nggak apa kali ya ambil satu tangkai doang, hehe. Habisnya cantik banget," ocehnya masih bicara sendirian.
Gadis itu duduk diam sambil menciumi aroma harum yang menguar dari bunga yang ada di genggaman tangannya tersebut. Kemudian, Mayang menatap lurus ke atas langit di mana malam ini bintang dan rembulan bersinergi dengan baik untuk membuat angkasa malam menjadi indah bila dipandang.
"Opa, apa Opa melihat Mayang dari atas sana?" tanya Mayang.
"Opa, Mayang kangen banget sama Opa," lanjutnya mengungkapkan rasa yang bercokol dalam hatinya.
Namun, Mayang sangat bersyukur dengan kehadiran Raka dalam hidupnya. Lelaki itu banyak memberi motivasi serta kekuatan untuknya yang dalam keadaan masih labil dan bergejolak. Raka bisa dengan mudah mengobati luka hati Mayang. Ya, meski saat sendiri seperti ini Mayang kembali merasa sedih, tapi setidaknya ia tidak menghabiskan hidupnya seharian penuh hanya untuk menangis dan meratapi nasib.
Perhatian Raka untuknya begitu spesial Mayang rasakan. Meski hanya dengan mengobati luka di kakinya dan memberikan sepasang sandal jepit yang lucu agar Mayang tidak kesakitan saat berjalan, tapi itu amatlah sangat berharga dan tidak akan pernah Mayang lupakan seumur hidupnya.