29. Pemakaman Opa

2039 Kata
"Assalamu .... " Raka datang dan langsung bengong melihat Andika ada di dalam rumahnya. "... alaikum." Raka sempat menjeda perkataannya saat mengucap salam kemudian ia lanjutkan dengan suara yang lebih lemah dari sebelumnya. "Ini dia biang keroknya!" sungut Andika seraya berdiri dan memperlihatkan otot-otot lengannya. "Ngapain sih lu?" tanya Raka tidak mengerti. Sama sekali tidak ada rasa bersalah. Raka yang masih berdiri di ambang pintu dengan dua buah tentengan di tangannya, justru sibuk menengok ke belakang alias melihat di depan rumahnya seperti mencari-cari sesuatu. "Motor lu mana? Perasaan gue nggak lihat ada motor lu!" Oh, ternyata Raka mencari kendaraan milik sahabatnya itu. "Bug ...!" "Ya Allah!" desah Mayang. Andika melempar bantal kursi yang ada di belakang punggungnya tepat mengenai wajah Raka. "Astagfirullah! Lu ngapain sie, Dik? Perasaan gue gak salah apa-apa kenapa lu timpuk pake bantal?" protes Raka dan balik melempar bantal pada rekannya tersebut. "Itu perasaan lu doang geblek!" omel Dika. "Dih ... Si Dika kenapa sie, May?" Meminta penjelasan pada Mayang. "Kesurupan, Mas," jawab Mayang kemudian cekikikan. "Kamu mah sama aja, Yang!" sungut Dika kesal. "May! Jangan Yang!" Raka mengoreksi panggilan Andika untuk Mayang. "Serah gue, Bambang! Lidah, lidah gue!" bantah Andika. "Kalau lu manggil Yang itu bikin ambigu! Ntar disangkanya sayang bukan Mayang!" balas Raka dengan nada tinggi. "Biarin! Orang gue beneran sayang." Melempar senyum pada Mayang disela omelannya. Mayang hanya bisa nyengir tanpa berkomentar apapun. Hm ... dua orang lelaki aja udah rame banget macam pasar. Pikir Mayang. "Awas lu macam-macam ama, Mayang! Dia masih kecil! Masih piyik!" murka Raka. Emang aku anak ayam, Mas? Mayang memprotes dalam hati. "Bodo! Ada yang jauh lebih penting yang mau gue omongin sama lu," kata Andika seraya merangkul pundak Raka. "Apaan? Perasaan gue kok nggak enak gini sie?" Raka mengibaskan tangan Andika yang ada di bahunya. "Kenapa lu fitnah gue, Monyong?" tanya Andika seraya menarik kaos Raka yang berbalut jaket tebal. "Mas ... Mas .... " Mayang panik tangannya sudah memegang punggung Andika dan menepuk-nepuknya. "Apaan? Fitnah apaan? Aduh ... ngigau lu, Ya?" Masih belum bisa menangkap penyebab amarah Andika. "Kenapa lu bilang sama Mayang gue dikeroyok karena ngerebut bini orang?" tanya Andika dengan nada tinggi. Masih memegang ujung kaos Raka dengan ekspresi yang dibuat semenyeramkan mungkin. Padahal tetap terlihat tidak menyeramkan juga sie. Mati aku! Raka mulai paham kalau dia sedang terkena masalah besar. Bola mata Raka melirik ke sana kemari, berputar, bergulung-gulung, yang barusan terlalu berlebihan, mana ada mata bergulung-gulung. Hahaha. Mulai tidak fokus intinya. Karena sekarang Raka sedang berusaha untuk mencari alasan alias berkilah agar Andika tidak marah padanya. "Eits, sabar-sabar! Keep calm, Baby! (Tetap tenang, Sayang!)" pinta Raka seraya mengelus-elus d**a Andika. "Jangan sentuh adik, Bang!" decak Andika mulai tidak serius. Lelaki itu melepaskan sahabatnya kemudian duduk kembali di sofa. Semarah apapun Andika dia tidak akan mungkin menyakiti Raka yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri. Begitu pun Raka yang juga tidak mungkin melukai Andika. "Duduk lu, Ka! Gue butuh penjelasan lu!" Memerintah seperti seorang ibu yang hendak meminta keterangan dari anaknya yang nakal. Raka melihat ke arah Mayang. Mayang balik memperhatikan Raka. Gadis itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti kenapa Raka menjadi setegang itu sekarang. "Mm ... Dik!" Raka duduk di sisi Andika. Senyumnya mulai terkembang. Senyum kepalsuan untuk menutupi kebohongannya. ** Mayang tiba di pemakaman tepat saat jenazah sang kakek dimasukkan ke liang lahat. Jejeran para pelayat sudah duduk di bawah tenda putih yang telah disiapkan untuk prosesi pemakaman. Tak hanya di rumah duka, karangan bunga ungkapan duka cita pun memenuhi tempat pemakaman umum berkelas atas tersebut. Nama besar Ardi Soesetya terpampang pada rangkaian bunga nan indah, tapi berisi ungkapan yang menyedihkan mulai dari gerbang pemakaman hingga lima meter dari liang lahat. "Opa .... " Mayang terisak. Gadis itu sedih karena hanya bisa melihat pemakaman sang kakek dari kejauhan. "Yang kuat, Ya May!" kata Raka seraya mengelus-elus pundak Mayang. Lagi-lagi aturan Bunda Amel jaga jarak minimal dua meter pun 'terpaksa' dilanggar. "Hiks ... hiks .... aku yang salah ya, Mas? Kalau aku enggak melarikan diri pasti Opa masih hidup sampai sekarang kan?" Lagi-lagi, entah sudah untuk ke beberapa kalinya gadis itu berkata demikian. Bahkan, mungkin Raka sudah bosan mendengarkannya. "Kalau kamu ingin tahu siapa yang patut disalahkan itu ya Ibumu, kalau kamu nggak ditindas ibumu pasti kamu nggak akan nekad pergi." Setiap orang yang mendengar cerita Mayang pasti akan berpendapat yang sama seperti Raka. "Tapi balik lagi, semua itu udah diatur sama yang di atas, May." Ustadz Raka mulai memberi ceramah keagamaan.Wkwkwkwkw ... "Hidup mati orang itu udah ditulis bahkan sebelum kita lahir ke dunia. Dan umur Opa memang udah digaris sampai segini aja, May. Sekarang udah bukan saatnya lagi untuk saling menyalahkan." "Tapi Mommy terus nyalahin aku, Mas," ungkap Mayang merasa pilu. Tanpa melakukan kesalahan pun ia tetap dinilai salah oleh ibunya. Hanya bernapas saja adalah kesalahan, apalagi dalam hal ini. Sungguh ia akan menjadi bulan-bulanan Mommy jika ia tidak melarikan diri dari rumah. Ya, meskipun Jass dan Daddy akan melindunginya, tapi tetap saja Sandrina memiliki celah untuk mengintimidasinya. "Jangan hiraukan apa kata ibumu, May! Lakukan yang terbaik yang kamu bisa! Biar apa? Biar kamu bisa nunjukkin ke ibumu kalau kamu itu layak untuk dibanggakan," ujar Raka sangat dewasa. Dan inilah yang membuat Mayang menjadi nyaman saat bersama Raka, karena kedewasaannya dan nasehat-nasehatnya. "Mommy memintaku untuk kuliah di luar negeri, Mas. Mommy pingin aku jadi pembisnis yang handal biar bisa nerusin perusahan Opa, tapi aku nggak mau jadi pembisnis. Aku pingin jadi dokter, Mas. Dan Opa udah ijinin aku untuk jadi dokter. Opa juga udah janji mau bujukin Mommy, tapi Opa malah pergi sebelum nepatin janjinya ke aku. Hiks ...." Mayang kembali terisak-isak saat ia merasa harapan masa depan yang ia inginkan terkubur bersama mendiang kakeknya. "Nanti kita lanjutin lagi ceritanya, May. Sekarang kita berdoa dulu buat Opa kamu, Ya!" Pemakaman telah usai. Kini para kerabat serta pelayat tengah menengadahkan tangan untuk mendoakan mendiang Tuan Ardi Soesetya. Pemuka agama mempimpin doa dan diamini oleh semua petakziah yang hadir ke pemakaman. Dari jarak dua puluh meter, Mayang tak lepas mengawasi setiap aktivitas yang terjadi di dekat makam Opa. Meski tidak terlihat jelas, tapi Mayang bisa memastikan bahwa wanita berbaju serba hitam dengan kerudung dan kaca mata berwarna senada, yang saat ini tengah menaburkan bunga di gundukkan tanah opanya adalah Sandrina. Di samping Sandrina ada sang ayah yang terlihat sedang menyiramkan air mawar di pusara mertuanya. "Selamat jalan, Pi. Tenanglah di surga bersama Allah. Rey janji akan menjalankan semua amanat Papi termasuk menjaga Mayang dan menikahkannya dengan lelaki pilihan Papi," lirih Reyhan sembari mengelus batu nisan yang bertuliskan nama mertuanya yang super baik tersebut. "Aku mau juga naburin bunga di makam Opa, Mas," kata Mayang pada Raka. "Kita tunggu sampai sepi, Ya! Baru kita mendekat ke makam Opa," sahut Raka mengabulkan permintaan Mayang. "Yang benar, Mas?" Mayang tersenyum senang. Raka membalas senyum Mayang kemudian menganggukkan kepalanya. "Makasih ya, Mas." Mayang memeluk Raka. Lagi-lagi, jaga jarak dua meter pun terabaikan. "Sama-sama, May," balas Raka. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menyadari kehadiran Raka dan Mayang. Pemilik manik hitam tajam itu menelisik ke duanya dengan kobaran api yang membakar hatinya. ** Raka menepati janjinya, setelah Sandrina, Reyhan dan para pelayat yang lainnya pergi, Raka mengajak Mayang agar lebih dekat pada makam Opa. Di tempat itulah yang kelak akan ia datangi untuk melepas rindu pada Opa. Tempat yang menjadi peristirahatan terakhir Opa untuk selamanya. Mayang memeluk nisan opa dengan erat. Gadis belia itu masih juga tidak bosan menangisi kepergian orang yang begitu mencintainya tersebut. Dan Raka masih setia di sisi Mayang untuk menguatkannya. Bagaimana bisa aku jauhin kamu, May? Aku selalu nggak tega tiap kali lihat kamu nangis kayak gini. Kata Raka dalam hati. ** Mayang masih berada di rumah Raka. Gadis itu duduk melamun di kamar Bunda Amel dengan pikirannya sendiri. Dia berpikir tentang bagaimana ia harus menjalani hidup ke depannya tanpa sosok opa yang kerap memanjakannya dan membelanya. "Opa, apa Mayang nggak bisa jadi dokter seperti yang Mayang mau? Aku nggak mau jadi pembisnis seperti Opa, Mommy dan Daddy. Aku mau punya rumah sakit sendiri dan menolong banyak orang yang kesusahan, Opa." Mayang berkata seakan ada Tuan Ardi Soesetya di hadapannya. "Mommy pasti nggak akan nurutin mau Mayang," lanjutnya seraya mengubah posisinya, gadis itu memeluk guling dan mencondongkan badannya menghadap ke sebelah kanan alias membelakangi pintu. "Opa ... Mayang kangen," lirih Mayang. Mayang dan Opa memang kerap terpisah karena kesibukkan Opa yang begitu padat. Mungkin hanya sekali dalam seminggu mereka bisa bertemu itu pun jika tidak ada jadwal Opa untuk keluar negeri. Namun, perpisahan dunia karena kematian itu ternyata sangatlah berat. Sangatlah menyakitkan! Tidak ada lagi kesempatan mereka untuk bertemu meski hanya sekali saja. Hanya berharap Tuhan mempertemukan mereka di alam mimpi seiring doa-doa yang harus selalu dipanjatkan untuk yang telah tiada. "May." Suara Raka memanggil Mayang diiringi dengan tepukan pelan di bahu gadis itu. Mayang segera menoleh dan beranjak. "Mas Raka," sahut Mayang. Ia kini duduk bersandar di sandaran tempat tidur. "Nangis lagi kamu?" tanya Raka. Lelaki itu terlihat membawa sesuatu yang terbungkus dalam plastik putih dalam dekapannya. "Masih keingat Opa terus, Mas," jawab Mayang. "Doain Opa! Hanya itu yang kita bisa." Raka duduk di samping Mayang. Mereka berhadap-hadapan. Ya sudahlah! Untuk sementara aturan Bunda Amel untuk tidak terlalu sering berduaan dengan lawan jenis memang harus mereka abaikan. Yang terpenting mereka tidak melakukan tindakan yang di luar batas norma yang seharusnya. Saling menjaga kehormatan masing-masing itu perlu. "May, aku beliin ini buat kamu," kata Raka seraya menyerahkan kresek yang ia bawa pada Mayang. Mayang terbata-bata menatap barang yang diberikan oleh Raka. Perlahan ia mengambil bingkisan itu dari tangan Raka. "Apa ini, Mas?" tanya Mayang seraya membuka plastik tersebut. "Lihat aja sendiri!" pinta Raka. Mayang cukup antusias, tapi entah kenapa jantungnya menjadi berdebar kencang. Sementara tangannya terus bergerak mengeluarkan barang tersebut dari dalam tempat yang mengcovernya. "Mas ... ini buat aku?" Mayang tersenyum senang. Bukan main girangnya ia mendapatkan itu dari Raka. Raka balas senyum Mayang. "Iya, buat kamu. Kan aku ngasihnya ke kamu, Sri," jawab Raka. "Makasih banget ya, Mas," seru Mayang. Gadis itu sudah merentangkan tangannya dan mencondongkan badannya ke depan hendak memeluk Raka, tapi dengan cepat Raka mencegahnya. "Bukan muhrim, Sri!" tegur Raka. "Pih ... tadi aja Mas Raka melukin aku terus. Nggak konsisten," cela Mayang. "Kalau terpaksa dan nggak sadar nggak apa-apa keles." Raka berkhilah. Mana ada alasan seperti itu Raka? Sekali tidak boleh ya tidak boleh! "Tapi makasih banget ya, Mas. Aku juga udah berniat mau beli, tapi belum sempat. Eh ... Mas Raka malah udah beliin aku duluan. Kayaknya kita memang berjodoh deh, Mas." Mayang mulai genit dengan mencolek lengan Raka kemudian mengedip-ngedipkan matanya. "Hilih ... apaan sie lu? Kelilipan?" tanya Raka menahan senyum. Aslinya berbunga-bunga juga hatinya tuch. "Jodoh, Mas. Kita jodoh ... you and me have a chemistry to match, right? (Kamu dan aku memiliki kemistri yang cocok, benarkan?)" goda Mayang. Raka tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Kenapa senyum-senyum gitu? Hayo ... girang ya bakalan nikah sama aku?" Mayang menebak-nebak suasana hati Raka seenaknya sendiri. "Anak kecil nggak usah ngomongin nikah!" gerutu Raka. "Ye ... kata Mas Raka udah baligh. Berarti udah gede dong aku, wek ... !" Mayang menjulurkan lidahnya meledek Raka. "Gede apaan? Cengeng gitu!" ledek Raka. Di tengah candaan mereka, terdengar suara Adzan Maghrib berkumandang. "May, salat dulu! Dipakai, Ya!" pinta Raka. Lelaki itu segera beranjak untuk memenuhi panggilan Tuhan dan melakukan kewajibannya. "Mas!" Mayang meraih tangan Raka dan lelaki itu segera menoleh serta menghentikan langkahnya. "Maaf, Mas!" Mayang melepaskan tangannya dari jemari Raka. "Kenapa?" tanya Raka. "Aku .... " Menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. "Aku ...." Masih ragu untuk meneruskan perkataannya. Antara malu, tapi butuh. "Aku apaan sich, Sri?" Raka mulai nggak sabaran. Mayang menundukkan kepala seraya membentur-benturkan ke dua ujung jari telunjuknya dan ke delapan jari yang lain ia tekuk mengepal. "Nggak jelas ya ini anak kecil! Mau ngomong apaan?" Mulai keluar galaknya. "Aku nggak hapal urutan wudlu itu mulai dari apa sie, Mas? Hehe." Akhirnya ... mau bilang begitu saja kebingungan! Dan ... cengiran lugu Mayang pamerkan pada Raka untuk menutupi rasa malunya. Raka terkekeh, ia meletakkan ke dua tangannya di pinggang. "Kayaknya lu mesti gua privat, Sri. Ayo ikut gue!" pinta Raka seraya melambaikan tangannya mengomando Mayang agar mengikuti ke mana langkah kakinya menuju. "Eh, iya, Mas," sahut Mayang dan bergegas mengekor di belakang lelaki yang super galak, tapi baik tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN