28. Andika Difitnah Raka

1926 Kata
** Mayang tertidur di kamar Bunda Amel setelah meminum obat antibiotik yang Raka belikan untuknya. Gadis itu juga sudah kenyang karena makan sepiring nasi goreng buatan Raka. Padahal biar Jass memaksa, Mayang tetap tidak mau makan, tapi malah menangkis piringnya hingga pecah. Namun, jika Raka yang memerintah Mayang cenderung mengikutinya. Mayang sendiri pun tidak mengerti kenapa pamor Jass bisa kalah dengan Raka yang baru dikenalnya. Raka mengintip dari balik pintu kamar, memastikan bahwa gadis itu masih tertidur lelap. Ia lalu memiliki inisiatif untuk membelikan Mayang sesuatu. Namun, sebelumnya Raka menyempatkan diri untuk membersihkan dapur yang tadi pagi sempat kebakaran. "Ini gara-gara lu, Sri! Nyaris aja rumah gue kebakaran." Raka komat-kamit seolah sedang mengajak Mayang bicara. Selepas itu Raka bergegas Mandi dan berganti baju kemudian melaksanakan Salat Dhuha dua rakaat. Di samping ia mendoakan dirinya sendiri, tak lupa Raka juga mendoakan Bunda, kesembuhan Rania dan tentunya mendoakan Mayang serta Opa Ardi Soesetya. Ya, meskipun Raka tidak mengenal siapa lelaki tua itu, tapi tidak ada salahnya ia turut mendoakan arwah beliau. Raka melepas sarung dan ia lipat rapi untuk digulung menjadi satu dengan sajadahnya. Lelaki itu menengok ke arah jam berbentuk masjid yang tergantung di dinding kamar. "Masih jam sembilan kurang seperempat," lirihnya membaca jarum jam tersebut. "Cukuplah buat aku keluar sebentar," lanjut Raka. Lelaki itu mengambil jaket dan memakainya. Kemudian tak lupa Raka melindungi kepalanya dengan helm dan ke dua tangannya pun ia pakaian sarungan tangan untuk menghalau sengatan terik matahari. "Tunggu sebentar ya, May! Aku pergi nggak akan lama," lirih Raka seraya mengamati Mayang yang tertidur pulas. Meski dalam keadaan tidur pun Mayang tetap kelihatan cantik banget lho. Astagfirullah, Raka! Ingat dosa! Ini namanya zina mata, tapi kumaha? Emang beneran cantik. Oceh Raka dalam batin. Rasa-rasanya ia ingin sekali mengelus rambut merah semu cokelat yang Mayang miliki, tapi sekali lagi, stempel "Bukan Muhrim" membuat Raka mengurungkan niatnya. ** "Tok ... tok ... tok ...!" Kepalan tangan seorang lelaki menghantam pintu rumah Raka. Beberapa saat menunggu tak ada sambutan dari dalam rumah. "Si Raka ke mana sie?" tanya si tamu yang tak diundang itu seraya menengok keadaan dalam rumah melalui jendela yang tirainya terbuka sebagian. "Raka ... Woey! Kampret! Lu ke mana sie?" teriak orang itu, benar-benar tidak tahu sopan santun, tapi hal tersebut sudah biasa ia lakukan. Keluar masuk rumah Raka itu sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya. "Tok ... tok ... tok ...!" Tamu itu kembali mengetuk pintu. "Raka ...!" Berteriak lebih kencang dari sebelumnya. Mayang membuka matanya perlahan. Ia mengedip-ngedipkan kelopak mata sejenak agar penglihatannya yang masih kabur karena nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul menjadi lebih jelas. "Raka!" Mayang mendengar teriakan itu dan lekas beranjak dari tempat tidurnya. "Siapa sih itu?" tanya Mayang sambil berjalan keluar dari kamar Bunda Amel. Mayang celingukan mencari keberadaan Raka. "Mas Raka ke mana, Ya? Pantas tamunya nggak ada yang nyuruh masuk, orang Mas Raka pergi," gerutu Mayang. Mayang memutuskan untuk segera membuka pintu, karena teriakan lelaki itu semakin kencang dan memekkan telinganya. "M~Ma ... Mayang ...." Lelaki itu nampak shock melihat penampakan Mayang ada di depan matanya. Dia bahkan nyaris tak berkedip menatap gadis remaja yang ada di hadapannya. "Mas Dika toh. Pantas suaranya kayak nggak asing," sahut Mayang. "Ayo masuk, Mas!" pinta Mayang mempersilahkan Andika seolah itu adalah rumahnya sendiri. "Iya, Yang. Kamu kok ada di rumah Raka lagi?" Andika berjalan mengikuti Mayang. "Ceritanya panjang, Mas," jawab Mayang. "Sepanjang apapun pasti aku dengerin kok, Yang." Dika mulai gombal. "Duduk dulu, Mas! Memang nggak capek berdiri terus," tegur Mayang seraya menepuk sofa kosong yang ada di sisinya. Karena terkesima dengan kecantikan Mayang, Andika jadi lupa kalau duduk di sofa milik Raka itu gratis tanpa dipungut biaya, jadi dia tidak perlu menyusahkan dirinya sendiri dengan berdiri seperti itu. "Eh iya, Yang." Menempatkan dirinya tepat di sebelah Mayang. "Mas ... jangan dekat-dekat!" Mendorong tubuh Andika perlahan. "Sofanya masih luas lho," ketus Mayang. "Hehehe." Tersenyum sok polos, mendadak berasa menjadi seperti bayi baru lahir yang belum punya dosa. "Habis kamu nepuknya di situ jadi aku pikir kamu nyuruh aku duduk di sebelah kamu, Yang," ujar Andika sembari berpindah duduk di sofa yang lainnya. "Mas Dika itu modus aja." "Hehehe. Raka di mana, Yang?" tanya Andika seraya menyapukan pandangannya mencari sosok manusia yang bernama Raka. "Nggak tahu aku, Mas. Aku bangun tidur udah nggak ada," jawab Mayang. "Jadi kamu nginep di rumah Raka?" Jiwa sok ingin tahu Andika mulai kumat. "Ceritanya panjang, Mas." Mayang belum mengubah jawabannya. "Udah dibilang aku mau dengerin sepanjang apapun cerita kamu, Yang." Menyahut dengan balasan yang sama pula. "Nanti Mas Dika tanya sama Mas Raka aja dech! Aku mau tanya sesuatu yang lebih penting sama Mas Dika," tegas Mayang. "Tanya apa, Sayang? Aku juga cinta kamu kok," celetuk Dika genit. "Jangan ganggu aku, Mas!" tegur Mayang seraya mencebikkan bibirnya. "Galak banget," keluh Dika kecewa. Mayang menggeser duduknya agar lebih dekat pada Andika. "Ciye ... udah mulai nempel nich," canda lelaki itu sambil menaik-naikkan ke dua alisnya dengan senyum usil yang tersungging pada bibir tebalnya. Mayang menaruh ke dua telapak tangannya di pipi Andika. Andika spontan meletakkan ke dua tangannya pada tangan Mayang. "Mas Dika nggak usah ikut-ikutan!" protes Mayang lalu mengibaskan tangan Dika. "Iya dech. Kamu mau nyium Mas Dika, Ya? Entar dulu! Jadian dulu, Yang." Andika kege-eran. Mayang tidak mempedulikan ocehan Dika. Dia justru sibuk menelisik wajah Andika. Mimpi apa gue semalam bisa berduaan sama Mayang kayak gini? Mana tangannya wangi banget begini. Pingin gue cium rasanya. Otak nakal Dika bekerja Mayang menyingkirkan tangannya dari wajah Andika kemudian kembali menjauh ke posisi dia semula. "Kok udahan, Yang?" Bertanya dengan nada memrotes. "Mas Dika kemarin dikeroyok orang, Ya?" tanya Mayang. "Tapi aku lihat luka lebam di wajah Mas Dika nggak separah Mas Raka," selidik Mayang. Andika menggaruk-garuk kepalanya. "Bukan aku yang dikeroyok kali, Yang." "Lalu siapa?" tanya Mayang sembari memutar bola matanya. "Jadi kamu deketin wajah aku cuma buat ngamati luka aku?" Menjawab dengan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Mayang. Si Andika sudah kepedean jadi kini dia berasa dongkol. "Hm ... betul!" Mayang mengulurkan jempolnya ke arah Andika. "Buruan jawab, Mas!" desak Mayang. "Bukan aku yang dikeroyok, tapi justru Raka yang dikeroyok," cetus Andika sambil melipat satu kakinya dan ia topangkan di kakinya yang satu lagi. "Lhoh! Kata Mas Raka, dia bantuin Mas Dika karena Mas Dika dikeroyok orang. Mas Dika ngrebut pacar orang kan?" "What?!" seru Andika seraya mencondongkan badannya ke depan. Ke dua bola matanya membelalak cukup lebar. Mayang menjadi kebingungan. Gadis belia itu menyernyitkan keningnya sambil membalas tatapan Andika dengan memicingkan matanya. "Kok Mas Dika kaget begitu sih?" tanya Mayang penasaran. "Jelas gue kagetlah, Yang. Mana ada aku dikeroyok karena ngerebut cewek orang? Pih ... Sorylah, Yaw! Bukan Andika Sanjaya namanya kalau jadi pebinor!" oceh lelaki itu seraya menepuk dadanya dengan artian bahwa dia sedang membanggakan dirinya sendiri, "Bukan Andika Sanjaya namanya." Part itu yang harus digaris bawahi dan ditulis pakai huruf tebal. "Pebinor apaan sie, Mas?" tanya Mayang. Gadis itu memang tidak mengerti istilah yang aneh-aneh macam begitu, yang dia tahu istilah ilmiah yang kerap kali ia hapalkan ketika akan ada ujian sekolah. "Perebut Bini Orang!" jawab Dika dengan nada tegas. "Astaga!" Mayang menutup mulutnya dengan telapak tangan, jika Raka mendengar pasti sudah ditegur. "Astagfirullah!" Mayang mengoreksi ucapannya. "Barangkali Mas Dika yang lupa kalau pernah rebut bini orang. Masa iya Mas Raka bohong sama aku sie, Mas? Ayo diingat-ingat dulu, Mas Dika! Mas Dika salah apa coba kalau sampai difitnah begitu?!" Mayang membela Raka dan meminta Andika untuk introspeksi diri. "Astagfirullah, Mayang! Jadi kamu lebih percaya sama Raka?!" Bertanya dengan nada tinggi, 'Ngegas' kalau anak gaul biasanya memberi istilah. Tidak lupa membelalakkan ke dua manik matanya untuk memberi tanda bahwa ia 'Sedang Marah Besar'. "Oh .... tentu!" Gadis yang diharapkan akan menjawab "Tidak!" justru sangat yakin kalau Andika-lah yang berbohong. Andika sekarang, menelan ludah kasar sambil meletakkan ke dua kakinya di atas meja. "Nggak sopan, Mas!" Si Gadis menegur sambil geleng-geleng kepala. Dengan cepat menurunkan ke dua kakinya yang tidak tahu malu, berpindah duduk di samping Mayang hingga gadis itu bergeser dan duduk di ujung sofa. Sekali senggol jatuhlah anak bule yang kaya raya itu. Belum selesai tingkah konyol Andika, ia memegang ke dua tangan Mayang sambil memasang ekspresi memelas. "Mas, bukan muhrim!" tegur Mayang. "Diam dulu, Sri!" sentak Dika ketika Mayang hendak menarik paksa tangannya. Jadi ketularan Raka memanggil Mayang dengan sebutan Sri. Mayang menurut saja. "Coba lihatlah mataku, Yang! Apakah ada kebohongan di mataku ini?" Mulai drama Si Andika. Mayang yang polos mau-mau saja menuruti perintah Andika dengan menelisik serius mata lelaki itu. "Aku mah nggak paham mata lelaki yang lagi bohong kayak apa, Mas. Yang aku lihat cuma ada belek dikit di ujung mata Mas Dika sebelah kanan," papar Mayang santai sambil menunjuk area mata Andika yang dia maksud. Buru-buru Andika melepas tangan Mayang. "Sialan! Kenapa pakai nyuruh Mayang lihatin mata gue sie? Ah tengsin!" Mencaci maki dirinya sendiri dalam hati sambil membersihkan matanya dengan jari jemari. Lelaki berumur dua puluh tiga tahun tersebut baru ingat kalau sejak bangun tidur tadi ia belum mandi ataupun cuci muka, pantas dan wajar saja kalau masih ada belek yang tertinggal. "Ini kelilipan debu, Yang. Maklum naik motor nggak pake helm." Mencari alasan yang ngadi-ngadi. "Hahaha." Mayang terpingkal. "Ya pokoknya aku percaya sama Mas Raka, Mas. Nggak mungkin Mas Raka bohong sama aku. Mas Dika mah parah, bini orang direbut," cibir Mayang masih tetap berpihak pada Raka. "Astagfirullah ... Yang ... Mayang ...." desah Andika kesal. "Kurang ajar banget emang Si Raka!" "Awas ya lu Raka ..." Andika mulai ngomel. ".... Gua hajar lu! Nggak akan gue kasih ampun! Ini namanya pencemaran nama baik! Yang ada dia yang dikeroyok orang bukannya gue! Apalagi karena ngerebut cewek orang! Astagfirullah benar-benar teman yang durjana! Kacang beruntung!" "Hah? Apaan? Kacang beruntung?" Mayang menjadi sakit kepala kenapa Andika pakai bawa-bawa kacang segala? Memang apa salahnya kacang? "Luck nut maksudnya, Yang!" Andika menjelaskan dengan emosi yang masih sama ketika ia mengoceh barusan. "Oalah, lucknut ... hahahaha." Mayang tertawa terpingkal -pingkal. "Brak ...!" Andika memukul meja yang ada di depannya. "Allahu Akbar!" seru Mayang kaget setengah mati. Bahunya sampai melonjak dan tangannya spontan ia letakkan di depan d**a. "Kesel gua, Yang! Kesel!" sembur Andika dengan memamerkan mimik wajahnya yang ... antara marah tapi lucu, begitu kalau Mayang lihat. Jadinya Mayang bingung mau ketawa atau mau memberi simpati dulu. Mayang menahan tawa melihat lelaki yang ada di hadapannya. "Sialan emang Si Raka!" Masih mengumpati sahabatnya dengan berbagai cacian. "Kecombrang busuk! Bikin gue tengsin banget di depan cewek inceran gue!" "Ampun, Mas! Aku masih kecil belum pantas disebut cewek. Hahaha." Mayang menanggapi ocehan Andika dengan candaan. Andika memukul meja berkali-kali. "Brak ... brak ... brak ...." Kali ini Mayang tidak kaget seperti waktu di awal Andika melakukannya. Setelah puas melampiaskan rasa kesalnya pada meja yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa, Andika duduk bersandar pada sandaran sofa yang ia duduki. Wajahnya menengadah menatap ke atas langit-langit rumah. Mayang bergeser-bergeser lalu berpindah duduk agak jauh dari Andika. Sekonyong-konyong ia takut kalau setelah ini giliran dialah yang akan dibanting oleh Andika. Andika masih pada posisinya, sedang gadis abege itu terdiam seraya memperhatikan tingkah polah sahabat Raka yang menggelikan. Berasa ia melihat pertunjukkan sirkus di pasar malam dan Andika-lah yang sedang mendapatkan giliran tampil untuk menghibur para pengunjung. "Yang, Raka ke mana sih? Gue udah nggak sabar pingin hajar dia!" Sambil menggulung lengan jaketnya tinggi ke atas. Memberi kode kalau ia sudah siap untuk beradu jodos. "Awas kalau Mas Dika sampai ngapa-ngapain Mas Raka! Nanti aku hajar balik!" ancam Mayang gantian melingkas lengan bajunya. Andika semakin dibuat kesal saja karena Mayang sejak tadi memihak pada Raka. Padahal dalam hal ini dia benar-benar tidak bersalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN