**
"Kau tahu aku sangat mencintaimu kan? Tapi kau justru meninggalkan aku ... kau ... membuat aku hidup seperti di neraka selama tujuh belas tahun ini!"
Sandrina merutuki selembar foto usang yang ada di hadapannya. Lelehan air matanya menandakan jika hatinya benar-benar terluka parah.
"Dan sekarang Papi pun ikut meninggalkan aku. Tiada satu pun yang aku cintai di dunia ini selain kalian berdua!" Sandrina masih meracau tidak karuan.
Untuk ke dua kalinya wanita itu merasakan patah hati yang teramat sangat. Mentalnya sudah cukup terganggu sejak kehilangan yang pertama dan kini semakin terkikis setelah kehilangan yang ke dua.
"Kenapa nasibku seperti ini? Aku kehilangan dua lelaki yang aku cintai karena anak nakal itu. Anak yang tidak pernah aku harapkan kehadirannya."
Sandrina duduk di lantai kamar dengan punggung bersandar pada pinggiran ranjang king size miliknya. Wajahnya sembab dengan mata yang membengkak karena wanita itu tak henti menitikkan air mata. Seolah tak kan puas perasaannya meski sudah hampir setengah jam ia menangis sesenggukan.
"Kepalaku rasanya mau pecah," keluh Sandrina seraya meremat kencang rambutnya yang berantakan.
Seorang maid datang dengan membawakan nampan berisi air putih dan juga obat-obatan. Sudah sejak beberapa bulan ini Sandrina rutin mengonsumsi obat antidepresan atas pengawasan dari dokter. Wanita itu merasa aktifitasnya terganggu dan tidak nyaman dengan kondisi suasana hatinya yang kerap berubah-ubah secara mendadak dan cenderung temperamental.
"Nyonya, Tuan Reyhan meminta saya untuk mengantarkan obat untuk Nyonya," kata maid tersebut dengan sopan.
"Letakkan saja di meja nanti aku akan meminumnya!" perintah Sandrina. Wanita itu beranjak dan menempatkan dirinya di atas ranjang.
"Tapi saya diminta Tuan Reyhan untuk memastikan bahwa Nyonya benar-benar meminum obatnya," balas maid yang sudah lima tahun mengabdi di kediaman Ardi Soesetya itu.
"Huft .... " Sandrina menghela napas panjang.
"Reyhan sangat perhatian denganku, tapi tetap saja aku tidak bisa mencintainya," ujar Sandrina pelan.
"Kemarikan obatnya! Biar aku minum sekarang," pintanya.
"Baik, Nyonya." Menyodorkan apa yang ia bawa pada bosnya.
**
Raka menuntun Mayang berjalan masuk ke dalam rumahnya, lelaki itu juga membantu Mayang untuk duduk di sofa ruang tamu. Terlihat Mayang mengigit bibirnya untuk melampiaskan rasa sakit yang ia rasakan sejak tadi, tapi ia tahan sekuat-kuatnya.
Raka meletakkan kaki Mayang di atas pangkuannya agar ia mudah memeriksa luka gadis itu.
"Kenapa bisa begini sih, Sri?" tanya Raka penasaran.
"Kena pecahan piring, Mas," jawab Mayang.
"Astagfirullah, kenapa bisa?"
"Ini salahku, Mas. Aku yang pecahin piring karena Jass maksa aku buat makan. Terus nggak sengaja aku injak, jadinya kayak gini," cerita Mayang.
"Kenapa nggak diobati dulu? Tunggu, Ya!" Raka menyingkirkan kaki Mayang yang ada dipangkuannya kemudian beranjak dari tempatnya.
Lelaki itu mengambil obat-obatan untuk mengobati luka Mayang. Tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari satu menit Raka sudah kembali dengan membawa satu kotak obat.
"Sini biar aku obati!" Raka kembali meletakkan kaki Mayang di atas pangkuannya.
Mayang mengamati wajah Raka. Ada yang menarik perhatian gadis itu. Apalagi jika bukan luka yang ada di sekitar muka Raka.
"Mas .... " Mayang menyentuh luka lebam yang ada di pipi Raka.
Kontan hal ini membuat Raka menghentikan apa yang akan dia lakukan yaitu membersihkan kaki Mayang menggunakan alkohol.
".... kenapa wajahmu biru-biru seperti ini?" tanya Mayang ingin tahu.
Rasa khawatir muncul di benak Mayang. Dari mana Raka mendapatkan luka seperti ini? Apa ada orang jahat yang menyakiti Raka.
Raka memegang tangan Mayang yang mampir di wajahnya. Perlahan lelaki itu menyingkirkan tangan Mayang.
Raka tersenyum. "Ini aku kepentok meja aja kok, May. Nggak ada yang serius."
"Bohong! Mas Raka bohong! Mana mungkin kepentok meja? Lukanya nggak cuma di pipi, Mas. Ada juga di dekat bibir Mas Raka," sangkal Mayang.
"May, nggak usah bahas tentang aku! Aku baik-baik aja," tegas Raka.
Mayang menarik kakinya yang ada di pangkuan Raka. Dia membenarkan posisi duduknya dengan menggeser mendekati Raka yang duduk di kursi yang berbeda dari dia.
"Mas, kemarin aku ketakutan banget lho. Perasaan aku tuh nggak tenang. Aku ngerasa ada hal buruk yang terjadi sama Mas Raka. Aku sampai nggak bisa bobo. Mas Raka jangan boong! Biar aku masih kecil, tapi nalarku masih jalan. Mana ada kepentok meja lukanya nyebar begitu? Nggak masuk akal, Mas," sembur Mayang membantah penuturan Raka.
Oalah Sri ... Sri ... kritis banget kamu jadi anak. Pikir Raka.
"Iya ... aku bakalan ngaku, Sri," sungut Raka.
"Apaan, Bang?" tanya Mayang nyolot.
"Dih ... abang .... " celetuk Raka.
"Bambang maksudnya bukan Abang! Mas Raka jangan ge-er!" cela Mayang.
"Hahaha." Raka terkekeh.
"Cepetan ngomong! Jangan banyak cingcong, Mas!" geram Mayang kesal.
"Dih ... galak banget lu, Sri!" decak Raka.
"Sini aku ceritain, tapi sambil aku obati luka kamu, Ya." Raka menarik paksa kaki Mayang.
Mayang celingukan ke kanan dan kiri. Mengawasi sekitarnya seolah ada sesuatu yang tengah ia cari.
"Lu kenapa sih, Sri?" tanya Raka aneh melihat tingkah Mayang.
"Bunda mana? Nanti kita disidang lagi kayak kemarin karena berduaan lho, Mas." Ternyata Mayang mengingat benar apa yang Bunda Amel katakan. Jaga jarak minimal dua meter kata Bunda.
"Bunda lagi ke rumah om nunggu adikku yang lagi sakit," jawab Raka.
"Oh ... ayo cepat ceritain kenapa Mas Raka bisa babak belur begitu! Mas Raka habis tawuran?" Mulai menyimpulkan dengan seenaknya sendiri.
"Atau jangan-jangan .... " Mayang mulai menduga-duga.
"Apa?" Raka bertanya dengan super galak sambil membelalakkan ke dua manik matanya. Dia tahu pasti Mayang akan berkata yang aneh-aneh.
"Mas Raka rebutan cewek, Ya?" kata Mayang pelan bahkan nyaris berbisik. Gadis itu melempar senyum kecut pada lelaki yang kini sudah mulai mengobati kakinya tersebut. Menggoda Raka seraya menaik-naikkan alisnya usil.
"Apa tadi katamu? Aku nggak denger," sahut Raka.
"Mas Raka rebutan cewek?" Mengulang pertanyaannya lagi.
"Apa? Nggak denger!" Sengaja membuat Mayang jengkel.
"Mas Raka rebutan cewek?" Berteriak dengan cukup kencang.
Raka kesal dengan polah anak abege ini. Ide usilnya mulai muncul. Ia menekan luka Mayang menggunakan kapas dengan cukup kuat.
"Aaaaarrhh .... sakit, Bambang! Lepasin!" jerit Mayang sambil memukuli lengan Raka.
"Hush! Diam! Jangan berisik! Ntar aku disangka perkosa anak orang," tegur Raka.
"Ini KDRT Mas namanya," cicit Mayang. Manyun.
"Makanya jangan ngomongin yang aneh-aneh. Aku babak belur karena bantuin Andika yang dikeroyo preman," aku Raka membohongi Mayang.
"Astaga!" Mayang terkejut.
"Astagfirullah!" Mengoreksi ucapan Mayang.
"Iya, Astagfirullah." Mengikuti Raka dengan patuh.
"Kenapa Mas Dika bisa dikeroyok?" Naluri detektifnya mulai muncul.
"Mana gue tahu." Raka kembali mengobati luka Mayang.
"Kok bisa nggak tahu? Aduh ... aduh ... pelan-pelan, Bambang! Sakit ini!" Mayang mendaratkan kepalan tangannya di lengan Raka.
"Salah sendiri cerewet mulu dari tadi! Dika ngerebut pacar orang, terus orangnya nggak terima dan dihajarlah Dika," cerita Raka.
"Astaga!" Mayang terkejut.
"Astagfirullah!"
"Eh, Iya Astagfirullah!"
"Udah diam! Nggak usah ghibahin Dika!" tegur Raka.
Mayang akhirnya memilih diam dan memperhatikan setiap pergerakan tangan Raka yang dengan lincah merawat kakinya. Dan beberapa menit kemudian lelaki itu sudah selesai dengan aktivitasnya. Luka Mayang kini sudah tertutup rapat dengan perban. Rasa perih pun masih Mayang rasakan, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Makasih ya, Mas," ucap Mayang sambil menarik kakinya dari pangkuan Raka.
"Sama-sama, May," sahut Raka.
Mayang kembali teringat pada Opa. Seharusnya saat ini dia ada di sisi Opa untuk terakhir kalinya. Bukan malah pergi dari rumah.
"Hiks ... hiks .... " Tanpa sadar gadis belia itu menangis terisak-isak.
"May, jangan nangis! Aku anterin pulang, Ya?" Raka paham apa yang membuat Mayang menangis tanpa harus ia bertanya. Jelas gadis itu tengah berduka cita ditambah dengan masalahnya dengan ibunya yang belum juga membaik.
"Tapi aku takut mommy memukulku, Mas."
"Ck ... aku kadang nggak habis pikir. Apa kegunaan Jasson buat kamu kalau akhirnya kamu masih bisa disakiti sama mommy kamu?" gerutu Raka mempertanyakan faedah Jass untuk Mayang.
"Mas, jangan bilang seperti itu! Memang nggak ada yang bisa ngelawan keras kepalanya Mommy termasuk Daddy. Jass sudah melakukan tugasnya dengan baik kok, Mas. Dia melindungi aku, cuma ya ... dia agak kalah emang kalau udah berhadapan sama Mommy," tutur Mayang membela Jasson. Meski tadi pun ia juga sempat membandingkan bodyguard-nya itu dengan lelaki yang kini duduk di hadapannya.
"Terus kenapa mommy menamparmu?"
Mayang mengusap air matanya. "Seperti yang udah Mas Raka tau, mommy nyalahin aku atas kematian opa."
Raka mengelus pucuk kepala Mayang sebagai rasa simpatinya pada gadis itu.
"Mas .... " decak Mayang.
Raka lantas menarik tangannya dari kepala Mayang. Ia paham, Mayang sedang mengingatkan dirinya untuk tidak terlalu sering berkontak fisik dengan lawan jenis seperti yang Bunda Amel pesankan pada mereka.
"Maaf .... " lirih Raka.
Mereka terdiam sejenak.
"Lalu bagaimana maumu, May?" tanya Raka serius.
"Aku mau lihat proses pemakaman opa dari kejauhan, Mas. Hiks ... hiks .... " Mayang kembali terisak.
"Hatiku rasanya nggak tenang, Mas." Mayang mengeluhkan apa yang dia rasa.
"Salatlah, May! Ceritain semua yang kamu rasain sama Allah. Insya Allah hatimu pasti akan jauh lebih tenang. Apalagi kamu udah menstruasi. Dosa kamu udah banyak, apalagi kalau nggak pernah salat," pesan Raka.
"Segala menstruasi dibawa-bawa!" cibir Mayang.
"Artinya udah balig, May. Udah harus ingat tanggung jawab kamu sama akhirat. Doain juga opa kamu, karena orang yang sudah meninggal itu yang dibutuhin cuma doa. Harta bendanya udah nggak ada gunanya lagi di alam kubur." Raka tak pernah bosan menasehati Mayang.
"Iya, Mas. Siap. Aku selalu ingat pesan Mas Raka, tapi pelan-pelan sie. Untuk jadi taat itu kan nggak instan, Bang."
"Iya, yang penting mau usaha," sahut Raka.
"Mau kan Mas Raka anterin aku ke pemakaman Opa?"
"Oke ... aku antar kamu ke pemakaman Opa. Tinggal kasih tahu aja jam berapa dan di mana!" Raka dengan senang hati mengabulkan keingan Mayang.
"Makasih ya, Mas." Mayang bahagia sekali karena Raka mau menurutinya.
Ponsel Mayang bergetar. Rupanya panggilan masuk dari Jasson.
"Iya, Jass," sahut Mayang.
"Nona ... " Suara Jass terdengar berbeda. Ada kekhawatiran yang tidak seperti biasanya. Ada pula perhatian yang lelaki itu berikan pada Mayang. Jass banyak bertanya apakah Mayang baik-baik saja. Apa lukanya sudah diobati dan masih banyak lagi.
"Nona, cepatlah pulang! Aku .... " Jass menggantung kata-katanya sejenak.
"Kenapa, Jass?" tanya Mayang penasaran.
"Aku merindukanmu, Nona," jawab Jass.
Shit! Harus ya aku ngomong seperti ini sama Nona Mayang? Jasson mengumpat dalam batin.
Mayang terkekeh. "Aku juga merindukanmu kok," sahut Mayang.
"Tut ... tut ... tut ...." sambungan suara terputus karena Jass yang buru-buru mematikannya.
"Lhoh lhah ...." Mayang melihat layar ponselnya. "Belum selesai ngomong kok diputus," gerutu Mayang.
"Braaak ...!" Jass memukul meja yang ada di hadapannya, karena ia merasa tingkahnya itu sangat konyol dan memalukan.