26. Melarikan Diri

2278 Kata
"Abang seharusnya nggak perlu membenci Ayah Inan seperti itu! Seharusnya Abang berterima kasih karena Ayah Inan mau membantu Abang dan Bunda untuk mengurusku." "Bukan saatnya untuk berdebat saat kamu sakit seperti ini, Ran! Tidurlah! Banyak-banyak istirahat! Sampaikan salamku untuk Bunda! Wassalamualaikum." Raka menutup panggilan suara. ** "Kau sudah membunuh Papiku! Kau anak nakal yang tidak tahu diri, Mayang!" teriak Sandrina dengan cukup lantang. Tak pelak ini membuat orang-orang yang berkumpul di ruang tengah di mana tempat jenazah Tuan Ardi disemayamkan menjadi bertanya-tanya. Ada apa dan kenapa ada keributan di saat duka seperti ini? "Tutup mulutmu, San! Kau mempermalukan dirimu sendiri! Banyak orang yang mendengar teriakanmu," pinta Ardi dengan suara pelan, tapi penuh dengan penekanan. "Dia telah membunuh Papi, Rey! Anakmu membunuh ayahku!" "San, aku mohon tenanglah! Ini bukan salah anak kita. Aku mohon jangan tekan Mayang seperti ini! Kasihan dia." Reyhan membela anak gadisnya mati-matian. Tubuh Sandrina melemas, bahkan wanita sosialita itu tidak dapat lagi berdiri dengan kakinya sendiri. Reyhan menopang tubuh sang istri kuat-kuat. Sandrina terjatuh dengan posisi kaki tertekuk ke belakang, ia menangis meraung-raung seraya memanggil-manggil Papinya berkali-kali. "Ikhlaskan Papi! Papi tidak akan tenang jika kau seperti ini," nasehat Reyhan seraya mengeratkan pelukannya. Mayang menatap ke arah ibu kandungnya dengan penuh iba. Perlahan kaki jenjangnya turun dari tempat tidur. "Nona, anda mau ke mana?" tanya Jasson seraya menatap penasaran dengan apa yang akan Mayang lakukan. "Mom, maafin Mayang .... " lirihnya sembari berjalan perlahan mendekati ibunya tanpa alas kaki. "Aow ...." Mayang berteriak. Sebuah pecahan piring berhasil menembus kaki telanjangnya hingga darah mengucur dengan deras. "Mayang!" "Nona!" Reyhan dan Jasson memanggil Mayang bersamaan. Mayang meringis kesakitan, ia cabut serpihan tajam itu dari telapak kaki kanannya. "Nona, duduklah! Biar saya obati luka anda," kata Jasson mendekati Mayang. Mayang mengarahkan ke dua telapak tangannya menghadap ke Jasson, bermaksud memberi isyarat pada lelaki itu agar tidak menyentuhnya. "Mom, Mommy boleh menghukum aku. Mayang ikhlas, Mommy. Ini salah Mayang .... " ujar Mayang meneruskan langkah kakinya. Sandrina tertawa pilu. "Hukum kau bilang? Apa kau tidak mengerti apa kata Mommy, Mayang? Mommy melahirkanmu untuk menuruti keinginan Mommy!" tekan Sandrina. "Maafkan aku, Mom!" Mayang berlutut di hadapan ibunya dengan mengatupkan ke dua tangannya memohon ampun kepada Sandrina. "Mayang, kamu tidak salah apapun!" sela Reyhan. "Plaaak .... " "Saaan!" Reyhan membentak Sandrina. Mayang jatuh tersungkur karena pukulan yang begitu kuat yang ia terima. Gadis itu memegang pipinya yang memerah. "Bahkan tamparan ini tidak cukup untuk melampiaskan semua rasa benciku padamu, Mayang!" seru Sandrina. Wanita itu hendak memberi pelajaran pada anaknya lagi. Dia menarik Mayang dengan paksa. "Mommy benci padamu, Mayang! Mommy benciiii!" Sandrina menangis histeris. "Cukup, Nyonya!" "Saan .... lepaskan Mayang!" Jasson dan Reyhan sama-sama mencegah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Sandrina. Mayang ketakutan. Gadis itu berdiri dengan susah payah dibantu oleh Jasson. Jasson berdiri tegap melindungi Mayang yang masih dalam incaran ibunya. "Lebih baik aku pergi .... " ucap Mayang. "Nona, anda mau ke mana?" Jasson berusaha mencegah Mayang yang berlari keluar dari kamar. "Biarkan dia pergi, Jass! Ikuti saja ke mana langkah kaki anakku menuju!" Reyhan memberi komando pada anak buahnya. Jejak kaki Mayang terseok-seok menembus kerumunan orang. Sungguh drama yang memalukan! Tidak sepantasnya pertikaian seperti ini terjadi di kala yang tiada sedang membutuhkan doa dari anak dan kerabatnya yang masih bernyawa. "Nonaaa ...!" Jasson memanggil-manggil Mayang. Lelaki itu kehilangan jejak nona mudanya. Namun, Jasson tak habis akal, dia bisa menemukan Mayang dari ceceran darah Mayang yang mengotori lantai rumah. ** "Opa ... Mas Raka .... " Gadis belia itu menyebut dua lelaki yang mengisi hatinya yang paling dalam. Mayang bersembunyi di gudang tua belakang istana megah yang ia singgahi. Gadis itu duduk meringkuk di sudut gudang dengan ketakutan. "Drrt ... drrrt .... " Ponsel Mayang yang ia silent dan ia simpan dalam saku celana jeansnya bergetar. "Mas Raka .... " Mayang merasa seperti mimpi saat ia melihat foto Raka terpampang jelas pada layar ponselnya. "Hallo .. Mas ... Mas Raka .... " Mayang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini setelah ia berpikir bahwa ia tidak akan pernah lagi mendengar suara Raka atau bertemu Raka setelah penolakan lelaki itu tempo hari. "May ... kamu kenapa? Kamu nangis?" cecar Raka super panik. "Mas ... Mommy memukulku lagi ... hiks ... hiks ...." jawab Mayang seraya menangis pilu. "Share location, Mayang! Cepat! Sekarang!" perintah Raka terburu-buru. "I~iya, Mas .... " Mayang menutup panggilan suara agar ia bisa mengirimkan di mana posisinya saat ini berada pada Raka. Tangan gadis itu gemetaran hingga ia kesusahan melakukan apa yang harus ia lakukan. ** Raka melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi setelah ia mengetahui keberadaan Mayang. "Tunggu Bambang datang ya, Sri!" gumam Raka menyebut nama mereka dengan sebutan yang mereka buat secara spontanitas. Untuk saat ini rasa sakit di tubuh Raka tidak lagi ia rasakan. Yang terpenting adalah menemui Mayang dan melakukan semua upaya terbaik yang bisa ia lakukan untuk melindungi Mayang. Sepuluh menit kemudian. "Nona ....!" Jasson mendekati gudang. Mayang semakin meringkuk agar lelaki itu tidak menemukannya. Maafkan aku, Jass. Aku mau pergi menemui Mas Raka. Kamu pasti nggak akan ijinin aku ketemu Mas Raka. Pikir Mayang. Bersama Raka, Mayang terasa lebih nyaman ... lebih terjaga dibandingkan saat ia bersama Jass. Sikap Raka yang lebih santai dan gemar melempar candaan serta nasehat-nasehat membuat Mayang betah berlama-lama bersama lelaki itu. "Aaaaaarrggghhh ...." Mayang berteriak kencang saat seekor tikus datang mendekatinya. Refleks ia melonjak-lonjak dan menarik perhatian Jass. "Nona ....!" teriak Jasson. Lelaki itu berlari mendekati arah suara Mayang bersumber. "Nona, kenapa anda di sini? Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Jass. "Aku nggak mau, Jass!" tolak Mayang. "Nona, jangan buat Nyonya Sandrina semakin marah!" saran Jasson. "Aku takut Mommy memukulku lagi, Jass," ujar Mayang sembari mundur perlahan menghindari Jass yang berjalan mendekatinya. "Nona, jangan khawatir! Ada aku yang menjagamu," bujuk Jasson. "Tapi pada kenyataannya kamu lemah, Jass! Kamu masih memiliki rasa takut untuk melawan Mommy-ku," bantah Mayang mengkritik kinerja Jasson. "Kamu tidak seberani Mas Raka, Jass!" lanjut Mayang. Ya Ampun, bahkan dia sudah berani membandingkan aku dengan Raka. Segitu besarnya pengaruh Raka untuk Mayang. Gerutu Jasson tidak terima. "Mayang!" teriak Sandrina yang tiba-tiba datang dari arah belakang Jasson berdiri. Mayang segera mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri ketika Jasson memutar kepalanya untuk melihat Sandrina. Dengan langkah seribu Mayang berlari meninggalkan gudang tua itu. "Nona!" teriak Jasson berusaha menghentikan langkah kaki Mayang, tapi Mayang tidak bergeming. "Mayang! Jangan berani kamu pergi dari rumah atau mommy akan menghajarmu!" ancam Sandrina. Benar-benar memalukan. Sandrina bahkan lupa dengan nama baik keluarganya hingga terus saja membuat keonaran di saat hari kematian Papinya. "Ya Tuhan, Sandrina! Kau seperti orang gila dengan bertingkah seperti ini," tegur Reyhan. Mayang tidak berkeinginan sama sekali untuk menghentikan langkah meski darah sudah berceceran akibat lukanya yang semakin parah. Rasa sakit itu untuk sementara ia abaikan, yang terpenting ia harus keluar dari rumah dan menemui Raka. Sandrina pun juga tidak bisa diam, seolah amarahnya harus ia tuntaskan saat ini juga. Aksi kejar-kejaran pun terjadi antara Mayang, Reyhan, Sandrina dan juga Jasson. "Tangkap Mayang! Jangan biarkan anak nakal itu lari!" Sandrina berteriak mengomando anak buahnya yang bertugas untuk menjaga keamanan di depan gerbang istananya. Tak pelak semua tamu dan pelayat menoleh ke arah Sandrina. Mereka berbisik menggunjing dan menyayangkan accident memalukan seperti ini bisa terjadi pada keluarga Soesetya yang terhormat. "Anda mau ke mana, Nona?" tanya seorang lelaki berbadan besar yang diketahui bernama Ujang seraya memegangi ke dua tangan Mayang dari arah belakang. "Lepasin aku! Biarin aku pergi!" Mayang memberontak. Ia menggerakkan seluruh tubuhnya untuk melawan upaya Ujang menahan dirinya. Reyhan tahu jika sampai Sandrina mendekati Mayang pasti wanita itu akan kelepasan lagi seperti biasanya. Sandrina sudah gelap mata dan tindakannya bisa saja membuat masalah yang sangat besar untuk dirinya sendiri. Reyhan menarik tangan istrinya. "Lepaskan aku!" sentak Sandrina. "Jass, bantu aku menahan Nyonya!" perintah Reyhan. Jass gamang antara membantu Mayang lepas dari Ujang atau melaksanakan perintah Tuannya. Dia melihat ke arah Mayang dan Reyhan bergantian. "Jass, bantu aku memegangi istriku!" Reyhan mengulang perintahnya dengan bahasa yang berbeda. "Baik, Tuan." Mau tidak mau Jasson melaksanakan perintah dari Reyhan. "Lepasin aku! Aku bilang lepas!" Mayang dan Sandrina sama-sama memberontak. "Tenanglah, San! Apa kau tidak lihat orang-orang kini memperhatikan kita?" bisik Reyhan tepat di telinga istrinya. Sandrina pun menelisik ke sekitar. Pandangan orang-orang begitu aneh menatap ke dirinya dan membuatnya begitu malu. "Jang, lepasin Mayang!" perintah Reyhan. "Kenapa kau malah meminta Ujang melepas Mayang?" protes Sandrina. "Laksanakan perintahku! Jangan ada yang berani menyentuh anakku!" Reyhan tidak mempedulikan aksi protes Sandrina dan kembali melayangkan perintah. "Siap, Pak!" Ujang melepas Mayang. "Dad ....!" Mayang terisak memanggil Reyhan. "Pergilah, Mayang!" kata Reyhan. "Apa kau sudah gila?" Sementara Sandrina masih belum Reyhan dan Jasson lepaskan. Ia kaget mendengar Reyhan memerintah Mayang untuk pergi. Begitu pun Jasson. Apa Tuan Reyhan kehilangan akal sehatnya?Gerutu Jass dalam batin. "Terima kasih, Dad," ucap Mayang dengan senyum getir tersungging di bibirnya. Gadis malang itu pun keluar gerbang rumahnya dengan berlari kecil tanpa alas kaki. "Lepaskan aku!" pinta Sandrina. Jass dan Reyhan melepaskan Sandrina. Wanita itu berlari dengan sepatu hak tinggi yang masih terpasang rapi di kaki jenjangnya. Ia ingin mengejar langkah anak gadisnya menuju. Reyhan dan Jass mengekor di belakang Sandrina. "Mayaaang!" teriak Sandrina. Mayang menoleh ke belakang. Sementara jaraknya dengan Sang Bunda sudah lumayan jauh. Pada saat itu juga datanglah seorang lelaki dengan mengendarai roda duanya yang gagah. Dia adalah Raka. "Maayang!" seru Raka memanggil Mayang. Mayang menoleh ke arah Raka. "Mas Raka!" sahut Mayang sembari mempercepat langkahnya mendekati lelaki itu berada. "Bawa aku pergi, Mas!" pinta Mayang. "Tapi kakekmu akan dimakamkan," balas Raka. "Apa kamu mau aku dimakamkan bersama kakekku?" tanya Mayang. "Maaaayaang!" teriakan Sandrina kembali terdengar. Wanita itu sudah memerintah anak buahnya untuk menangkap Mayang, tapi Reyhan melarangnya. Dan antek-antek Sandrina kini lebih memilih patuh pada perkataan Reyhan dari pada Nyonyanya. Mayang dan Raka sama-sama menoleh ke arah Sandrina. Dan Raka mengerti apa maksud Mayang tanpa gadis itu menjelaskan lebih panjang. "Ayo naik, May!" perintah Raka. Mayang pun menurut dan membonceng di belakang Raka. "Pegangan, Ya!" Raka memutar arah dengan cukup kencang hingga debu dan pasir terlihat berterbangan akibat gesekan ban motornya dengan aspal. "Mayaaang!" teriakan Sandrina semakin kencang tatkala melihat Raka membawa anaknya pergi di depan matanya. "Jass, kejar Mayang! Aku membayarmu untuk menjaganya! Kenapa kau diam saja?! Apa kau mau aku memecatmu?" Sandrina mengintimidasi Jasson. Jass kembali dibuat gamang. Ia pun tidak rela jika Mayang pergi bersama Raka, tapi dia pun tidak dapat membantah perintah Reyhan karena kekuasan Ardi Soesetya kini sepenuhnya ada di tangan Reyhan. "Sudah biarkan saja Mayang pergi! Ayo kita masuk! Proses pemakaman papi akan segera dilaksanakan," ujar Reyhan. "Apa kau sudah gila? Kau membiarkan anak kita pergi dengan pria asing?" cecar Sandrina. "Hush! Sudah jangan banyak bicara! Malu dilihat orang. Ayo kita masuk!" balas Reyhan. "Rey .... " "Sekali ini saja patuhi perintahku!" Reyhan menekan kata-katanya. Dan Sandrina pun menuruti permintaan suaminya. Wanita itu diminta untuk menenangkan dirinya di kamar sebelum mengikuti proses pemakaman ayahnya. ** Di ruang kerja, Reyhan nampak diam dan merenungi beberapa hal yang terjadi dalam hidupnya. Namun, sebelumnya dia sudah menyempatkan diri untuk menemui para tamu dan memohon maaf pada mereka atas keributan yang terjadi sehingga membuat mereka menjadi tidak nyaman. Ketukan pintu terdengar lirih, Reyhan meminta orang tersebut untuk masuk tanpa menunggu lama. Dan datanglah Jasson dengan wajahnya yang kali ini menampakkan ekspresi kesal seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. "Kau, Jass," cetus Reyhan seraya berdiri dari tempat duduknya. "Tuan, ada yang ingin saya bicarakan," ujar Jasson. "Ada apa, Jass?" Reyhan bersandar pada tepian meja kerjanya seraya melipat ke dua tangannya di depan d**a. "Kenapa anda membiarkan Nona Mayang pergi dengan lelaki itu, Tuan?" Pertanyaan yang sejak tadi terbesit dalam pikiran Jasson. Jasson bukan tipe orang yang banyak bicara ataupun suka berdebat, tapi ia merasa tidak tenang sebelum mendengar jawaban dari Reyhan. Untuk itulah ia memaksakan diri untuk bertanya secara langsung pada Tuannya. "Karena aku tahu Mayang aman bersamanya," jawab Reyhan dengan santainya. "Dari mana anda tahu, Tuan? Dia lelaki asing yang baru saja Nona Mayang kenal kan? Dan anda pun juga tidak tahu siapa Raka dan bagaimana latar belakangnya. Bagaimana kalau dia memanfaatkan nona muda untuk kepentingan pribadinya?" Jasson mengangsur beberapa pertanyaan untuk Reyhan. "Kenapa kau banyak sekali bicara, Jass? Ini bukan dirimu." Reyhan balik bertanya. "Karena ... " Jass terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Reyhan. "... karena ini mengenai Nona Muda, Tuan. Dia adalah tanggung jawab saya." Jasson menjawab secara masuk akal menurutnya. "Dia tanggung jawabmu ketika ia bersamamu, tapi aku ayahnya. Kau tidak perlu segelisah ini jika terjadi apa-apa dengan Mayang, karena aku yang mengijinkannya untuk pergi. Resiko apapun sepenuhnya tanggung jawabku," bantah Reyhan. "Raka orang asing, Tuan. Bagaimana-" "Kau sudah mengatakan itu tadi .... " sela Reyhan kemudian terdiam beberapa saat. Reyhan menepuk pundak Jasson pelan. "Kau mencintai Mayang?" Pertanyaan yang membuat Jasson menelan salivanya. "Apa yang anda tanyakan, Tuan?" Secepat kilat memasang ekspresi sepolos mungkin. "Kau cemburu Mayang pergi dengan Raka?" Reyhan belum selesai mengorek isi hati Jasson. "Ini tidak ada hubungannya dengan perasaan saya pada Nona Mayang, saya hanya melakukan tugas saya sebaik mungkin dengan memastikan bahwa Nona Muda baik-baik saja," terang Jasson dengan memasang sikap tegap. "Aku sudah bilang bahwa Mayang akan baik-baik saja bersama pemuda itu, tapi kau terus saja gelisah," sanggah Reyhan. Jasson menghembuskan napas kasar. "Tidak ada yang perlu saya bicarakan lagi, Tuan. Maaf menyita waktu anda," tutur Jasson memilih untuk mengakhiri perdebatan. Lelaki itu segera berbalik badan dan meninggalkan ruang kerja Reyhan. Reyhan menatap punggung Jass yang bergerak menjauhinya. Setelah pintu ruang kerja tertutup, Reyhan berkata, "Maafkan aku, Jass! Aku terpaksa bertanya seperti itu agar kau tidak banyak bertanya padaku tentang Raka. Percayalah ... Raka orang yang tepat untuk anakku ...." Sedangkan itu Jass merasa kesal. "Tuan Reyhan seolah paham betul siapa itu Raka. Aku tidak habis pikir, semudah itu dia mempercayakan anak gadisnya pada orang asing," gerutu Jasson.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN