25. Kehilangan Opa

2043 Kata
** "Jass, apa yang Daddy dan Opa bicarakan? Kenapa lama sekali?" Mayang gelisah dan risau, tapi dia hanya bisa mengintip dari balik jendela. "Itu pembicaraan khusus untuk lelaki dewasa, Nona. Anda tidak perlu tahu. Duduklah!" sahut Jasson. Ia memaksa Mayang untuk duduk di sisinya. "Jass, apa kamu sudah bisa menghubungi Mommy?" "Belum, Nona. Ponsel Nyonya Sandrina belum aktif." "Ya Tuhan, semoga Opa baik-baik saja." "Amin." Jasson menyahuti doa Mayang. "Hm ... Jass, setelah ini antarkan aku ke toko untuk membeli mukena, ya!" perintah Mayang. "Mukena? Bukannya Nona sudah punya?" "Itu terlalu kecil, Jass. Terakhir Daddy memberikannya saat aku kelas sepuluh SMA. Aku mau belajar salat, Jass. Kata Mas Raka sebagai umat muslim kita wajib untuk salat. Dan aku mau doain Opa biar Opa cepat sembuh, Jass," celoteh Mayang bersemangat. Dan ... lagi-lagi nama Raka yang disebutnya. Cibir Jasson dalam batin. "Kriieet ... " Suara pintu yang dibuka. Reyhan keluar dari ruang ICU dengan mata sembab dan wajah yang sangat sedih. Kontan ini membuat Mayang dan Jasson mengerti bahwa ada hal yang buruk yang telah menimpa Opa Ardi, jika tidak pasti ekspresi Daddy Reyhan tidak akan semendung ini. "Daddy, ada apa? Kenapa Daddy menangis?" tanya Mayang seraya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Daddy. "Nak ... kamu harus kuat, ya!" lirih Daddy seraya memeluk tubuh Mayang. "Dad ... what happens with Opa? (Dad ... apa yang terjadi dengan Opa?)" Daddy tak menjawab pertanyaan Mayang, tapi justru semakin menangis terisak-isak. "Opa ... " lirih Daddy dengan bibir bergetar. "Opa kenapa?" tanya Mayang dengan pertanyaan yang sama, tapi dengan intonasi suara yang lebih tinggi dari sebelumnya. "Opa .... " Reyhan seolah tidak sanggup untuk memberitahu Mayang. Namun, Mayang bisa menangkap apa yang terjadi meski Reyhan tidak mengutarakannya secara gamblang. "Opaaaaa ... Opaaaaaa .... " Mayang berteriak histeris. Air mata sudah tidak dapat lagi Mayang bendung. ** "Nona, makanlah! Sejak kemarin anda belum makan apapun," bujuk Jasson, tapi Mayang hanya menggelengkan kepalanya tanpa mau menjawab. Pagi ini istana mewah milik Opa Ardi Soesetya dipenuhi oleh para pelayat. Rangkaian bunga ungkapan duka cita berdiri berjajar hingga di depan komplek perumahan. Lantunan doa-doa tak putus dibacakan oleh kerabat dan beberapa petakziah yang datang. Pukul dua belas siang menjelang Adzan Dzuhur, dokter memastikan bahwa Tuan Ardi Soesetya telah dipanggil ke pangkuan yang Maha Kuasa. Reyhan membimbing mertuanya untuk menyebut Asma Allah sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya. Beberapa wasiat sudah Ardi kemukakan pada Reyhan dan semuanya pun sudah beliau tulis dalam surat wasiat yang beliau titipkan melalui pengacara keluarga. Mayang adalah yang paling terpukul di antara anggota keluarga. Sejak jenazah Opanya tiba hingga sekarang, gadis belia itu tidak mau keluar dari kamarnya. Menangis dan menyalahkan dirinya adalah yang ia lakukan saat ini. Sepiring nasi dan juga segelas s**u Jasson bawakan untuk Mayang. Agar Mayang mau mengisi perutnya yang kosong karena tidak ada sedikit pun makanan yang masuk ke dalam lambungnya. "Nona, tolong jangan keras kepala! Nanti Nona bisa sakit," pinta Jasson yang begitu mengkhawatirkan keadaan Mayang. "Opa meninggal karena aku, Jass. Aku kehilangan Opa karena aku melarikan diri dari rumah," sesal Mayang yang tiada henti menyalahkan dirinya sendiri. "Ini bukan salahmu, Nona. Ini semua sudah takdir dari yang Maha Kuasa," tutur Jass memberi pengertian pada Mayang. Agar Mayang berhenti menyalahkan dirinya sendiri. "Saya akan menyuapi anda, Nona," paksa Jasson. Lelaki itu mengangkat piring yang tadi sudah ia letakkan di atas meja. Dengan penuh perhatian, ia menyendokkan nasi beserta lauknya untuk ia suapkan pada nona mudanya tersebut. "Buka mulutmu, Nona!" perintah Jasson. "Aku nggak mau, Jass!" tolak Mayang dengan tegas. "Nona, saya mohon .... " "Pyaar .... " Mayang menangkis piring yang Jasson bawa hingga pecah membentur lantai. "Aku sudah bilang sama kamu, aku nggak mau makan, Jass!" bentak Mayang. "Anda keterlaluan, Nona! Dengan anda seperti ini, Tuan Ardi tidak akan bahagia di surga," sentak balik Jasson tersulut amarahnya. "Apa kamu tahu, Jass? Jika Mommy tiba ke Indonesia, dia pasti akan menghajarku, karena dia pasti akan menyalahkan aku atas kematian Opa. Jadi, untuk apa aku masih ada di sini? Biar aku menemani Opa bersama Tuhan. Opa pasti bahagia jika aku menemaninya," racau Mayang dengan histeris. Belum juga ada semenit Mayang memanggil Mommy-nya, orang yang sedang ia bicarakan datang dan membuka pintu kamarnya dengan sangat kasar hingga menghasilkan bunyi yang cukup kencang. Kompak Mayang dan Jasson menoleh ke arah sumber suara. "San, aku mohon! Jangan sentuh anakku!" teriak Reyhan seraya menarik tangan istrinya dengan cukup kuat hingga mau tidak mau Sandrina harus menghentikan langkahnya. Namun, wanita yang baru saja tiba dari Singapura tersebut terlihat kalap dan meronta-ronta agar Reyhan melepaskan dirinya. Sedangkan Jasson sudah siap untuk melindungi Nona Mudanya. Lelaki gagah itu berdiri tepat di hadapan Mayang yang duduk meringkuk di atas tempat tidurnya. Perkiraan Mayang tepat, Mommy pasti akan murka sekali dengannya. Meski Mayang sudah mempersiapkan diri untuk itu, sudah legowo jika pukulan stick golf akan kembali mencumbui tubuhnya seperti yang biasa ia terima, tapi tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya. Membayangkan betapa sakitnya ketika benda panjang dan keras itu menyentuh tubuhnya sukses membuat sekujur tubuh Mayang merinding dibuatnya. Namun, apa mau dikata, toh ia sendiri mengakui jika semua yang terjadi pada Opa Ardi adalah karena dirinya. Hanya bisa berpasrah diri menerima semua hukuman yang akan Mommy berikan. "Lepaskan aku, Rey! Papiku meninggal karena ulahnya!" teriak Sandrina kesetanan. Dia sudah hilang kontrol dan bukan tidak mungkin dalam keadaan yang seperti ini dia bisa saja membunuh anaknya tanpa ia sadari. "Apa yang menimpa Papi tidak ada hubungannya dengan Mayang!" bantah Reyhan dengan tegas. "Kalau anak nakal itu tidak kabur dari rumah Papi pasti masih hidup hingga sekarang!" sanggah Sandrina. Mayang semakin tertekan. Grafik ketakutannya terus naik. Gadis belia itu bahkan sampai menangis tanpa suara. "Opa ... Mas Raka ... tolong aku! Hiks ... hiks .... " Mayang menyebut nama dua lelaki yang menjadi penyelamatnya selama ini. ** "Maaaaayaaaang .... "Raka bangun dari tidurnya seraya berteriak memanggil nama Mayang. Napasnya tersengal. Keringat mengucur deras membasahi keningnya. "Astagfirullah ... astagfirullah .... " Raka menyebut Asma Allah berkali-kali. Ia berusaha mengatur napasnya yang memburu dengan tetap terus beristighfar. "Ya Allah, ada apa ini? Mayang, kamu baik-baik saja kan?" lirih Raka teringat gadis yang baru saja hadir dalam mimpinya. "Ya Allah, ada apa ini? Mayang, kamu baik-baik saja kan?" lirih Raka teringat gadis yang baru saja hadir dalam mimpinya. Untuk membuat dirinya jauh lebih tenang lagi, Raka meraih teko air yang ada di atas meja kecil lalu ia tuangkan isinya ke dalam gelas. Dengan beberapa kali tegukan, Raka berhasil menghabiskan air putih tersebut. Lalu diliriknya jam yang tergantung pada dinding kamarnya. Pukul tujuh lebih seperempat. "Inilah akibatnya kalau tidur setelah salat subuh, jadi mimpi buruk kayak gini kan," gerutu Raka lalu ia beranjak dari tempat tidurnya untuk mencuci muka agar kondisi tubuhnya jauh lebih fresh. Dengan wajah yang masih basah, Raka menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Kembali ia dibuat teringat pada Mayang. "Ya Allah, perasaanku kayak gini pasti karena aku ngerasa bersalah kemarin udah nolak dia buat nemuin aku," gumam Raka. Mimpi hanyalah bunga tidur, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu kalimat yang Raka sematkan berulang-ulang pada pikirannya. Agar dia tidak terlalu berlebihan menanggapi mimpinya. Agar rasa khawatirnya pada Mayang perlahan menghilang. Meski ia sudah berjanji tidak akan menemui Mayang, tapi dia akan tetap mengawasi Mayang meski dari kejauhan. "Please, Raka! Jangan berlebihan!" Raka mewanti-wanti dirinya sendiri. Raka memutuskan untuk menyudahi pikirannya. Setelah membasuh wajahnya dengan handuk hingga kering, Raka berjalan menuju ke dapur untuk menggoreng telur karena ia merasa lapar. Semalam Bunda Amel tidak pulang karena kondisi Rania yang belum sehat. Raka telah menyalakan kompor dan menaruh wajan di atas bara api yang menyala kebiruan. Dituangkanlah minyak goreng dalam wadah tersebut dan tinggal menunggu minyaknya panas untuk memasukkan telur ke dalamnya. Dan saat menunggu itulah Raka kembali teringat akan mimpinya. "Mas Raka .... tolong aku, Mas!" Jeritan Mayang masih terdengar jelas di telinga Raka. Seakan itu bukanlah mimpi, tapi benar-benar terjadi pada dunia nyata. "Plak .... " Sebuah tamparan tepat mengenai pipi putih Mayang hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tak lama berselang lelehan darah keluar dari hidung Mayang dan menetes hingga mengenai baju yang Mayang kenakan. Air mata gadis malang itu pun tak mau kalah untuk ikut andil menertawakan nasib Mayang yang begitu tragis. "Astagfirullah .... " jerit Raka saat ia menyadari bahwa api sudah begitu besar dan naik di atas penggorengan. Asap hitam mengepul dengan bau gosong yang menyengat. Raka panik bukan kepalang ketika kobaran api semakin membesar. "Masya Allah ... " Raka melempar telur yang ada di tangannya ke sembarang arah. Ia bergegas mengambil selimut dan ia masukkan ke dalam air bak. Raka lari tergopoh-gopoh membawa selimut yang basah itu menuju ke dapur. Nyaris saja dia terjatuh karena terpeleset air yang menetes ke lantai. Namun, untung saja ia berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya. "Bismillah .... " Raka menutupkan kain lebar dan tebal itu di atas kobaran api. Dan syukurlah api itu lekas padam setelah menyembur ke atas seperti kembang api. Raka duduk di atas lantai yang basah dengan jantung yang masih berdebar kuat. Bahkan, sekujur tubuhnya masih gemetaran. Pagi ini sungguh sial dirasa untuknya. Belum juga sembuh luka memar dan nyeri-nyeri di tubuhnya akibat hantaman ke tiga lelaki jahat di malam kemarin, sekarang rumahnya hampir saja terbakar karena pikirannya yang melayang-layang memikirkan Mayang. "Gue nggak bisa diem. Gue harus cari tahu kabar Mayang, kalau enggak mungkin akan ada kecerobohan-kecerobohan gue yang lainnya," ujar Raka. Ia bergegas masuk kembali ke dalam kamar. Niatnya untuk makan pun ia lupakan, perutnya yang tadi terasa lapar kini sudah kenyang tanpa diberi makan. Pengaman ponsel Raka terbuka setelah lelaki itu menempelkan jari telunjuk kanannya pada sensor fingerprint. Pada layar standby muncul sebuah berita yang menjadi trending topik hari ini. "Pengusaha Sukses Ardi Soesetya Tutup Usia." "Ardi Soesetya?" Raka menyebut nama orang yang ada dalam berita seraya mengingat-ingat dan berpikir. "Mayang Arneshia Soesetya ... Ardi Soesetya .... " Raka mencocokkan nama Mayang dan nama pengusaha tersebut, karena Raka memang tidak tahu nama kakek Mayang, yang gadis itu katakan pada Raka kakeknya pembisnis yang sukses dan terkenal. "Mereka memiliki nama belakang yang sama ...." Raka membaca headline news itu dengan lebih rinci. "Setelah dirawat selama tiga hari di Rumah Sakit International Hospital, pembisnis Ardi Soesetya meninggal dunia karena serangan jantung." Raka komat-kamit membaca berita yang tersuguh dari sebuah media online. "Nggak salah lagi ... Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Opanya Mayang meninggal dunia. Mayang pasti terpukul banget. Dan .... " Raka kembali terlempar pada kejadian saat ia mengantarkan Mayang ke rumah sakit. Kala itu Sandrina begitu murka dan hampir saja menghajar Mayang di depan matanya. Setelah ini pikiran Raka diarahkan pada mimpinya ... Iya ... itu bukan hanya mimpi, tapi itu sebuah pertanda yang Allah kirimkan melalui mimpi. Pertanda jika Mayang memang membutuhkannya saat ini. ".... Mayang pasti diamuk habis-habisan sama Ibunya." Raka tidak menunggu waktu lama. Ia bergegas berganti baju untuk menemui Mayang. "Tapi aku tidak tahu di mana rumah Mayang. Dan ... apa Mayang masih membutuhkan kehadiranku? Di sana sudah ada Jasson yang selalu bersamanya kan?" Raka dibuat resah dan dilema. Namun, ia harus tetap memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan baik-baik saja kan?! "Mayang .... " Raka mencari nomor ponsel Mayang untuk menghubungi gadis cantik tersebut. Namun, saat lelaki itu hendak memencet gambar telpon yang berwarna hijau, panggilan suara dari ibunya masuk terlebih dulu dan seketika mengurungkan niat Raka untuk menelpon Mayang. "Assalamualaikum, Bunda," sapa Raka dengan santun. "Walaikumsallam, Nak. Apa di rumah baik-baik saja?" Seketika Raka menoleh pada arah dapur. Wajan yang gosong dengan selimut yang terbakar masih berada di atas kompor. Tetesan air yang membasahi dapur juga belum ia bersihkan. Bahkan bau 'sangit' pun masih tercium kuat di hidung Raka. "Alhamdulilah semua baik-baik aja kok, Bun." Terpaksa berbohong agar tidak membuat Bunda menjadi bertambah pikiran. "Syukurlah! Kamu sudah makan, Nak?" tanya Bunda perhatian. "Sudah, Bu," jawab Raka dengan kebohongan yang lainnya. Maafin Raka ya, Bun. Pikir Raka dalam batin. "Bagaimana keadaan Rania?" tanya Raka balik. "Bicaralah dengan adikmu!" Bunda Amel memberikan ponselnya pada adik Raka. "Ran, ini abang," kata Raka. "Iya, Bang. Aku kangen abang," sahut Rania. "Abang juga kangen kamu, Ran. Bagaimana keadaanmu?" "Masih demam, Bang." "Pulanglah ke rumah! Biar abang bisa ikut merawat kamu." "Rania nggak mau, Bang. Rumah abang kurang nyaman nggak seperti rumah Ayah Inan," tolak Rania. Raka hanya diam. Seharusnya ia tidak perlu membujuk adiknya untuk pulang ke rumah, karena Rania pasti akan menjawab dengan jawaban yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN