24. Permintaan Terakhir Opa

2133 Kata
** "Yang, memang ke mana aja kamu sampai Jasson nelpon aku kemarin nanyain kamu?" tanya Winda mulai ingin tahu. "Aku nggak ke mana-mana. Kamu ini sukanya kepo," jawab Mayang sedikit nyolot. "Bukan kepo, tapi aku heran aja kenapa Jasson bisa nggak tahu kamu pergi ke mana? Dan kamu kan nggak pernah pergi ke mana pun tanpa dia, untung aja kamu nggak diculik orang jahat," seloroh Winda. "Aku nggak ke mana-mana. Udah ya! Ada pekerjaan penting yang mau aku lakuin," tegas Mayang ingin menyudahi obrolannya dengan sahabatnya. "Pekerjaan apa? Hei, kita itu lagi diskorsing kenapa malah kamu jalan-jalan?" protes Winda kesal. "Ini bukan jalan-jalan, Maemunah! Aku sedang mencari Mas Raka!" sungut Mayang dengan nada tinggi. "Kampret! Aku dipanggil Maemunah!" cicit Winda tidak terima. "Siapa pula Mas Raka?" tanya Winda penasaran. Nama yang Mayang sebut begitu asing di telinganya. "Kamu sekarang udah berani main sama Mas-mas, Ya? Hahaha," lanjutnya semakin penasaran tentang Raka. "Bukan urusanmu! Kepo!" "Tut ... tut ... tut ...." Mayang memutus panggilan suaranya secara sepihak. Dan jelas saja ini membuat Winda uring-uringan. Mayang memang suka seenaknya memperlakukan kawannya itu, tapi Winda pun juga sering semena-mena dengan Mayang. Intinya mereka sama-sama seenaknya sendiri. Walau begitu hubungan persahabatan mereka tetap utuh dan tidak bisa dipisahkan. "Jass, anterin aku ke rumah Mas Raka!" perintah Mayang seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Saya tidak tahu rumah Raka, Nona," sanggah Jasson. Niat hati untuk mencegah Mayang bertemu dengan Raka. "Heh, jangan berbohong! Kamu pasti tahu di mana rumah Mas Raka!" debat Mayang. "Saya tidak mencari tahu hingga ke rumah Raka, Nona." "Ya sudah ikuti perintahku! Kalau aku bilang belok ya belok, kalau lurus kamu juga harus ikut lurus!" tegas Mayang memberi komando pada asistennya tersebut. Sudah berlagak sok tahu saja dia. "Memang anda masih ingat jalan menuju rumah Raka, Nona?" Pertanyaan yang terdengar meremehkan keluar dari mulut Jasson. Mata Mayang terbelalak, kemudian ia mencebikkan bibirnya kesal. "Dan kamu tahu aku nggak pernah keluar rumah tanpa kamu. Bahkan jalan pulang ke rumah yang tiap hari aku lewati pun aku nggak hapal. Apalagi jalan ke rumah Mas Raka," gerutu Mayang. Tadinya udah sok-sokan mau nunjukkin jalan, meski diingat-ingat juga tetap nggak ingat. Jass tersenyum penuh kemenangan. "Ya sudah kita pulang saja, Nona! Nanti Mommy mencari kita," ajak Jasson. "Enggak mau! Aku mau ketemu Mas Raka," kekeh Mayang. "Lagian Daddy kan udah ijinin aku buat ketemu Mas Raka," lanjutnya. Mayang tidak kehilangan akal. Ia memiliki ide untuk menghubungi Raka melalui telepon untuk menanyakan alamat lelaki tersebut. ** Beberapa menit kemudian. Mayang menangis terisak dengan tissue yang berhamburan di dalam mobilnya. Jasson membiarkan bosnya itu menangis tanpa berniat untuk menenangkan atau mendiamkannya. "Jass, kenapa Mas Raka nggak mau ketemu aku lagi?" keluh Mayang seraya mengusap lelehan ingus yang keluar dari hidungnya. "Mana saya tahu, Nona?" decak Jasson santai. "Harusnya kamu tahu, Jass. Karena kamu selalu tahu apapun yang berhubungan denganku!" tuntut Mayang sembari memukuli lengan Jass berkali-kali. Manjanya kepada Jasson mulai kumat. "Iya, tapi urusan tentang Raka itu bukan tanggung jawab saya, Nona. Mana saya tahu ada apa dengan Raka?" debat Jasson. "Pokoknya kamu harus cari tahu, Jass! Aku sebel! Sebel! Sebel!" amuk Mayang. Gadis itu masih saja memukuli Jasson. "Nona, apa anda tidak melihat kalau saya sedang menyetir?" tanya Jasson seraya memelankan laju mobil yang ia kendarai. "Aku sudah tahu lalu kenapa?" sungut Mayang. Usilnya mulai kumat, ia melempar Jasson dengan tissue yang bekas ia menghapus ingusnya. Dengan jijik, jijik, jengkel, Jasson menangkis tissue yang dilemparkan oleh Mayang. "Nona, nanti saya bisa nabrak kalau anda seperti ini," omel Jasson karena Mayang kembali memukulinya. "Habisnya aku kesel sama kamu," celetuk Mayang sembari menjauhkan badannya dari Jasson. Jasson memutuskan untuk menghentikan kendaraannya di pinggir jalan, karena sangat berbahaya jika dalam keadaan lalu lintas ramai seperti ini Mayang terus menghujaninya dengan rengekkan dan juga pukulan. "Nona, kenapa jadi saya yang salah?" tanya Jasson protes keras. "Karena kamu nggak tahu alamat rumahnya Mas Raka!" jawab Mayang dengan nada tinggi kemudian menangis terisak-isak layaknya anak balita yang kehilangan mainannya. "Ya Tuhan," keluh Jasson singkat sambil geleng-geleng kepala. Sungguh tidak adil yang Jasson rasakan saat ini. Di mana salahnya? Jika Raka tidak mau bertemu dengan Mayang tanpa mau memberi tahu Mayang alasannya ya itu sepenuhnya urusan Raka. Lantas kenapa Mayang beranggapan jika ia harus tahu apa alasan Raka? Apa Mayang menganggap Jasson itu cenayang yang harus tahu segalanya? Atau mungkin gadis belia itu menginginkan Jasson menjadi pengasuh Raka agar ia mengetahui apa pun yang terjadi dengan Raka? Bisa-bisanya Nona Mayang menyalahkan aku, tapi syukurlah kalau Raka tidak mau lagi bertemu dengan Nona Mayang. Gerutu Jasson dalam hati. ** Raka, Aji dan juga Andika duduk di depan meja makan untuk sarapan. Sepiring ayam goreng, sambal petai kesukaan Raka, sayur sop sosis plus bakso yang masih mengebulkan asap terhidang di atas meja. Bunda Amel bangun jauh lebih awal agar bisa memasak lebih banyak porsi untuk teman-teman Raka. "Ayo sarapan dulu kalian!" pinta Bunda Amel. "Iya, Bunda!" sahut Raka, Aji dan Andika beriringan. Aji dan Andika segera mengambil nasi serta lauk pauk yang mereka inginkan. Makanan ini sungguh menggugah selera, apalagi masakan Bunda Amel memang terkenal lezat. Berbeda dari ke dua rekannya, Raka justru sibuk dengan lamunannya sendiri. Ketika sesendok nasi beserta lauknya sudah mulai masuk ke mulut Aji dan Dika, Raka masih belum mengambil tindakan apapun meski hanya menyentuh ujung centong saja. "Woey! Lu kenapa, Bro?" tanya Aji dengan mulut penuh makanan. Ia menyenggol lengan Raka pelan menggunakan ujung sikunya. Raka terhenyak dan kembali terlempar ke alam sadarnya. "Hah? Apaan?" tanya balik Raka salah tingkah. "Lu yang apaan! Bengong aja!" sungut Aji nyolot. "Mikirin apa sie kamu, Ka?" Bunda Amel terpancing untuk ikut menanyai anaknya. "Enggak ada apa-apa kok, Bu," jawab Raka kemudian tersenyum simpul. "Ya sudah kalau begitu kamu makan dulu! Bunda mau berangkat sekarang, ya!" perintah Bunda Amel kemudian berpamitan kepada anaknya. "Bunda mau ke mana?" tanya Raka menghentikan langkah Bunda Amel yang sudah hendak pergi meninggalkan ruang makan. "Bunda mau ke rumah om Reynan, adikmu demam, Raka," jawab Bunda Amel. "Rania demam? Kenapa Bunda nggak bilang dari tadi. Biar Raka antar, Ya." Raka menawarkan bantuan pada Ibunya. "Memang kamu mau menginjak rumah Om Reynan?" Pertanyaan Bunda Amel membuat Raka tertunduk diam. "Bunda sudah tahu jawabannya. Kamu nggak usah khawatir! Bunda akan sering-sering memberimu kabar tentang Rania," ujar Bunda Amel. "Aji, Andika, Bunda pergi dulu ya! Kalian makan yang banyak!" lanjut Bunda. Raka, Aji dan Andika bergiliran mencium punggung tangan Bunda Amel. Setelah itu Bunda Amel segera pergi meninggalkan rumah, karena ojek online sudah menunggu beliau di depan pagar. "Lu kenapa si, Ka? Lagi banyak pikiran kayaknya," tegur Andika kemudian menggigit paha ayam yang ada di tangannya. "Lagian lu kenapa segitu dendamnya sih sama Om lu? Dengan ngelihat wajah Om lu, lu bisa ngobatin rasa kangen lu sama Bokap lu, Ka," timpal Aji. "Gue nggak pernah kangen sama Bokap gue! Dan seumur hidup gue nggak bakal maafin apa yang udah Om gue lakuin," sungut Raka yang selalu terpancing emosi ketika membahas tentang Bapak dan juga omnya alias adik dari bapak kandung Raka. "Oke, oke, kita nggak akan bahas soal ini lagi. Ini privasi lu, Ka. Tapi gue yakin ada yang lain yang lagi lu pikirin kan?" selidik Aji. Ia sempat mendengar Raka bertukar suara dengan seseorang yang ia sendiri pun tidak tahu siapa yang sedang Raka ajak bicara. Namun, ia mendengar jelas bahwa Raka meminta orang itu untuk tidak menemuinya lagi. "Nggak ada kok, Ji. Seriusan," jawab Raka memilih untuk tidak membahas tentang apa yang sedang ia pikirkan pada siapa pun. Mayang, sejujurnya aku berat banget ngomong itu sama kamu, tapi mau bagaimana lagi? Aku bukan takut aku kenapa-napa, tapi aku takut kamu yang kenapa-napa. Pikir Raka. "Tuch kan melamun lagi!" tegur Dika. Pikiran Raka terkuras terlalu dalam hanya untuk memikirkan Mayang. Gadis belia itu begitu menyita perhatian Raka. "Aku lagi mikirin adikku aja kok, Dik," kilah Raka yang lagi-lagi harus menutupi yang sebenarnya. "Moga-moga Rania baik-baik aja," sahut Aji mendoakan adik dari sahabatnya itu. "Ka, apa gue boleh minta nomor hapenya Mayang?" tanya Andika. "Buat apa? Lu mau babak belur lagi?" Raka balik bertanya. Lelaki itu merasa lapar, ia mengambil sepiring nasi dan lauk untuk ia santap. Memikirkan Mayang ternyata membutuhkan banyak energi. "Kalau cinta harus berani ambil resiko, Bro!" tegas Andika. "Baru juga kenal udah bahas cinta," sungut Raka. "Bilang aja kamu cemburu!" balas Andika. "Dik, kalau Raka emang udah naksir duluan sama Mayang ya udah lepasin aja! Jangan sampai lu jadi baji*ngan sama kayak gue!" nasehat Aji untuk Dika. "Tapi Raka bilangnya nggak suka sama Mayang," bantah Andika. "Udah deh nggak usah pada ribut! Lagian kita berdua itu bagai langit dan bumi sama Si Mayang. Nggak akan dibolehin dia pacaran sama salah satu di antara kita. Udah dilanjut makannya!" sembur Raka ngotot. ** Suara detak jantung yang terekam pada sebuah alat medis tadinya terdengar beraturan tiap hentakannya, tapi perlahan suara itu terdengar datar. Garis naik turun sebagai gambar ritme jantung pun kini berubah menjadi lurus. Mayang, yang saat ini tengah berada di dalam kamar perawatan kakeknya pun sontak ketakutan. "Opa ... Opa ... Opa kenapa?" Mayang mencengkeram erat tangan sang kakek dan mengguncang tubuh lelaki itu secara perlahan. "Opa ... " teriak Mayang seraya memeluk tubuh Opa yang sama sekali tidak bereaksi. Reyhan mendengar teriakan anaknya dari dalam kamar sontak berlari masuk untuk melihat apa yang terjadi. Dilihatnya wajah sang ayah mertua yang sudah memucat tanpa detak jantung yang bisa terekam lagi. "Astagfirullah, Papi," serunya. Tanpa pikir lama ia memencet tombol emergency untuk memanggil petugas medis agar segera menolong ayah mertuanya. Belum ada satu menit, dokter berserta dua orang perawat datang untuk memeriksa kondisi Tuan Ardi. Mayang dan Reyhan diminta untuk menunggu di luar agar mereka bisa bekerja dengan maksimal. "Opa ... Opa .... " Mayang menangis tersedu-sedu dalam pelukan Jasson. Sedangkan Reyhan saat ini tengah berusaha untuk menghubungi Sandrina melalui telepon. "Semua akan baik-baik saja, Nona. Tenanglah!" ucap Jasson memberi pengharapan pada Mayang yang ketakutan. "Jantung Opa berhenti berdetak, Jass. Aku melihatnya sendiri," tutur Mayang dengan bibir bergetar. Betapa mengerikannya kejadian ini untuk Mayang, ini persis seperti cerita dalam sinetron yang pernah ia tonton. "Dokter akan mengembalikan jantung Tuan Ardi, Nona. Percayalah padaku! Percayalah!" ujar Jasson. Meski dalam hati ia pun juga merasakan hal yang sama dengan yang Mayang rasakan, tapi ia tidak boleh menunjukkan rasa takutnya. Ia harus terlihat kuat agar kondisi psikologis Mayang tidak semakin terkikis. Selamatkan nyawa Tuan Ardi, Tuhan! Aku mohon! Jangan sampai gadis ini kehilangan penopang hidupnya. Doa Jasson dalam hati sambil terus mengelus-elus punggung Mayang untuk menenangkan. "Aargh .... Sandrina tidak bisa dihubungi! Keterlaluan sekali dia!" sentak Reyhan emosi kemudian meninju tembok rumah sakit untuk meluapkan amarahnya. "Mungkin Nyonya sedang dalam pesawat, Tuan," sambung Jass. "Seharusnya ia tidak boleh ke mana-mana saat ayahnya sedang berjuang melawan penyakitnya seperti ini! Anak macam apa dia!" amuk Reyhan dengan emosi yang semakin memuncak. Reyhan tidak bisa tenang, rasa khawatirnya semakin menjadi tatkala dokter tak kunjung keluar dari dalam ruang ICU di mana mertuanya dirawat. Lelaki yang sudah menginjak kepala lima itu mondar-mandir ke sana kemari karena terlalu paniknya. Hingga seorang perawat membuka pintu dan meminta Reyhan untuk masuk ke dalam ruang perawatan. Dengan menggunakan pakaian dan alat pelindung diri yang sesuai dengan aturan bila akan masuk ke ICU, Reyhan pun mengikuti permintaan Tuan Ardi untuk menemui dirinya. Dokter dan perawat masih bersiap untuk berjaga di sana. Langkah Reyhan perlahan semakin mendekat ke ranjang di mana mertuanya terbaring lemah. Detak jantung Tuan Ardi terlihat sudah stabil. Syukurlah! Reyhan pun bisa bernapas lega. Jemari tangan Reyhan berkait menggenggam tangan sang mertua yang terasa dingin. "Papi," lirihnya. "Rey, dengarkan Papi bicara!" perintah Tuan Ardi dengan suara lemah. "Papi istirahat saja! Jangan banyak bicara!" pinta Reyhan. "Papi harus bicara, setelah ini Papi janji ... Papi akan istirahat dengan tenang," ujar Tuan Ardi. Beliau menarik napas panjang diiringi dengan satu bulir air mata yang jatuh membasahi wajah rentanya yang teramat sangat pucat. "Papi, ada apa?" tanya Reyhan sangat halus. "Mayang ... " Tuan Ardi menyebut nama cucu kesayangannya dengan lirih. Air mata lelaki senja itu semakin jatuh berlinangan ketika mengingat tentang Mayang. "Kau tahu kan? Mayang hidup karena Papi, anak yang tidak berdosa itu ada di dunia ini karena Papi yang mempertahankannya ...." "Hm ... Iya, Papi. Aku tahu itu," sahut Ardi. "Berjanjilah! Jaga Mayang untuk Papi, Nak!" "Kita akan menjaga Mayang bersama-sama, Pi. Seperti janji kita." "Waktu Papi tidak banyak, Rey ... " Perkataan Tuan Ardi terjeda karena beliau terbatuk-batuk dengan cukup parah. "Jangan berkata yang tidak-tidak, Pi! Papi istirahatlah!" Tuan Ardi kembali mengeratkan genggaman tangannya pada menantu kesayangannya tersebut. "Berjanjilah untuk menjaga Mayang dari kekerasan hati ibunya, Rey! Jangan biarkan Sandrina terus menyakitinya! Papi mohon .... Kau tahu? Setiap tangis Mayang adalah penderitaan untuk Papi ... " "Demi Allah ... demi Rasullulah aku akan menjaga Mayang, Pi. Dia anakku ... mana mungkin aku mengabaikannya," ujar Reyhan sedih. "Satu lagi, Rey ... Papi minta kau nikahkan Mayang dengan lelaki baik sepertimu ....... "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN