23. Reyhan, Ayah Yang Baik

2113 Kata
"Aku bisa gila hidup seperti ini, Daddy. Aku tertekan," desah Mayang. "Jangan seperti itu, Nak! Kau harus kuat. My daughter can't give up. You have to fight for your future, (Anakku tidak boleh menyerah. Kamu harus berjuang demi masa depanmu,)" pesan Daddy pada Mayang. "Aku hanya ingin kuliah di sini, apa itu hal yang berat untuk Mommy kabulkan? Kenapa semua yang keluar dari mulutku itu salah, Dad?" "Nak, kau tidak salah, tapi Mommy sangat memikirkan masa depanmu, beliau ingin yang terbaik untukmu. Sedemikian rupa Mommy merancang bagaimana nanti kau akan mendapatkan pendidikan yang terbaik. Jangan salah paham, Nak! Mommy sayang denganmu," jelas Daddy Reyhan memberi pengertian pada anaknya. Meski dalam hati ia pun tahu jika Sandrina memang tidak pernah mencintai anaknya, tapi Rey tidak mau membuat mental Mayang semakin anjlok dan terkikis. "Turuti saja perintah Mommy-mu, Mayang! Mungkin dengan begini dia akan semakin sayang denganmu," imbuhnya. "Benarkah, Dad? Mommy akan menyayangiku jika aku pergi kuliah ke luar negeri?" tanya Mayang dengan lugunya seperti anak balita yang termakan rayuan Ayahnya. "Iya, Sayang," jawab Daddy singkat seraya menyunggingkan senyumnya. "Baiklah, Dad. Aku akan menuruti keinginan Mommy," sambut Mayang dengan senang hati akan mengikuti perintah mommy asal ia berhasil mendapatkan cinta ibu kandungnya tersebut. "Baguslah. Kau memang anak yang pintar, Mayang." "Hm ... Daddy, apa aku boleh menemui Mas Raka?" ijin Mayang pada Daddy. Jasson yang sejak tadi tak bergeming, baru bereaksi setelah Mayang menyebut nama Raka. Lelaki itu menghembuskan napas kasar dan memutuskan untuk mengasingkan diri ke balkon kamar Mayang. Lelaki itu sudah menyita pikiran Mayang hingga sebegitunya. Gumam Jasson dalam batin. "Siapa Raka, Nak?" tanya Reyhan penasaran. Baru pertama kali ini ia mendengar Mayang menyebut nama lelaki selain Jasson. Ya, meski Sandrina sudah pernah membahas tentang Raka pada Reyhan ketika mereka ada di rumah sakit, tapi beliau ingin mendengar secara langsung dari mulut anaknya. "Mas Raka itu orang yang udah nyelamatin aku waktu aku kabur dari rumah, Dad. Dia orangnya baik banget, rajin salat kayak Daddy. Mas Raka usianya lebih tua tujuh tahun dari aku, Dad. Tapi aku nyaman sama dia, kemarin pun dia berani ngelawan Mommy waktu Mommy mau pukul aku. Mas Raka itu .... " Mayang menggantung ceritanya untuk sekedar mengingat-ingat wajah tampan Raka. ".... Mas Raka itu pahlawan aku, Dad," imbuh Mayang melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti. "Dan Ibunya Mas Raka, namanya Bunda Amel .... " "Amel?" sela Reyhan. Mayang mengangguk. "Iya, Dad. Namanya Bunda Amel. Beliau juga baik banget, aku diurus seperti beliau mengurus Mas Raka." Amel dan Raka?! Apa mereka .... Pikir Reyhan seraya melempar pandangannya ke sembarang arah. "Di mana mereka tinggal, Nak?" tanya Reyhan mencari informasi. "Aku nggak tahu alamatnya, Dad. Tapi kalau disuruh balik lagi ke rumah Mas Raka, aku masih ingat jalannnya, mungkin sie, soalnya aku pelupa," jawab Mayang. "Pokoknya rumah Mas Raka itu sederhana, Dad. Tapi nyaman ... nggak seperti rumah kita, meski luas dan mewah, tapi berasa hambar," lanjutnya. "Lalu Raka dan ibunya kerja di mana?" "Mas Raka buka usaha cafe kecil-kecilan, Dad. Ya masih sederhana juga. Dia pekerja keras banget. Kalau Bunda Amel ibu rumah tangga biasa." Berarti aku salah menduga, jika benar mereka orang yang sama yang aku kenal, hidup mereka harusnya bergelimang harta bukan sederhana seperti yang Mayang ceritakan. Batin Reyhan. "Apa aku boleh berteman dengan Mas Raka, Daddy?" ijin Mayang. Dia tahu Mommy-nya tidak akan setuju Mayang berdekatan dengan Raka karena tidak selevel dengan derajat mereka, oleh karena itu, Mayang memilih untuk meminta ijin pada Daddy. "Mayang, Daddy mengijinkanmu berteman dengan siapa pun selama orang itu baik, tapi ingat! Jangan sampai Mommy tau," tutur Daddy Reyhan tidak keberatan jika Mayang berteman dengan Raka. "Makasih ya, Dad." Mayang segera memeluk Reyhan karena merasa bahagia dengan sambutan baik dari Daddy-nya. "Kalau begitu aku ijin ketemu Mas Raka apa boleh, Daddy?" tanya Mayang seraya bergelendot manja di bahu sang ayah. "Boleh saja, Nak. Tapi tetap harus dalam pengawasan Jasson. Mommy sekarang sedang dalam perjalanan ke Singapura, tapi kamu tetap harus berhati-hati," pesan Reyhan untuk Mayang. "Hm ... Iya, Daddy. Aku pasti akan selalu ingat kata-kata Daddy. Setelah dari rumah sakit aku akan pergi menemui Mas Raka di cafenya," tutur Mayang dengan semangat empat lima. "Iya, Nak." Reyhan tersenyum seraya mengelus pucuk kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Lelaki itu kemudian berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan ke balkon kamar Mayang untuk menemui Jasson yang masih berada di tempat itu. "Jass," tegur Reyhan sembari menepuk bahu tegap Jasson. "Iya, Tuan," sahut Jasson. "Aku perlu bicara serius denganmu," ujar Reyhan. Mayang hanya bisa menyaksikan Daddy dan bodyguard-nya mengobrol dari kejauhan, jelas ia tidak bisa mendengar apa yang sedang ke dua lelaki itu perbincangkan dari jarak yang demikian. Meski sebenarnya ia pun sangat penasaran dengan isi obrolan mereka. Banyak rahasia antara Jasson dan Daddy, yang tidak Mayang ketahui bahkan orang lain ketahui. Hanya Tuhan, Jasson, Daddy, dan satu lelaki misterius yang mereka sembunyikan identitasnya yang tahu permasalahan tentang rahasia hidup Mayang yang bahkan Mayang sendiri pun tidak mengetahuinya. ** Mobil mewah yang dikendarai oleh Jasson melaju kencang menembus keramaian ibu kota. Seorang gadis duduk di sebelahnya dengan menampakkan wajah yang sangat ceria. Keceriaan yang jarang sekali Jasson lihat semenjak ia menjadi pengawal pribadi Nona mudanya tersebut hingga sekarang. Bibir mungil dan tipis gadis berumur belasan tahun tersebut tak henti bernyanyi. Lagu cinta yang ia senandung kan berulang-ulang kali terdengar menjadi backsound yang memenuhi mobil mewah yang ia tumpangi. Pecundang kamu, Jasson .... Lihatlah! Mayang tersenyum karena orang asing. Lalu di mana dirimu selama ini? Hanya menjadi patung yang mengikutinya tanpa dilirik sekali pun keberadaannya. Kau gagal! Gagal mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan! Dan itu karena lelaki asing ... Karena kecerobohanku tidak bisa menjaga Nona Mayang hingga dia bisa kabur dari rumah dan bertemu dengan lelaki itu. Resah Jasson dalam batin. "Jass, memangnya kamu tahu di mana cafenya Mas Raka?" tanya Mayang disela-sela ia bernyanyi. "Hm ... tentu saja, Nona," jawab Jasson datar. "Kamu memang hebat, Jass. Kamu tahu apapun yang tidak orang tahu. Hahaha," kelakar Mayang. "Itulah gunanya otak, Nona," celetuk Jasson. "Jass, apa kamu juga tahu kalau Mas Raka itu orang yang baik?" tanya Mayang dengan polosnya. "Saya tahu apapun yang berhubungan dengan anda, bukan mencari tahu tentang hidup orang lain, Nona," desah Jasson sedikit keberatan jika Mayang terus membahas tentang Raka. "Saya juga tidak akan mencari tahu di mana Cafe Raka jika bukan karena anda ada di sana," imbuhnya. ** Mayang memilih menutup mulutnya, tidak ingin lagi membahas tentang Raka dengan Jasson. Ia paham ketika lelaki yang sudah mendampinginya bertahun-tahun itu berbicara dengan nada sedikit meninggi, itu artinya Jasson sedang dalam posisi yang tidak nyaman. Biar bagaimana pun, Mayang tidak mau egois. Dia juga harus menjaga kenyamanan Jasson, seperti Jasson menjaga kenyamanannya. Meski itu sudah tugas Jasson, tapi ia pun sadar hidupnya tidak akan mudah bila tanpa Jasson. Dia dan Jasson layaknya simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. "Oh ya, Jass." Mayang mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya. "Ini aku mau kembalikan ponsel kamu," kata Mayang seraya menyodorkan gadget milik Jass yang ia bawa. Jass melirik sebentar, mengambil benda miliknya itu kemudian ia masukkan ke dalam saku jas resminya dan kembali konsentrasi pada kemudi. "Makasih ya, Jass. Oh ya kemarin papah kamu telpon dan aku jawab. Habisnya berkali-kali nelponnya, maaf ya! Aku udah lancang," ungkap Mayang sungkan. "Pa-Papah? Be~beliau bilang apa? Saya lupa memberi kabar padanya, dia pasti mengkhawatirkan saya, Nona," jelas Jasson dengan terbata-bata seolah ada sesuatu yang hendak ia tutupi. "Iya, papah kamu menanyakan kabar kamu, Jass. Papah kamu ramah banget ya, nggak kayak kamu," cela Mayang lalu tertawa kecil melihat ekspresi Jasson yang memang selalu datar meski mau dihina, diejek, dirayu ... Tidak ada ombak, badai dan tsunami yang bisa membuat mimik wajahnya berubah. "Iya begitulah Papah saya, Nona. Anda berbicara apa saja dengannya?" selidik Jasson. "Banyak." "Ba~banyak?" tanya Jasson kembali terbata-bata. "Hm ...." Mayang mengangguk. Iya, saat Mayang mengambil uang di Atm. Ponsel Jasson yang dibawa olehnya berdering berkali-kali. Panggilan suara dari kontak yang diberi nama 'Papa'. Niat hati ingin membiarkan saja, tapi Mayang tidak tega karena mungkin ada sesuatu yang hendak 'Papa' kabarkan pada Jasson hingga beliau menelpon anaknya berulang kali. "Papamu menanyakan kabarku, lalu Papamu juga bertanya tentang keluargaku," imbuh Mayang. "Lalu apa yang anda katakan, Nona?" "Aku katakan apa yang seharusnya aku katakan, Jass. Aku bilang Mommy dan Daddy baik-baik saja begitu pun dengan Opa." Jasson diam dan tidak memberi tanggapan. "Tapi, Jass .... " "Iya, Nona," sahut Jass seraya menengok ke arah Mayang sejenak kemudian kembali fokus pada kemudinya. "Kenapa Papamu bisa mengenal Opa, Daddy dan juga Mommy?" tanya Mayang keheranan. Jass diam sejenak tak langsung menjawab pertanyaan Mayang. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan dahulu karena takut salah berucap. "Mm ... Papa bukannya mengenal. Beliau .... " "Tin ... Tin ... " Jasson memencet klakson berkali-kali disusul dengan menginjak pedal rem secara tiba-tiba hingga Mayang terpental ke depan karena tidak sempat mengambil ancang-ancang. "s**t! Ada kucing lewat!" pekik Jasson seraya memukul setir mobilnya. "Aow .... " Mayang mengeluh sambil mengusap-usap keningnya yang terbentur dashboard. Mobil berhenti di pinggir jalan. Jasson mencondongkan badannya ke arah Mayang, "Maafkan saya, Nona! Coba lihat!" Jasson memegang kepala Mayang untuk memeriksa kondisi jidat Mayang. "Nggak apa-apa kok, Jass. Lebih baik jidat aku yang jendol dari pada kucingnya mati kamu tabrak," tandas Mayang. "Sekali lagi maafkan saya, Nona!" ulang Jasson. "No problem, don't think about it! (Tidak masalah, jangan pikirkan tentang itu!)" ucap Mayang santai. "Hmm ... Iya, Nona. Kita lanjutkan perjalanan lagi," sambut Jasson yang kini kembali menjalankan laju kendaraan roda empatnya. Syukurlah Nona tidak membahas lagi tentang Papa. Pikir Jasson lega. ** Sebuah cafe sederhana dengan desain minimalis dan ornamen yang kekinian terlihat sepi tanpa ada satu pun motor ataupun mobil yang terparkir di halamannnya. Sebuah pohon mangga besar dan kokoh yang menjadi peneduh cafe tersebut, terlihat terus menjatuhkan daunnya yang kering di musim kemarau. Dedaunan itu terlihat mengotori halaman bahkan atap-atap cafe. "Jass, kenapa sepi ya?" tanya Mayang keheranan. "Entahlah, Nona," jawab Jass singkat. Mayang memilih untuk turun dari dalam mobil dan berjalan lebih dekat ke cafe tersebut. "Closed (Tutup)." Mayang membaca tulisan yang tergantung di pintu masuk cafe. "Kenapa tutup? Pantas saja kotor begini," imbuhnya. Mayang kembali masuk ke dalam mobil untuk menemui Jasson. Dengan wajah masam ia berkata, "Jass, cafenya tutup." "Iya, saya tahu." "Dari mana kamu tahu?" "Baca tulisan." "Ouh ...." Anda sesedih ini hanya karena cafe Raka tutup, Nona? Manis sekali. Omel Jasson dalam batin. Mayang merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Siapa lagi yang akan dia hubungi jika bukan Raka? Tapi belum juga ia melaksanakan niatnya, ponsel yang ia pegang bernyanyi merdu. Satu panggilan video masuk dari seseorang yang kini wajahnya sudah terpampang jelas di depan mata Mayang. "Astaga! Mau ngapain ini bocah?" gerutu Mayang sambil geleng-geleng kepala. Tidak ada yang bisa Mayang lakukan selain menjawab panggilan tersebut, kalau jika ia memilih mangkir maka si penelpon akan terus menerornya hingga Mayang mau menjawab teleponnya. "Iya, Kenapa?" jawab Mayang sambil memasang ekspresi kesal. "Dih ... jutek amat si lu, Yang?" sahut si penelpon dengan kesal pula. "Eh kamu lagi di mobil, ya? Mana Jass? Kameranya hadapin ke Jass!" pintanya. "Ogah!" tolak Mayang. "Cepetan hadapin ke Jass!" sentaknya. "Kamu mau nelpon aku apa Jass sie?" protes Mayang. "Jass lebih penting," tegasnya dengan menampakkan mimik wajah berbinar. "Iya." Mayang menghadapkan kamera ponselnya pada Jasson. Tanpa diberi tahu Jass sudah paham siapa yang menelpon Nona mudanya. Suara cempreng si penelepon sudah amat sangat familiar dan hampir tiap hari didengar oleh Jasson. "Jass, apa kabarmu? Aku kangen banget karena bakalan nggak lihat kamu selama tiga hari," seru Winda kegirangan. Melihat wajah tampan Jass ia seolah mendapatkan energi baru dalam hidupnya. Seperti bunga matahari yang bermekaran karena melihat sang surya yang muncul dari balik persembunyiannya. "Seperti yang anda lihat, Nona. Saya baik-baik saja," jawab Jasson sesuai pertanyaan. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Jass. Apa kamu nggak mau tanya kabarku juga?" Semakin kegirangan dan bertingkah tidak jelas. "Ck ... " decak Mayang merasa mual mendengar sahabatnya itu yang selalu kegatelan bila berkomunikasi dengan Jass. "Saya tahu anda selalu baik saat berbicara dengan saya, Nona. So, why am I asking about how you are? (Jadi untuk apa saya bertanya tentang kabar anda?)" kata Jasson dengan santainya. "Hahaha ... " Tawa Mayang pecah mendengar perkataan Jasson. Winda mencebikkan bibirnya karena merasa tertampar. Omongan Jasson sungguh menjatuhkan harga dirinya. Eh mohon diralat! Harga diri Winda memang sudah jatuh ketika ia melihat pesona Jasson. Meski tanggapan lelaki itu biasa saja, tapi Winda masih saja mengejar dan bergelondet manja pada Jasson. Kalau bukan mengingat Winda adalah sahabat Mayang, maka Jasson sudah menghindari gadis itu sejak dulu. "Mayang, apa kamu bisa diam?!" sentak Winda. "Oke, I will shut up, if you shut up too. (Oke, aku akan diam, jika kamu juga diam) Hahahaha." Mayang masih juga menertawakan Winda. "I don't care! (Aku tidak peduli!)" sungut Winda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN