**
"Mereka adalah ... " Raka kembali membuat kawannya kesal.
"Ngomong kagak lu? Atau gue tinju lagi itu muka lu yang udah lebam biar tambah parah!" ancam Andika seraya membelalakkan ke dua bola matanya mengintimidasi Raka.
Raka dan Aji terkekeh geli melihat reaksi Andika. Memang Dika lah yang paling emosional di antara mereka bertiga.
"Oke. Gue bakal ngomong," kata Raka mengakhiri tawanya.
"Dari tadi ngomong gitu mulu, tapi kagak ngomong-ngomong. Gue timpug lu!" Andika masih ngomel.
"Sabar, Bro!" Aji mengelus-elus pundak Andika.
"Jadi mereka itu adalah orang suruhannya Nyonya Sandrina," ujar Raka yang kini sudah mulai kembali serius.
"Nyonya Sandrina? Siapa dia?" tanya Andika dan Aji kompak.
"Busyet, udah kayak paduan suara," ledek Raka.
"Nyonya Sandrina itu siapa, Ka? Astaga, lu main ama tante-tante?" Aji mulai menduga-duga dengan pikiran liarnya.
"Plak!" Raka memukul bahu Aji.
"Sembarangan kalau ngomong!" umpatnya.
"Iya terus siapa?" tanya Andika dan Aji yang lagi-lagi bebarengan.
"Kalian udah kompakan bener dari tadi," komentar Raka kemudian terkekeh.
"Hush ... ! Cepetan cerita!" sentak Andika galak.
"Hm ... Oke. Jadi Nyonya Sandrina itu ibu kandungnya Mayang," kata Raka yang akhirnya membuka identitas siapa wanita yang bernama Sandrina tersebut.
"Apa?" teriak Andika shock bukan kepalang. Lelaki itu melongo dan membelalakkan matanya. Sedangkan Aji menatap Andika dengan penuh selidik. Kenapa Andika bisa bereaksi seperti itu? Siapa Mayang? Dan apa hubungan Mayang dengan Andika dan Raka?
"Gue gak ngerti dech. Mayang itu siapa? Gue asing sama nama itu," kata Aji seraya garuk-garuk kepala. Dia meminta penjelasan kepada ke dua temannya.
"Mayang itu gadis abege yang gue tolong saat dia kabur dari rumah. Kejadiannya sehari yang lalu, tepat setelah gue pergokin lu sama Fenna pacaran di belakang gue!" Raka sedikit emosional saat harus mengingat kejadian menyakitkan saat kekasihnya berselingkuh dengan Aji.
"Astagfirullah! Jadi lu sama Fenna pacaran? Ya ampun, Ji! Kayak nggak ada cewek lain aja sampai-sampai pacar teman lu sendiri lu embat! Parah lu, Ji!" omel Andika tidak terima.
Aji menghela napas pendek. Ia tundukkan kepalanya. Dia malu, sangat-sangat malu ... Kenapa dia bisa khilaf dan melakukan hal sebodoh itu
"Maafin gue, Ka. Gue tau gue salah, gue udah hianatin lu dan nyakitin lu. Sorry, Ka. Gue memang nggak pantas jadi sohib lu lagi," ujar Aji menyesali perbuatannya.
"Aji ... Aji ... Bisa-bisanya lu itu ya. Dan lu kenapa gak bilang sama gue kalau yang bikin lu putus ama Fenna itu Aji, Ka? Biar gue hajar lu, Ji!" Andika sudah emosi dan mengepalkan tangannya hendak meninju Aji, Aji pun sudah siap untuk menangkis pukulan Andika, tapi Raka melerai mereka.
"Udahlah nggak usah ribut, gue juga udah maafin Aji kok. Mungkin memang udah kayak gini jalannya. Allah itu maha baik. Allah nunjukkin ke gue kalau Fenna bukan jodoh gue. Udah nggak usah pada emosi. Pertemanan kita itu lebih berharga dari apapun," jelas Raka dengan bijaksana. Beginilah Raka yang selalu menjadi pendamai di antara kawannya yang bertikai, sekalipun ia yang menjadi korbannya.
"Sekali lagi gue minta maaf ya, Ka," kata Aji.
"Udah nggak usah bahas lagi! Gue udah maafin lu kok," sahut Raka seraya melempar senyum pada Aji.
"Terus maksud Ibunya Mayang nyuruh antek-anteknya ngehajar lu apaan, Ka?" tanya Andika ingin tahu.
Raka pun menceritakan semua yang terjadi, perihal kemarahan Sandrina kepadanya. Dengan setia ke dua rekannya tersebut menyimak dan sesekali mengomentari apa yang Raka jabarkan.
Karena keasyikan mengobrol, tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi. Aji dan Andika memilih untuk tidur terlebih dulu, sedangkan Raka tetap terjaga karena ia takut akan terlewat salat subuhnya.
Sambil menunggu Adzan berkumandang, Raka mengotak-atik ponselnya. Ada dua panggilan tak terjawab dari Mayang dan satu pesan dari orang yang sama.
"Mayang khawatirin gue. Hm ... Dia punya kontak batin yang kuat ke gue kayak bunda yang bisa ngerasain ketika gue kena masalah," lirih Raka seraya tersenyum simpul. Hatinya bahagia, rasa sakitnya di wajah dan sekujur tubuhnya berasa hilang lenyap seketika saat tahu bahwa gadis yang menjadi alasannya untuk bertahan ternyata memiliki feeling dengannya.
Raka segera membalas pesan Mayang agar gadis itu tidak mencemaskannya. Mayang yang memang belum dapat tidur nyenyak, langsung terbangun ketika ponselnya berbunyi.
Mayang tersenyum membaca balasan dari Raka, "Alhamdulillah kalau Mas Raka baik-baik aja," kata Mayang senang.
Gadis belia itu membalas kembali pesan dari Raka. Kini ia bisa tidur nyenyak setelah mengetahui kabar dari malaikatnya tersebut bahwa ia baik-baik saja.
Raka sengaja tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Sama seperti Bunda, Mayang pasti akan sangat shock jika tahu Mommy-nya menyuruh beberapa preman untuk mengancamnya.
Namun, Raka tidak berniat untuk melaporkan hal ini ke polisi, karena dia takut ini akan mempengaruhi keselamatan Mayang. Nyatanya meski ada Daddy dan juga bodyguard yang konon katanya akan melindungi Mayang, tapi tetap saja Mayang kerap mendapatkan siksaan dari ibunya.
"Aku akan jagain kamu, Mayang," ujar Raka.
Dan adzan pun berkumandang. Raka meletakkan ponselnya untuk mengambil air wudlu, tapi terlebih dulu ia membangunkan rekannya untuk salat berjamaah.
**
Menu makanan dengan berbagai masakan lezat terhidang di atas meja. Jelas saja rasanya pasti dijamin enak, asissten rumah tangga pilihan siap sedia memasak berbagai menu sesuai selera tuannya.
Denting suara sendok, garpu dan piring bergesekan. Hanya suara itu yang menjadi backsound pagi ini, di ruangan sebesar ini. Tidak ada saling sapa ataupun senda gurau untuk menghangatkan suasana. Mereka sibuk dengan nasi, paha ayam dan berbagai sayuran.
"Mayang, letakkan ponselmu! Habiskan makananmu!" perintah Sandrina dengan galak. Mayang yang tengah sibuk bertukar pesan dengan seseorang segera menyembunyikan ponselnya di dalam saku celana.
"I~iya, Mom," sahut Mayang terbata-bata.
Gadis cantik yang masih melewati masa hukuman skorsing tiga hari ini segera mengambil sendok serta garpu yang sejak tadi ia abaikan.
"Selama tidak sekolah, tinggallah di rumah dan jangan pergi ke mana pun! Mommy mau ke Singapura untuk dua hari. Mommy tidak mau ada laporan bahwa kau membuat ulah lagi." Sandrina memberi beberapa peringatan pada anak semata wayangnya tersebut.
Mayang hanya mengangguk tanpa membantah sedikit pun.
"Kau mau ke Singapura saat Papi sedang sakit?" tanya Reyhan protes.
Seperti biasa perdebatan pun akan segera dimulai.
"Aku mendapatkan undangan untuk menghadiri acara fashion show designer terkenal kelas dunia. Tidak sembarang orang bisa mendapatkannya, Rey. Papi berada di rumah sakit yang mahal, dokter yang berpengalaman dan juga fasilitas yang memadai. Apa gunanya aku ada di sana? Tidak ada!" debat Sandrina tanpa khawatir sedikit pun jika terjadi hal yang buruk dengan papinya.
Selalu seperti ini setiap Mommy dan Daddy berkomunikasi. Aku bosan sekali mendengarnya. Pikir Mayang merasa jengah jika harus tiap hari melihat perdebatan orang tuanya.
"Terserah kamu saja. Mana pernah kamu menuruti perkataanku?" Reyhan memilih untuk mengalah. Biar bagaimana pun dia tidak akan bisa menang berdebat melawan Sandrina.
"Kau sudah tahu aku tidak akan menurutimu, tapi tetap saja kau mengajakku beradu argumen," sungut Sandrina sambil menggeser tempat duduknya ke belakang agar dia bisa bangun dari tempat tersebut.
Reyhan menghela napas kasar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa sangat gagal menjadi seorang suami. Sebagai lelaki dia tidak memiliki harga diri sama sekali di depan istrinya.
"Mayang, Mommy pergi. Ingat! Jangan pergi ke mana pun! Belajarlah yang benar! Sebentar lagi ujian kelulusan dan kau harus mendapatkan nilai yang baik agar mudah meneruskan kuliahmu di luar negeri." Sandrina kembali memberi peringatan pada anak gadisnya.
"Hm ... Mommy, boleh aku bicara?" tanya Mayang dengan sopan. Bukan sopan, tapi tepatnya 'takut', takut jika Mommy akan menolak mendengarkan apa yang ia katakan. Karena di rumah ini, dia tidak memiliki hak apapun untuk mengemukakan pendapatnya. Mayang hanya bisa menurut dan menurut tanpa boleh membantah.
"Katakan! Aku beri kau waktu lima menit untuk bicara!" kata Sandrina angkuh seraya melihat ke arah jam mahal yang melingkar di tangannya.
"Mm ... Mommy, aku ... " Mayang ketakutan untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. Menundukkan kepala yang selalu ia lakukan untuk menghindari sorot tajam netra Sandrina.
"Kau mau apa, Mayang?" tanya Sandrina tidak sabaran. Wanita itu sudah pada posisi siap untuk pergi. Satu koper besar pun sudah digeledek oleh salah satu ajudannya untuk dibawa masuk ke dalam mobil pribadi Sandrina.
"Anak kita sendiri pun takut untuk berbicara denganmu. Sebegitu menakutkannya dirimu, San! Kau ini ibu atau musuh untuk anak kita?" protes Reyhan tidak terima jika Sandrina bersikap kasar dengan anak mereka.
Sandrina memalingkan wajahnya tidak mau menatap Reyhan. "Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu, Mayang. Cepat katakan sekarang! Atau dua hari lagi selepas aku pulang dari Singapura."
Mayang lekas berdiri dari tempat duduknya untuk menyeimbangkan posisinya dengan sang bunda yang kini tengah berdiri juga, masih dengan sikap yang sama yaitu menundukkan kepala, Mayang mencoba untuk membuka suara, meski lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya tercekat seolah dua anggota tubuhnya itu menolak untuk diajak bekerja sama.
"Mom, aku ... aku ... aku mau kuliah di Indonesia saja. Aku ... Aku tidak mau ke luar negeri, Mom," ucap Mayang. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil mengatakannya.
"Brak .... !" Sandrina menggebrak meja makan dengan cukup kencang dan tiba-tiba hingga Reyhan dan Mayang kaget bukan kepalang.
Mayang lekas menyingkir dan berhambur memeluk Daddy. Jelas saja ia ketakutan.
"Tenanglah, Sayang! Ada Daddy di sini," kata Reyhan menenangkan anaknya.
"Apa kau tidak bisa halus dengan anak kita?" tanya Reyhan pada istrinya
"Kau tidak dengar apa yang Mayang bilang? Dia sudah berani melawan aku! Dia sudah berani membantahku! Sini! Lepaskan Mayang! Biar aku beri dia pelajaran!" amuk Sandrina. Dia hendak menarik tangan anak gadisnya, tapi Reyhan dengan cepat mencegahnya.
Mayang terisak-isak dalam pelukan ayahnya. Dia hanya mengatakan tentang apa yang dia inginkan, bukan bermaksud untuk membantah atau melawan ibunya. Namun, reaksi Sandrina justru meledak-ledak tak terkendali seperti ini.
"Jangan sentuh anakku!" sentak Reyhan murka.
"Kau tidak berhak atas Mayang!" sentak balik Sandrina melawan suaminya.
"Aku berhak! Aku ayahnya!"
"Kau bu-" Sandrina hendak mengatakan sesuatu, tapi dengan cepat ia menghentikan apa yang ingin dia katakan. Otaknya seolah memberi isyarat agar Sandrina segera membungkam mulutnya.
"Mayang, masuklah ke dalam kamar! Jass, temani Mayang!" Reyhan memerintah Jasson yang memang selalu mendampingi Mayang ke mana pun Mayang berada.
Sandrina masih tampak murka. Wajah putihnya terlihat merah padam karena terpaksa harus menahan amarahnya.
Setelah memastikan jika Mayang pergi, Reyhan kembali mengajak istrinya berdebat.
"Sudah cukup, San! Kasihanilah Mayang! Dia anak kandungmu. Anak yang kau lahirkan dari rahimmu," ucap Reyhan dengan intonasi suara yang sedikit diperhalus.
Sandrina menangis, dia kembali duduk di tempatnya. Dia topang kepalanya dengan telapak tangan dengan terus terisak-isak.
Reyhan mendekati istrinya dan duduk di samping Sandrina. Ia menggenggam jemari tangan wanita itu dengan lembut.
"Kau ibunya. Dan Mayang membutuhkanmu. Jangan membuat dia trauma dengan kekasaranmu padanya! Apa kau tidak memikirkan psikologisnya? Hah?" tanya Reyhan dari hati ke hati
"Iya, aku tahu aku ibunya. Aku melahirkannya dengan segala pengorbanan, bukan hanya nyawaku tapi termasuk dengan mengorbankan masa depanku," jawab Sandrina.
"Masa depanmu baik-baik saja, San. Nama baikmu masih terjaga, kau masih bisa hidup enak. Lalu apa masalahmu?" Reyhan masih mencecar Sandrina dengan berbagai pertanyaan.
"San ... Banyak di luar sana wanita yang ingin memiliki anak, tapi kenapa kau justru menyia-nyiakan anakmu? Mayang anak yang sangat cantik, dia gadis yang pintar, baik dan penurut, lalu apa kurangnya dia untukmu?"
"Haruskah aku menjelaskannya padamu lagi? Berapa kali aku harus membuatmu mengerti, Rey? Aku membencinya ... Aku membenci anakku," teriak Sandrina kalap. Tangisnya semakin pecah. Rasa trauma di masa lalunya kembali bergulir dan menyiksa perasaannya.
"Dia tidak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia, San. Melainkan dirimu lah yang menjadikannya hadir ke dunia. Ini tidak adil jika kau menyalahkannya."
"Aku tidak peduli! Bagiku dia tetap perusak kebahagiaanku! Sudah cukup! Aku muak membahas ini!" Sandrina memilih pergi dan menyudahi perbincangan dengan suaminya. Dia hapus air matanya dengan tissue kemudian kembali menunjukkan dirinya yang tegar, tegas, angkuh dan tak terkalahkan. Suara heels sepatunya berbenturan dengan lantai marmer hingga itu menjadi pertanda bahwa ia lah penguasa dalam rumah ini. Tidak ada yang bisa melawannya apalagi menantangnya. Semua orang wajib tunduk dengan apa yang ia katakan.
Reyhan tidak mencegah wanita itu pergi. Dia lebih memilih untuk melihat keadaan anaknya di kamar.
"Apa aku salah, Jass? Aku tidak mau keluar negeri. Aku suka di sini, Jass," keluh Mayang pada Jasson.
"Nona, anda tidak salah, tapi setidaknya anda harus paham jika Nyonya Sandrina tidak bisa untuk anda bantah," sahut Jasson.
"Sekali ini saja aku ingin Mommy mendengarkan apa yang aku mau."
Mayang menangis sedih. Dia ketakutan. Setiap teriakan ibunya terdengar seperti terompet sangkakala yang akan melumat tubuhnya dalam sebuah hari akhir yang menakutkan.
"Mayang, kau baik-baik saja?" tanya Reyhan yang baru saja masuk ke dalam kamar Mayang.
"Daddy," seru Mayang seraya merentangkan ke dua tangannya bersiap untuk memeluk sang ayah.
"Jangan menangis, Nak! Daddy di sini bersamamu."
Reyhan mendekap anaknya dengan sangat erat. Dia elus rambut Mayang dengan penuh kasih sayang.