**
Sementara lelaki yang tengah menjadi penyebab Mayang dan Bunda Amel tidak dapat tenang, kini berada pada kondisi yang lemah. Terkapar bersimbah darah di dekat kendaraan roda duanya. Mata Lelaki itu terpejam dengan satu tangan memegangi dadanya. Kesadarannya tidak sepenuhnya hilang, ia masih bisa mendengar suara ke tiga lelaki jahat itu menertawakan dirinya. Wajah sang bunda, adik perempuannya dan juga Mayang bergantian membayangi pikirannya, mereka adalah penyemangat Raka untuk tetap bertahan. Apapun yang terjadi ia tidak boleh mati malam ini. Raka harus tetap hidup. Tanggung jawabnya masih besar, dia belum bisa membahagiakan ibu dan adiknya. Dan satu hal lagi yang sekarang menjadi hal yang penting untuk Raka adalah menyelamatkan Mayang dari kekejaman ibundanya. Sebelum Mayang bahagia, maka Raka tidak akan tenang.
Apa aku mencintaimu Mayang? Mana mungkin? Aku baru saja mengenalmu, tapi kenapa aku rela melakukan hal ini bila aku tidak mencintaimu? Ya Allah, Cepat sekali cinta Mayang menyentuh hatiku. Pikir Raka.
"Menyerah saja! Jangan pernah kamu muncul lagi di depan Nona Mayang!" Ketua suku memperingatkan Raka dengan seringai senyum setannya yang menakutkan.
"Ayo kita pergi dari sini!" lanjutnya memberi komando pada anak buahnya seraya melambaikan tangannya.
Mereka tidak peduli dengan keadaan Raka yang lemah. Mereka memutuskan untuk angkat kaki dari tempat itu sebelum keadaan menjadi ramai dan menjadi masalah nantinya. Namun, sial untuk mereka, di saat yang bersamaan datanglah dua buah kendaraan dari arah Raka datang. Mereka berdua berhenti saat melihat motor yang tidak asing untuk mereka terparkir di tengah jalan. Motor yang biasa mereka lihat setiap harinya, hingga mereka hapal plat nomornya dan bisa memastikan bahwa kendaraan roda dua ini adalah milik Raka.
ke dua lelaki itu adalah Aji dan Andika teman dekat Raka. Namun, dari arah Aji dan Andika datang, mereka tidak dapat melihat keberadaan Raka, karena tubuh Raka yang tergeletak di atas aspal dan tertutupi oleh roda dua miliknya.
"Berhenti! Kalian siapa?" teriak Andika mencegah ke tiga lelaki itu untuk pergi.
Dengan kompak ke duanya mematikan mesin kendaraan mereka dan berjalan mendekat, kagetlah Aji dan Dika saat melihat Raka terkapar tak berdaya.
"Raka, lu baik-baik aja kan?" Aji segera mendekati Raka. Syukurlah Raka masih bisa merespon pertanyaan Aji dengan baik.
Aji membantu Raka untuk duduk di atas aspal. Sedang Andika yang notabene jago bela diri sudah siap untuk melawan ke tiga preman tersebut.
"Gue baik-baik aja, Ji. Lu bantu Dika aja! Kasian, dia gak bakal menang lawan mereka," ujar Raka dengan suara lemah.
Aji menuruti keinginan Raka dan berhambur bersama Dika untuk melawan penjahat tersebut.
Raka merasa sangat lega, kedatangan ke dua kawannya ini seperti pertolongan Tuhan yang memang tidak pernah akan terlambat. Kini Raka terus melantunkan banyak doa semoga Aji dan Dika selalu dalam perlindungan Yang Maha Kuasa. Namun, Raka tidak tinggal diam, ia berusaha memulihkan tenaganya untuk membantu ke dua rekannya yang tengah berjuang untuk membelanya.
**
Beberapa jam kemudian.
Ternyata feeling Bunda Amel sejak tadi adalah benar. Anaknya pulang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Tentu sebagai ibu dia merasa sedih dan terpukul melihat kondisi anaknya yang demikian.
Raka terbaring di atas ranjang. Bunda Amel dengan isakan tangisnya mengompres luka Raka yang terlihat memar di bagian wajah. Hidung serta sudut bibir Raka juga terlihat mengeluarkan darah. Wajah tampan Raka untuk sementara ini harus tertutup dengan luka lebam di beberapa bagian.
Sedangkan kondisi Aji dan Andika lebih baik dari pada kondisi Raka. Ilmu bela diri mereka memang lebih baik dibandingkan dengan ilmu yang Raka punya. Meski begitu mereka tetap saja terkena pukulan di bagian perut dan wajah meskipun tidak seserius dengan pukulan yang Raka terima.
Mereka nyaris kalah karena kekuatan ke tiga preman tersebut memang jauh lebih besar dibandingkan mereka. Namun, mereka yakin bahwa Allah itu ada dan selalu bersama mereka. Dan keyakinan mereka ini ternyata terbukti. Hari yang semakin larut yang bila dinalar dengan akal manusia pasti suasana harusnya semakin sepi, tapi keadaan justru berkata lain. Tak lama setelah satu pukulan mengenai perut Aji, terdengar suara kendaraan bermotor yang bersahut-sahutan mendekat ke arah mereka. Sorot lampu motor tersebut menyala hingga ke tubuh Aji, Andika, Raka dan ke tiga preman tersebut. Terlihat lima motor gede dengan sepuluh orang yang berboncengan mengamati mereka dengan tatapan menelisik.
Hal ini dimanfaatkan oleh Raka untuk menarik simpati orang-orang yang semuanya berjenis kelamin laki-laki tersebut. Raka meminta bantuan dan mengatakan jika ke tiga lelaki itu adalah preman yang akan mengincar hartanya. Kontan antek-antek ibu kandung Mayang ini ketakutan, jelas mereka akan kalah. Mereka hanya bertiga sedangkan musuhnya berjumlah tiga belas orang.
Tidak mau ambil resiko yang lebih besar, Usman segera memberi instruksi anak buahnya agar segera pergi dari tempat ini. Dengan langkah terbirit mereka masuk ke dalam mobil. Orang-orang berusaha menghentikan mereka, tapi justru Raka melarangnya.
"Siapa yang melakukan ini sama kamu, Nak?" tanya Bunda Amel yang masih tak juga bisa berhenti untuk menitikkan air matanya.
"Mereka segerombolan begal, Bunda," jawab Raka menutupi yang sebenarnya.
"Begal? Menurut gue bukan dech, Ka. Mereka udah bikin lu tumbang, tapi mereka nggak ngambil motor atau barang berharga lu sama sekali." Aji membantah jawaban Raka.
"Iya, Ka. Aji betul," timpal Andika menyetujui pendapat Aji.
"Kalau bukan begal lalu untuk apa mereka memukulimu, Ka? Apa kamu punya musuh? Jawab Bunda, Raka!" Bunda Amel semakin tidak tenang. Beliau merasa ada yang Raka sembunyikan hingga beliau mendesak Raka untuk berkata jujur. Bunda takut jika orang-orang itu akan mencelakai anaknya lagi.
"Bunda nggak usah khawatir, ya! Mereka beneran begal kok. Saat mereka mau ambil motor aku, udah keduluan Andika sama Aji datang, jadi mereka nggak berani dan langsung mutusin buat pergi." Raka membuat alibi.
"Ta- " Andika sudah akan membantah penjelasan Raka, tapi dengan cepat Raka membungkam mulut Andika dan memberi kode pada rekannya itu untuk diam dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu serius, Raka? Bunda nggak mau anak Bunda punya musuh. Anak-anak Bunda harus jadi anak yang baik di jalan Allah."
"Iya, Bunda. Beneran kok aku nggak bohong. Aku nggak punya musuh. Bunda percaya ya sama aku," bujuk Raka.
Bunda Amel sangat menjaga anak-anaknya karena mereka adalah harta Bunda yang paling berharga dan tak ternilai harganya. Dan yang paling penting adalah anak-anaknya harus menjadi orang yang baik dan taat agama. Tidak boleh ada musuh apalagi menyakiti hati orang lain.
"Sekarang Bunda tidur, ya! Ini udah malam banget. Aku udah nggak apa-apa kok, Bun," lanjut Raka.
Bunda memilih untuk berhenti mendesak anaknya. Karena beliau pun berusaha yakin dan percaya bahwa anaknya adalah anak yang baik yang tidak pernah mencari masalah. Ya, selama ini Raka memang tidak pernah terlibat perkelahian apapun dengan rekannya. Raka anak lelaki yang cinta damai dan pengalah.
**
Meski Raka sudah meminta Bunda Amel untuk pergi, tapi Beliau tidak langsung menuruti perintah anaknya. Bunda Amel merasa harus bertanggung jawab pada luka yang diderita oleh Aji dan juga Andika. Mereka adalah dua orang malaikat yang dikirimkan oleh Allah untuk menolong anaknya. Jika tidak ada Aji dan Andika, entah apakah Raka masih bisa pulang dengan selamat.
Dengan telaten dan rasa sayang yang sama, Bunda Amel mengobati luka Aji dan Andika seperti saat beliau mengobati luka Raka. Bunda Amel bahkan meminta rekan anaknya tersebut untuk menginap saja di rumah beliau karena hari sudah larut malam dan Bunda sangat mengkhawatirkan keadaan mereka.
"Terima kasih ya, Bun," kata Aji dan Andika beriringan.
"Sama-sama, Nak. Kalian sudah sangat membantu Raka," sahut Bunda Amel.
"Raka, kamu nggak boleh lupain jasa mereka. Kamu berhutang nyawa sama Aji dan Andika. Bersyukurlah memiliki teman sebaik mereka, Nak," ujar Bunda Amel menasehati anaknya.
"Iya, Bun. Pasti aku nggak akan pernah lupain kebaikan mereka kok," sambung Raka.
**
Pukul dua dini hari. ke tiga lelaki yang kini tengah berkumpul di kamar Raka masih terjaga dan belum bisa menutup mata. Andika, Aji dan Raka berbaring berhimpit-himpitan di atas tempat tidur yang berukuran 160 x 200 cm milik Raka. Wajah mereka menengadah ke atas, menatap langit-langit kamar yang tersorot oleh lampu neon yang terpasang di atas sana. Sejenak pikiran mereka kembali pada saat pertikaian mengerikan itu terjadi beberapa jam ke belakang.
"Gila! Badan gue rasanya nyeri semua. Si botak mukul gue kencang banget. Anyiing emang!" gerutu Aji.
"Samaan! Badan gue juga rasanya remuk redam," sahut Andika mengeluhkan hal yang sama.
"Apalagi gue. Dikeroyok tiga orang edan bersamaan. Yang dua megangin tangan gue, yang satu mukulin wajah sama perut gue," sambung Raka, korban utama dari kasus ini.
"Tapi thanks banget, ya. Kalian udah nolongin gue. Kalau nggak ada kalian entah apa jadinya gue," lanjutnya.
"Banyak-banyak bersyukur, Bro! Allah masih melindungi kita," kata Andika.
"Yes betul," sahut Aji dan Raka beriringan.
Andika menggerakkan badannya. Lelaki yang berada di posisi paling tengah alias diapit di antara Aji dan Raka, kini tengah duduk dengan kaki bersila.
"Ka, lu yakin kalau mereka itu begal? Menurut gue kok enggak mungkin, ya. Waktu kita nemuin lu, lu itu udah tumbang lho tadi, tapi mereka nggak ada yang nyentuh barang berharga lu sama sekali," papar Andika dengan ekspresi wajah yang super, super, super, serius.
"Iya, Dika benar. Apa yang Dika pikirin itu sama persis kayak yang gue pikirin. Bisa jadi mereka punya dendam sama lu, Ka," timpal Aji menyetujui pemaparan Andika.
Dendam? Hm ... Kini kata yang terdiri dari enam huruf itu tertulis jelas di pikiran Aji dan Andika. Meski sebenarnya sulit untuk bisa dipercaya bahwa lelaki yang terkenal tenang, sabar dan pecinta damai seperti Raka memiliki musuh dan membuat orang lain dendam kepadanya. Yang ada justru oranglah yang menyakiti Raka, salah satunya adalah Aji, yang telah tega memacari Fenna, wanita yang saat itu masih resmi menjadi pacar Raka. Sebenarnya untuk bertemu dengan Raka, Aji pun masih merasa malu. Namun, takdir mengharuskan mereka bertemu dengan keadaan urgent yang sedemikian rupa telah dirancang oleh Tuhan. Anggap saja ini bentuk permohonan maaf Aji pada Raka.
Raka ikut beranjak dari tempat pembaringannya dan ikut duduk bersila seperti yang Andika lakukan. Tebakan ke dua temannya memang benar. ke tiga lelaki berbaju hitam dan berbadan jumbo itu memang bukan seorang begal atau perampok kelas kakap. Mungkin Raka bisa mengelabui Bunda Amel agar tidak berpikir yang macam-macam, tapi ia tidak bisa mengecoh ke dua temannya yang memiliki daya nalar lebih baik dari pada Bunda, karena mereka menyaksikan langsung di tempat kejadian perkara.
Tidak ada sama sekali upaya dari Usman and the genk untuk mengambil harta benda Raka. Motor Raka yang bernilai puluhan juta rupiah pun masih aman berada di tempatnya, padahal kunci kontak terpasang dan itu mempermudah untuk dibawa pergi. Ponsel Raka juga masih utuh di kantong jaket, serta uang yang Raka bawa malam ini bernilai jutaan rupiah yang merupakan keuntungan cafe yang akan dia setor ke bank esok hari. Dan semuanya masih utuh tanpa ada satu pun yang berkurang. Memang benar, kasus ini murni karena dendam.
"Tunggu sebentar! Gue mau pastiin kalau Bunda udah tidur. Karena gue gak mau kalau Bunda sampai kepikiran," kata Raka seraya beranjak dari tempat ia duduk dan berjalan keluar kamar untuk melihat Bundanya
Pintu kamar Bunda Amel terlihat terbuka sebagian. Raka mengintip dari celah pintu tersebut. Bunda Amel sudah tertidur lelap dalam buaian sang mimpi. Raka menjejakkan kakinya perlahan mendekati Bunda. Ditatapnya wajah wanita yang melahirkannya itu lekat-lekat.
Wajah cantik Bunda terlihat sembab karena sebelum tidur beliau masih menitikkan air mata kedukaannya. Sejujurnya Raka tidak tega membohongi ibunya, tapi apa mau dikata, ia tidak mau menambah beban pikiran ibunya lagi. Bunda sudah cukup bersusah payah membesarkan dirinya, sudah sepantasnya jika Raka tidak membuat Bunda berpikir keras di usia beliau yang tidak muda lagi.
"Maafin aku ya, Bun! Aku sayang banget sama Bunda," lirih Raka kemudian mencium kening ibunya perlahan dan dengan sangat lembut.
Raka menutup pintu kamar Bunda Amel dengan rapat, ia melangkah kembali masuk ke dalam kamar pribadinya. Tidak lupa, Raka mengunci pintu kamarnya untuk mengantisipasi bila Bunda terbangun dan masuk ke dalam kamar tanpa sepengetahuan dirinya.
"Busyet ... Udah kayak cewek mau ngegosip aja pakai dikunci segala," ledek Andika sambil geleng-geleng kepala.
"Jaga-jaga, Bro," sahut Raka.
Kini ke tiga lelaki bujang itu duduk bersila dengan posisi melingkar di atas tempat tidur. Mereka sudah sangat penasaran ingin mendengarkan cerita Raka tentang ke tiga makhluk bertinggi besar tersebut dan apa yang menyebabkan Raka bisa berurusan dengan mereka.
"Oke, cepetan kasih tahu kita! Siapa genderuwo-genderuwo itu?" tanya Aji buru-buru.
"Dih ... genderuwo," sungut Andika dan Raka bersamaan kemudian mereka tertawa.
"Iya kan badannya emang udah persis kayak genderuwo. Udah cepetan cerita, Ka! Keburu gue ngantuk," desak Aji.
"Hm ... Baiklah. Gue bakalan cerita. Jadi mereka itu adalah .... " Raka diam tidak meneruskan perkataannya. Dia sengaja membuat ke dua kawannya ini penasaran dengan memberikan cerita yang sepotong-sepotong.
"Adalah ?" tanya Andika dan Aji kompak. Wajah mereka sudah sama-sama bernapsu dan ingin Raka segera membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan mereka.
"Mereka adalah .... " Raka masih ingin bermain-main dengan kawan-kawannya.
"Plak!" Karena kesal dan merasa dipermainkan, Andika memukul paha Raka dengan cukup kencang.
"Astagfirullah! Sakit geblek!" pekik Raka kesal.
"Skuy, cepetan ngomong makanya!" sungut Andika tak kalah kesal.