20. Nyawa Raka Terancam

2149 Kata
** "Cyiiiit .... " Suara gesekan ban dengan aspal jalanan berbunyi dengan cukup nyaring. Sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan motor besar Raka dengan posisi badan mobil yang membentang menghalangi jalan. Mau tidak mau, Raka pun menghentikan perjalanannya untuk pulang ke rumah. Tanpa turun dari roda dua yang ia kendarai, Raka membuka helm penutup kepalanya dan ia letakkan di atas tanki motor. Lelaki itu sudah menyadari jika ada orang yang mengintainya sejak ia keluar dari rumah sakit selepas mengantar Mayang. Dan mobil silver ini sudah membuntutinya sejak ia keluar dari parkiran cafe sederhana miliknya. Tiga orang lelaki berbadan besar keluar dari mobil tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam sehingga jalanan pun sangat sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat dan memilih untuk tidak mengabaikan Raka dan orang-orang asing tersebut karena tidak mau terlibat masalah. "Turun dari kendaraanmu!" pinta lelaki yang berdiri paling depan dari ke dua temannya yang lain itu dengan suaranya yang lantang. Meski terasa ngeri melihat ke tiga lelaki berbadan besar itu sudah siap untuk memaki, tapi Raka tak bisa lagi untuk melarikan diri. Harus dia hadapi manusia-manusia yang kerap cari mati seperti mereka-mereka ini. "Siapa kalian?" tanya Raka seraya turun dari kendaraannya. Angin malam berhembus, sekejap memberi tanda bahwa hari bertambah larut. Inilah waktu yang dipersediakan Tuhan untuk tidur dan sejenak mengistirahatkan diri dari hiruk pikuk dunia yang menggerogoti, tapi nampaknya keinginan Raka untuk cepat sampai ke rumah harus ia tunda dengan cukup lama. Ke tiga orang yang berpenampilan seperti preman itu tak akan membiarkannya pergi begitu saja. Bahkan mungkin mereka menginginkan Raka pulang hanya tinggal nama saja. Jika Raka telisik, ke tiga preman itu bukanlah seorang begal ataupun perampok kelas kakap. Mobil yang mereka kendarai cukup mewah. Bukan mobil yang harganya di bawah lima ratus juta rupiah, jelas .... mereka pasti .... "Suruhan Nyonya Sandrina?" tembak Raka. Siapa lagi kalau bukan wanita kaya raya nan angkuh itu yang mengirim lelaki-lelaki jahat ini untuk memberinya pelajaran? Raka tidak memiliki musuh selain Sandrina yang beberapa jam lalu dia ajak untuk berdebat. ke tiga lelaki itu menyunggingkan senyumnya. Tak lama berselang suara tawa terdengar bergemuruh memecah keheningan di petang ini. Entah apa yang mereka tertawakan? Tidak ada hal lucu yang harus mereka tertawakan. Raka bukan pelawak yang sedang membuat lelucon. "Sudah! Sudah! Nanti lagi tertawanya, Kawan!" perintah sang ketua suku seraya menaikkan telapak tangannya ke atas, memberi isyarat agar ke dua temannya segera menyudahi gelak tawa mereka. "Kamu memang pandai menebak. Kamu lelaki pintar, hanya saja kamu terlalu ikut campur urusan majikan kami," lanjutnya menjawab pertanyaan Raka tentang identitas mereka. "Aku berhak ikut campur saat melihat ketidakadilan di depan mataku," sergah Raka tanpa rasa takut. Tidak ada yang salah atas tindakannya. Dia sudah benar dengan membela Mayang yang mendapatkan penyiksaan dari ibu kandungnya sendiri. "Kamu cukup berani melawan kami!" sentak Si Lelaki bertubuh besar dan gagah itu seraya membelalakkan ke dua bola matanya. "Aku hanya takut sama Allah," sahut Raka mantab. "Kami bisa saja membuatmu kehilangan nyawa!" sentaknya lagi. Sebuah ancaman yang tidak bisa Raka pungkiri bahwa itu membuat sekujur tubuhnya menjadi merinding. "Hanya Allah jugalah yang berhak mengambil nyawaku!" balas Raka. Meski ia takut untuk mati, tapi ia juga percaya bahwa Allah akan melindunginya. "Kamu begitu ceroboh dengan menyia-nyiakan waktumu untuk bermain-main dengan Bos kami! Kamu hanya orang asing dalam hidup Nona Mayang, tidak ada keuntungan apapun dengan kamu menjadi pahlawan Nona Mayang! Jadi kami peringatkan padamu untuk tidak lagi masuk ke dalam kehidupan Nona muda! Itu jika kamu masih sayang dengan nyawamu!" ancaman kembali lelaki berbaju hitam tersebut lontarkan. "Aku tidak takut dengan ancamanmu!" "Kau seorang diri di sini dan kami bertiga. Ya ... Badanmu memang cukup gagah, tapi mana mungkin kau melawan kami yang lebih gagah darimu? Jangan main-main! Cukup turuti permintaan kami untuk menjauhi nyonya Mayang, maka kami akan melepaskanmu!" "Aku tidak sendiri. Aku bersama Allah." Memang tidak ada siapa pun yang akan membela Raka, bahkan angin pun memilih untuk melewati tubuh besarnya. Namun, sekali lagi ia percaya pada Penciptanya. Yang akan selalu melindunginya di mana pun ia berada. Bahkan, jika memang ia harus kehilangan nyawanya malam ini, itu bukan karena ke tiga lelaki jahat yang berdiri di hadapannya saat ini, tapi karena daun yang bertuliskan namanya di akhirat sudah jatuh dari tangkainya. "Panggil lah Tuhanmu jika ia mau datang dan melindungimu!" tantang lelaki yang bernama Usman itu tanpa rasa takut. Seolah dia bukan makhluk yang diciptakan oleh Tuhan saja. "Dia akan datang tanpa diminta." "Kamu terlalu banyak ceramah! Sikat langsung, Guys!" Usman memberi komando pada anak buahnya. Ferdi dan Dino mengintruksikan kaki mereka untuk melangkah ke depan mendekati Raka. Senyum setan terkembang dari ke dua bibir mereka. Sedang Usman terlihat memperhatikan sambil melipat ke dua tangannya di depan d**a. "Kau sudah siap mati anak muda?" tanya Dino sembari melingkas lengan kaosnya tinggi ke atas. Hal yang sama dilakukan pula oleh Ferdi. Ia sudah siap untuk beradu jotos dengan Raka. "Silahkan saja!" sahut Raka yang juga telah siap untuk menghalau serangan musuh-musuhnya. Aku nggak akan nyerah demi kamu, Mayang. Kamu nggak pantas dapat siksaan dari ibu kamu. Doakan aku, Mayang! Lindungi aku ya Allah. Pikir Raka. Seketika itu juga wajah cantik gadis belia itu melintas di pikirannya. Benarkah ini hanya rasa iba? Atau rasa cinta yang belum mau Raka akui keberadaannya. Cinta yang tumbuh dalam sekejap dan pada saat hatinya terluka. Dino melayangkan kepalan tangannya ke arah wajah Raka. Namun, dengan cepat Raka menggagalkan niat Dino dengan menepis tangan lelaki itu, tapi naas saat Raka fokus pada Dino, Ferdi berhasil memberi pukulan tepat di perut Raka dengan lututnya. "Buug .... " Beberapa kali hantaman itu mengenai perut Raka. - Sedangkan itu, Mayang merasa hatinya sungguh gelisah. Tidurnya tidak tenang. Berkali ia mengubah posisi tidurnya untuk mencari tempat ternyaman, tapi nyatanya berbagai posisi tetap saja tidak bisa membuat matanya terpejam. "Ya Allah, aku kepikiran Mas Raka. Semoga dia baik-baik aja," ujar Mayang sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. - "Buug ... " Pukulan dari Usman membuat Raka tidak berdaya dengan ke dua tangannya yang dipegang kuat oleh Ferdi dan Dino. Bagaimana Raka bisa melawan jika untuk bergerak pun ia kesusahan? Jika memang ini waktuku pergi. Aku siap ya Allah. Tolong jaga Bunda, adikku dan juga Mayang! Pinta Raka pada Yang Maha Kuasa. Raka lemas, darah segar keluar dari mulutnya. Begitu tangannya dilepas, lelaki Sholeh itu jatuh tersungkur di atas aspal. - "Pyaar ... " Bunda Amel menjatuhkan gelas yang ia pegang. "Astagfirullah. Raka," lirihnya sembari memegang dadanya yang berdetak kencang. Bukan karena kaget, tapi perasaannya sebagai seorang Ibu mengatakan jika ada yang tidak beres dengan anaknya. Beliau melihat jam yang terpasang di dinding ruang tamu. Pukul dua belas malam sudah lebih lima belas menit. Tidak biasanya Raka belum sampai rumah padahal ini sudah masuk dini hari. ** Mayang beringsut turun dari tempat tidurnya. Ia memakai sandal berbulu yang terdapat kepala boneka kelinci di atasnya. Degup jantungnya berdetak kencang seolah ada alarm berbahaya yang datang memberi isyarat. Gadis belia itu keluar dari kamar. Ia duduk di ruang tengah dan menatap ke sekitar rumahnya yang memang selalu sepi bak tidak berpenghuni. "Ya Allah, ada apa ya? Apa kakek baik-baik saja? Kalau ada apa-apa sama kakek, Jas pasti memberitahu aku. Ini bukan soal kakek .... " Mayang menghentikan ucapannya sejenak. Dia memegang dadanya yang terasa berdebar tidak karuan. " .... Mas Raka ... " ucapnya lirih menyebut nama seorang lelaki yang sudah menjadi penyelamat untuk hidupnya. "Kenapa perasaanku bilang kalau Mas Raka sedang dalam bahaya sekarang? Ya Allah, perasaanku nggak enak banget." Mayang terus bergumam pelan sambil menjatuhkan dirinya ke sebuah sofa panjang yang berada di ruang keluarga. Tak lama setelah ia duduk di kursi mahal dengan model ukiran kayu jati nan antik dan unik sebagai penyangganya, terdengar suara derup langkah kaki berjalan mendekati Mayang. "Nona, anda belum tidur?" tanya Jasson si bodyguard yang selama ia bekerja, ia diharuskan untuk tinggal di rumah Mayang untuk menjaga gadis itu dua puluh empat jam. Jasson sudah seperti memiliki antena yang bisa menangkap keberadaan Mayang dan bagaimana keadaan Mayang. "Hm ... Iya, Jass. Perasaanku mendadak tidak enak hati. Apa kamu tahu kabar Kakek? Kakek baik-baik saja kan?" jawab Mayang. Jass ikut duduk di atas sofa, tepatnya di sisi Mayang. Lelaki yang kini memakai t-shirt dan celana santai, tapi tetap warna hitam karena itu adalah warna favoritnya, terdengar menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Mayang tentang kondisi kakeknya. Jasson melipat ke dua tangannya di depan d**a. "Kondisi Tuan Ardi masih sama seperti saat anda meninggalkan beliau, Nona. Belum ada berita lagi yang saya dapat." "Berarti benar, aku memikirkan Mas Raka, Jass. Perasaanku mengatakan kalau dia dalam bahaya." Seketika itu juga Mayang menjadi panik tidak karuan. Intonasi bicaranya mulai cepat dan menggebu-gebu. Gesture tubuhnya sudah salah tingkah. Kesal. Bete. Dan rasa tidak terima selalu bercokol pada hati Jass ketika Mayang menyebut nama Raka. "Anda hanya berprasangka, Nona. Lagi pula Raka lelaki yang kuat, dia bisa membela dirinya saat dalam bahaya," ujar Jasson dengan nada bicaranya yang selalu dingin dan datar. "Jass, Mas Raka sempat berdebat dengan Mommy sebelum dia pergi dari rumah sakit. Aku takut-" "Nyonya Sandrina mencelakai Raka begitu maksud anda, Nona?" tanya Jass mengambil kesimpulan sebelum Mayang menyelesaikan apa yang ingin dia katakan. Mayang menganggukkan kepalanya. "Kamu pasti tahu apapun yang akan mommy lakukan, Jass. Apa kamu dengar Mommy merencanakan sesuatu?" Mayang mulai menyelidiki tentang Mommy-nya melalui Jasson. Jasson mengusap kasar wajahnya, dengan masih melipat ke dua tangannya di depan d**a Jass menjawab pertanyaan nona mudanya tersebut. "Saya tidak tahu apapun, Nona. Nyonya Sandrina tidak ada di rumah jadi menurut saya ini hanya perasaan anda yang berlebihan. Mommy anda sedang sibuk berpesta dengan teman-temannya jadi mana mungkin beliau sempat memikirkan tentang Raka. Tidurlah, Nona! Dan jangan berpikir yang macam-macam!" papar Jass. Tanpa menunggu Mayang memberi feedback pada perkataannya, Jass memilih untuk pergi meninggalkan Mayang seorang diri. Anda terlalu memikirkan Raka, Nona. Sebaik apa dia? Sampai bisa masuk ke hati anda begitu dalam hanya dalam waktu sekejap mata. Pikir Jasson sambil menggelengkan kepalanya pelan. Karena tidak mendapatkan jawaban yang melegakan hatinya dari Jasson. Mayang memutuskan kembali ke kamar untuk mengambil ponsel miliknya. Untuk menjawab rasa penasarannya tentang keadaan Raka. Mayang memiliki inisiatif untuk menghubungi nomor ponsel lelaki tersebut. Benda berbentuk pipih yang menjadi tujuan Mayang, tergeletak di atas meja dengan kabel pengisi daya yang tersambung pada konektornya. Mayang segera mencabut kabel tersebut dan membawa ponsel itu keluar menuju ke balkon kamarnya. Rembulan tidak menampakkan wujudnya, entah karena langit mendung atau karena ia malu menunjukkan kecantikannya pada hari yang semakin larut. Namun, semilir angin malam terasa menyentuh kulit Mayang, menyapa tanpa bisa disentuh atau pun dilihat bentuknya. Dan hembusan ini membuat sekujur tubuh Mayang meremang. Ingatannya tentang Raka kembali menari di pikirannya. Segera Mayang membuka kunci ponselnya menggunakan fingerprint, setelah telepon canggih itu terbuka dan bisa dioperasikan, Mayang mencari nomor handphone Raka yang tersimpan di buku telepon. Untung saja, Mayang sempat meminta nomor Raka sebelum lelaki itu pergi meninggalkannya. "Tut .... " Nada dering yang mengartikan jika panggilan telepon terhubung. Dan foto profil Raka terpasang jelas pada layar gadget Mayang. Kini Mayang tinggal menunggu Raka menjawab panggilannya seraya memandangi wajah tampan Raka yang dewasa dan mempesona, menurut penglihatan mata Mayang. Nada itu tak kunjung berganti dengan suara Raka, tapi justru malah terputus dan otomatis mati sebelum dijawab oleh nomor tujuan. Mayang kecewa, degupan jantungnya serasa kembali bergemuruh meminta untuk segera ditenangkan. Namun, apalah daya, inisiatifnya untuk menelpon Raka ternyata tidak dapat melegakan hatinya. "Kok nggak diangkat sih? Apa Mas Raka sudah tidur? Ck ... Lagian aku nggak sopan banget malam-malam telpon Mas Raka, tapi aku beneran nggak tenang ini," gerutu Mayang sambil menggenggam ponselnya yang berwarna merah maroon. Mayang mencoba untuk berpikir positif. Raka pasti sudah tidur mengingat hari sudah sangat larut, tapi apa mau dikata, sanubarinya menolak untuk tenang meski otaknya sudah memerintah demikian. Sekali lagi Mayang mencoba menghubungi nomor ponsel Raka. Namun, hasilnya masih saja nihil. Mayang memutuskan untuk mengirim chat, setidaknya jika chat itu dibaca entah itu malam ini atau esok hari, Raka bisa membalasnya dan Mayang menjadi yakin jika lelaki yang dikhawatirkannya baik-baik saja setelah membaca balasan Raka. Mayang : Mas Raka, are you oke? ☑️☑️ Tulis Mayang dalam Bahasa Inggris menanyakan kabar Raka. "Semoga Mas Raka baik-baik aja. Lindungi malaikat baik hatiku itu di mana pun dia berada ya Allah!" doa Mayang seraya menempelkan ponselnya di depan d**a. Mayang berusaha untuk tenang, ia atur napas untuk memberi efek positif pada tubuhnya. Mayang tanamkan sugesti yang baik pada pikirannya, bahwa semua baik-baik saja. Raka sedang tidur nyenyak di rumahnya dan tidak perlu ada yang dia khawatir kan. Sedangkan itu, Jasson pun tak dapat menutup matanya. Rasa kantuk menyerang, tapi otaknya terus memberi perintah agar dia terus berpikir tentang Mayang. Tentang Mayang dan Raka tepatnya. Perasaan apa ini? Ia pun tak mengerti? Yang jelas ia tidak terima jika Mayang dekat dengan lelaki lain selain dirinya. Keselamatan Mayang dan hidup Mayang adalah tanggung jawabnya, hanya dia yang boleh melindungi Mayang dan mengorbankan segalanya untuk Mayang. Dengan kehadiran Raka, Jasson merasa lelaki itu telah merampas sebagian dari tugasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN